Cerita Horor Pendakian Aneh Di Gunung Sumbing Via Desa Cepit

Cerita Horor Hari Ini – Saat itu kita bersama teman yg berjumlah 7 orang ingin mendaki gunung Sumbing via Parakan. Tepatnya desa Cepit. Kami berangkat dari terminal kota magelang pukul 14.15 menit

Waktu itu kita menunggu bus yg jurusan, magelang Wonosobo, setelah beberapa menit akhirnya
Bus tiga perempat tiba, kita langsung naik sore itu, tak ada yg aneh dalam perjalanan menuju ke Parakan temanggung. Baru sampai setelah terminal secang, ada yg gak beres.

Sang kondektur, minta ongkos 8 orang, sedangkan kami hanya tujuh orang.kondektur bilang mas kurang satu ongkos nya, “itu yg cewek belum bayar, aku yg dekat dengan teman ku hanya bisa saling tatap, padahal kita gak ada ceweknya dari 7 orang rombongan ku

Dan waktu itu aku bilang, kami cowok semua mas, gak ada ceweknya, kondektur bilang lha itu yg duduk di belakang, ? Suwer kewer kewer, kami tidak melihat cewek dengan atribut pendaki.
Karena bus sering ngetamp akhirnya menjelang magrib kita baru sampai Parakan.

Dari jalan raya ke Basecamp desa Cepit, atau dulu banyak pendaki menyebutnya desa asu, masih harus jalan kaki sekitar 2 hingga 3 km. Entah alasan apa aku sendiri gak tau orang lain menyebutnya desa asu

3km kalau kita tak beruntung tak dapat tumpangan mobil sayur bak terbuka, padahal waktu tahun itu jalan belum berasapal, bukan hanya minim penerangan tapi malah gak ada penerangan jalan, karena kita melewati kanan dan kiri ladang penduduk.

Klik Prediksi Bola Online Jitu

Perkiraan kita memang tempat, kita gak dapat tumpangan mobil. Terpaksa jalan kaki sejauh 3km.sekitar pukul 18.25 harinya apa aku lupa, ditengah perjalanan menuju Basecamp tepat nya tengah ladang penduduk dari jumlah 7 orang tiga diantaranya mencium, bau masakan

Bau masakan itu seperti sayur kentang, padahal jauh dari pemukiman, dan ladang pun tanamannya tembakau, kita bertiga yg mencium bau itu pas setelah maghrib, aku ajak jalan agak cepat untuk teman ku yg tak mencium bau masakan, dengan alasan agar tak kemalaman sampai Basecamp

Aku lanjutkan besuk ya gank, kisah pendakian ku ini.

Tibalah kami tujuh orang tim , sampai di Basecamp sekitar pukul 19.15.kemudian kita istirahat sejenak di warung kopi, waktu itu ijin simaksi belum seketat sekarang. Dan bayar berapa untuk pengelola saya lupa.
Saat di Basecamp ada yg istirahat ada yg sholat Isyak.

Setelah cukup istirahat sejenak kita berencana melanjutkan pendakian menuju pos satu, gak ada ojek gunung tahun itu. Setelah berdoa kita mulai jalan melewati ladang penduduk. Berberapa ratus meter meninggalkan basecamp kita melalui salah satu pohon besar,

Salah satu dari teman aku melihat ada semacam kain putih seperti kafan di dekat pohon besar itu, putih tapi tidak bersih seperti bekas kena tanah. Teman ku bilang kok sekilas ada seperti sosok, teman yg lain menyahut ” Ah itu mungkin cuma kain atau baju kerja petani.

Sebenarnya jalur pendakian dari Cepit ini dari dulu hingga kini memang jalur sepi di antara jalur jalur yg ada,dan jalur ini hanya dipakai warga untuk berziarah.

Sekitar pukul delapan malam lebih kita sampai di pos 1,dulu ada semacam sendang…kita ambil air di situ untuk bekal membuat kopi nanti di atas. Bodohnya kita ber 7.ambil air gak ada yg permisi, gak ada yg salam pada penunggu sendang itu.

Walaupun tak ada yg kerasukan atau kesurupan, saat mengambil air beberapa teman mencium bau bunga melati yg menyengat, padahal setau aku tempat tersebut gak ada tanaman bunga melati, hanya pohon pohon besar dan semak semak.

Selesai, mengambil air yg dimasukkan kedalam botol bekas air mineral kita meninggalkan tempat itu untuk lanjut jalan ke pos 2.belum jauh kita berjalan ada dua orang teman aku melihat sosok wanita pakai baju Jawa, jaman dulu berjalan dibelakang rombongan kita.

Dua orang itu gak berani cerita pada saat itu, hanya bilang jalannya dipercepat saja agar kita bisa langsung mendirikan tenda di pos 2yg ada lahan terbuka. Padahal dia takut ada yg mengikuti dari tempat ia mengambil air tadi.

Sampai pos. 2 sekitar jam 21.15.kita putuskan bermalam di pos ini dengan alasan badan sudah sangat capek, udara malam juga semakin dingin, saat itu cuaca meskipun bulan September tapi dipos 2 ini hanya turun hujan gerimis dan berkabut.
Kita bagi tugas mendirikan 2 tenda

Saat akan mencari lokasi yg nyaman buat mendirikan tenda tampak dari beberapa puluhan meter perempuan yg mengikuti dari sendang itu menampakkan diri di dekat pohon yg lumayan besar, kali ini hampir separuh temanku yg berjumlah tujuh orang melihat nya sedang berdiri

Menatap ke arah kami yg akan mendirikan tenda, tak terlihat jelas wajahnya karena berkabut dan malam itu juga tak ada penerangan apapun kecuali cahaya lampu senter kami. Kita tak berani mengarahkan cahaya senter ke tempat perempuan itu.

Kita hanya biarkan saja karena hanya menampakkan dan tak mengganggu. Selesai tenda berdiri kita akan buat kopi, air yg diambil dari sedang kita keluarkan dari tas, ternyata yg tadinya jernih tak berbau berubah menjadi hitam pekat dan bau seperti air lumpur yg keruh

Tak hanya satu botol, tapi hampir semua berubah airnya. Akhirnya kita buang air itu, kita memakai air yg kita bawa dari rumah. Selesai makan minum kopi kita kembali akan istirahat dan akan lanjut summit pada pukul 02.00 dini hari. Saat akan masuk tenda perempuan itu sudah ada

Dipojok tenda dengan wajah pucat, walaupun tak menyeramkan tetapi kita yakin ini bukan manusia tapi penunggu gunung ini,,diam saja dengan tatapan yg kosong kita yg melihat tak jadi masuk tenda dan kembali keluar tenda.

O ya, sedikit informasi bahwa gunung Sumbing adalah tipe kerucut atau strato, jadi ya sudah pasti treknya sangat gak manusiawi, apalagi yg belom pernah mendaki gunung ini

Setelah beberapa menit menampakkan diri akhirnya hilang perempuan tersebut, kita berani masuk tenda untuk tidur sebentar, mata belum sempat terpejam kali ini ada suara orang dengan langkah kaki kira kira ada beberapa orang , temanku sudah ada yg tidur,

Hanya aku dan satu orang yg belum tidur saat suara langkah kaki itu terdengar, jika itu rombongan pendaki yg mau naik sudah pasti bilang permisi mas, ini tidak ada suara sapaan, hanya langkah kaki memakai sepatu kalau mendengar suara dari dalam tenda

Kita berdua yg belum bisa tidur memberanikan diri untuk keluar menengok suara langkah tadi, disertai hujan yg masih gerimis kita tengok di luar memang tak ada siapa siapa, suasana nya sepi hanya dua tenda kami dipos ini.

Logicnya jika tadi suara pendaki yg mau naik sudah pasti ada cahaya sorot senter. Tapi ini tak ada. Kembali masuk. Tenda kita bersiap tidur , kali ini ada suara seperti pohon besar roboh, aku bangunkan teman aku yg sudah tidur untuk bersama sama mengecek sumber suara tadi

Kali ini dari 7 orang, 5 diantara nya keluar untuk mengecek suara pohon tumbang tadi, kita bawa senter semua kita sorot sekeliling tempat tenda kita dan ternyata satupun gak ada pohon tumbang.

Dan, hingga menjelang waktu summit yg direncanakan kita sepakat naik pukul 02.00 dini hari. Setelah kemas semua perlengkapan lanjut jalan menuju pos berikut nya hampir mendekati pos yang situju pos 3 kita semua mendengar suara gaduh dipunggungan pos 3.

Alhamdulilah akhirnya ketemu juga rombongan lain pendaki, setelah kita memastikan sampai pos 3 , suasana sepi gak ada tenda atau pendaki lain yg berada dipos 3 ini. Padahal kita semua mendengar seperti ada orang ramai bicara. Kita semua terdiam sesaat

Dan sejenak kita istirahat di pos 3 sekitar 15 menit kita lanjut menuju pos 4,teror belum berhenti dari jarak sekitar 15 meter, aku melihat 3 laki laki pendaki yg mau naik ke atas, aku dan dua temanku yg berada di barisan paling depan melihat jelas

Bahwa itu pendaki, karena atribut yg digunakan memang ciri khas pendaki, beberapa saat sebelum aku dekat dengan tiga pendaki itu datang kabut tebal, menutupi pandangan kami, sungguh tak menyanngka tiga pendaki itu hilang bersama an kabut yg datang secara tiba tiba.

Padahal tak sampai 5 hingga 10 menit, kabut itu dengan cepat melenyapkan tiga pendaki dari pandangan kami. Setelah memastikan tempat dimana pendaki tersebut lenyap gak ada jalan persimpangan, hanya ada satu jalur, dan kanan kiri kurang, juga tak ada pohon besar

Aku lanjutkan setelah sholat maghrib dulu ya gank.

Kita sadar bahwa jalur via desa Cepit ini sepi peminatnya dibanding jalur Garung yg populer karena letaknya yg agak jauh dari jalan raya . Setelah kita semua pastikan memang gak ada rombongan pendaki lain saat itu. kita semua akhirnya tetap lanjut ke pos 4

Sampai pos 4 break sejenak, buat kopi. Baru mau menyalahkan parafin, ya memang jamanku gak ada yg bawa kompor portable. Datang bayangan sosok kakek dengan jubah hitam . Cara berjalan nya sangat aneh, melompat dari batu ke batu, pada saat itu harusnya batu pun licin karena embun

Tapi sosok kakek yg tak jelas wajahnya itu gak terpeleset. Ini saya yakin bukan manusia, datang secara tiba tiba, dari tujuh orang teman aku tak semuanya melihat kakek itu,

Sekitar hampir pukul 04.00,dengan hilang nya bayangan kakek itu, terdengar pula auman suara harimau dengan sangat jelas,ini yg ditakutkan kita semua,sebenar benarnya.hanya bisa doa sebisa bisanya, karena kita pernah mendengar cerita jika mendaki gunung mendengar suara

Harimau, bisa dipastikan kita sedang tidak baik baik saja., dan benar saja satu teman aku hampir jatuh ke jurang yg sangat dalam karena antara takut kaget. Beruntung masih tersangkut pohon Cantigi yg agak lumayan kuat

Sudah menjelang subuh belum sampai puncak buntu, dan teman aku pun cidera saat terpeleset ke jurang. Kita semua sepakat tak menerus kan perjalanan ke puncak tertinggi Sumbing. Sambil menunggu pagi hari dan matahari terbit kita istirahat di pos 4 ini.

Dan sebelum lanjut turun kembali. Menunggu hari benar benar terang. Dalam lanjut perjalanan pulang, alhamdulillah kita semua tak ada lagi gangguan dari penduduk tak kasat mata di gunung ini. Hanya satu teman aku yg terkilir, pulang pun harus dipapah pelan2.

Singkat cerita kita sampai di Basecamp kembali hampir menjelang magrib, karena lamanya perjalanan turun dikarenakan satu orang cidera kaki.
#Sumbing
#jalurTimur
#Sumbingeastroad
#sumbingviagarung

Aku akhiri cerita pendakian jadul gunung Sumbing ini.

SALAM LESTARI
Mohon maaf kalau cerita ku gak menarik, cuma buat berbagi pengalaman,pelajaran dari kisah ku ini mulai mengambil air yg berubah bentuk karena gak ijin atau tanpa permisi . Maka dari itu untuk t

Sahabat para pecinta alam, tetap selalu menjaga adab dan etika dimanapun tempat nya pasti ada yg mendiami, ucapkan salam dan berdoa lah kemana pun kita pergi

PESAN SEDERHANA
Mendakilah dengan safety, tetap ikuti aturan pihak terkait, hormati adat dan budaya setempat, bawa turun kembali sampahmu, minimal sampah pribadi. Buang ke tempat sampah di tiap Basecamp menyediakan.