Kisah Cerita Nyata Ngunduh Artha

“ayok nduk, kowe isok, ayok” (ayo nak, kamu bisa, ayo, sedikit lagi) kata seorang wanita tua, ia membungkuk sambil jemarinya menyentuh diantara kaki seorang wanita yg sedang meronta diatas dipan, di luar hujan turun sejak sore tadi, peluh membasahi kening si wanita tua.

si wanita tua membatin, belum pernah ia membantu persalinan seseorang sampai selama ini, “ra masuk akal” (tidak masuk akal) katanya dalam hati berkali-kali, saat kepala jabang bayi mulai terlihat di ujung, senyuman si wanita tua tersungging, “akhirnya anak ini mau juga keluar”.
di tariknya selembut mungkin jabang bayi yg masih merah darah itu, dibantu oleh saudara perempuan si ibu, akhirnya mereka berhasil membuat si kecil tak berdaya itu bernafas untuk pertama kalinya di dunia, sampai, ada keganjilan yg terjadi.
jabang bayi yg masih merah itu, kini sedang dibasuh dengan kain basah, anehnya, ia tak kunjung menangis, si wanita tua tiba-tiba merasa gelisah. ia memandanginya.

“onok opo mbok?” (ada apa mbok?) tanya si perempuan yg mendapati si dukun anak itu melihat dirinyanya terus menerus.
“cah kui ra nangis” (anak itu kok gak menangis?) katanya sembari mendekati.

perempuan itu bingung, “nangis?”

dukun anak itu mengangguk, “jabang bayi sing tas lahir nang ndunyo kudune nangis!!” (anak bayi yg baru saja lahir ke dunia seharusnya menangis)

“opoo mbok?” (kenapa?)
saat itulah, dukun anak itu menyadari apa yg sedang terjadi, ia melihat dengan jelas, jabang bayi itu sedang menengok ke sudut ruangan di dalam kamar ini, sebuah sudut yg tak boleh ia katakan kepada siapapun bila ingin anak ini selamat dari maut.

Klik Prediksi Bola Online Jitu

dengan wajah tegang dan tergopoh-gopoh, dukun anak itu berteriak, “ayok, gaween cah kui nangis!!” (ayok, cepat buat anak itu menangis!!)

si perempuan semakin bingung maksud perkataan si dukun, “digawe nangis yo opo mbok?” (dibuat menangis bagaimana mbok?)

“gepuk’en pupune!!”
(pukul pahanya), “jiwiten (cubit) opo ae sing penting cah kui isok nangis!!” (apapun yg penting anak itu bisa menangis)

si perempuan masih tak mengerti, ia melakukan apa yg diperintahkan namun ia tak tega bila harus mencubit atau memukul keras pahanya, hal ini membuat-
dukun anak itu merebut si jabang bayi, menutupi sudut ruangan dengan tubuhnya sembari menutup mata si jabang bayi,

“celuken bapak e, celuk en kabeh kongkon mrene sak iki!!” (panggil ayahnya, panggil semua agar kesini, sekarang!!)

perempuan itu lalu pergi.
setelah semua berkumpul, dukun wanita itu mengatakannya, “dayoh’e nang kene, lakono perintahku” (ada tamu tak diundang disini, lakukan apa yg kusuruh)

wajah seluruh keluarga tampak tegang, mereka pergi keluar, tak lama beberapa dari mereka kembali, ada yg membawa baik berisi air

yg lain membawa daun pisang, setelah itu benda itu diletakkan di bawah dipan tepat dibawah si ibu yg melihat dengan wajah tak kalah ngeri.

dukun anak itu memeriksa air di dalam bak, setelah itu ia mengangguk pada semua orang yg ada di-sini.

“sak iki” (sekarang)
dua lelaki berjalan masuk, menarik seekor kambing. di-bawahnya si kambing di paksa mengadah dengan selembar daun pisang yg dibentangkan kedalam bak mandi yg berisi air, si bapak langsung menghunus golok lalu mengiris batang leher kambing sampai darah kental itu masuk.
air bercampur darah dari kambing, si dukun melihat terus menerus ke sudut ruangan sembari mencelupkan jabang bayi mungil, menenggelamkan tubuhnya, semua orang melihat kejadian itu dengan ekspresi ngeri sekaligus khawatir, bahkan si ibu terus berteriak melihat anaknya menggeliat.
Nafas si dukun beradu, di dalam ruangan ini sendiri, mendadak menjadi dingin, gelembung dari jabang bayi terus muncul dari dalam air berwarna merah keruh, saat si bapak sudah tidak sanggup melihat, ia berniat menghentikan si dukun, namun, nampaknya semua prosesi ini sudah selesai
karena, ketika jabang bayi mungil itu diangkat dari dalam sana, semua orang yg ada di dalam ruangan bisa mendengar dengan jelas untuk pertama kalinya, tangisan si jabang bayi. Dukun anak itu lalu menyerahkan bayi kecil itu kepada si bapak.
meski begitu, raut dari wajah si dukun masih tampak cemas, ia memandang anak itu untuk terakhir kalinya sebelum mengatakan kata-kata ini kepada si bapak. “ayu ne anakmu, mene nek wes gede, anakmu dadi cah sing paling ayu gok kene, direbutno ambek wong-wong lanang tapi,”
(sungguh cantik anakmu, besok saat dia sudah dewasa, ia akan menjadi perempuan paling cantik di sini, diperebutkan oleh banyak laki-laki tetapi-) dukun wanita itu diam sebentar, ia membuka jendela, melihat ke sisi luar, “tak hanya bangsa manusia, bangsa lelembut pun menyukainya”
Waktu berlalu.
Bayi mungil itu kini menjadi perempuan dewasa, dari desa sebrang seorang lelaki meminang dirinya, lewat pernikahan 2 hari 2 malam, si lelaki merasa menjadi orang paling beruntung mendapatkan kembang desa yg paling diinginkan, tak sedikit yg sebenarnya iri.
Lelaki itu begitu bahagia, di usia pernikahan yg seumur jagung tak sedikit orang yg terus membicarakan mereka, mulai dari pelet macam apa yg digunakan, sampai bagaimana rasanya malam pertama. tapi, hal itu tak bertahan lama, saat orang-orang mulai menyadari ada yg tidak beres.
Hal ini dimulai dengan tubuh si lelaki yg semakin lama kian kurus, wajahnya yg dulu ceria kini tak nampak bahagia, tak hanya itu, ia sering sakit-sakitan, wajahnya pucat pasi. banyak orang yg mulai khawatir, menanyakan apa yg terjadi kepada dirinya, namun si lelaki merasa-

-dirinya baik-baik saja

rupanya, seiring berjalannya waktu semua bertambah buruk, karena pada suatu malam, tanpa ada sebab musabab, keesokan paginya, lelaki ini meninggal dunia

bagai petir di siang bolong, tentu semua orang terkejut dibuatnya, karena semua berlangsung tiba-tiba
rupanya hal ini terus berlangsung, setiap kali ada lelaki yg menikahi si perempuan, sesuatu seperti menjalari keluarga ini, menggerogoti dari sisi yg tak bisa dilihat mata normal, karena lelaki ke empat meninggal dengan menggantung dirinya sendiri tepat di depan rumah.
sejak saat itu, semua orang tahu siapa perempuan ini, Bahu lawean, itulah bagaimana orang memanggil dirinya, atas desakan dari orang tua, perempuan ini mengganti namanya, namun tetap saja, suami kelima dari si perempuan juga meninggal, terlindas kereta, kematian seperti mengikuti
kini tak ada yg mau mendekati, apalagi menikahi, begitulah cerita ini di mulai, cerita dari seorang bernama DM, yg mengenal mbak Pini sebagai ibu angkatnya bertemu dengan Pethuk mati. di sini mari kita mulai ceritanya..
Dari jauh, terlihat sebuah Mobil tua keluaran tahun 97’ berjalan mendekat, seorang lelaki keluar dari dalam mobil bersama seorang anak laki-laki berusia 12 tahunan, anak itu bertubuh kecil namun kakinya jenjang, lelaki itu mendekat, mengetuk pintu rumah..
pintu terbuka, pandangan keluarga langsung tertuju pada si anak, tak lama mereka mempersilahkan masuk si lelaki

si lelaki lalu duduk, menjelaskan situasinya, “jeneng’ e doni, iki sing bakal nolong njenengan sekeluarga” (namanya doni, dia yg akan menolong keluarga ini)
semua orang saling memandang satu sama lain, ragu, apakah ini keputusan yg tepat. si lelaki menjelaskan lagi, bahwa ia mendapatkan Doni dengan cara yg sulit, dia akan sangat membantu karena bagaimanapun mempertemukan bahulawean dengan pethuk mati itu tidak mudah.
“nek ra onok kusen. sing ngunci bahulawean karo pethuk mati, anakmu isok kalah, wes ta lah percoyo ambek aku” (tanpa ada kusen, yg mengunci bahulawean dengan pethuk mati, anakmu pasti kalah, sudah, percaya saja sama aku)

semua orang diam, tak ada yg berani menentang.
si lelaki lalu mengatakan kepada Doni, “paranono calon ibukmu, kenalan, yo mas” (kamu pergi ke calon ibu’mu, kenalan, ya mas)

Doni mengangguk, ia berdiri setelah diberitahu dimana wanita yg sebelumnya sudah di ceritakan oleh lelaki yg membawanya, dia mengatakn bahwa-
wanita ini membutuhkan dirinya sebagai kusen. Doni sendiri saat itu tidak tahu makna kusen, ia hanya tahu bahwa ada keluarga yg bisa menerima dirinya, memberi kehidupan bagi dirinya. ia berjalan menuju ke kamar wanita itu.

Doni merasa tak nyaman, ia sudah bisa merasakan sebenarnya saat turun dari dalam mobil, ia melihat seorang wanita mengintip dirinya dari salah satu jendela, garis matanya seperti melamun, saat Doni melihatnya, wanita itu menutup selambu jendela, lenyap.
suara langkah kakinya tak terdengar karena ia berjalan diatas ubin, dari jauh sayup-sayup terdengar suara seperti kayu di ketuk-ketuk, Doni merasa yakin bahwa wanita yg dimaksud lelaki itu ada dia, Doni mendekat, namun baru beberapa langkah, Doni mencium aroma yg wangi.
aromanya sangat pekat sampai membuat hidung Doni merasa tak nyaman, namun bocah itu tetap melanjutkan, ia ingin mengenal calon ibunya, tetapi tiba-tiba firasatnya mendadak menjadi tidak enak terutama aroma wangi itu yg perlahan-lahan mulai berubah, Doni menutup hidungnya.
sampailah Doni di depan sebuah pintu yg terbuka, dari sana ia melihat perempuan sedang duduk di depan meja rias, melamun sendiri, wajahnya murung, namun sangat cantik, Doni bersiap mendekat sebelum ia sadar, aroma busuk itu rupanya tercium dari tubuh si perempuan.
Doni ingin memaksa dirinya mendekat, namun penciumannya tidak sanggup menahan lagi sampai akhirnya bocah itu memuntahkan isi perutnya, saat itu lah si perempuan menoleh, ia tersenyum, menyeringai pada Doni, anak itu lantas berlari pergi.
ketika sampai di tempat orang-orang, Doni ingin menjelaskan situasinya namun si lelaki seperti sudah tahu apa yg ingin dikatakan, “wes gak popo mas, engkok awakmu tak awasi tekan adoh, mek setahun tok kancanono yo, sakaken..” (sudah gak papa mas, nanti kamu tak awasi dari jauh-
hanya satu tahun kamu temeni dia, kasihan)

Doni tak mengerti, apa maksudnya menemani wanita ini sedangkan mencium bau badannya saja Doni tidak sanggup, hal ini seolah-olah sudah diketahui semua.
si lelaki lalu berdiri, “engkok bengi tak susul, tak terke nemoni wong iku”
(nanti malam ku jemput, akan kuantaran dia menemui orang itu)

“orang yg mendapat nasib yg sama dengan anakmu, Pethuk mati”

mobil itu pergi, meninggalkan Doni di rumah ini, malam ini ia akan dibawa bersama wanita ini, entah dimana nanti mereka akan tinggal.
Hujan gerimis mewarnai kepergian Doni dan mbak pini, Ia memilih tempat duduk di kursi depan, tepat di samping mas Jono sopir yg awalnya Ia kira akan mengadopsi dirinya, namun ternyata, Doni akan diasuh oleh mbak Pini. Saudara jauh dari mas Jono. Ia diminta menemani wanita itu.
sampai detik ini, mas Jono blm memberitahu Doni secara spesifik alasan kenapa dirinya harus menemani mbak Pini, Ia juga tidak tau kemana dirinya akan dibawa, hanya satu hal yg Doni pahami dari kata-kata mas Jono, bahwa ia disebut Kusen dalam tiga garis antara Bahu lawean-
dan Pethuk mati.

Pethuk mati sendiri masih tak diketahui apakah panafsiran dari nama seseorang atau sesuatu yg lain, mas Jono hanya berbicara kepada Doni bahwa dirinya istimewa, sama seperti mbak Pini dan tentu saja, dia yg disebut Pethuk mati ini.
meski baru mengenal secara singkat, Doni tahu bahwa Mas Jono adalah orang yang gemar bercanda, Ia sering melempar guyonan membuat siapapun akan tertawa terpingkal-pingkal, mas Jono juga pintar membangun suasana, namun, tidak hari ini, tidak malam ini, mas Jono lebih banyak diam.
ia memilih merenung sembari menyetir, kadang matanya terlihat kosong, pandangannya tertuju keluar jendela mobil, jauh mengawang-awang, seperti ada yg beliau risaukan, menganggu pikirannya. Doni melirik ke kursi belakang, tempat mbak Pini duduk, wanita itu juga sama, ia menunduk.
dari dekat mbak Pini terlihat lebih muram lagi dari sebelumnya, Doni bahkan bisa melihat dengan jelas sorot mata mbak pini terlihat kelelahan seperti seseorang yg sudah lama tak pernah tidur, tak hanya itu saja, rambutnya yg panjang hitam itu tak pernah dirawat dengan benar.
Sangat disayangkan, padahal, mbak Pini memiliki paras yang cantik, hal ini membuat Doni kadang berpikir, nasib sial apa yg sudah menimpa dirinya. meski begitu, tetap saja, aroma tubuh mbak Pini masih beraroma busuk, seperti bangkai tikus atau mungkin lebih buruk lagi-

-sialnya, hanya Doni yg dapat mencium aroma itu, karena sedari tadi mas Jono seperti tak merasa terusik sedikitpun dengan aroma tubuhnya.
saat Doni sedang diam-diam mengawasi mbak Pini, tiba-tiba sorot mata wanita itu bergerak naik lalu tertuju menatap mata Doni, sejenak mereka saling berpandangan satu sama lain sebelum tiba-tiba Ia tersenyum menyeringai membuat Doni langsung mengalihkan pandangannya.
mas Jono sempat cerita kalau Mbak Pini adalah orang yg pendiam, hal ini berhubungan dengan masa lalunya. Doni sendiri mengerti karena sejak keberangkatan mereka saja, Ia belum mendengar wanita itu berbicara sekali pun, padahal, mas Jono beberapa kali dengan murah hati sudah-
-mencoba membuka pembicaraan tetapi mbak Pini lebih memilih diam, menunduk, tetapi tidak tidur.

mbak Pini adalah wanita yg paling aneh yg pernah Doni temui. apakah semua Bahu lawean memang seperti ini.
Laju mobil semakin jauh, hingga Doni tak lagi mengenal dimana dirinya sedang berada, Ia hanya mendengar mas Jono berbicara kepada dirinya sesekali kalau nanti Ia akan meninggalkan Doni setelah prosesi manten bengi legi setelah itu Doni akan menemani mbak Pini tinggal di sebuah-
-rumah seorang lelaki, rumah gubuk dari calon suami mbak Pini.

Doni sempat terkejut, tidak ada tanda-tanda sebelumnya bahwa perjalanan ini bertujuan untuk menikahkan mbak Pini dengan seseorang, pakaian yg mbak Pini kenakan juga bukan pakaian khas manten jawa-
-ia hanya mengenakan kebaya putih dengan jarik, bahkan rambutnya tampak kusut dengan wajah tanpa rias, lantas, bagaimana hal ini bisa disebut perjalanan manten.

Doni tiba-tiba merasakan firasat yg teramat tidak enak, hal ini muncul dari sorot mata mbak Pini. ia melotot.
tak terasa, waktu berlalu begitu cepat, tengah malam, mobil yg dikendarai oleh mas Jono sampai di sebuah gang kampung yang gelap, dipenuhi oleh pohon-pohon tinggi besar, jalanan berbatu dengan rumah-rumah berciri khas atap runcing diikuti ornamen menyerupai pola batik.
Doni mengamati rumah-rumah penduduk, jarak dari satu rumah ke rumah lain cukup jauh dengan lahan kosong ditanami kebun-kebun pisang dan singkong serta dipagari oleh pagar kayu bambu biasa. tak ada listrik hanya lampu petromaks yg tergantung di tiang-tiang penyangga rumah.
ada kejadian ganjil yg Doni rasakan saat melewati rumah penduduk, semua pintu dan jendela sudah tertutup rapat, namun, dari celah-celah kayu pada rumah-rumah tersebut beberapa kali Doni seperti mendapati sepasang mata sedang mengintip, Doni merasa ngeri dengan keadaan ini.
Ia tahu ada yg tak beres dengan semua ini, karena semakin lama laju mobil merangsek masuk, semakin jarang rumah-rumah penduduk yg ia temui lagi, hanya pohon-pohon yg semakin besar dan rimbun dengan tanah berlumpur.
Doni mulai merasa gelisah, dalam hati Ia ingin bertanya namun wajah mas Jono seperti sedang terfokus pada hal lain, ia pasti tak ingin di ganggu, sementara di belakang, mbak Pini sedang bersenandung seorang diri, beberapa kali ia tertawa cekikikan sendiri. membuat Doni merinding.
Pergerakan mobil mulai menanjak naik, di atas tanah berbukit mas Jono menginjak rem sebelum membuka pintu, dua orang lelaki mendekati mobil mereka, Doni bisa melihat mas Jono sedang berbincang-bincang dengan mereka dimana beberapa kali Doni merasa mas Jono sedang menunjuk dirinya
orang-orang itu tak mengenakan baju, hanya sebuah sarung tersampir di badannya, kaki mereka langsung menginjak tanah, badannya kurus kekar, satu dari dua orang itu terus menerus memandang kearah Doni, sebelum akhirnya mas Jono mendekat, “dek ayok mudun, wes sampe” (dik, ayo turun
-sudah sampai)

Doni diikuti mbak Pini melangkah turun dari dalam mobil, dua orang itu lalu mengantar mas Jono, bersama-sama mereka masuk kearah pohon-pohon yg lebih gelap, anehnya, sepanjang perjalanan tak ada yg berbicara satu sama lain. Doni semakin merasa was-was.
hanya binatang malam yg terdengar sepanjang perjalanan, mbak Pini berjalan tepat di belakang Doni, wajahnya kali ini terlihat sayu, sementara mas Jono berada di bagian paling belakang, mengawasi, dua lelaki itu sesekali memukul jalan dengan tongkat dari bambu hijau.

setelah menyasar kebun-kebun serta sawah-sawah penduduk, sampailah mereka di sebuah rumah kayu yg berada jauh sekali dari hiruk pikuk, rumah itu terlihat kokoh dibangun di atas tanah dipagari oleh kayu solid, di sana, tepat di depan rumah ada seseorang berdiri menutupi wajahnya-
dengan sarung.

tak lama, dua orang itu berbicara agar mas Jono ikut, sementara mbak Pini dan Doni menunggu di sini.

Doni mengamati, sosok itu begitu jangkung, tubuhnya kurus, dengan perut menunjukkan tulang-tulang rusuk,
mas Jono tampak berunding sebelum akhirnya tiga lelaki itu pergi masuk ke dalam rumah sementara mas Jono menarik tangan mbak Pini, kini mereka sedang berunding membiarkan Doni seorang diri tak tahu apa yg sedang terajadi di sini. tiba-tiba, mbak Pini berterik, menjerit,
Doni terkeut, mbak Pini terus menjerit, menjambak rambut panjangnya berkali-kali, mas Jono berusaha memegangi, menghentikan mbak Pini, namun yg terjadi berikutnya ialah, mbak Pini menarik lepas segenggam rambutnya membiarkan darah keluar membasahi keningnya, ia lalu tertawa,
mas Jono tetap merengkuh mbak Pini, ia membisiki wanita itu sebelum ia kembali tenang, lalu mengajak mbak Pini agar ikut dengan dirinya, Doni berjalan di belakang, rupanya, mas Jono membawa mbak Pini kebelakang rumah tempat dimana ada sebuah sumur batu,
“aduso dilik nduk, mari ngunu Doni yo” (mandi dulu dik, setelah itu baru Doni) kata mas Jono, mbak Pini mengangguk sebelum masuk ke bilik tempat di mana mbak pini menanggalkan semua pakaiannya, dari jendela rumah, Doni melihat seseorang mengawasi mereka..
selama mbak Pini mengguyur tubuhnya dengan air, Doni dan mas Jono bisa mendengar lagi-lagi wanita itu bersenandung, bernyanyi, suaranya halus namun terdengar menakutkan, apalagi di malam seperti ini, Doni tak tahu lagi apakah dirinya bisa hidup bersama wanita seperti ini..
puncaknya setelah selesai menunaikan tugas, mbak Pini keluar, wajahnya terlihat berbeda, ia tampak lebih segar meski bekas luka di kepalanya tak hilang, mas Jono melihat Doni, anak lelaki itu kini berjalan masuk ke bilik, ia terkejut di sana aroma kemenyan tercium mnyengat
tak hanya aroma kemenyan, namun, air di dalam kendi berisikan berbagai kelopak bunga, Doni merasa bingung apakah ia benar-benar harus mengguyur tubuhnya dengan ini, firasatnya mengatakan ia lebih baik tak melakukannya namun mas Jono terus berteriak agar Doni segera melakukannya.
bocah lelaki itu tak punya alasan lagi untuk menolak, ia mengguyur tubuhnya, air dingin menyentuh kulitnya membuat bocah itu gemetar kedinginan sebelum ia bilas dengan kain handuk, setelahnya, mas Jono mengantar mbak Pini bersama Doni masuk ke dalam rumah tersebut,
rumah itu lebih luas dari yg terlihat, di-sana, di tembok kayu rumah banyak ditemukan benda-benda seperti keris, topeng barong dan berbagai benda antik lain, tak hanya itu, bunga-bungaan berserakan di lantai, membuat Doni merasa heran, tempat siapa sebenar ini..
di lorong pintu terdapat ruangan yang lebih luas lagi, dengan lantai ubin, Doni bisa melihat dua lelaki sedang berdiri mendampingi seseorang yg berlutut membelakangi, tubuhnya di tutup oleh kain putih bersih di depan gamelan serta benda-benda perang dengan meja dipenuhi sesajen.
saat Doni mendekat, ia bisa melihat tiga kepala kerbau tersaji di meja dengan darah masih segar.

satu lelaki mendekat lalu menarik tangan mbak Pini, menuntunnya agar duduk di samping lelaki yg sedang berlutut, tak lama, satu orang lain menarik kain putih bersih itu,
menyampirkannya kepada mbak Pini, mereka juga mengikat mbak Pini bersama orang asing itu dengan melati yg sudah di rajut oleh benang, di nikahkan, pikir Doni saat melihatnya, sebelum, Doni bisa melihat dengan jelas sosok si lelaki,
kulitnya hitam legam, dengan luka borok yg masih berwarna merah, aroma si lelaki jauh lebih busuk dari aroma tubuh mbak Pini sampai membuat Doni ingin memuntahkan isi perutnya, namun, lelaki pendamping segera menutup mulut Doni, memaksa bocah itu menutup paksa hidungnya..
di depan mereka semua, seekor ayam cemani berbulu hitam di gorok dengan darah di teteskan di atas kepala bangkai kerbau, meminumkannya pada mbak Pini, si lelaki, dan terakhir Doni, ia di paksa menelan bulat-bulat cairan kental berwarna merah kehitaman tersebut,
setelahnya, Doni bisa melihat dengan jelas apa yg sebenarnya terjadi, di belakang mbak Pini berdiri sosok hitam berbulu lebat sedang merengkuh tubuh mbak Pini, sedangkan dibelakang si lelaki tiga wanita kerdil sedang menjilati luka merah di tubuh si lelaki.
malam itu, akhirnya Doni sedikit tahu apa yg sedang terjadi.

ia muntahkan isi perutnya, sebelum akhirnya ia jatuh dan tak sadarkan diri karena mendadak semuanya menjadi gelap gulita.
Pethuk Mati Bahu lawean-

@bacahorror #bacahorror
Image
lepas siuman, diatas ranjang kayu, Doni termangu sendiri, masih mengingat dengan jelas sosok hitam tinggi yg merengkuh tubuh mbak Pini, wanita yg menjadi ibu angkatnya.

banyak pertanyaan berputar di dalam kepala Doni, makhluk apa yg sebenarnya dia lihat tersebut.
namun, kejadian ini masih secuil dari keseluruhan teka-teki, serta alasan kenapa Doni saat ini berdiri di bawah atap rumah yg sama dengan seorang laki-laki jangkung misterius, yg menutupi kepalanya dengan selembar kain yg berbeda-beda setiap harinya.
ditambah lagi, hubungan Doni dengan mbak Pini tidak terlalu bagus, Ia hanya diperkenalkan sekali, dipaksa menjadi anak angkat dengan tujuan tertentu yg sama sekali tidak dirinya ketahui.

yg Doni tahu tentang mbak Pini hanyalah, beliau adalah bahu lawean. wanita pembawa kutukan.
berbeda dengan mbak Pini, Doni justru sama sekali tidak tahu menahu perihal pribadi dari laki-laki misterius ini, yg konon kabarnya sudah dinikahkan dengan mbak Pini, meski tanpa ada-nya acara yg megah karena semua serba sengaja ditutupi.

bahkan tempat tinggal mereka, terasing.
tapi satu hal yg Doni ketahui, sebelum mas Jono pergi meninggalkan dirinya bersama dengan mbak Pini tinggal di gubuk yg terasing ini, beliau selalu saja menyebut hal yg sama tentang laki-laki ini, mas Jono memanggil beliau dengan sebutan “Pethuk mati” “Pethuk mati”.
hal ini lah yg mendasari Doni untuk mencari tahu perihal si lelaki ini.

sudah malam ketiga sejak Doni tinggal di gubuk ini, sekali pun ia tidak pernah boleh meninggalkan kamarnya, karena sebelum matahari tenggelam, mbak Pini pasti mendatangi Doni.
wanita itu lalu berbisik ditelinganya. dengan suara parau, mbak Pini mengingatkan dengan nada suara mendesis

“ojok metu kamar yo mas, engkok ibuk teraken mangan’e sampean, timbangane, Pak lek murko” (jangan keluar dulu ya mas, nanti ibu antarkan makanannya, daripada paman marah)
paman yg dimaksud mbak Pini tentu saja adalah si pethuk mati ini.

beliau tidak pernah sekali pun mendekati Doni, menatap pun enggan, setiap subuh ia akan pergi masuk ke selusuk alas (hutan), biasanya, siang hari sudah kembali dengan membawa bangkai binatang.
binatang yg dia bawa pun setiap hari berbeda-beda, terkadang membawa pitik alas (ayam hutan), terkadang ikan sungai, namun yg paling sering, laki-laki itu bawa dari dalam hutan adalah bangkai celeng (babi liar) yg dipunuk dibelakang punggungnya.
satu kali, Doni pernah tanpa sengaja tiba-tiba ingin membuang air kecil, waktu itu tengah malam. jadi, Ia bergerak turun dari atas ranjang, ia berjalan sendirian keluar dari dalam kamar, tepat setelah Doni melewati kamar mbak Pini bersama si pethuk mati, Ia tiba-tiba mencium-
aroma daging yg menusuk. aroma itu begitu pekat berasal dari dalam kamar, hal ini membuat Doni berhenti sejenak diluar kamar, sebelum, Ia merasakan bulukuduknya tiba-tiba berdiri, dibelakang tempatnya saat ini, Doni merasa seperti diawasi oleh sesuatu yg tak jauh dari tempatnya.
gestur yg mengawasi, entah kenapa seperti menyerupai dirinya sendiri.

merasakan ada yg tidak beres, Doni lalu melanjutkan langkahnya menuju ke kamar mandi yg memang tempatnya terpisah dari gubuk utama.

tidak ada yg Doni pikirkan lagi selain ada sesuatu yg disembunyikan di sini.
di dalam bilik kamar mandi, Doni duduk sembari tangannya memutar-mutar kendi yg berisi air.

tidak ada suara apapun selain suara jangkrik dan sesekali hembusan angin yg menghempas atap bilik, namun, mana kala Doni sedang larut di dalam kepalanya, tiba-tiba secara mendadak-
semua yg ada di sekitar tempat ini, mendadak sunyi senyap, hal itu tentu saja membuat Doni seketika sadar bahwa ada hal yg tidak menyenangkan sedang terjadi.

tak lama, terdengar suara tak jauh dari tempat bilik kamar mandi, suaranya seperti suara lesung yg dipukul-pukul.
“pluk” “pluk” “pluk”,

Doni mengenal suara ini dari setiap hari Ia memandangi mbak Pini yg setiap pagi pasti memukul-mukul lesung untuk mengolah gabah menjadi beras, namun, apakah mungkin saat ini di malam yg masih buta, mbak Pini lah yg sedang melakukan hal itu.
Doni pun beranjak dari bilik, Ia keluar dengan kaki telanjang langsung menginjak tanah, sementara suara itu masih terdengar jelas di dalam telinganya, Doni berhenti memandang ke pintu belakang yg terbuka, namun, sesaat, Doni justru menoleh, berjalan menuju ke sumber suara.
Ia berjalan dengan hati-hati, memutari bagian samping rumah, tanah yg dingin tak menyurutkan niatnya untuk memeriksa apa yg sedang mbak Pini lakukan tengah malam seperti ini, namun, sebelum ia sampai pada sumber suara, Doni sempat sekilas mendengar suara pintu.
bocah laki-laki itu mengintip dari tumpukan kayu yg berada tidak jauh dari tempat lesung yg memang sedang dipukul-pukul.

kayu panjang itu bergerak keatas-kebawah, menimbulkan suara pukulan dengan intonasi nada yg sama, Doni, memperhatikan seksama sesosok wanita yg sedang duduk.
byangan Doni tentang mbak Pini sketika lenyap ketika melihat rambut panjang wanita itu berombak, meski memiliki gestur sama seperti mbak Pini, Doni tahu itu bukanlah dia, ditambah lagi warna kulitnya yg pucat membuat Doni perlahan bergerak mundur namun, sesaat, suara itu berhenti
suara itu-tiba-tiba saja berhenti seakan memberitahu bila siapa pun dia, kini sudah tahu keberadaan Doni, di-tengah kengerian yg tiba-tiba menyelimuti tubuh Doni, ia terperanjat saat dihadapan bocah lelaki itu, berdiri si Pethuk mati yg memandang dirinya dari balik kain sarung –
kain sarung yg melilit kepalanya serampangan, Doni seketika terdiam mematung memandang laki-laki yg tak mengenakan pakaian sama sekali, di tubuh kurusnya itu rupanya asal dari aroma daging yg ia cium sedari tadi, ada genangan darah yg masih basah.
tidak ada percakapan diantara mereka, namun, tiba-tiba suhu dingin menusuk punggung Doni, seketika dari sudut matanya ia tahu, bila tepat dibelakang punggungnya ada sesuatu yg saat ini benar-benar sedang berdiri menungguinya untuk melihat wujudnya.
Pethuk mati yg sejak tadi memandanginya lalu mendekatinya, melepas kain sarung yg membalut kepalanya sebelum menelusupkan tepat di kepala Doni, aroma amis menusuk ke dalam hidungnya, karena pethuk mati kemudian mengangkat tubuhnya,
dari sela-sela kain itu lah, Doni-sempat melihat kedua kaki pucat dari sesuatu yg sejak tadi berdiri di belakangnya, tidak ada yg tahu apa dan siapa itu, hanya saja, wujudnya adalah seorang wanita yg sedang memukul-mukul lesung.

sialnya. Doni tidak tahu bentuk wajah pemiliknya.
setiap hari Doni menyaksikan banyak hal asing di dalam rumah ini, dan semakin lama semakin terasa janggal.

dimulai dengan suatu malam ketika tanpa sengaja Doni melihat bangkai seekor anjing malang yg di seret paksa oleh si lelaki jangkung, kepala lelaki itu dibalut kain jarik.
Ia membawa binatang malang itu masuk ke lorong jauh di dalam ruangan pribadi miliknya, tempat dimana mbak Pini juga tinggal.

rumah ini benar-benar merubah wanita itu, entah bagaimana awal mula semuanya, namun, Doni bisa melihat, pelan-pelan tempat ini menelan kewarasannya.
tempat ini jauh sekali dari hiruk pikuk desa paling dekat, sehingga sukar rasanya bagi siapa pun kalau ingin keluar dari tempat ini, Doni sendiri tak lagi mengerti batas wajar apa yg harus dia pertahankan sebagai anak-anak.

yg ia tahu, mas Jono sudah memasrahi dirinya.
memasrahi bila Doni harus serta merta tak boleh jauh dari mbak Pini, karena bagaimana pun ia diberikan mandat sebagai kusen.

kusen disini sendiri masih belum dimengerti oleh Doni, namun, bila dirinya tahu dengan siapa dirinya berhadapan, nampaknya, Doni harus berpikir ulang.
seperti yg setiap hari Doni amati, laki-laki itu lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam ruangan dalam dan dari tempat itu sering tercium aroma kemenyan yg campur aduk dengan aroma amis darah, setiap hari berbagai bangkai binatang dia bawa masuk tanpa pernah keluar lagi.
lalu, persoalan mbak Pini, selain mengerjakan pekerjaan rumah, seperti mencuci baju dan memasak, saat semua sudah selesai, mbak Pini akan memilih duduk di atas tumpukan kayu menyendiri, wajahnya menatap jauh seakan menyimpan sesuatu, Doni masih belum berani mendekati wanita itu.
Ia takut, karena emosinya yg terkadang tidak stabil namun, setiap hari, perubahan wajahnya kian menjadi, Doni bisa merasakan kulit tubuhnya kian memutih pucat, namun, yg paling membuat Doni tak habis pikir adalah, perutnya kini kian membesar.
mbak Pini apa mungkin hamil?
kehamilan mbak Pini tentu bukan hal yg wajar dengan masa bagaimana perutnya sudah sebesar itu hanya dalam kurun waktu tak lebih dari dua bulan berada di tempat ini, selain itu, sepengetahuan Doni perihal Bahu Lawean yg disemat dalam namanya, membuat Doni curiga, siapa gerangan-
si pethuk mati yg bisa bertahan hidup dengan wanita seperti mbak Pini, apa ini ada hubungannya dengan bangkai-bangkai binatang yg dia bawa.

selain itu, ada satu lagi kejanggalan yg tidak akan pernah Doni lupakan seumur hidupnya.
pernah pada suatu waktu, seseorang mengetuk pintu kamarnya, ketika Doni membuka siapa gerangan yg memanggil dirinya, di-sana dia melihat mbak Pini melotot melihat kearahnya, dia menarik paksa tangan Doni tanpa berkata satu patah kata pun, Doni yg takut hanya bisa menurut saja.
rupanya wanita misterius itu mengajak Doni untuk menikmati makan malam, mbak Pini sudah mempersiapkannya sejak pagi, di atas meja, tersaji berbagai jenis makanan lezat seperti ayam yg dibakar dari bara arang sampai ikan mujair dengan nasi mengepul di atas daun pisang.
tak ada yg salah dengan semua ini, sampai sewatu waktu, laki-laki itu datang, masih dengan kepala dibalut kain putih dengan noda darah, kain ini lebih lembut bila diperhatikan dengan seksama layaknya kain kafan yg biasa dipakai untuk membungkus jenazah manusia.
dia lalu duduk di kursi tepat di depan Doni, mbak Pini seketika menunduk saat laki-laki ini datang, tak ada percakapan apapun, semua hening dan begitu canggung, sampai si laki-laki membula lingkar kain di dagu yg menunjukkan mulutnya, aroma busuk seketika tercium, menyengat.
Ia tidak bersuara, hanya duduk lalu melihat kearah mbak Pini, seketika mbak Pini seperti tahu apa yg dia mau, ketika mbak Pini pergi dari meja makan berjalan menuju dapur, kini hanya tersisa Doni seorang diri dengan si laki-laki misterius ini.
lelaki itu hanya diam, melihat kedepan seperti melihat Doni yg sedang duduk, konon sebelumnya mas Jono sudah menyampaikan kepada Doni, bila dia harus menyadari dirinya sebagai anak asuh di tempat ini, jadi dia tak boleh mencari tahu tentang lelaki dihadapannya ini.
melihat fisiknya yg janggal, Doni sadar, ia tak sudi mencari seluk beluk perkara siapa bapak asuhnya ini, sungguh hanya dengan melihat bentuk tubuhnya, Doni sudah dibuat merinding. selain itu, sehari-hari tak ada sehelai kain yg menghiasi badannya yg dipenuhi luka hitam.
tak lama kemudian, mbak Pini keluar dengan periuk tanah liat, diatasnya terdapat secacah daging merah yg aroma amis darahnya masih tercium kental, ketika mbak Pini meletakkan benda asing itu di hadapan lelaki tersebut, Doni langsung tahu bila itu adalah isi otak kambing mentah.
lelaki itu langsung melahapnya tanpa sejedah pun, membuat isi perut Doni bergerak naik, hanya melihatnya saja, Doni tak akan sanggup lagi makan dengan nyaman selama berhari-hari kedepan, Ia menyesal sudah melihat hal ini di depan mata kepalanya sendiri.
lantas apakah kejadian ini adalah puncak dari segala teka-teki selama tinggal di tempat ini, nampaknya, semuanya baru saja dimulai, karena lambat hari, Doni mulai penasaran, siapa sosok dibalik buntalan kain tersebut, dan kenapa dia hanya tinggal seorang diri di tempat ini.
pada suatu malam, Doni sedang tertidur lelap saat dari luar kamarnya dia mendengar suara mbak Pini sedang menangis.

Doni terbangun, sejenak mencoba mendengarkan sekali lagi suara tersebut, dan benar saja, tangisan yg memilukan itu perlahan-lahan mulai menggoda dirinya.
bukan hal yg bijak sebenarnya, rumah ini seperti semak belukar yg kadang harus Doni hindari, Ia sering melihat wanita berwajah tua yg berkeliaran dengan cara menyeret kakinya, kadang sebentuk wujud tinggi besar dengan mata merah menyala, namun entah kenapa, tangisan ini memanggil
iya, tangisan ini seperti memanggil-manggil dirinya, meminta agar Doni keluar dan menemuinya, namun tetap saja, sekelibat pikiran bahwa mbak Pini saja membenci kehadirannya jadi kenapa Doni harus repot-repot keluar apalagi menjelajah diatas tanah wingit ini.
saat itulah, Doni menyadari selain suara tangisan itu kian terdengar, ia mendengar deru nafas di atas kepalanya, saat itu lah Doni menyadari dari langit-langit kamarnya, sosok wajah wanita ber-mata putih menyeringai kearahnya, ketika pandangan mata mereka bertemu, sosok itu pergi
Doni pun melangkah keluar dari dalam kamarnya, lorong panjang seketika terlihat, dengan rasa penasaran yg sudah memuncak, ia berjalan lebih cepat dari biasanya, dan setiap ia melewati sekat, suara tertawa cekikikan terdengar dibalik kamar-kamar yg berpintu, seperti menertawai.
tak hanya itu saja, dari jauh juga terkadang ada yg mengintip, meski hanya setengah wajah yg bersembunyi namun Doni seperti di dorong agar mengikuti suara tangis mengiba itu yg mengarah menuju ke ruang dalam tempat dimana lelaki dan mbak Pini biasa tinggal.
seperti yg Doni duga, langkah kakinya melambat saat menyusuri lorong yg didominasi kayu jati tua yg dipilin kasar, aroma wangi bunga tujuh rupa diselingi kemenyan membuat Doni begidik ngeri, aura tempat ini lebih ke dingin dibandingkan segala penjuru yg ada di dalam rumah ini.
Doni terus berjalan meski setapak demi setapak, ia menyusuri lorong yg penuh dengan keris dan guci-guci tua, manakala ia sudah melewati beberapa pintu sebelum ke satu pintu utama, jendela yg ada di sudut jauh bagian kiri tiba-tiba terbuka dengan cara yg pelan. “Krieeeeett!!”
Doni mendekati sisi jendela, lalu menengok pemandangan jauh yg ada di luar sana, langit gelap dan jejeran pohon-pohon, dibawahnya berdiri seorang wanita, figurnya menyerupai mbak Pini dengan pakaian berwarna putih namun Doni tahu yg di luar tak pernah boleh masuk, Doni menutupnya
Ia mendorong pintu utama, di dalam sana lah, Doni melihat kamar tempat mbak Pini tinggal bersama dengan si lelaki, aromanya menyelubungi tempat ini. Doni masih mendengar suara tangisnya, rupanya, itu berasal dari atas ranjang yg diselimuti tirai transparan, tempat mbak Pini duduk
ruangan ini lebih besar dari ruangan tempat Doni tinggal, selain itu berbagai benda yg tak dapat dijelaskan menghiasi kamar ini, Doni memanggil mbak Pini dengan panggilan mbak seperti biasa, namun wanita itu tak menggubris dirinya, “mbak” “mbak”

Doni mendekat,
tak lama kemudian bulukuduknya tiba-tiba berdiri, entah kenapa atmosfer yg menyelimuti tempat ini lebih sinting sampai membuat Doni mengurut lehernya, apalagi suara tangisan mbak Pini perlahan-lahan berubah menjadi suara tertawa cekikikan yg membuat Doni menjadi ragu,
Doni masih berharap kalau mbak Pini benar-benar memanggil dirinya, namun, sikap misterius mbak Pini membuat bocah itu kebingungan, dan ketika sejengkal lagi dia berada di jangkauan wanita itu, dari belakang sesuatu mencengkram baju yg dia kenakan..
“ra usah ndelok mas, rai ne kulo niki elek, jenengan ra bakal kuat ngewaske kulo, Damar bade datang, jenengan kudu singidan, nek gak Damar bakale mureng-mureng” (tidak perlu melihat, wajahku buruk rupa, anda tidak akan sanggup melihatnya, Damar mau datang, anda harus bersembunyi-
kalau tidak, dia akan marah besar, dan anda bisa dalam bahaya)

Doni tak tahu siapa yg melakukannya, namun setelah mendengar suara itu, ia meringkuk dibawah Ranjang ketika lelaki itu masuk, berjalan menuju ke kursi nan jauh di depan meja yg mengepulkan aroma kemenyan,
Doni terdiam sejenak, sebelum, lelaki itu mulai membuka kain yg membalut wajahnya.

tak ada yg menduga, bila lelaki ini benar-benar tak dapat ditebak, kini Doni sudah mengerti semuanya. semua dan alasan kenapa mereka berdua ada di tempat ini.
di beberapa tempat di pelosok jawa ada sebutan bagi sebuah fenomena kelahiran manusia dengan cara yang tidak lazim, dan di beberapa tempat itu hal ini dsebut dengan Ngaden, ada pula yg menyebutnya cah Ireng, tapi, baru kali ini Doni sadar bila ini semua merujuk pada hal yg sama
semua sama persis dengan ciri si Pethuk Mati.
tidak salah lagi, lelaki yang ada di hadapannya ini adalah seorang manusia yang lahir dari perut mayat yang sudah seratus hari mati.
pantas saja, Doni merasakan firast tak mengenakan sewaktu dekat dengan dirinya, selain itu beliau tak banyak bicara, hal itu dikarenakan separuh dari bibirnya terbuka dengan menampakkan bagian dalam rahangnya, namun dari kesemua itu, ada satu hal yg membuat Doni begidik.
pada bagian anyit, yaitu titik tengkorak pada kepala manusia yg ada pada bagian belakang, ada benjolan yg berwarna kekuningan menyerupai luka bernanah, namun, bila diperhatikan dengan seksama seperti tulang yg menyembul keluar.

lelaki itu hanya diam saja, tak menyadari Doni.
kepul asap dari atas panggung kecil di dalam kamar masih menjadi fokus Doni, layaknya orang beritual ia beberapa kali menggoyang-goyangkan badannya ke kanan dan ke kiri, sementara mbak Pini, layaknya wanita yg kosong, ia menatap kedepan, tanpa melakukan apapun.
lama sekali si pethuk mati melakukan hal itu, sebelum dia berdiri dengan mengambil selembar kain, bukan kain yg sama yg membalut kepalanya, melainkan kain dari dalam lemari kecil yg ada disudut, warnanya putih kusam karena debu, Ia mendekati mbak Pini, pelan, pelan.
tepat ketika beliau berdiri disamping mbak Pini, tanganya nampak memijat bagian leher belakangnya dan wanita itu baru bereaksi, ia seperti ingin memuntahkan sesuatu dari dalam perutnya, Doni masih tak bergerak sama sekali, bernafas pun enggan, Ia menahan semua itu sendirian.
suasana di dalam kamar mendadak mencekam, dari suar lilin yg ada di atas meja, api kecil itu bergoyang goyang hebat sementara mbak Pini mulai meraung kecil, bagian mulutnya ada sesuatu yg berwarna kehitaman, iya, mbak Pini memuntahkan itu ditepian ranjang tempat si lelaki berdiri
si lelaki menekan bagian tengkuk mbak Pini, cukup lama sampai membuat wanita itu mungkin kehabisan cairan yg ada di dalam perutnya, baru lah setelah mulai perlahan mereda, si lelaki melepaskan mbak Pini, ia mengusap tangannya dengan kain putih di tangannya yg lain, sebelum,
Ia membekap kepala mbak Pini, mengikatnya dengan temali berwarna putih, anehnya, mbak Pini seperti tak melawan sama sekali.

setelah itu baru-lah beliau pergi meninggalkan mbak Pini di dalam kamar, Doni hanya termangu dalam diam.

diam yg tak dapat berkata apa-apa lagi.
sementara mbak Pini cuma duduk, tapi kedua tangannya membelai-belai perutnya sendiri, Doni merasa ada yg janggal, entah kenapa di kamar ini rasanya bulukuduknya tiba-tiba berdiri.

kemana si lelaki itu pergi, kenapa mbak Pini ditinggalkan seperti ini?
saat membelai itu mbak Pini bersenandung, suaranya lembut, Doni baru tahu mbak Pini bisa bernyanyi, lagu anak-anak.

Doni lekas bergegas pergi, sewaktu ia baru mau melangkah pergi, nyanyian lagu mbak Pini mendadak berhenti, dia memandang ke tempat Doni dengan kepala tergedek.
Doni belum pernah semerinding saat itu, namun, mbak Pini yg melihat dengan kepala terbungkus kain hanya diam, seperti mematung, Doni pun beranjak pergi, ia lekas meninggalkan tempat itu tanpa lagi bertanya apa yg sedang dilakukan oleh mereka.

sewaktu melangkah di lorong,
Doni terhenti ketika di meja makan, si lelaki duduk dengan dua cangkir kopi yg sudah tersaji, seolah-olah beliau sudah menunggu kedatangan Doni.
dia tak banyak bicara, tak juga menyapa Doni, bahkan nampaknya segelas kopi itu bukan untuknya, tetapi ketika beliau melihat dalam-dalam mata Doni, Ia menunjuk-nunjuk pintu kamar tempat Doni tadi pergi, di-sana masih terdengar lembut senandung yg dinyanyikan mbak Pini, sebelum,
hening.

ruangan tempat mbak Pini mendadak hening. sunyi. Doni yg masih sangat kecil tidak mengerti apa-apa, Ia berdiri tak bergerak sama sekali dari tempatnya.
baru lah kali pertama itu Doni mendengar suara seseorang yg menjerit dengan begitu keras, seperti orang yg kerasukan, sangat-sangat keras, lelaki itu menutup telinga Doni membawanya kembali ke kamarnya, beliau menuntun bocah laki-laki itu tanpa sepatah kata pun.
Setelah si Pethuk mati membuka pintu kamar tersebut, baru lah Doni bisa melihat mbak Pini sedang duduk sembari mengelus-elus perutnya yg terlihat semakin besar, kepala mbak Pini masih terbungkus kain berwarna putih kusam tersebut.
Namun ada kejanggalan dimana pada beberapa titik bagian kepala mbak Pini terlihat kalau kain itu di nodai tetesan darah yang nampaknya berasal dari kepala mbak Pini sendiri, Doni hanya bisa diam mematung menyaksikan hal itu, ia tidak dapat berbicara sedikit pun.
Setelah itu, baru lah Pethuk mati mengangkat tubuh mbak Pini, menggendongnya diatas punggungnya sembari membawa tubuh mbak Pini entah pergi kemana.
Mimik wajahnya melihat ke tempat Doni yg sedang berdiri, meski pun ia tidak berbicara sedikit pun kepada Doni namun nampaknya ia memberi gestur agar Doni mengikuti dirinya. aura orang ini benar-benar membuat sekujur tubuh begidik ngeri.
Di dekat rumah memang ada setilik jalur menuju hutan lebat dibawah lereng kaki gunung, Pethuk mati ini berjalan dengan langkah kaki yang tenang, tanpa menggunakan alas kaki beliau bisa tahu harus berjalan kemana, menghindari batu kerikil dan tanah berlumpur,
menyusuri setapak demi setapak jalan sampai akhirnya mereka sampai di sebuah gubuk lain yg berada tepat dibawah kaki pohon beringin yang cukup besar.
anehnya, selama Pethuk mati membawa mbak Pini yg kepalanya masih dibalut dengan kain tersebut seperti dirinya, mbak Pini sama sekali tidak menunjukkan gestur melawan. Doni pun sama saja, ia benar-benar menurut apa yg diperintah oleh si Pethuk mati ini.
Di dalam gubuk itu, si Pethuk mati kemudian membawa mbak Pini masuk.
Gubuk ini jauh lebih kecil jika dibandingkan rumah yang sebelumnya, di dalamya hanya ada satu ruangan dengan ranjang kayu biasa dengan api yang menyala dari sebuah petromaks yang tergantung diatas dinding.
Selain ranjang kosong tanpa ada apapun di atasnya, ada sebuah meja kayu dengan banyak sekali ulin dan berbagai bumbu dapur seperti bawang putih, bawang merah, cabai dan lain sebagainya.
Mbak Pini dibiarkan berbaring di sana, sementara si Pethuk mati nampak membuat sesuatu dari berbagai tanaman serta bunga-bungaan yang tersaji di atas meja, tak lama kemudian Doni bisa mendengar jika mbak Pini terengah-engah, seperti kesulitan bernafas dibawah kain kusam tersebut.
mungkin saja mbak Pini sedang kesakitan akibat kain yang menutupi kepalanya, tapi si Pethuk mati seperti membiarkannya begitu saja, Doni juga tidak berani berbuat apa-apa, ia takut jika melakukan sesuatu pethuk mati akan menghukumnya, tahu kalau Doni tidak tega,
si Pethuk mati kemudian memberikan gestur kepada Doni untuk pergi, ia menyuruh anak itu mengambil air di sumur yang ada di belakang, Doni awalnya ragu apakah dia berani berjalan keluar saat malam gelap seperti ini, apalagi tempat ini nampak mengerikan dan ia juga sedang ketakutan
namun melihat sorot mata kosong dari si pethuk mati membuat Doni tidak memiliki pilihan lain selain melaksanakan perintahnya, ia segera melangkah keluar dari pintu gubuk dan langsung melihat semak belukar dengan banyak sekali pohon-pohon tinggi besar sejauh mata memandang.
Doni berjalan hanya menggunakan alas kaki karet yang sudah usang, ia menghindari tanah berlumpur dan batu kerikil, selama ia menyusuri jalan, Doni merasa mendengar suara kendang dari kejauhan seperti ada yang sedang mengadakan hajatan yang tidak jauh dari tempat dia berada.
Doni terus berjalan dan berusaha mengabaikannya, hingga akhirnya sampailah dia di sebuah sumur kecil yg nampaknya sudah lama tidak digunakan, Doni cepat-cepat meraih timba dan segera menurunkannya untuk mengambil air yg ada di dalamnya,
selama ia berada di sana entah kenapa badan dan leher Doni tiba-tiba merinding.

tidak hanya itu saja bulukuduknya berdiri merasakan sesuatu yang tidak mengenakan, bahkan Doni tidak berani melihat kesana-kemari karena perasaan takut yg tiba-tiba meluap begitu saja.
Doni fokus pada tali yang mengikat timba dan mendengarkan suara kerepyuk air saat menyentuh kedalaman, dengan perasaan lega Doni menariknya perlahan, suara gendang, kending dan tabuhan gamelan masih terdengar dari kejauhan namun Doni berusaha abai dengan suara-suara asing itu.
hingga timbul suara lain yang membuat sekujur tubuh Doni tidak bisa bergerak dengan normal, suara itu tidak lain adalah suara tali tambang yg seperti di tarik-tarik dari bawah kedalaman sumur. Doni menatap tali itu yg bergerak-gerak dengan sendirinya. ada perasaan ingin melihat.
Doni pun mendekati sumur perlahan-lahan ia berusaha menjaga keseimbangannya agar tidak tergelincir, dan saat Doni melihat ke lubang yg sepenuhnya hitam itu, Doni tidak bisa melihat apa-apa, ia termangu sebentar sebelum. “MINGGAT!!”

jerit suara wanita keluar dari dalam sana.
Doni bergegas pergi, ia dengan langkah sempoyongan membawa air, berusaha pergi dari tempat itu, meski sekilas Doni sempat melihat seorang wanita berambut hitam keriting panjang, ia sedang berdiri diantara air yg hanya setinggi dadanya, ia sedang menimang janin di tangannya.
sampailah Doni di depan gubuk, entah kenapa tempat ini benar-benar tidak nyaman, meski sendirian Doni merasa kalau ramai sesuatu mengawasinya dari segala penjuru, bulukuduk pun tidak henti-hentinya berdiri, Doni segera mengetuk pintu dan memberikan air yg Doni bawa ke Pethuk Mati
laki-laki itu tidak berbicara, ia hanya melihat air yg Doni bawa kemudian menutup hidungnya, Doni pun melihat ke tempat air dan betapa terkejutnya melihat air yg sebelumnya jernih tiba-tiba menjadi keruh.

keruhnya ini seperti ada genangan darah yg bercampur.
untungnya si Pethuk mati tidak protes, ia membawa air itu menaburinya dengan bunga kemudian membawanya ke tempat mbak Pini sedang duduk di atas ranjang.

sedangkan wanita itu masih sama, ia duduk dengan tenang, kepalanya masih dibalut kain kusam, pemandangan ini terlihat ganjil.
Pethuk mati kemudian mengguyur tubuh mbak Pini, menggosok tangannya berkali-kali membiarkan wanita itu merasakan dinginnya air malam-malam, sebelum suara kendang dan gamelan yg sempat Doni dengar tadi kali ini semakin intens seolah para penabuhnya berada di luar gubuk ini.
Pethuk mati kemudian membuang kain yg menutupi tubuhnya menunjukkan kulitnya yg nyaris berwarna hitam legam, Doni tidak tau apa yg terjadi namun dari gestur tubuh si Pethuk mati nampaknya ia terlihat cemas, beberapa kali ia sedang mencari sesuatu, meletakkan benda-benda janggal.
seperti batang tebu, potongan bambu kuning, bahkan beberapa kali dia melempar semacam bubuk garam ke tembok, dan di sinilah, mbak Pini yg sebelumnya tidur tiba-tiba duduk dengan posisi menunjuk Doni. anak itu seketika merinding.
Pethuk mati kemudian menyeret tubuh Doni membawa anak itu berada disamping mbak Pini, selepas itu baru lah Pethuk mati berdiri di depan mbak Pini, beliau kemudian membentangkan kedua kakinya.

Doni bisa melihat laki-laki itu memasukkan kedua tangannya kedalam bagian intim.
suara gamelan kian bertambah semakin keras membuat Doni merinding luar biasa, ada sesuatu yg sedang dilakukan Pethuk mati, anehnya mbak Pini hanya duduk dengan kepala masih dibuntal kain, tidak ada jeritan, atau pun penolakan, tak lama kemudian dari tembok tembok kayu terdengar-
suara ketukan yg intens.

seperti diketuk oleh berpuluh-puluh orang secara bersamaan. Doni yg berdiri disamping mbak Pini pun mulai khawatir, sebenarnya apa yg sedang terjadi di tempat ini.
tak lama kemudian Pethuk mati menarik sesuatu dari kedua kaki mbak Pini, sesuatu yg dibawa di tangannya nampak seperti segumpal darah berwarna merah, merah sekali dengan temali yg panjang dan masih terhubung dengan mbak Pini, Doni membuang wajahnya ketika menyaksikan hal ini.
entah apa yg dilakukan oleh si Pethuk mati selanjutnya karena segumpal daging itu ditutupi oleh kain yg sebelumnya Pethuk mati itu pakai.

sesuatu itu benar-benar ditutupi keseluruhannya, bahkan Doni tidak bisa melihat setitik pun daging yg masih dipenuhi oleh darah segar.
laki-laki itu meletakkannya di atas meja dengan diikat menggunakan tali.

kemudian ia mengikat tubuh mbak Pini dengan tali lain di atas ranjang kayu tersebut, baru lah si Pethuk mati berbicara dengan Doni, suaranya terdengar terbata-bata sampai Doni tidak mengerti perkataannya.
untungnya mbak Pini seperti tahu apa yg coba dikatakan oleh si Pethuk mati, dibawa kain yg membungkus kepalanya mbak Pini seolah bisa mengerti apa yg coba disampaikan oleh laki-laki itu.

“semalam” kata mbak Pini mengikuti kalimat si Pethuk mati..
“semalam saja di sini, jangan lepas kain anak itu, jangan lepas penutup kepala isteriku juga, jaga mereka agar tidak terhubung satu sama lain, jangan biarkan ada yg bersuara, jangan buka pintu, tetap di sini, sampai malam besok saat saya sudah kembali”
Malam itu Pethuk mati kemudian keluar, ia pergi begitu saja tanpa memberitahu apa yg terjadi jika Doni tidak bisa menjaga pantangan itu

Laki-laki dewasa meninggalkan anak kecil sendirian, Doni hanya meringkuk disamping ranjang mbak Pini saat mbak Pini tiba-tiba tertawa cekikikan
benar, di gubuk terpencil, bersama dengan wanita yg mentalnya tidak stabil, kemudian ditinggal dengan sesuatu yg dibungkus dengan cara yg janggal membuat Doni awalnya hanya bisa meringkuk di sudut ruangan, sementara dari luar gubuk, ketokan dan tabuh gamelan masih terdengar
lama sekali bocah malang itu mendengar suara-suara tawa cekikikan, ketokan di tembok sampai gemersak sesuatu yg diikat sepanjang malam, hal ini membuat perlahan dirinya goyah, ia ingin melihat segumpal daging itu lagi, tapi Pethuk mati melarangnya, jadi ia kebingungan
tapi yg namanya anak kecil, rasa penasaran tetaplah rasa penasaran, ia berdiri dari tempatnya duduk, kemudian berjalan menuju ke bungkusan tempat Pethuk mati mengikat erat benda janggal itu.

bocah itu mencium aroma amis darah, bagaimana Doni bisa tau-
-karena ia cukup mengenali aroma ini dari bangkai yg selalu dibawa pulang oleh Pethuk mati.

hanya saja amis darah ini tidak seperti amis darah dari binatang, ini seperti amis darah manusia.
bocah itu tau dimana Pethuk mati menyembunyikan bilah pisaunya, maka ia mengambilnya, dengan tangan kecilnya bocah itu mulai menggesek bilah tajam pada tali dan sesuatu yg ada di dalamya bergerak dengan gerut yg lembut membuat Doni seperti menahan nafasnya.
aroma amis semakin tercium menyengat, sementara suara-suara itu masih berputar-putar disekeliling rumah, tanpa sadar Doni melihat ke tempat mbak Pini yg saat ini melihatnya dalam posisi duduk.

benar wanita itu bisa melepas tali yg mengikat tubuhnya, dengan kepala masih dibungkus
-kain, wanita itu hanya duduk dan melihat ke tempat Doni, sambil menggelengkan kepalanya kekiri dan kanan dengan gerakan yg sangat janggal.

Doni hanya bisa diam mematung, ia menelan ludahnya. apa yg baru saja dia lakukan seperti kebodohan yg sudah diatur.
anehnya, mbak Pini tidak bergerak sama sekali, ia benar-benar hanya duduk saja dan seperti bisa melihat keberadaan Doni.

bocah itu kembali pada gumpalan yg ada dihadapannya, dengan sedikit menggunakan otot ia berhasil membuat benda itu jatuh keatas meja setelah sebelumnya dalam-
posisi tergantung.

kini Doni bisa melihat sesuatu yg ada didalamnya menggeliat.

nafasnya terasa semakin berat karena entah perasaan macam apa yg sekarang ada di dalam dadanya. Doni kemudian memotong pengikatnya, dan kain itu terbuka dengan sendirinya.
seperti yg Doni duga, sesuatu yg ia bayangkan itu benar-benar janin manusia hanya saja dalam bentuk paling ganjil yg belum pernah dia lihat sebelumnya.

ia seperti segumpal daging tak berbentuk, memiliki dua kaki dan dua tangan tapi dipenuhi guratan tidak rata,
sekujur tubuhnya terus mengeluarkan darah, semua mengalir dari pori-pori kulitnya, tapi yg paling menakutkan dari semuanya, janin malang itu tak memiliki mata hanya lubang hidung dan mulut kecil yg tidak sempurna.

cukup lama Doni melihat janin gempal itu sampai tanpa Doni sadari
kedua bahunya digenggam oleh tangan mbak Pini yg seperti sedang mengamati Janin itu, Doni terkesiap ia menadahkan kepala melihat wanita itu tertawa kecil, sekujur tubuh Doni tiba-tiba saja merinding dibuatnya.
mbak Pini mengambil janin itu membawanya keatas ranjang seperti sedang menimang-nimang, Doni masih tak bergerak dari tempatnya.

“nak, merene..” (nak, kesini..) kata wanita itu kepada Doni, bocah itu menggelengkan kepalanya.

tapi mbak Pini terus melambai-lambaikan tangannya.
Doni yg tidak punya pilihan lain mendekat malu-malu, ia menghindari tatapan langsung dengan janin yg ada dipangkuannya.

“cah ganteng, anak’e ibu ayu yo” (anak ganteng, anake ibu cantik ya)

Doni terpaksa melihat bentuk bibirnya yg kecil, selaputnya seperti tidak sempurna.
“ibu iso jalok tolong, bukakno kain iki ben ibu iso ndelok anak e ibu luweh jelas” (ibu bisa minta tolong, bukakan kain ini biar ibu bisa melihat anak ibu lebih jelas)

Doni tertuju pada kain yg berwarna kusam dengan darah yg sudah lama mengering di-sana sini,
Doni baru menyadari jika pada kain yg menutup kepala mbak Pini hanya diikat dengan satu tali yg mengikat dileher.

Doni tentu saja tidak langsung mau melakukannya, tapi mbak Pini mencondongkan puterinya, membuat janin itu menjejak-jejakkan kaki dan tangannya.
“bukaken nak, ra popo, sedilut tok ae” (buka nak, gak papa, sebentar saja)

Doni meski awalnya tidak akan pernah menuruti kata mbak Pini tapi anehnya ia akhirnya menurut, ia buka pelan-pelan tali pengikatnya yg nampaknya dari sobekan kain yg sama.

setelah selesai membuka kain.
Doni melepas kain penutupnya, ia buka secara perlahan hingga bagian dagu dan bibirnya terlihat, saat itu Doni menyadari jika kulit wajah mbak Pini nampak berbeda, teksturnya keriput seperti kulit nenek-nenek tua. bahkan giginya kuning dengan ukuran yg lebih besar.
ia, sepertinya mbak Pini menyadari jika Doni malang sudah tau sehingga ia sempat menyeringai sedikit, disitu Doni mengurungkan niat untuk membukanya tapi dasar mbak Pini sudah berbeda, ia bisa melepas penutup kepala itu sendirian.

satu tangan Doni dicengkram sangat kuat.
Doni tentu melawan, ia benar-benar ketakutan, tapi dasar tenaga anak-anak tidak akan sanggup melawan tenaga orang dewasa.

kepala Doni dibelai sangat lembut, sebelum ia membisiki, “nurut ae nak, ra bakal onok sing ciloko” (menurut saja ya nak, tidak akan ada yg celaka)
sepanjang malam Doni menemani mbak Pini menyusui janin yg diselimuti dengan kain itu, Doni tidak tahu lagi harus merasa mual atau takut, mbak Pini pun tidak mencelakai seperti yg dibayangkan sebelumnya, ia justru membelai Doni sampai akhirnya bocah itu tertidur.
saat Doni terbangun dari tidurnya, ia melihat seseorang sedang duduk dibawah kakinya, Pethuk mati rupanya sedang melihatnya, kali ini Doni bisa melihat wajahnya dengan jelas, sorot matanya yg entah marah atau apa benar-benar tidak bisa ditebak, ia melihat Doni dengan mata nanar,
laki-laki itu kemudian menggeleng-gelengkan kepala, sebelum mengangkat bocah malang itu.

Doni sempat melawan tapi tenaga Pethuk mati jauh lebih besar bahkan dari mbak Pini sekali pun, di malam yg gelap gulita itu, laki-laki itu membawanya pulang ke rumah.
dan di rumah itu, Doni bisa melihat mbak Pini terbujur diatas lantai, diatas jarik yg dibentangkan.

wajahnya nampak pucat, sementara disampingnya ada kandang ayam tempat Janin yg sebelumnya Doni lihat kini menyerupai bayi hanya saja bayi itu tetap saja cacat.
tidak ada yg tau alasan kenapa bayi itu diletakkan dibawah sangkar ayam.

tapi Pethuk mati seperti melakukan sesuatu yg benar-benar Doni tidak mengerti, ia hanya duduk sambil menghisap tembakau melihat mbak Pini terus menerus, sebelum ia memanggil Doni untuk mendekat.
saat Doni mendekat Pethuk mati membuka lebar-lebar mulutnya, rupanya terjawab sudah jika lidah laki-laki itu sebelumnya dipotong entah oleh siapa.

Pethuk mati kemudian menunjuk anak yg ada di dalam sangkar, kemudian menunjuk dirinya. Doni pun sadar apa yg dimaksudkan.
Janin cacat itu bisa jadi jika dibiarkan hidup akan menderita sama seperti si Pethuk mati ini, apakah itu berarti maksud kata Pethuk mati itu lahir dari rahim seorang Bahu lawean.

meskipun Doni tidak mengatakannya, Pethuk mati seperti tau kalau Doni sudah mengerti maksudnya.
tak berselang lama, pintu rumah diketuk oleh beberapa orang yang dulu pernah Doni lihat, orang-orang dengan sarung tersampir ditubuhnya, orang-orang ini berjalan masuk kemudian melihat mbak Pini, mereka semua nampak berkumpul di rumah ini, entah apa yg akan mereka lakukan.
sampai tengah malam, tidak ada yg melakukan apa-apa, semuanya hanya diam kecuali janin yg cacat itu yg mulai bisa menangis seperti bayi normal pada umumnya hanya saja suaranya terdengar aneh, seperti tertahan akibat tenggorokannya yg kemungkinan berbeda pada janin yg normal.
selepas tengah malam, orang yg paling ditunggu akhirnya datang, sebuah mobil yg sudah lama Doni tidak pernah lihat baru saja tiba. mas Jono datang dengan wajah yg tidak bisa ditebak, beliau melihat mbak Pini kemudian melihat si Pethuk mati sampai ke janin yg didalam sangkar ayam
orang-orang itu mengajak mas Jono keluar, mereka saling berbicara satu sama lain, nampaknya mas Jono sudah mendapatkan hak untuk mencari jalan keluar dari kesalahan yg sama sekali tidak mereka perkirakan, beberapa kali mas Jono juga melihat Doni dengan tatapan yg tidak senang.
setelah berdiskusi lama, mas Jono pun mengangguk, beliau kembali masuk dan akan menerima segala resikonya, Pethuk mati itu berdiri, ia membawa Janin itu ditangannya, menyelimutinya kemudian membawa Doni ikut pergi bersama dengan orang-orang yg lain.
mereka semua lagi-lagi masuk kedalam hutan. sementara mas Jono masih tinggal di rumah ini bersama dengan mbak Pini.

Doni sebenarnya ingin menolak tapi orang-orang itu memaksanya untuk ikut.
digubuk yg sama hanya saja dibelakang pohon beringin Doni ditunjukkan sesuatu, sepetak lahan dengan patekan (nisan kayu) berbaris sejauh mata memandang, ada puluhan patek ditancapkan tanpa ada nama pada kayu-kayu itu, ukurannya tidak lebih panjang dari janin yg dibawa Pethuk mati
beberapa orang kemudian membawa daun pisang, melemparkannya ke salah satu lubang galian, Doni menyaksikan setiap gerak-gerik yg dilakukan orang-orang ini, rasa-rasanya dia tahu apa yg akan terjadi selanjutnya, Doni berharap hal itu tidak akan terjadi tapi Pethuk mati melakukannya
Ia, ia membawa Janin itu turun, meletakkannya begitu saja di sana, menutupinya dengan daun pisang, tak berselang lama tanah mulai dijatuhkan satu persatu menutup lubang itu. Doni, kemudian dipaksa untuk meminum sesuatu, sesuatu yg kental seperti lendir, tenggorokannya bisa-
merasakan rasa pahit yg teramat sangat. seperti dibakar, sampai badannya lemas terkulai barulah dia dibirakan jatuh di atas tanah yg sama, dan dia bisa mendengar suara bayi yg menangis.
sebelum Doni mendengar suara bayi menangis, ia mendengar orang-orang itu berkata, “gowoen mlayu ibu mu metu soko alas iki, ojok rungokno sopo sing kowe gak kenal, gok alas kabeh iku penduso” (bawa lari ibu keluar dari hutan, jangan dengarkan siapa pun yg tidak kamu kenal,
di hutan semuanya pembohong)
Doni bangun diatas kuburan yg baru saja digunakan untuk mengubur janin cacat itu dan sekarang di setiap patek, nisan yg Doni lihat seorang wanita masing-masing sedang menimang bayi mereka masing-masing, begitu mereka sadar dengan kehadiran Doni, mereka mengatakan satu hal yg sama
“nak iki ibu, gowo ibu muleh” (nak ini ibu, bawa ibu pulang)

Doni tentu saja ketakutan, karena setiap batu nisan ada seorang wanita yg duduk, ada pula yg berdiri, mereka semua memiliki rupa dan wajah yg berbeda satu sama lain, hanya satu kesamaan yg membuat Doni begidik ngeri,
senyuman mereka terlihat seperti senyuman menyeringai yg dipenuhi tipu daya.

bulukuduk dan sekujur tubuh Doni merinding melewati nisan-nisan itu, ia tidak tahu apa yg harus dia lakukan di tempat ini.

pohon beringin pun dipenuhi oleh mereka-mereka yg lain yg seperti menertawai.
Doni terus berjalan, tanpa terasa bocah malang itu juga sudah berada dipuncaknya, Doni terus berjalan sendirian, dibawah kaki-kaki pohon, Doni menyusuri jalan setapak sendirian, sampai akhirnya dia mendengar mbak Pini sedang duduk disalah satu nisan, ia sedang menimang bayi
mbak Pini menyanyikan tembang yg pernah Doni dengar dulu, bocah itu mendekatinya, ia kemudian mengatakan kalau disuruh membawa beliau pergi, tapi mbak Pini menggelengkan kepala menolak dan memilih bersama bayinya, Doni melihat bayi itu memang seperti bayi biasa, tidak seperti-
janin cacat yg sebelumnya dia lihat, tapi Doni juga tidak tau cara membujuk orang itu, bahkan saat membahas keluarganya mbak Pini pun juga menolak, bahkan ada saat nya wanita itu marah dan mengancam bahwa ia tidak bisa dipaksa menyukai anak yg bukan darah dagingnya.
Doni pun akhirnya pergi dari tempat itu sendirian, banyak dari mereka yg berkata kalau dia ibunya, memintanya agar dibawa, Doni hanya menunduk berusaha tidak mendengarkan, bahkan saat bocah itu keluar dari sana sendirian, Doni hanya menggelengkan kepala kalau mbak Pini suka-
berada disini, orang-orang itu pun tidak berkata apa-apa, tapi mas Jono yg kemudian menemui Doni mengatakan kalau saja Doni menurut dan tidak melakukan hal sial seperti melihat Pethuk mati yg lahir dari rahim mbak Pini semua tidak akan serumit ini, sekarang tidak ada yg bisa-
dilakukan, setelah janin cacat itu dikubur, Pethuk mati akan terus berada di sana, di kuburan itu berpuasa snedirian, tapi mbak Pini juga tidak bisa pulang.

mas Jono pun tidak mengatakan apa pun lagi, kecuali ada keajaiban mbak Pini bisa menemukan jalan pulang.
tapi hal itu tidak akan pernah terjadi, mas Jono juga mengatakan kalau bayi-bayi yg Doni lihat adalah janin-janin dari bahu lawean yg pernah meminta tolong sama si Pethuk mati ini, kebanyakan dari mereka bisa melewati masalah ini karena Kusen mereka yg memang tidak seceroboh Doni
salah mas Jono juga memilih Doni yg belum akil baligh tapi keadaan sudah memaksa, dan semua sudah terjadi, sekarang tidak ada lagi yg bisa Doni dan mas Jono lakukan, mereka harus membawa mbak Pini pulang, bagaimana pun, wanita itu masih hidup hanya belum bisa pulang..
mas Jono pun mengatakan kalau Doni mungkin lebih baik tidak melanjutkan menjadi anak angkat mbak Pini, tapi rupanya keluarga mbak Pini berpikiran lain, meski pun keadaan sudah menjadi seperti ini, tapi keluarga mbak Pini masih ingin mengangkat anak Doni,
mas Jono pun tidak memaksa.

selama tumbuh di keluarga mbak Pini, Doni yg mengurus beliau, wajah mbak Pini sering murung seperti orang yg melamun kadang seharian beliau hanya duduk di kamar memandang jendela dengan tatapan yg kosong.
kadang ia duduk sambil menimang bayi, dan bersenandung sendirian.

tapi, pada suatu malam, Doni merasakan angin berhembus melewati tubuhnya.
Doni turun dari ranjang, mencari darimana firasat buruk itu datang, rupanya Doni melihat sekilas ada yg sedang berjalan di lorong sendirian, sosok yg Doni lihat ini terlihat familiar, sosok ini masuk ke dalam kamar mbak Pini tengah malam seperti ini.
dan benar saja saat Doni mengikuti,

Doni dibuat terkejut saatt menemukan mbak Pini sedang duduk menatap dirinya sembari menyeringai, beliau mengelus-elus perutnya yg sudah membesar hanya dalam waktu satu malam.

mbak Pini kembali mengandung.
dan itu adalah anak yg paling ditunggu, orang-orang yg selama ini menemani Pethuk mati kemudian berkata, kalau anak itu lah yg menjadi pembayaran setelah apa yg Pethuk mati kerjakan, mas Jono juga terlambat menceritakan ini, beliau tidak menyangka mbak Pini bisa pulang.
jadi maksudnya, karena kesalahan yg dilakukan Doni, Pethuk mati mengamil resiko jalan lain yaitu meminta anak yg lahir dari rahim mbak Pini, anak ini, itu anak yg dulu gagal dilahirkan, ada alasan yg tidak bisa dijelaskan kenapa Pethuk mati menginginkannya, dan karena hal itu,
mbak Pini menjadi gila.
dan begitulah Doni menceritakan kalau sampai saat ini, ia menyimpan rasa bersalah ini, ia tidak pernah meninggalkan keluarga ini.

bahkan sampai saat cerita ini ditulis.