Cerita Horor Tumbal Tahunan Pemilik Pabrik

Cerita Horor Hari Ini – Darah bercucuran memenuhi wajah dan tubuhnya ketika orang itu datang dengan tertatih2 ke rumah kami. Saya masih ingat betul apa yang dia ucapkan malam itu.

Pabrik itu sekarang sudah terbengkalai, beberapa bagian atap2nya sudah mulai ambruk. Bahkan dinding2nya pun sudah berlubang dan di tumbuhi banyak rerumputan yang sudah sangat tinggi.

(Bagi keponakan yang mengetahui/mengenali ciri2 tempat di dalam cerita mohon untuk tidak di ungkapkan?)

“Sudah sejak tahun berapa pabrik ini di tutup pak??” Tanya Om rasth pada salah satu warga sekitar yang menemani om masuk kedalam pabrik

“Sudah sangat lama sekali pak, untuk tahun pastinya saya juga kurang ingat. Karena memang sudah sangat lama sekali. Cuma seingat saya satu persatu orang2 yang bekerja di pabrik itu pergi. Yang terakhir 10 atau 15 tahun lalu bapak penjaganya berhenti. Katanya sudah benar2

Putus kontak dengan pengurus pabrik ini. Dan gajinya selama 9 bulan terakhir pun tidak di bayarkan sama sekali.” Jawab bapak berbaju biru bergambar partai tersebut

Kami berdua pun berjalan2 berkeliling pabrik tersebut (sungguh di sesalkan om tidak bisa video kan tempatnya karena memori hp nya sudah penuh sekali).

Sampai kemudian kami tiba di sebuah ruangan yang berada di bawah tangga, Ruangan itu terkunci dan banyak segel di sekitarnya.

“Ini ruangan apa pak??”

“Dari yang saya tau, ruangan ini dulunya di gunakan untuk pemberian tumbal pabrik ini agar tidak mengalami gangguan.”

“Pantas saja hawanya sedikit berbeda ya pak di sini, rasanya seperti lebih pengap dan lembab.”

Gubrraakk… Suara benda jatuh dari di dalam ruangan terkunci itu terdengar sangat jelas sekali.

Saat om ingin memaksa membuka ruangan tersebut, bapak2 yang menemani om mencegah, beliau beralasan mungkin suara itu adalah suara binatang2 liar yang berhasil masuk kedalam melalui celah sempit di bawah pintu yang sudah mulai di makan rayap.

Klik Prediksi Bola Online Jitu

“Ayo pak kita ke ruangan lain nya.” Ajak si bapak berbaju partai tersebut

——–

Pabrik itu dulu mempunyai karyawan yang lumayan banyak, dan tepat di sebrang jalan masuk pabrik terdapat sebuah warung kopi milik bu inah. Warung kopi yang merupakan milik istri dari pak Safi’i

Ketua RT waktu itu.
Dari arah warung akan jelas sekali melihat ke halaman pabrik, melihat para karyawan yang berlalu lalang mengerjakan tugas mereka masing2.

Dan tidak jarang para karyawan juga biasanya akan keluar untuk ngopi dan makan gorengan di waktu istirahat mereka.

Seperti hari itu beberapa karyawan keluar dan menikmati sepiring gorengan dengan teh dingin

“Sumpah, kalau bukan karena terpaksa, rasanya aku mau berhenti saja dari pekerjaan ini. Setiap hari harus menghadapi mulut gilanya pak Aldi(samaran), yang lama2 bikin pusing, marah, emosi jiwa.” Ujar salah satu karyawan

Pak Safi’i cuma tersenyum mendengar obrolan orang2 tersebut. Memang dari cerita2 karyawan pabrik tersebut, bos mereka sangat tidak ramah dan terkesan pemarah.

Salah sedikit saja karyawan2 itu akan di marahi habis2an bahkan di ancam tak akan di beri gaji.

Meski berjualan di seberang jalan masuk pabrik itu, namun pak Safi’i tak pernah melihat langsung bos tersebut. Dia selalu turun naik mobil dengan kaca yang tertutup rapat.

—-
“Pak, bu, selama kalian buka warung di sini, apa pernah mendengar sebuah rumor yang mengatakan kalau pabrik ini rutin memberikan tumbal di sebuah ruangan pada penunggu atau memang pesugihan si bos untuk memperlancar bisnis nya??” Tanya seseorang yang sepertinya

Baru pertama kali di lihat oleh bu inah dan pak Safi’i

“Saya tidak berani bercerita apa2 untuk masalah itu dik.” Jawab pak Safi’i yang membuat kecewa orang tersebut

“Kakak saya setahun yang lalu pamit pada keluarga untuk bekerja di pabrik itu, tapi sampai sekarang dia tidak pernah pulang. Bahkan bagaimana kabarnya pun kami tidak tau. Tapi sebulan sekali ada yang rutin mengirim uang ke rumah, dan anehnya kami tidak mengetahui siapa

Pengirimnya.”ujar orang itu menatap bergantian pada pasangan suami istri itu

“Kalau maksud adik mencari tau keberadaan kakak adik itu, cari tau lah, karena kami tidak terlalu mengenali karyawan2 pabrik tersebut dik.” Ujar pak Safi’i

Setelah orang itu pergi, pak Safi’i kembali melihatnya sekitar 2 minggu kemudian. Dia datang bersama seseorang yang berpakaian rapi dan menenteng tas hitam.

Rupanya orang asing yang mencari kakaknya tersebut sudah di terima bekerja di pabrik itu.


Seminggu kemudian..

“Eh, kamu. Sudah bekerja di pabrik itu ya?” Tanya pak Safi’i begitu melihat orang tersebut

“Iya pak. Boleh pesan kopi nya satu dan bakwan nya 3 ya.”

Sementara pak Safi’i mengobrol dengan orang itu, Bu Inah masuk ke dalam untuk membuatkan kopi yang di pesan.

“Bos pabrik itu kasar pak, bapak pernah melihat orang nya langsung??”

“Waduh, sudah cukup lama saya buka warung disini, tapi belum pernah melihat rupa bos pabrik itu dik.” Jawab pak Safi’i jujur

“Tubuhnya tinggi, dan kurus pak, tapi kurusnya tidak biasa. Semacam ada yang menghisap. Wajahnya sangar dan tak pernah senyum. Saya pernah 2 kali melihat asisten nya membawakan makanan ke ruangan nya, makanan nya banyak pak, kira2 kalau di hitung2 cukup untuk

4 orang.”

Pak Safi’i tersenyum kecut mendengar cerita orang itu.

“Dan pak, anehnya setiap sore saya seperti mendengar ada yang mengobrol dan sesekali menangis di ruangan bawah tangga yang selalu terkunci itu.”

Pak Safi’i yang mulai penasaran dengan cerita orang itu lantas

Bertanya, “mengobrol seperti apa?”

“Tidak terdengar jelas pak apa uang mereka bicarakan.”

Ketika bakwan dan kopi nya datang, orang itu langsung mengambil bakwan dan mulai memakan nya dengan lahap.

Setelah selesai, ia pun membayarnya. Kemudian pamit untuk kembali bekerja.

Esoknya, ketika waktu istirahat tiba, orang itu tak terlihat keluar pabrik. Dan pak Safi’i cuma beberapa kali melihatnya lalu lalang di dean pintu masuk bersama seseorang.

“Kakak saya memang pernah bekerja di pabrik itu pak, awal nya mereka seperti bungkam tentang keberadaan kakak saya. Tapi ada salah seorang karyawan yang dulu berteman akrab dengan kakak saya mengatakan

Kalau kakak saya berhenti bekerja tepat di akhir bulan 7 tahun lalu. Tapi dia tidak pernah pamit ke teman2nya kalau akan berhenti dari pabrik, dan mereka tau pun karena ada beberapa yang menanyakan pada bos.” Ujar orang itu ketika warung pak Safi’i mau tutup

“Dan anehnya lagi, saya dapat info kalau setiap setahun sekali ada saja karyawan yang berhenti bekerja di awal/akhir bulan 7.” Lanjutnya

Pak Safi’i terdiam, ia kembali menyelesaikan tugasnya menutup warung kopi tersebut.

“Ayo dik, mampir ke rumah. Kita bercerita di sana saja.” Ajak pak Safi’i

Sesampainya di rumah pak Safi’i, bu inah nampak terkejut begitu melihat orang tersebut bersama suaminya.

“Kenapa kamu bawa dia kesini hah?? Ingat!! Jangan bercerita apapun!” Ujar bu Inah begitu pak Safi’i masuk kedalam kamar, namun mereka tak menyadari kalau orang asing

Itu tengah menguping pembicaraan keduanya.

Saat pak Safi’i keluar dengan senyum yang seperti di paksakan, Orang itu langsung mempertanyakan tentang maksud dari perkataan bisik2 kedua suami istri itu tadi.

“Saya yakin bapak tau sesuatu. Tapi kenapa kalian malah seperti ingin menutupinya dari saya??” Cecar orang tersebut

Pak Safi’i nampak kikuk dengan serangan pertanyaan itu,

Beberapa saat kemudian, Pak Safi’i menghela nafas panjang, ia menatap ke arah dinding rumahnya yang sudah mulai di makan rayap, dan sesekali menjatuhkan giring2(bulat2 sepintas mirip telur, tapi isinya tanah)

“Saya tidak tau apa yang sebenarnya di sembunyikan di dalam pabrik itu, yang pasti apa yang adik katakan itu benar adanya. Tentang tumbal. Dulu pabrik itu hampir mengalami kebangkrutan, sewaktu bos nya masih pak Yahya(samaran) dan selang beberapa bulan, pak Yahya

Di kabarkan meninggal, kemudian jabatan nya di gantikan oleh bos yang sekarang ini, kalau tidak salah namanya pak Aldi. Lalu ketika di pegang oleh pak Aldi, pabrik yang awalnya bangkrut bahkan bisa di katakan tidak ada bahan utama pembuatan nya lagi, itu semakin hari

Semakin baik dan sampailah pada titik yang sekarang. Pabrik itu berjaya dan mempunyai banyak karyawan.” Pak Safi’i terhenti sejenak untuk menarik nafas panjang

“Tapi setiap 1 tahun sekali ada saja keluarga/sanak saudara dari orang2 yang bekerja di pabrik itu berdatangan mencari tau keberadaan anak/saudara mereka yang pernah bekerja di pabrik tersebut lalu menghilang tak di ketahui lagi keberadaan nya.

Sama seperti apa yang adik alami saat ini. Pernah ada beberapa yang menyelidiki, tapi orang2 itu kemudian juga ikut menghilang dan saya tidak pernah melihat mereka keluar dari pabrik tersebut. Ada juga yang mengadukan masalah ini pada orang2 yang berkewajiban,

Tapi, nihil. Karena yang tertuduh adalah orang berduit. Apalah artinya bukti2 kita bila di sandingkan dengan tumpukan uang. Jadi saya sarankan, mumpung masih belum terlalu jauh, agar adik melupakan saja penyelidikan adik itu. Pulanglah, dan jalani kehidupan adik seperti tak

Pernah terjadi apa2.”tutur pak Safi’i

Orang itu menggeleng,

“Dia saudara saya pak, saya tidak akan menyerah dan akan terus mencari tau di mana keberadaan kakak saya, meskipun itu hanya tinggal jasadnya saja.” Ujar orang itu lalu pulang tanpa pamit dari rumah pak Safi’i

“Aduh.. Bagaimana ini?? Seharusnya kamu tidak menceritakan itu padanya!!” Ujar Bu Inah risau

——-
Alus(nama samaran untuk orang asing yang mencari kakaknya).

Alus berjalan mengendap2 menuju ke ruangan bos pabrik, ia ingin melihat sendiri apa yang ada di ruangan itu.

Saat pintu terbuka, tercium aroma dupa yang masih menyala di depan sebuah lukisan besar perempuan cantik yang memakai baju putih panjang mirip baju perempuan jepang.
Tapi Alus tak terlalu mempedulikan lukisan itu, ia mulai membuka satu persatu laci di ruangan tersebut.

Mencari2 sesuatu yang bisa di jadikan petunjuk untuk menemukan kakaknya.

Tapi selama berada di ruangan itu Alus merasa kalau dirinya seperti sedang di perhatikan oleh seseorang. Dan matanya seketika tertuju pada lukisan perempuan itu, matanya nampak lebih tajam

Dari sebelumnya. Raut wajahnya pun menggambarkan sosok yang bengis dan jahat. Tapi ah sudahlah mungkin itu hanya perasaanku saja, Alus membatin.

Lalu Alus melanjutkan pencarian nya lagi sampai ketika ia menemukan sebuah map, yang berisi daftar nama dan tahun yang entah apa maksudnya. Alus menyimpan map itu di dalam bajunya, lalu pelan2 keluar dari ruangan tersebut.


2 hari kemudian, ia belum juga menemukan maksud dari daftar nama dan warna di masing2 ujung nama2 tersebut.

Dan di nomor 10, ada nama Alus sendiri tapi ujungnya belum di berikan warna.

Dan di urutan ke 9, ada nama kakaknya yang ujungnya di beri warna merah.

Tok tok tok… Alus terus mengetok2 pintu rumah pak Safi’i. Namun tak terdengar ada sahutan dari dalam.
Dan saat Alus akan pergi, ia berpapasan dengan pak Safi’i yang tengah menenteng ember hitam.

“Kamu ngapain malam2 begini di jalanan??” Tanya pak Safi’i

“Ada yang saya harus tanyakan pada bapak.” Jawab Alus

Pak Safi’i mengerutkan keningnya, lalu mengajak Alus untuk kerumahnya.

Saat tiba di rumah, pak Safi’i meletakkan ember hitam itu di lantai, sementara ia membuka kunci pintunya.

Alus melirik isi ember tersebut, namun ia seketika kaget ketika melihat isi ember hitamnya pak safi’i.

“Kepala!!” Teriaknya membuat pak Safi’i juga ikut kaget

“Mana kepala?? Di mana??” Teriak pak Safi’i mengelus2 dadanya

Akan tetapi ketika Alus melihat kembali isi ember itu ia menghela nafas lega.

“Maaf, pak. Tadi saya melihat kepala di dalam ember hitam yang bapak bawa.”

“Ini air dik, bukan kepala.”

“Maaf pak, saya rasa tadi, saya berhalusinasi.”

Ketika berada di dalam rumah, Alus langsung mengeluarkan map yang ia temukan di ruangan pak bos.

“Apa ini??”

“Ini daftar nama berisi 10 nama orang. Termasuk saya dan kakak saya.”

“Oh mungkin ini absen.”

“Bukan pak. kalau memang absen, kenapa cuma berisi sepuluh nama? Dan

Coba bapak perhatikan baik2, di ujung setiap nama ini di beri warna yang berbeda. Tapi anehnya nama saya disini tidak beri warna apa2. Lalu yang jadi pertanyaan saya apa maksud warna itu pak??”

Pak Safi’i mengerutkan keningnya. Ia juga bingung dengan maksud pemberian warna di ujung setiap nama tersebut.

“Apa mungkin ini daftar pemberhentian karyawan, dan kalau warna merah ini di tujukan untuk karyawan yang pembangkang?
Lalu yang kuning ini untuk karyawan yang malas.”

Alus terdiam, memang apa yang di katakan pak Safi’i sedikit masuk akal. Tapi masa iya itu arti dari setiap warnanya.

——
Malam itu Alus pulang. Saat ia akan memejamkan matanya, tiba2 ia teringat ruangan bawah tangga yang selalu terkunci.

Ia berniat untuk memasuki ruangan tersebut esok hari.

Malam itu ia bermimpi aneh dan sangat menyeramkan, suara tangisan banyak orang beradu dengan suara tawa lantang seseorang.


Keesokan harinya, ketika teman2 nya sudah pulang, ia perlahan2 berjalan menuju ke ruangan bawah tangga. Tempat itu gelap dan untungnya ia sudah menyiapkan sebuah senter dari rumah.

Alus berusaha membuka paksa kunci itu dengan alat sederhana yang ia bawa.

Setelah pintu berhasil di buka, aroma apek dan lembab tercium.

Uhukk..

Alus mengarahkan senternya ke segala penjuru, rupanya ruangan itu sangat besar dan luas. Tapi di penuhi dengan barang2 tua serta patung seorang perempuan.

Ada beberapa lukisan yang sama dengan yang terpajang di dinding ruangan pak bos, juga di pajang di dalam ruangan ini. Dan kalau di hitung, ada sekitar 10 lukisan.

“Ini pasti bukan lukisan sembarangan!” Ujar Alus lalu berusaha melepaskan lukisan tersebut dari dinding

Benar saja setelah lukisan itu berhasil di lepaskan dari dinding terlihat sebuah pintu yang mirip seperti kotak kecil di baliknya.

Dengan penuh perjuangan akhirnya pintu kecil itu terbuka.
Di dalam nya ada semacam kotak lagi yang berisi beberapa helai rambut

Kuku jari yang nampaknya seperti di cabut paksa dan nama seseorang.

Alus semakin yakin kalau kotak di balik lukisan wanita itu adalah milik orang2 yang di korbankan/di jadikan tumbal.

“Lalu di mana jasad mereka??”

Tiba2 pintu ruangan itu seperti di gedor2 dari luar, membuat Alus menjadi panik. Namun ketika ia akan bersembunyi, Alus merasakan kakinya di tarik oleh sebuah tangan dan membuatnya jatuh tersungkur

Braaakkk…

Saat ia akan bangun, punggungnya di tendang oleh seseorang yang membuatnya kembali tersungkur.

Tap tap tap.. Suara langkah kaki bersepatu itu terdengar menggema di ruangan tersebut. Sepasang kaki milik seseorang tepat berdiri di depan wajah Alus yang

Masih meringis kesakitan.

Tiba2 semuanya menjadi samar2, Alus mendengar suara teriakan, tangisan dari seluruh penjuru ruangan pengap itu.

“Apa ini?? Kenapa begini?? Halusinasi kah??” Batin Alus

Suara langkah kaki itu terdengar berjalan mengelilingi tubuh Alus yang masih berusaha untuk bangkit, tapi yang ia rasakan kaki dan sekujur tubuhnya seakan2 lemas tak bisa di gerakkan.

Di saat yang bersamaan Alus mendengar suara seorang perempuan, tapi tak terdengar jelas apa yang dia katakan.

“Seharusnya kau di tumbal kan bukan di bulan ini. Tapi berhubung kau sudah tidak sabar, jadi aku akan menumbalkan mu malam ini!!” Ujar suara laki2 yang

Terdengar tidak asing

Alus berusaha tetap sadar, meski ia mulai merasakan tubuhnya terasa sangat sakit.

Urat2 di tubuhnya seperti semakin membesar. Hidungnya pun mulai mengeluarkan darah ketika sebuah tangan hitam dengan jari2 panjang berbau busuk itu mengelus kasar

Bagian wajahnya.

Di saat2 genting itulah, Alus seketika ingat Tuhan, dan berdoa terus menerus memohon perlidungan.

Perlahan2 rasa sakit yang tadi ia rasakan mulai berkurang. Dan dari arah si bos terdengar suara rintihan.

Braaaakkk buuuukkk… Lagi2 sebuah pukulan melayang di bagian punggung Alus. Namun walau begitu ia tetap berdoa.

Darah mulai merembes dari kepalanya ketika sebuah pukulan mendarat tepat di kepala Alus.

Seketika ia merasakan pandangan nya mulai kabur. Dan gelap…

Saat ia terbangun, Alus sudah berada di sebuah kursi dengan kaki dan tangan terikat tali.

Alus bisa melihat perempuan itu dengan sangat jelas. Wajahnya pucat dan matanya tajam, perempuan yang sama dengan yang ada di lukisan.

Nafas Alus terasa sesak, darah yang mulai mengering terasa sakit di bagian pipinya.

“Berhentiiiii!!!!” Teriak bos pabrik tersebut seraya memukul Alus kembali

Braaaakkkk…. Bos itu terjatuh terkena hantaman kepala Alus.

Merasa ada kelonggaran di bagian tali yang mengikat tangan nya, Alus lantas tak menyia2kan kesempatan.

Dan saat tangan nya terlepas dari ikatan, Ia berusaha melepaskan ikatan yang lain pada kakinya.

Dengan tertatih2 ia kemudian berlari kearah pintu, namun pintu itu rupanya sudah terkunci.

Alus tak kehabisan akal, ia lalu mendorong patung perempuan tersebut sampai pecah. Dan pecahan nya ia gunakan untuk memukul si bos yang nampak sangat marah.

Beberapa kali ia gagal, dan terkena pukulan lagi. Namun Upayanya untuk bertahan hidup membuatnya berhasil memukul lelaki tersebut.

Dengan tangan gemetar dan rasa sakit di semua bagian tubuhnya, Alus berhasil mendapatkan kunci untuk keluar.

Namun anehnya perempuan itu hanya berdiri mematung menatap kepergian Alus.

Ia menghela nafas lega begitu sampai di pintu keluar pabrik.
Matanya langsung tertuju pada warung pak Safi’i yang sudah tutup.

Ia berjalan tertatih ke arah jalanan rumahnya pak Safi’i.

Sesampainya di rumah itu, ia merasa lega karena di rumah itu sedang ada beberapa orang yang duduk2 bermain catur.

“Pak, pak. Tolong saya pak. Saya mau di bunuh..” Teriaknya parau

Bapak2 yang berkumpul di rumah pak Safi’i berlari kearah Alus.
Mereka memapah orang itu dan membawanya masuk kedalam rumah.

3 hari kemudian, baru lah Alus terbangun dari tidur panjangnya.

Lukanya di obati dengan ramuan tradisional oleh istri pak Safi’i.

Kedua suami istri itu tersenyum senang begitu melihat Alus sudah sadar.

Saat keadaan Alus sudah mulai membaik mereka menanyakan apa yang sebenarnya sudah terjadi, dan siapa yang Alus maksud ingin membunuhnya malam itu.

Alus menceritakan dari awal, sampai ketika bos pabrik itu akan menumbalkan nya seperti karyawan2 sebelumnya.

Pak Safi’i dan beberapa orang bapak2 lain nya saling tatap satu sama lain.

Dan setelah kejadian itu orang2 di sekitaran pabrik mulai berdemo, agar pabrik itu di tutup, dan pabrik itu memang tak beroperasi lagi selama 3 bulan(perkiraan). Tapi kemudian di buka lagi dengan bos yang baru

Tapi itu tak berlangsung lama, karena pabrik itu mengalami kebangkrutan dan akhirnya di tutup hingga saat ini.

Masih banyak yang percaya bahwa arwah orang2 yang di tumbalkan di pabrik itu masih ada sampai saat ini. Bahkan tidak jarang orang2 akan mendengar suara tangisan

Dan rintihan dari dalam pabrik.

Dan untuk bos yang kita beri nama samaran nya pak Aldi itu sampai sekarang tidak di ketahui keberadaan nya. Mungkin sudah meninggal atau pun kembali ke tempat asalnya.

Tapi dari yang om lihat, di ruangan bekas bos itu sudah tidak ada lagi lukisan perempuan itu yang kemungkinan adalah sosok sekutu dari pak Aldi (semacam jin pesugihan nya yang mengambil jiwa2 tumbal untuk di perbudak).