Cerita Horor Omah Jejer Telu

Cerita Horor Hari Ini – kejadian ini terjadi saat saya masih menginjak sekolah dasar, saya lupa tahun pastinya, yang jelas saya dan keluarga, baru saja pindah rumah dari yang sebelumnya tinggal di samping rumah rombe ke tempat baru (masih di desa yang sama) yaitu Omah jejer telu (rumah berjejer tiga)

omah jejer telu, mungkin tidak banyak orang jawa sekarang yang tahu maksud dari istilah ini karena fenomena seperti ini sudah langka terjadi, bahkan mungkin sudah tidak.

karena omah jejer telu rupanya memiliki arti kelam yang dulu sangat di percaya terutama bagi orang-orang tua
omah jejer telu adalah dua rumah menghadap satu rumah tunggal dan bila di lihat dari sudut atas membentuk pola segitiga, hal inilah yang membuat orang-orang tua di tempat saya sangat menentang pembangunan rumah baru ini karena di khawatirkan membentuk pola segitiga yang dapat-
mendatangkan musibah bagi dua rumah lain, kalau kata kakek saya, ngundang Braung

Braung sendiri itu penggambaran dari makhluk hitam menyerupai genderuwo tapi bola matanya saja sebesar tempeh, jadi makhluk ini lebih besar lagi dan biasanya dia memilih satu rumah untuk di tempati

balik ke rumah baru, dua penghuni yang sebelumnya sebenarnya sudah menentang pembangunan ini tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena bagaimanapun pembangunan ini di nyatakan sah

Klik Prediksi Bola Online Jitu

selidik demi selidik pembangunan rumah baru ini rupanya untuk rumah kost

rumah kost dari pabrik gula

terlibatnya pihak pabrik membangun rumah ini membuat banyak warga curiga bila pembangunan ini di sengaja untuk membuat istilah omah jejer telu ini terwujud, tapi sayangnya tidak ada orang yang memiliki bukti hal ini, lagipula ini hanya istilah ghaib yang tidak dapat di buktikan
hal yang membuat warga semakin curiga sebenarnya adalah lokasi.

lokasi yang di pilih pihak pabrik adalah dua rumah paling tua di desa saya, aneh kan, tapi sekali lagi tidak ada yang bisa membuktikan maksud di bangunnya rumah ini karena nyatanya pembangunan tetap berlanjut.

bisa di bilang, terbentulah istilah ini dari dua rumah tua dengan satu rumah baru, yang membentuk pola segitiga, hal ini di perparah dengan salah satu rumah tua tepat di halaman rumahnya terdapat kuburan keluarga.

konon setiap malam jumat, satu dari dua nisan ini bisa terbang
tapi hal ini tidak terlalu menakutkan bila di bandingkan dengan cerita-cerita selanjutnya, cerita nisan terbang sendiri sudah banyak di saksikan oleh warga yang berjaga jadi bukan hal baru tapi yang paling menakutkan justru terjadi di rumah baru ini. rumah kost ini.
saya ingat cerita ini ramai di bicarakan satu minggu setelah batu pertama di letakkan, malam hari terdengar dari jendela rumah ibu Rismoyo suara wanita menangis

ibu Rismoyo ini usianya 60’an, beliau tinggal bertiga dengan anak dan cucunya,
di bawah atap di dalam kamar beliau yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pembangunan rumah baru, ibu Rismoyo yakin seyakin-yakinnya mendengar suara wanita menangis,

takut dengan suara itu, ibu Rismoyo pergi ke kamar anaknya,
saat menuju ke kamar anaknya, ibu Rismoyo terkejut dengan suara telephone yang berdering,

waktu itu yang punya telephone bisa di bilang orang kaya, bahkan orang-orang yang sangat kaya, tv saja tidak banyak yang punya, bisa di bilang ibu Rismoyo ini orang berada..

ibu Rismoyo berhenti memandang ke atas meja tempat telephone berdering, antara bingung dan takut, ibu Rismoyo ragu untuk mengangkatnya, namun ia ingat bahwa suami dari anaknya mungkin yang sedang menelphone membuat wanita tua ini akhirnya memutuskan untuk mengangkatnya.
“halo?” suaranya gemetar saat menjawab telephone,

lama menunggu ibu Rismoyo tak juga mendengar jawaban, beliau mengulangi pertanyaan yang sama, “halo?”

tetap saja siapapun yang ada di balik telephone itu pasti sedang mengerjai dirinya tapi, saat ibu Rismoyo mau menutup..

suara tangisan dari wanita itu terdengar, lirih, lirih sekali sampai membuat wanita tua ini penasaran,

“halo, mbak?” begitulah ibu Rismoyo bertanya,

saat itu, barulah suara di ujung lain itu menjawab, “ngapunten, kulo nyuwun tolong”

kaget, ibu Rismoyo mencoba menunggu,
“ank kulo sk tas sedo buk, kulo nyuwun tulung, njenengan sirami kembang mbenjeng nggih ben anak kulo isok tenang gak ganggu njenengan sak keluarga”(anak saya baru saja meninggal buk, saya minta tolong, anda siram kuburannya dengan air bunga biar dia bisa tenang dan tdk menganggu)

“njenengan sinten?” tanya ibu Rismoyo, tapi suara di ujng telephone tak menjawab, hanya suara nafasnya yang terdengar jelas seperti sesenggukkan saat seseorang sedang menangis, malam itu bulukuduk ibu Rismoyo sebenarnya sudah berdiri namun beliau masih mencoba untuk kuat menunggu

saat itu lah suara menangis yang sebelumnya terdengar lirih itu berubah menjadi suara tertawa cekikikan, ibu Rismoyo ketakutan sekali sampai langsung menutup telephone,

tapi tak lama kemudian suara telephone kembali berdering

ibu Rismoyo merasa ada yang mengawasi dirinya,
di ruang tengah dalam kondisi lampu di matikan ibu Rismoyo berdiri mematung melihat telephone yang terus menerus berdering,

akhirnya setelah berpikir bahwa mungkin memang ada yang sedang mengerjai beliau, ibu Rismoyo memberanikan diri mengangkat telephone sambil membentak,

sekali lagi hening, ibu Rismoyo tidak mendengar jawaban apapun dari entah siapa yang ada di ujung telephone sampai akhirnya lagi-lagi suara tangisan dari wanita itu terdengar, kali ini ibu Rismoyo mendengarnya secara langsung, suara itu terdengar dekat, dekat sekali..

tanpa menggunakan telephone ibu Rismoyo bisa mendengar suara itu secara langsung, hal ini membuat ibu Rismoyo berniat untuk pergi, seperti tahu apa yang akan di lakukan wanita tua itu, sosok misterius di telephone itu lalu berkata,

“kulo sak niki wonten neng sebelahe njenengan”
(saya sebenarnya ada di samping anda)

ibu Rismoyo menoleh melihat seluruh ruang tengah namun beliau tak mendapati siapapun di sini, ketakutan sudah menguasai wanita malang itu, dia membanting telephone lalu bergegas lari ke kamar anaknya, sampai di sudut matanya ia melihatnya

sosok wanita menggendong bayi yang masih merah, tapi bu Rismoyo tidak lagi perduli, dia sudah melesat masuk ke kamar anaknya,

anaknya terbangun melihat ibunya menatap dirinya dengan ekspresi ketakutan,
“ada apa buk?”

ibu Rismoyo hanya menggelengkan kepala, dia tak bisa bicara
setelah kejadian malam itu, ibu Rismoyo tak lagi bisa bicara, selain itu dia juga sering menjerit bila di tinggal sendirian di rumah, hal ini membuat menantunya yang tinggal di luar kota memutuskan untuk pulang tapi semua ini baru saja di mulai..

pembangunan rumah baru ini awalnya di rencanakan memiliki dua lantai hal yang membuat warga geleng kepala siapa orang yang ada di balik pembangunan rumah ini namun sayangnya saat pengecoran tiba-tiba pembangunan berhenti bertepatan dengan di keluarkan surat pabrik gula bangkrut

bisa di bilang setelahnya, rumah ini menjadi terbengkalai meski bangunan sudah selesai, kost yang awalnya untuk para pekerja akhirnya tidak laku, karena satu-satunya penunjang di adakannya kost ini adalah karena pabrik gula, kalau pabrik gula bangkrut siapa yang mau kost di sini
selama berbulan-bulan rumah ini akhirnya di biarkan kosong.

suatu malam, penghuni rumah di seberang melihat ada yang janggal dari rumah ini, di mana di dalam rumah kosong dia melihat sebuah cahaya, satu hal yang membuat dirinya penasaran, siapa yang masuk ke dalam rumah ini.

berbekal sarung tersampir di badan dengan senter jumbo di tangan, pak Ageng keluar dari rumahnya, beliau berniat untuk memeriksa rumah kosong ini takutnya bila ada maling bersembunyi

ia menyebrang jalan lalu menggeser pagar yang menutupi rumah kosong lalu melangkah masuk,

pak Ageng memeriksa setiap sudut rumah tapi dia tak menemukan apapun yang bisa menjawab pertanyaannya tadi, kesempatan ini di gunakan pak Ageng untuk melihat-lihat keseluruhan rumah.

beliau menemukan 4 kamar dengan dapur umum, selain itu ada satu kamar mandi, sayang sekali,

rumah sebesar ini di biarkan kosong seperti ini, saat itu lah, dari jauh pak Ageng mendengar suara wanita menangis, suaranya terdengar jelas dari halaman belakang rumah yang waktu itu masih di tumbuhi pohon-pohon pisang,

kadang saat seseorang sudah penasaran ia akan mengesampingkan rasa takut atas kebodohan yg akan dia lakukan, hal ini lah yg terjadi dgn pak Ageng, berbekal keberanian sebesar biji jagung dia memutuskan untuk memeriksa bagian belakang rumah yg konon tidak pernah di dtangi siapapun

pintu kayu yg menutupi bagian belakang rumah di pindahkan oleh pak Ageng sementara suara itu terdengar semakin jelas membuat dirinya semakin yakin bila yang dia dengar ini nyata,

melangkah keluar, pak Ageng tak mendapati apapun selain pemandangan pohon pisang,

saat itu pak Ageng terus mencari di mana sumber suara tersebut karena ia merasa yakin masih mendengarnya, saat itu lah tanpa sengaja senter jumbo pak Ageng menangkap sesuatu di jendela ibu Rismoyo, rupanya wanita tua itu sedang mengamati dirinya dari dalam kamarnya,

pak Ageng akhirnya memutuskan untuk mendekati jendela ibu Rismoyo yang sedang melihat dirinya dari balik kaca hitam, ada yg aneh dengan wanita tua ini, pak Ageng belum pernah melihat beliau menggerai rambut panjangnya sembari menempelkan wajahnya dengan dua tangan tepat di kaca,

tepat berdiri di hadapannya, pak Ageng akhirnya mengetuk kaca jendela wanita tua itu yang sama sekali tidak bergerak, “buk, buk, sampean ndelok opo toh kok sampe koyok ngene?” (buk, buk, anda ini sedang lihat apa kok sampai kaya gini?)

ibu Rismoyo masih melihat pak Ageng,
saat itu lah, ibu Rismoyo tersenyum menyeringai kepada pak Ageng yang membuat lelaki paruh baya itu merasa ada yang ganjil dengan wanita tua di hadapannya ini,

ibu Rismoyo seperti mengatakan sesuatu namun pak
Ageng tidak bisa mendengar dengan jelas maksud ucapannya,

ibu Rismoyo terus mengetuk ngetuk kaca dengan telunjuknya, butuh waktu lama untuk pak Ageng tahu kalau ibu Rismoyo sedang berusaha mengatakan “nang mburimu?” (di belakangmu?)

pak Ageng, terdiam mematung, suara tangisan itu kini terdengar semakin jelas,

Subuh, pak Ageng di temukan oleh mbak Nani saat sedang menyapu halaman depan, ia menemukan lelaki paruh baya itu kejang-kejang, ramai orang datang mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi saat pak Ageng di tanya dia hanya bisa menjawab dengan kosakata tidak lengkap (gagap)

ia menyebut anin, anin, sambil menunjuk-nunjuk siapapun yang ada di depannya, semua orang hanya saling melihat satu sama lain, tidak mengerti maksud pak Ageng, tapi ketika ibu Rismoyo datang menjenguk, pak Ageng menjerit-jerit menyuruh wanita itu keluar

“inggat!! inggat!!”
mbak Nani merasa tersinggung ibunya di perlakukan seperti itu, dia berkata bila pak Ageng tidak tau terimakasih, hal ini membuat orang-orang yakin kalau ini adalah tanda-tanda omah jejer telu yg biasanya di awali dengan sesama tetangga saling bermusuhan,
kejadian ini terus berlanjut banyak warga menemukan keganjilan yg semakin aneh salah satunya menemukan ibu Rismoyo biasanya berdiri di depan pintu rumah kosong seorang diri seolah-olah melihat sesuatu, saat di ingatkan dia akan menoleh sambil nyengir setan yg membuat merinding

tidak hanya itu, di tengah malam beberapa orang pernah bersaksi bila melihat pak ageng sedang bermain-main di got depan rumah kosong seperti mencari sesuatu di sana, setiap mau di dekati pak Ageng akan merangkak masuk ke dalam rumah, membuat orang yg melihatnya memutuskan pergi,

dua tahun setelah kosong akhirnya ada keluarga baru yang mengatakan berniat mengontrak rumah ini, hal ini di sampaikan kepada RT setempat, meski sempat di ingatkan kalau rumah ini tidak beres keluarga baru ini bersikeras, katanya dia tidak perduli dengan hal ini.
karena rumah ini sebelumnya selesai ala kadarnya keluarga baru ini harus sedikit menguras isi dompet untuk memperbaiki di sana-sini, ia berkata kalau merasa berjodoh dengan rumah ini dan berniat membelinya kalau di rasa cocok dalam waktu berjangka,

akhirnya, pak RT menyerah
rumah yang sebelumnya terbengkalai kini terlihat lebih baik, keluarga baru ini terdiri dari seorang lelaki muda, sebut saja pak Ridwan bersama isteri dan kedua anaknya,

anak sulung berusia 6 tahunan sedangkan si bungsu masih menyusui, malam ini adalah malam pertama bagi mereka,
kebetulan kamar di sebelah utara menghadap ke rumah bu Rismoyo sedangkan ruang tamu menghadap rumah pak Ageng,

setiap malam anak bungsunya tidak pernah berhenti menangis, hal ini membuat pak Ageng dan isterinya tidak bisa tidur sementara anak sulungnya berlarian di ruang tengah
namun tidak ada yang lebih membuat pak Ridwan merasa heran saat menemukan pak Ageng berdiri di gerbang rumahnya mematung menatap kosong kearah rumahnya, hal ini terjadi setiap malam antara pukul 12 malam saat pak Ridwan menenangkan anaknya di ruang tamu,
bersama isterinya mereka mengawasi pak Ageng dari kaca jendela ruang tamu,

takut terjadi hal-hal yang tak di inginkan, pak Ridwan keluar untuk mengingatkan pak Ageng tapi lelaki itu justru tersenyum sebelum melangkah mundur,

melangkah mundur bukannya berbalik, aneh sekali
belum selesai dengan urusan pak Ageng, terdengar anak sulungnya berteriak menjerit yg membuat mereka akhirnya berlari untuk melihat apa yg terjadi,

anak sulungnya menunjuk-nunjuk kaca jendela yg ditutupi oleh gorden, pak Ageng memeriksa saat melihat di hadapannya ada bu Rismoyo
hal ini terjadi setiap malam membuat pak Ridwan akhirnya menyampaikan protes kepada pak RT, membuat mereka akhirnya di kumpulkan di salah satu rumah warga, di sana bu Rismoyo menangis menggelengkan kepala seolah berkata itu bukan dirinya, hal yg sama yg di lakukan pak Ageng

pak RT menyarankan untuk memanggil kiyai untuk membersihkan seisi rumah tapi pak Ridwan tidak percaya dengan hal-hal seperti ini, dia menolak lalu kembali ke rumah, hal yg membuat warga merasa geram.

tapi ini akan menjadi penyesalan karena setelahnya, kejadian itu terjadii
malam itu, kedua anaknya sedang tertidur lelap, pak Ridwan melangkah keluar dari dalam kamar, ia merasa tenggorokannya kering, saat dia menuju ke dapur dan tiba-tiba dia mendengar suara seorang wanita sedang menangis,

suaranya berasal dari dalam kamar mandi,
pak Ridwan berjalan menuju ke sumber suara di mana dirinya menemukan bayangan seseorang dari bawah pintu, ragu bila benar-benar ada orang di dalam, pak Ridwan mendorong pintu melihat siapa yg berada di sana sebelum pak Ridwan sadar dirinya berhalusinasi, karena dia tak melihat-
-siapapun ada di dalam kamar mandi,

anehnya, ia masih saja mendengar suara wanita menangis, pak Ridwan melangkah masuk melihat isi di dalam bak mandi namun sekali lagi dirinya tak menemukan apapun, saat ia berbalik pak Ridwan mendapati isterinya menggendong si bungsu,
“dek ngapain?” tanya pak Ridwan,

isterinya tidak menjawab, ia ikut masuk ke dalam kamar mandi sembari bergumam seorang diri, ia menimang-nimang si bungsu sebelum menenggelamkan tubuh anaknya ke dalam bak mandi, salah satu hal yang membuat pak Ridwan langsung mendorong wanita itu

sambil memegang kepalanya isteri pak Ridwan menjerit, menangis sekeras mungkin, pak Ridwan merasa keheranan ia berteriak apa maksudnya dia melakukan hal gila tersebut sesaat kemudian isterinya melihat pak Ridwan menunjuk-nunjuk pak Ridwan sambil berkata, “deloken anakmu!!”

pak Ridwan melihat si bungsu yang ada di pelukannya dan saat itulah dia baru menyadari bahwa yang ia gendong rupanya bukan anaknya, lebih menyerupai bayi yang terlihat seperti seonggok daging berlumuran darah, pak Ridwan melemparkan benda itu berlari menuju ke tempat isterinya,

pak Ridwan masuk ke dalam kamar tapi tak mendapati kehadiran isteri dan kedua anaknya hanya kamar kosong dengan pemandangan di jendela di mana bu Rismoyo sedang melihat dirinya, sadar rumah ini membuat dirinya gak waras pak Ridwan berlari keluar rumah,

di sana dia melihat isteri dan kedua anaknya sedang berdiri melihat pak Ridwan dengan tatapan cemas, malam itu juga mereka menjelaskan semua kejadian ini kepada pak RT yg keesokan harinya memutuskan untuk memanggil kiyai, apakah semua berakhir sampai di sini?

sepertinya tidak.
sebenarnya warga terutama pak RT sudah bersikap sangat baik, mereka mau membantu mencarikan kiyai untuk membantu membersihkan rumah tersebut tapi keluarga pak Ridwan terutama pak Ridwan sendiri menolak tawaran tersebut, kenapa? karena beliau lebih percaya dengan seorang guru

guru spiritual yg pernah dekat dengan keluarga pak Ridwan, jadi bisa di bilang pak Ridwan yg sehari-hari memiliki latar belakang sebagai seorang pemborong ini dulu punya guru spiritual keluarga, tapi sudah lama tidak menjalin hubungan setelah kebangkrutan bapaknya,

setelah bapaknya almarhum, pak Ridwan teringat kembali dengan sosok guru ini, beliau pun mendatangkan lelaki tua ini yang untuk jalan saja harus di bantu dengan tongkat, hal ini sebenarnya di tentang dengan tetua desa saya, tapi pak Ridwan ngeyel berkata bahwa beliau-
sudah keluar uang banyak untuk rumah ini.

warga pun mengalah, para tetangga di samping rumah pak Ridwan merasa ada sesuatu yg tidak enak akan terjadi tapi apadaya mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

jadi apa yg di lakukan oleh guru spiritual ini?
ini adalah satu-satunya yg saya ingat tentang rumah ini di mana ritual di lakukan di hadapan beberapa warga, seperti tontonan saja, pertunjukannya sendiri di lakukan di belakang rumah pak Ridwan.
Malam itu bertepatan dengan kamis legi, kalau tidak salah ingat, orang tua itu yg di sebut guru seperti paranormal pada umumnya, duduk bersila di atas tanah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, beberapa kali dia membuka mata melotot pada sudut-sudut tertentu,
beberapa kali dia juga tertawa sendirian

malam yg awalnya tenang tapi mendadak seperti ada sesuatu yg benar-benar membuat siapapun yg di sana merasa gelisah, saya yg masih anak-anak akhirnya di suruh pulang oleh orang-orang tua, mereka bilang hal seperti ini tidak untuk di lihat
tahu apa yg saya lihat sebelum pergi?

orang yg menyebut dirinya guru itu memukul-mukul telapak tangannya pada sebatok kelapa lalu merobek kulit keras buah tersebut dengan sekali cabik, lalu menuangkan isi buah tersebut yg di dalamnya tak berisi air, tapi sesuatu yg hitam kental
saya yg melihat merasa mual, karena benda itu di letakkan di atas tanah, butuh empat sampai lima buah kelapa sampai membentuk gumpalan yg sampai hari ini saya tidak tahu itu apa,

setelahnya dia menari seperti peran dalam pertunjukkan ludruk, sambil bergerak seperti tokoh wayang
dia berbicara sendiri, marah-marah sendiri sambil menunjuk-nunjuk beberapa tempat, saya yg masih penasaran sudah mencoba mencuri-curi lihat tapi orang-orang tua waktu itu sampai harus memaksa kami untuk pulang, jadi saya tidak tahu akhir pertunjukannya seperti apa,

yg saya tahu adalah hasil dari pertunjukan itu yg saya dengar dari mulut anak-anak yg lebih tua, mereka melihat sampai pertunjukan berakhir di mana, seluruh anggota keluarga pak Ridwan di beri jimat khusus yg katanya di ambil dari jantung pohon pisang,

untuk anak-anak pak Ridwan di beri kalung berbentuk persegi empat berwarna hitam yg di sebut suwuk, sedangkan pak Ridwan di beri kemuning, seperti keris hanya saja lebih kecil, ukurannya sebesar ibu jari,

lalu apa yg terjadi sebenarnya,
begini, rupanya di belakang rumah tepat di kiri pondasi di temukan sebuah kuburan tua yg di gali serampangan lalu di tutup oleh semen, saat di periksa oleh warga atas perintah dari orang yg menyebut dirinya guru di temukan sebuah kuburan bayi, hal yg ganjil dari semua ini-

adalah tidak ada yg tahu siapa pemilik bayi malang itu yg di pendam di samping pondasi rumah, pak RT waktu itu sangat terkejut mendengarnya, awalnya tidak ada yg percaya tapi setelah di buktikan rupanya benar di temukan tulang dengan kain yg sudah tidak berbentuk,
yg menjadi masalah adalah, siapa pemilik dari jasad bayi malang tersebut?

guru itu menyebut bila ada sesuatu yg menganggu dirinya tentang pentingnya identitas penemuan ini, dia hanya berpesan untuk menguburkan jasad ini lebih layak sementara beliau mau mencari sendiri

akhirnya kuburan itu di pindahkan ke kuburan umum desa, tapi siapa sangka justru ini adalah awal semuanya.

awal dari sesuatu yg lebih berbahaya bersemayam di dalam rumah ini,
berhari-hari setelah pertunjukan si guru itu tidak ada yg terjadi, anak-anak pak Ridwan mengenakan suwuk mereka, sementara kemuning yg di dapat pak Ridwan di simpan di dalam almari,

keluarga pak Ridwan tak lagi di ganggu oleh makhluk yg kadang menyerupai wujud tetangganya itu
tapi semua ini hanya sementara saja, karena pada malam itu pak Ridwan baru pulang dari luar kota, waktu itu belum ada yg punya handphone, hanya telephone rumah, pak Ridwan menghubungi rumah dari wartel di samping jalan tol, ingin mengabarkan bahwa sebentar lagi ia pulang,
pak Ridwan menekan tombol telephone rumahnya, tak beberapa lama seseorang di ujung mengangkat panggilannya, itu adalah isteri pak Ridwan,

mereka saling berbicara satu sama lain, tapi ada yg aneh, sayup-sayup pak Ridwan mendengar suara lain, suara seperti merintih menangis,
suaranya pelan sekali, pak Ridwan bertanya, “dek, acung nangis?”

acung adalah si bungsu, mendengar hal ini isteri pak Ridwan awalnya diam saja, ia berkata kalau si acung sedang tidur,

pak Ridwan lalu diam sebelum bertanya kembali, “beneran, kok kaya ada yg nangis?”
selama perjalanan bus malam, pak Ridwan tidak bisa duduk dengan tenang, wajahnya terlihat resah, entah kenapa setelah menghubungi isterinya justru malah membuat pak Ridwan khawatir terjadi sesuatu dengan keluarganya, hal ini di tangkap oleh seorang kernet bus yg melihatnya.
“enten nopo to pak? kok koyoke onok masalah” (ada apa pak, kok sepertinya ada masalah)

pak Ridwan hanya tersenyum, enggan menceritakan masalahnya, tapi si kernet bus seperti tahu sesuatu, dia terus melihat pak Ridwan mencuri-curi pandang, hal ini di sadari oleh pak Ridwan,
saat pak Ridwan mengatakan di mana dia akan turun, si kernet lalu berujar,

“pak, engken nek mantuk ra onok salahe nek mberseni sikil dilek nang jedeng ojok lali di sawang bayangane” (pak, nanti kalau pulang gak ada salahnya mencuci kaki terlebih dahulu dan jangan lupa untuk-
-melihat bayangan)

pak Ridwan tidak mengerti maksud pemuda yg usianya mungkin setengah dari usianya, Ia hanya mengangguk saat bus mulai memelankan laju kecepatan sebelum pak Ridwan melangkah turun,

bus kembali melanjutkan perjalanan, kernet itu masih memandang pak Ridwan
jarak antara jalan raya dengan rumah tidak terlalu jauh, pak Ridwan berjalan sendirian menuju ke rumah tapi entah kenapa saat ia sedang berjalan seperti ada yg terus membuntuti dirinya, hal ini membuat pak Ridwan berkali-kali harus berhenti melihat ke belakang tapi anehnya,
tak di temukan siapa-siapa,

setiap kali langkah pak Ridwan terdengar lagi-lagi perasaan seakan-akan ada yg membuntuti dirinya terasa lagi semakin lama semakin intens, pelan-pelan pak Ridwan mulai merinding terutama saat suara-suara mulai terdengar di telinganya,

ia sampai di rumah dini hari, setelah mengambil kunci dari kantung celananya pak Ridwan melangkah masuk, hal pertama yg dia lakukan adalah menuju ke kamar tempat isteri dan anaknya sedang tidur tapi ada kejadian aneh karena sebelum pak Ridwan masuk ke kamar isterinya,

ia melihat si sulung mengintip dari pintu kamarnya, saat pak Ridwan melihat itu si sulung langsung menutup pintu lagi, hal ini membuat pak Ridwan termenung sejenak, ia merasa semakin janggal, ada apa dengan anaknya, kenapa dia belum tidur, hal yg tidak biasa bagi si sulung..

pak Ridwan mengurungkan niat masuk ke kamar ia sekarang mendekati pintu si sulung di mana pak Ridwan lalu mengetuk pintu kamarnya, namun tak ada jawaban dari dalam kamar tetapi pak Ridwan mendengar dengan jelas di balik pintu si sulung seperti bersandar di sana, tertawa cekikikan

pak Ridwan mulai mengetuk pintu sembari memanggil nama anaknya, “mbak, buka mbak, kok belum tidur?” teriak pak Ridwan tapi tak ada jawaban,

setelah mengetuk memanggil berkali-kali akhirnya pintu kamar si sulung terbuka dengan sendirinya, pak Ridwan melangkah masuk
ia melihat anaknya sedang tidur di balut selimut di atas ranjang, pak Ridwan mendekatinya perlahan-lahan, ia yakin bahwa apa yg baru saja dia dengar adalah suara anaknya tapi melihat anaknya sudah tertidur lelap lalu suara siapa yg tadi baru saja dia dengar,
pak Ridwan berdiri di samping si sulung lalu mengusap rambutnya tiba-tiba dari belakang pak Ridwan merasa sekelebat bayangan melintas di ikuti suara tawa familiar yg baru saja dia dengar, pak Ridwan menoleh ia meninggalkan si sulung melihat ke belakang namun tak ada siapapun,

pak Ridwan menutup pintu kamar ia baru mengingat bila belum mencuci kakinya seperti pesan kernet bus yg ia temui, saat pak Ridwan bersiap menuju ke kamar mandi tiba-tiba dari kamarnya, isterinya bersama si bungsu melihat dirinya dengan sorot mata kosong,

“sudah pulang mas? sini”
ada beberapa hal yg membuat pak Ridwan masih diam memandang isteri dan anaknya, pertama selama dia hidup bersama isterinya ia tak pernah melihat perempuan itu menggerai rambutnya biasanya ia menguncirnya, kedua cara dia menimang anaknya, terlihat ganjil dengan posisi tangannya

“lihat apa mas, sini..” ia tersenyum, senyuman yg membuat pak Ridwan tidak akan pernah bisa melupakannya, ia juga mengenakan daster putih, salah satu pakaian yg jarang sekali di pakai oleh isterinya saat malam hari, tapi pak Ridwan tak memikirkan hal ini lebih jauh, ia mendekat

saat pak Ridwan mendekat, tiba-tiba si sulung menangis, cepat-cepat isterinya kembali menimang-nimang sembari menenangkan, saat itulah pak Ridwan akhirnya berbalik menuju kamar mandi lalu mencuci kedua kaki serta tangannya tapi saat ia sedang melakukan hal itu, di belakangnya..

tepat di belakangnya pak Ridwan melihat si sulung berdiri melihat dirinya, hal ini membuat lelaki itu cukup terkejut sejak kapan si bungsu bisa berdiri, merangkak saja dia gak bisa, tak lama dari belakang isterinya datang tersenyum lalu berkata, “acung pinter mas, isok mlaku”

malam itu pak Ridwan menimang acung sendirian di ruang tengah, ia ingin anak itu tidur sementara isterinya mengawasi dirinya dari atas kursi, saat itu beberapa kali pak Ridwan melihat kearah kamar si sulung di mana ia melihat gadis itu lagi-lagi mengintip lalu menutup pintu lagi,

hal ini terjadi berulang-ulang kali, “dek, itu anakmu kok gak tidur?”

“siapa?”
“si mbak, itu loh ngintip terus”
isteri pak Ridwan tertawa kecil lalu berkata, “biarkan saja, nanti kalau lelah juga tidur sendiri”

pak Ridwan hanya diam mendengarnya, semua semakin aneh,
saat itulah suara telephone berdering, pak Ridwan menoleh melihat isterinya yg kebetulan juga melihat dirinya, siapa dini hari seperti ini menelphone,

pak Ridwan sembari menggendong Acung mengangkat telephone, ia masih bisa melihat si sulung mengintip dirinya,

“halo?”
“mas di rumah?”

pak Ridwan hanya diam mendengarkan, “aku dari sore ke rumah ibuk sama anak-anak, tadi wes tak hubungi tempatmu kerja katanya kamu dah balik, gak tau kenapa aku gak tenang makanya aku nelpon mas”

pak Ridwan melirik isterinya masih memandang dirinya, memperhatikan
pak Ridwan menutup telephone, lalu berjalan meninggalkan isterinya masuk ke kamar sesaat kemudian dia mengikuti dirinya, tak hanya itu si sulung juga mengikuti sementara acung masih ada di tangannya, pak Ridwan membuka almari mencari di mana kemuningnya di simpan
semakin lama acung terasa semakin berat, pak Ridwan berusaha tetap tenang sembari tangannya membongkar baju satu persatu, tapi ia tak kunjung menemukan benda ini, saat itulah dari bayangan kaca di almari, pak Ridwan melihat acung anaknya rupanya menyerupai bocah kecil gundul,

sosok yg menyerupai isterinya masih berdiri, diam tak bergerak, pak Ridwan mendorong pintu almari mengarahkannya pada si sulung yg berdiri malu-malu di samping pintu kamar, sosoknya berubah menjadi sosok dengan kain kafan yg tidak lebih tinggi dari anak gadisnya, wajahnya hitam

“cari ini mas” telapak tangan terulur dengan kemuning di atasnya, pak Ridwan melihat dari sudut mata sebelum mengarahkan pintu melihat isterinya yg rupanya adalah sosok perempuan dengan leher daklek, ia melihat pak Ridwan menyeringai berujar dalam suara lirih, “anak sy di mana?”

belum berhenti di situ, rasanya pak Ridwan ingin menjerit lari tunggang langgang dari rumah itu tapi tubuhnya seperti patung, hanya bisa membeku diam sesaat sebelum akhirnya dia menyadari di atas lemari ada sosok kakek tua keriput dengan bulu di tubuhnya melotot memandang dirinya

tidak ada yg bisa di ingat apa yg terjadi setelahnya karena pak Ridwan sadar tiba-tiba di hadapannya ramai orang berkumpul,

ada seorang lelaki mengenakan sorban putih memandang pak Ridwan sembari menepuk-nepuk bahunya, isteri dan kedua anaknya langsung mendekati pak Ridwan,

“omahmu sak iki rame pol demit sing mok gowo emboh teko ndi iku” (rumahmu sekarang di penuhi setan yg kau bawa entah darimana)

Pak Ridwan tidak mengerti, tapi isterinya segera menceritakan bila sudah satu minggu ini pak Ridwan bersikap aneh, ia menangis seorang diri di kamar,

selama itu juga tak ada yg bisa di lakukan selain mengirimkan doa di dalam rumah, termasuk pak kyai yg di datangkan untuk membersihkan rumah, pak Ridwan tidak mengerti, ia meminta lelaki itu menjelaskan lebih jauh apa yg sebenarnya terjadi, pak Kyai akhirnya menunjukkan sesuatu..

siapa sangka bila semua ini ada hubungannya dengan kuburan bayi yg di temukan, singkatnya siapapun yg membangun rumah ini memiliki maksud tersembunyi yg tidak di ketahui tujuannya, bisa saja ingin membuat celaka bu Rismoyo atau rumah di depan milik pak Ageng intinya,

kuburan bayi itu di gunakan hanya untuk memperkuat tanah ini, karena sebenarnya rumah bu Rismoyo atau rumah pak Ageng tidak kalah angker, hal ini di perkuat di mana bu Nani bercerita bahwa semenjak rumah yg pak Ridwan tinggali di bangun banyak kejadian janggal terjadi,
salah satunya bu Rismoyo berkata bahwa setiap malam ia di datangi oleh sosok yg tidak bisa dia lihat, dia selalu menemui bu Rismoyo memijat kaki dan badannya, saat bu Rismoyo mulai membaca doa untuk mengusir makhluk itu, sosok itu tertawa mengikuti bu Rismoyo membaca doa yg sama,

pak Ageng lebih parah lagi, kuburan di depan rumahnya adalah milik buyut yg sudah lama ada di sana, sejak rumah pak Ridwan di bangun setiap malam kamar pak Ageng di ketuk terus menerus oleh sosok menyerupai buyutnya hanya saja tubuhnya dalam kondisi hancur di penuhi daging busuk

pak Kyai mengatakan semua itu di mulai dari kedatangan bayi yg di kubur di sini, semenjak bayi itu di pindah sosok yg menjaga tempat ini yg di percaya sebagai ibu dari bayi tersebut mulai menerima semua demit mengundangnya ke tempat ini, namun semua sudah berakhir,
pak Kyai menunjukkan botol bening kecil yg di tutup dengan kertas berwarna kuning di ikat dengan akar serabut, ia meminta ijin kepada pak Ridwan menanam benda itu di bawah pondasi rumah ini, namun pak Kyai melarang keras siapapun untuk menggali dan membuka penutup botol ini,

pak Ridwan tampak bingung, kenapa harus di tanam di rumahnya, kenapa tidak di rumah bu Rismoyo atau pak Ageng, hal ini membuat dua keluarga itu langsung berdiri lalu menunjuk pak Ridwan, sejak pak Ridwan memanggil guru tersebut tanpa sadar rumah ini adalah sumber masalahnya.

tapi pak Kyai menjelaskan bahwa alasan yg sebenarnya karena rumah ini yg di pilih oleh Braung untuk tinggal, pak Kyai tidak keberatan menunjukkannya kepada pak Ridwan namun lelaki itu menolak, selain itu sebenarnya makhluk yg sekarang di simpan di dalam botol bisa saja-

di buang ke alas purwo atau alas-alas di timur tapi percuma saja mereka sudah kadung kerasan dengan tanah di omah jejer telu sehingga tidak akan menyelesaikan masalah, dengan menanam botol di rumah ini setidaknya tak akan ada lagi gangguan apapun selama pak Ridwan tinggal,

asalkan rumah kembali bersih dengan di isi oleh doa-doa yg menenangkan, pak Ridwan akhirnya setuju, satu hal yg membuat keluarga Rismoyo dan pak Ageng lega mendengarnya, tapi satu minggu kemudian pak Ridwan bersama keluarga memutuskan pindah rumah
hal yg cukup mengejutkan, tapi tidak ada yg bisa melarang keputusan keluarga Ridwan, ia sudah mengikhlaskan semua uang untuk membangun rumah ini meski hasil akhirnya ia tak jadi membeli rumah ini, berikutnya, rumah ini akhirnya di alihfungsikan menjadi tempat kost murah

bagi anak-anak yg bekerja di pabrik kertas yg baru di dirikan, di sini, babak kedua rumah ini, di mulai..