Cerita Horor Jangan Asal Ambil Itu Harta Pengganti Nyawa

Cerita Horor Hari Ini – Kejadian ini tepatnya berawal ketika aku kelas 6 SD tepat ketika akan masuk di semester genap
Kala itu, aku ingat banget, hari sabtu, aku dan keluarga pergi ke rumah saudaraku yang kebetulan akan melaksanakan resepsi pernikahan
Istilahnya kalau di Kayu Aro itu “Rewang” mungkin dibeberapa daerah juga sama.

Semua berjalan semestinya, aku happy, mereka juga happy, kami menikmati malam dengan alunan musik dangdut ala-ala musik di kondangan.

Malam pun berlalu, hingga sinar matahari pagi datang, suara berisik ibu-ibu yang sedang memasak dan beraktivitas didapurpun terdengar dan membangunkan tidur lelapku.

Aku pun bangun, meminta handuk kepada ibuku, karena semua pakaian termasuk handuk dimasukkan kedalam satu koper yang sama
Berhubung dirumah saudaraku sedang ramai sekali, dan pasti kamar mandi akan sangat dibutuhkan disana.

Aku pun disuruh mandi di tempat pemandian umum, disana kami menyebutnya sebagai “BAK”
Dibekali dengan satu helai handuk dan peralatan mandi lainnya, aku pun mandi di bak tersebut.

Seperti di tempt pemandian umum lainnya, pasti ada skat pembatas antara wanita dan perempuan, yang membedakan mungkin adalah di tempatku mandi tidak terdapat atap, itu saja.

Selesai mandi, aku pun berbenah seperti mana biasanya, tak lupa sarapan dengan ibu juga bude-budeku yang lain
Setelah cukup siang, aku pun berpamitan untuk pergi bermain, maklum umur segitu.

Aku pun pergi bersama dengan keponakanku
Disini lah semua hal yang tidak aku inginkan itu bermula
Aku bermain dengan keponakanku, juga dengan salah satu anak desa sana, sebutlah nama desanya adalah desa Tua.

Klik Prediksi Bola Online Jitu

Ketika sedang asik bermain sepeda, satu dua tiga tangga yang terlompati, mataku terpaku pada sebuah onggokan kertas berwarna yang tergeletak diatas tanah.

Secara spontan aku mendekatinya, lihat apa yang aku dapat, aku mendapatkan uang sebesar 32ribu
Pada tahun itu 32ribu adalah uang yang lumayan besar nominalnya
Kalau untuk rental PS bisa dari jam 7 pagi sampe jam 4 sore lah kurang lebih

Aku pun berteriak kepada keponakanku dan temanku
“CAAAHHH!!! AKU NEMU DUET!!!” Kataku berteriak dengan keadaan uang yang terlilit karet masih ku genggam erat
Tanpa ba bi bu
Mereka langsung berlari mendekat ketempatku berdiri
Aku pun membagi kepada mereka, masing masing aku beri 5ribu, selebihnya kupakai jajan dan rental PS kala itu

Well, semua berjalan lancar, bahkan siang itu aku sangat bahagia,
bisa beli jajan banyak dan main PS tanpa harus dibentak oleh ibuku terlebih dahulu karena minta uang untuk main PS

Namun, wajah ceria itu berubah ketika kumandang adzan Ashar selesai
Aku jatuh sakit, tanpa sebab, demam dan panas tinggi tentu saja
Ibuku tidak begitu panik, ya mungkin ibuku beranggapan aku hanya kecapekan karena terlalu lama main

Akhirnya aku pun dibaringkan diatas ranjang disalah satu kamar dirumah saudaraku
Namun,
suhu badanku tidak membaik secepat perkiraan ibuku dan saudaraku yang lain
Malah tambah semakin tidak jelas

Hingga pada akhirnya aku dibawa pulang kerumah oleh Nenekku, BTW aku dari kecil memang dirawat oleh Nenekku
Jadilah aku pulang dengan Nenekku juga ditemani oleh keponakanku, namanya Indra, kami pulang menggunakan angkutan umum, yang aku taksir itu adalah angkutan umum terakhir karena jam sudah hampir menunjukan jam 5 lebih,
sedangkan ibuku masih dirumah saudaraku, karena tidak enak jika harus pulang lebih awal
(Tak lanjut besok malam, gigiku kumat, gak kuat, tenang besok ini pasti update kok)

Nanti malam kita lanjut ya, mungkin tengah malam,
Setelah magrib, hampir jam 7 kami sampai dirumah
Keadaanku saat itu sudah cukup membaik, panasku juga sudah tidak terlalu tinggi

Aku dibaringkan diruang tv yang sudah dialasi dengan kasur
Nenekku pergi kebelakang untuk membuat beberapa ramuan tradisional, semacam bawang merah yang dikasih minyak lampu, konon katanya manjur
Beberapa jam berlalu kami pun tidur, aku bersama dngan nenekku dan indra

Kurang lebih jam setengah 1, aku terbangun
Badanku terasa baik baik saja, bahkan tidak seperti sebelumnya
Aku diam memandang kelangit langit mencoba untuk kembali tertidur
Tiba tiba saja terdengar suara seperti seorang sedang memasang paku
Aku terkejut

Aku coba membangunkan Nenekku
“Ngopo ayene tangi Yan?”(Kenapa jam segini bangun Yan?) Tanya Nenekku yang ternyata tidak tidur secara lelap
“Ngeleh Wek” (Lapar nek) jawabku yang tidak sesuai dengan niat sebelumnya
Padahal sebelumnya aku ingin berkata “diluar ada apa” namun yang keluar ucapan lapar

Aku bingung, kenapa bisa begini
Tanpa ba bi bu Nenekku membuka selimutnya
Namun, aku justru berdiri dan pergi menuju kedapur sendiri
Aku tahu apa yang aku lakukan, tapi aku tidak bisa berbuat apa apa, seakan badanku digerakkan oleh seseorang
Aku bisa melihat sekitar, bahkan mendengar
“Wes tak mangan dewe!” (Udah, aku makan sendiri!) Jawabku dengan nada yang tinggi

Aku melihat Nenekku terdiam, seakan bingung dengan sikapku, Kenapa heran? Aku tidak pernah berkata Aku didalam keluargaku. Aku selalu menyebut diriku dengan sebutan Nama (you know what i mean)
Nenekku pun beranjak dari kasur, mendekatiku, dan menyentuh dahiku
“Wes mari toh”(udah sembuh toh) kata Nenekku

Aku hanya diam melotot, sambil makan seperti biasa
Hal yang tidak aku pahami adalah kenapa aku bisa makan padahal aku tidak merasa lapar sama sekali
Lagi, aku seakan digerakkan oleh seseorang
Makanan dipiring pun tidak habis, aku tiba tiba meninggalkannya dan kembali tidur

Tanpa berkata apapun
Aku tahu, aku melihat, tapi aku tidak tahu apa yang aku lakukan
Akhirnya aku biarkan diriku untuk tertidur, meski sebenarnya aku masih bingung dengan kejadian sebelumnya

Ntah berapa lama aku diam, hingga akhirnya aku tertidur
Di pagi harinya, sekitar jam 8 pagi, badanku kembali panas, hal yang pertama aku sadari adalah, aku sudah tidak berada dirumah
Melainkan aku berada dirumah Nenekku
Aku melihat dengan jelas, Ada seorang anak kecil yang berlarian dikamar Nenekku

Dengan polos aku bertanya, “Iku sopo?” (Itu siapa?) Tanyaku, kali ini aku sendiri yang bertanya
“Sopo?” (Siapa?) Nenekku kembali bertanya
“Iku loh wek! Enek cah cilik playon neng kamar!”(itu loh nek! Ada anak kecil larilari di kamar!) Jawabku dengan nada kembali tinggi
Nenekku tidak menjawab

Aku kembali melihat anak kecil tersebut, namun anak tersebut menjadi lebih besar, secara perlahan berubah menjadi lebih besar tapi tetap dengan wajah anak kecilnya

Hal yang aku sadari dan membuatku takut adalah kakinya yang terbalik
Aku ingin mengalihkan pandanganku dari apa yang aku lihat, namun tidak bisa, badanku seakan mematung dengan sendirinya

Dia tersenyum denganku
Saat itu Nenekku berjalan membawa makanan kekamar, anak kecil itu bergerak mendekat, seakan akan ingin memukul kepala Nenekku
Sontak aku berteriak
“OJO…..!!!!!!”(JANGAN…!!!!)

Nenekku terkejut! Seketika itu pula aku tidak bisa melihat apapun, bahkan mendengar, kesadaranku kembali menghilang
Entah aku tertidur atau apa, namun tak lama kemudian kembali sadar dengan suara yang sama seperti malam hari sebelumnya, ada suara seperti orang sedang memasang paku, keras sekali, suara itu lah yang kembali membuatku tersadar

Mataku terbuka, aku melihat Nenekku sedang sholat, namun aku melihat jam masih jam 9an pagi, sholat apa? Pikirku saat itu
Mungkinkah sholat duha? Seakan tak pernah tahu aku, bahwa nenekku pernah sholat duha, bahkan beliau tdak tahu,
Lagi! Aku tidak bisa mengendalikan apa yang aku perbuat
Aku berlari keluar seperti orang ketakutan, sembari menangis, aku berlari keluar rumah

Ada hal aneh yang kulihat, aku melihat ada beberapa mobil yang bertabrakan dijalan raya (ya, rumah nenekku tidak jauh dari jalan raya)
Batu batu besar berbenturan, suaranya keras sekali, membuat telinga menjadi pekak

Aku pun berlari kerumahku, masih, masih tidak bisa mengendalikan diri
Ketika aku baru masuk rumah, seakan ada hal yang keluar dari tubuhku, saat itu juga, aku baru sadar dan bisa mengendalikan tubuhku
“Ngopo playon?”(kenapa lari2?) tanya Ibuku yamg sedang bersiap2 untuk bekerja

“Wek ngamok!”(nenek ngamuk!) Kata ku yang diluar dugaan
Aku tidak tahu kenapa aku bisa berkata demikian
Mulutku kembali tidak bisa dikendalikan
Mulutku pun bercerita kesana kemari yang aku sendiri lupa apa yang aku ucapkan saat itu
Ngelantur pokoknya
“Wes,, turu wae kono, men gek mari, mamak balek sore”(udah, tidur sana, biar cepat sembuh, mamak pulang sore) kata ibuku
“Oh yo, makwek ojo kon rene”(oh ya, nenek jangan suruh kesini) jawabku ketus

Sejak kejadian dipagi hari itu, aku seakan tidak suka melihat sosok Nenekku sendiri

Seharian itu, aku tidak sadar apa yang telah terjadi padaku dan sekitarku, aku hanya bisa mendengar saat itu,

Yang aku dengar hanya suara tv, sesekali suara pukulan besi yang beradu, yang aku tak tahu berasal dari mana, yang aku ingat disekitar rumah memang tidak ada orang sedang mengerjakan sesuatu, karena rumahku memang jaub dari tetangga,

satu-satunya tetangga terdekat hanyalah gedung sekolah yang sudah ditinggal cukup lama. Semak belukar ada dimana mana
(Nanti malam jangan nunggu ya, soalnya aku gak update nanti malam, kapan updatenya? Di malam jumat, sepuranya🙏)

Disore harinya, menjelang magrib, lagi lagi aku bertingkah aneh, tanpa bisa aku kendalikan, seperti orang gila yang sedang mengamuk
Nenekku panik, orang tuaku belum pulang kerja
Akhirnya Nenekku memanggil beberapa tetangga untuk membantu menenangkan diriku

Aku melihat banyak org dirumah, rasanya malu sekali, aku sperti orang gila, yang sadar namun tidak bisa mengendalikan tubuhku
Kalian boleh beranggapan bahwa aku hanya berdelusi karena sedang sakit, tak apa, itu wajar, karena aku juga mendengar dari beberapa tetangga berkata

“Dipasung wae riyan, wedine ngko ngamok meneh!”(dipasung aja riyan, takutnya nanti ngamuk lagi!) Kata tetanggaku, aku ingat sekali ucapan itu, aku ingin menjawab namun tak bisa, aku hanya bisa tertawa
“Ojo! Dee rak edan!”(jangan! Dia tidak gila!)
Jawab nenekku mencoba untuk melindungiku

Akhirnya, setelah adzan maghrib aku baru bisa mengendalikan tubuhku lagi, aku bingung harus berkata apa saat itu, yang aku rasa hanyalah lapar
Tidak lama dr itu ibuku pulang bersama dengan bapakku, mereka pun heran kenapa dirumah ramai

“Loh enek opo? Tumben akeh dayo iki”(loh ada apa? Tumben banyak tamu) kata ibuku seolah sedang berbasa basi
“Alah iki tilek riyan”(alah ini njenguk riyan) kata salah satu tetanggaku
Namun, salah satu tetanggaku yang lain dan baru datang pula dengan ragu berkata

“Celokno buya Junaidi, yuk, wedine iki koyok ca ngisor kae”(panggilkan buya Junaidi, kak, takutnya ini seperti anak bawah itu) kata tetanggaku sedikit takut

“Loh riyan ngopo memange? Cah ngisor kae ngopo?”(loh riyan kenapa? Anak bawah itu kenapa?) Tanya ibuku dengan wajah bingung
“Enek cah ngisor jadi tumbal pesugihan, pekorone yo podo karo riyan, bocah e entuk duet neng jalan,”(ada anak bawah jadi tumbal pesugihan, perkaranya sama sprti riyan, dia dapat uang dijalan) jawab tetanggaku itu
Kita beralih sedikit ke cerita tetanggaku secara detail

Beberapa hari sebelum aku jatuh sakit, ada seorang anak yang berada di desa sebelah mendapatkan uang dijalan yang tidak jelas berapa nominalnya

Tidak lama setelah ia dapat uang itu, sama sepertiku, ia jatuh sakit
Namun, berbedanya, prosesnya lebih cepat, sehari setelah itu, hidungnya keluar darah, mata dan juga telinganya pun sama, keluar darah yang tidak bisa dibilang sedikit

Akhirnya, dipagi hari, nyawanya pun tak tertolong
Mendengar cerita dari tetanggaku, tanpa ba bi bu, Ibuku berlari memanggil buya Junaidi, beliau adalah seorang buya yang biasanya mengobati orang sakit dengan kasus spertiku

Tidak lama setelah itu, buya pun datang bersama dengan ibuku
Beliau mendekatiku, dan memegang pundakku

Hal yang aku lakukan kala itu adalah, menatap buya secara tiba-tiba dan seperti tidak suka, sama halnya kala aku melihat Nenekku
Ya, aku tidak lagi bisa mengendalikan tubuhku, hanya mendengar dan melihat

Buya hanya terdiam memegang pundakku, dan melihatku
Tak lama, ia meminta segelas air untuk bisa diminum, ya tentu dengan bacaan yang ia tahu
Jadilah air itu aku minum
Setelah itu aku dibaringkan diatas tempat tidur
Entah apa yang terjadi akupun tak lama itu terlelap
Ah mungkin aku sudah sembuh

Ternyata aku salah, kembali, setelah jam 12 malam, aku terbangun dengan ucapan yang sama
“Aku lapar”
Dengan tatapan tak suka pastinya

Setelah selesai makan, aku kembali tidur, lagi dan lagi, terdengar suara pukulan besi sama seperti sebelumnya

Aku berdiri, memanjat terali jendela, disitu aku tertawa, selayaknya orang gila

Aku sendiri malu jika harus mengingat kembali kejadian itu
Hal yang membuatku tersentuh adalah melihat kedua orang tuaku yang sedang membaca surat yasin, yang ditujukan padaku pastinya
Bisa dibayangin dong, betapa sedihnya aku saat itu, namun aku tidak bisa berbuat apapun

Ingin berteriak, tapi mulut hanya bisa meracau tidak karuan
“Mudon yan, mudon wes wengi!”(turun yan turu, udah malam) kata Ibuku
“AKU ORA RIYAN!”
((iklan dulu)

SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA
BAGI YANG MERAYAKAN

MAAF GAK BISA UPDATE BANYAK…
KARENA ADA SEDIKIT KE SIBUKAN…

BURUAN TIDUR BESOK BANGUN PAGI SHOLAT ID)
2 hari berlalu, setiap malam dan hampir setiap mata terbuka aku selalu bersikap serupa orang gila, tertawa sendiri, berbicara semaunya, selama itu pula setiap malamnya aku selalu mendengar lantunan surat yasin yang keluar dari lisan ibu dan bapakku

Ya, itu sudah 3 hari, aku dinyatakan gila oleh orang kampung
Sosok anak kecil berkaki terbalik juga masih sering berseliweran didepanku

Aku ingat betul, saat itu sudah hari rabu
Ingat aku berkata dihari pertama aku sakit, aku melihat ada kecelakaan yang terjadi dijalan raya dan beberapa hantaman bantu,
Percaya atau tidak hal tersebut itu terjadi dihari Rabu, yang pertama kecelakaan mobil, dan yang kedua ada bebatuan yg dihancurkan untuk pembuatan jalan,

Apa itu kebetulan? Bisa saja itu kebetulan
Tapi, tidak hanya itu, malam harinya aku bermimpi, melihat kerabatku sedang tertimpa masalah, yang konotasinya mengundang keramaian
Hari rabu itu juga, kerabatku tertimpa masalah yang mengakibatkan keramaian (bukan kriminal, aku tdk bisa menyebutkannya)
Aku bener-bener tidak tahu harus mempercayai atau tidak, aku berharap itu kebetulan, tapi, 3 kejadian sekaligus terjadi, tentu tidak bisa dianggap kebetulan

Dimalam harinya, malam kamis berarti
Ibuku membawa org pintar, untuk mengobatiku
Pada saat itu setelah sholat isya, org pintar itu datang, sebenarnya dia juga tetanggaku, hihi

Aku saat itu masih sadar, bahkan tidak merasa sakit sama sekali,
Jadilah setelah berbasa basi, aku dipanggil oleh orang pintar itu, namanya Parman aku memanggilnya Pakde Parman (bukan nama asli, dia tahuan orangnya, aku takut)

Ketika aku mendekat, seketika itu pula, aku kembali kumat, tidak lagi bisa mengendalikan diri,
“PIE???” Kataku

“Loh! Lah pie, kene seng kudu tekon kono, sampean sopo?”(loh! Lah gimana, aku yang harusnya tanya situ, anda siapa?) Kata pakde Parman santai

“Aku uduk sopo-sopo, aku mung ngungsi sdelok”(aku bukan siapa2, aku cuma ngungsi sebentar) kataku, ya aku bisa mendengar dan melihat, itu saja yang aku bisa ketika aku kumat

“Enek perlu opo neng kene?”(ada perlu apa disini?) Tanya pakde
“Aku mung ngungsi, sdelok neh aku juga lungo nak wes siap, aku mung seneng ae neng kene, mamak bapak e apik, rak galak, ojo ganggu aku”(aku cuma ngungsi, sbentar lagi juga aku pergi kalau sudah siap, aku cuma senang aja disini, ibu bapaknya baik, gak galak, jangan ganggu aku)
kataku juga ikut santai

“Welah gendeng ngungsi kok njarak, urusan opo tak tekon, sopo sing ngongkon koe? Nak rak ngomong tak obong ndasmu!!!”(welah gila ngungsi kok ngelunjak, urusanmu apa aku tanya, siapa yang nyuruh kamu?

Kalau gak ngomong aku bakar kepalamu) kata pakde tegas kali ini, dan nada nya ikut serius

Tanpa ba bi bu dan menunggu jawaban dariku, pakde langsung menyergapku, kemudian yang terlihat olehku, pakde menarik jempol kakiku, aku berteriak, seakan sedang merasakan kesakitan,
padahal aku tidak merasakan apa apa

Ketika aku berteriak, semua menjadi gelap, aku pun tidak mendengar apa-apa

Menurut pernyataan ibuku, ya benar, memang ada yang sedang ingin cepat kaya, sosok yang berada dalam tubuhku adalah suruhan dari majikannya,
yang tentu saja tidak bisa aku sebutkan namanya

Ketika aku terbangun, aku merasakan panas dalam.perutku, dan dahaga yang luar biasa
Katanya itu hanya efek saja, yang aku sadari ada sebuah kalungan yang melingkar di perutku

Ya, aku kembali baik baik saja, akhirnya aku tidur, agar bisa bangun pagi untuk sekolah besok harinya
Aku sudah absen 3 hari, itu tidak baik untukku
Ya, aku tidur
Lagi, aku bermimpi, namun kali ini cukup aneh, dan itu adalah mimpi buruk

Yang terjadi dalam mimpiku adalah, aku terhimpit kayu besar, namun kayu tersebut menyerupai tangga yang menjulang keatas, jelas sekali tangga itu berdiri 90derajat dan aku adalah alas dari kaki tangga itu,
ya itu hanya mimpi bukan apa apa, itulah yang kupikir saat aku terbangun dipagi hari

Aku berangkat sekolah, seperti biasa, tidak ada yg tahu kalau aku “sakit” teman temanku hanya tau aku sakit seperti sakit pada umumnya
Hari itu, aku tidak merasa apa apa, aku main seperti biasanya

Tepat setelah adzan dzuhur, dan itu jam pelajaran terakhir, aku meminta dengan walikelas untuk izin ketoilet, ketika aku berada dikamar mandi, suara itu datang lagi, besi yang beradu dengan besi, ya itu lagi, namun, kali ini aku tidak melakukan hal aneh, hanya mendengar saja,
dan tidak ada reaksi apa apa dari tubuhku
Namun, saat keluar dari pintu wc,
“Nek aku seneng, aku bakal mbalik, iling iku, ono ora onone menungso kae”(kalau aku senang, aku bakal kembali, ingat itu, ada tidak adanya manusia itu)

suara itu terdengar begitu saja, aku tidak tahu berasal dari mana, yang aku tahu, suara itu seperti suara orang dewasa, dan itu jelas sekali
Namun, aku tidak menanggapinya berlebihan, cuma takut saja, aku lari pastinya,

masuk kedalam kelas dan apa yang terjadi dikamar mandi itu hilang begitu saja, aku tidak mengingatnya sampai aku menginjak bangku SMA
KENAPA JAUH SEKALI? Itu lah yang terjadi, aku pun tak tahu bagaimana bisa hal semacam itu tiba-tiba teringat ketika aku masuk bangku SMA
Tiga hari berselang, kabar tidak mengenakkan terdengar ditelingaku dan keluargaku, 6 orang anak SD meninggal dengan kejadian yang sama, sama? Ya, sama seperti anak yang meninggal tempo hari, dengan mengeluarkan darah ditelinga, mata, dan hidung,
akibatnya sama, mereka menemukan uang ditepi jalan dengan terlilit karet
Kalian tahu apa reaksiku ketika mendengar itu?
AKU TERSENYUM
Jika kalian berpikir, itu semua selesai, maka aku harus berkata, BELUM

Terror itu masih terjadi hingga aku besar, bahkan sampai saat ini
— To Be Continued —

Maaf sekali, untuk beberapa hari dan hingga minggu mungkin, aku tidak akan update cerita, karena aku harus mempersiapkan diri untuk menghadapi suatu hal(doakan semoga lancar)

Jadi ceritaku yang berjudul TUMBAL, akan aku bagi menjadi 2 bagian lagi, jadi akan ada 2 bagian lagi dengan thread yang berbeda, jika waktuku senggang, maka akan aku selesaikan dalam satu waktu, semuanya sudah aku rangkai secara detail, sehingga tidak akan terlewat,
Mohon pengertiannya🙏

Terimakasih sudah mengikuti ceritaku, dan mohon maaf jika cerita diatas tidak sesuai ekspetasi kalian, aku hanya berbagi, sesuai dengan apa yang aku lihat dan dengar, dan ini belum selesai

Ingat satu hal, cerita diatas saling menyambung, katakuncinya ada di mimpi

Jika judul kurang cocok dg cerita, aku minta maaf lagi
Percaya atau tidak semua kembali pada pembaca, aku tidak pernah memaksa orang untuk percaya
“Memaksa orang harus percaya pada kita, itu adalah tindakkan Kriminal”