Cerita Horor KKN Di Rumah Bekas Pembantaian

Cerita Horor Hari Ini – Desa dimana menjadi tempat kami kkn ini adalah desa yang sangat nyaman untuk ditinggali, warga masyarakatnya sangat ramah dengan semua orang, murah senyum dan juga jiwa gotong royong antar warga membuat kami sungguh merasa beruntung sekali bisa KKN di desa ini.

Sampai suatu ketika salah satu temanku tak sengaja berurusan dengan “mereka” yang tak kasat mata. Namun tak sampai disitu saja, semenjak kejadian itu mulailah satu persatu fakta tentang rumah dan desa yang kami tempati terkuak.

“woyy sam buruan kesini cepat! Ini bantuin motorku ban e selip” teriak Simon. Simon adalah rekan satu poskoku, oh iya sebelumnya perkenalkan namaku samuel,

teman-temanku biasa memanggilku “sam” yah memang berkesan seperti orang bule, tapi aslinya aku keturunan jawa yang saat ini kebetulan tinggal di pulau sumatera, di kota lampung lebih tepatnya.

Hari ini aku bersama ketiga temanku sedang dalam perjalanan menuju ke kampung lokjambe. Kami berempat kesana bukan tanpa tujuan, kami akan melaksanakan kkn disana. Simon, Rahmat, Teo dan aku, kami menuju desa itu dengan mengendarai 2 motor,

aku menggunakan motor cb 150 dan Simon menggunakan motor matic keluaran terbaru. Dengan perasaan penuh semangat, kami menerobos dan menerjang rimbunya hutan dan medan jalan menuju ke desa lokjambe.

Astaga saking asyiknya bercerita aku sampai lupa kalau harus menolong simon yang motornya terjebak di kubangan lumpur, yah memang beginilah keadaanya, kami hidup di daerah yang dimana akses jalan menuju desa-desa yang jauh dari pusat kota memang kurang sopan jalanannya.

Klik Prediksi Bola Online Jitu

Terkadang ada kubangan yang dalamnya bisa sampai separuh ban motor, wajar saja, jalanan disini masih belum di aspal, jadi masih jalan tanah berbatu.

“ji..ro..lu.. tarikkk!!” ucap rahmat memandu kami untuk menarik motor simon secara serentak. “alhamdulillah” ucap kami berbarengan dengan motor simon yang sudah keluar dari kubangan lumpur itu. Setelah kejadian itu, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju ke desa tujuan.

Kami memang tingal di kota ini namun baru kali ini aku mendengar ada nama desa lokjambe, oleh sebab itu kami berempat memutuskan untuk memulai perjalanan sejak pagi, yah sekedar untuk mengantisipasi supaya nantinya kami tidak pulang terlalu malam,

karena seperti yang kalian tau, daerah pedalaman lampung masih sangat minim penerangan dan ditambah ngeri lagi karena perjalanan melewati perkebunan kelapa sawit yang sangat luas dan tanpa penerangan lampu jalan.

Setelah kurang lebih berjalan selama 3 jam kami sampai di daerah pebatasan antara pemukiman dan didepan sudah kawasan perkebunan kelapa sawit,

nah dan sialnya sinyal internet kami tiba-tiba tidak ada disini, sehingga kami memutuskan untuk mencari rumah penduduk terdekat yang nantinya bisa kita tanyai soal dimana lokasi desa lokjambe itu.

“sam, sam.. itu ada rumah, gimana kalau kita mampir tanya dulu?” ucap rahmat sambil menepuk pundakku. “mon kita tanya ke rumah itu dulu!” teriakku pada simon yang kala itu sedang mengendarai motornya dibelakangku.

Tanpa berpikir panjang aku langsung menepikan motorku dan menghampiri rumah yang ditunjuk oleh rahmat.

Aku dan rahmat turun dari motor, sedangkan simon dan teo berada di pinggir jalan menunggu kami.

“assalamualaikum bu, permisi.. maaf mau tanya” ucapku pada seorang ibu-ibu yang nampaknya tengah asyik memisahkan kacang dari kulitnya.

“walaikumsalam dek, silahkan duduk dulu, maaf kalau tempatnya kotor” ucapnya sambil mempersilahkan aku dan rahmat duduk di teras rumahnya.

“perkenalkan buk, nama saya samuel dan ini rahmat, kami dari univeristas X. Jadi sebenarnya kami kemari mau menuju ke desa lokjambe buk,

tapi kami sama sekali belum pernah tau desa itu dan ditambah lagi google maps tidak bisa kami gunakan lagi karena sinyal disini sudah tidak ada, ibu tau lokasi desa lokjambe itu tidak ya?” tanyaku sambil sekilas memperkenalkan diri.

“desa lokjambe mas?”

ibu itu begitu terlihat sangat kaget ketika mendengar nama desa yang barusanku ucapkan. Aku bisa melihat ekspresi wajahnya yang semulanya sangat santai dan ketika mendengar nama desa lokjambe ekspresinya sontak langsung berubah.

“iya buk benar” jawab rahmat

mungkin karena tak ingin ikut campur dengan urusan kami, ibu itu langsung berdiri dan menunjukkan arah kepada kami.

“oh desa itu sudah dekat kok dek, kalian tinggal melewati perkebunan sawit ini aja terus nanti kalau ketemu pertigaan kalian ambil kanan, nah nanti langsung sampai di desa itu” terangnya.

“baik buk terimakasih, kalau begitu kami mau melanjutkan perjalanan, permisi ya buk” ucapku sambil melangkahkan kaki menjauhi rumah ibu itu.

“mari-mari silahkan dek, tapi kalau boleh ibuk pesen, nanti pulangnya jangan sampai terlalu larut malam ya, disini masih daerah rawan soalnya” imbuhnya sambil mempersilahkan kami untuk melanjutkan perjalanan.

“iya buk, terimakasih ngih” balasku singkat dan kamipun melanjutkan perjalanan menuju desa lokjambe.

Jika kalian pernah mendengar kalau istilah “dekat” orang desa itu tidak sesuai dengan kenyataan, kali ini aku membuktikannya. Tadinya ku kira jarak dari rumah ibu tadi menuju ke desa lokjambe tak terlalu jauh,

seperti yang ia bilang tadi bahwa “oh desa itu sudah dekat kok dek, kalian tinggal melewati perkebunan sawit ini aja” namun ternyata sudah hampir setengah jam kami memasuki jalan ditengah perkebunan sawit namun masih belum menemukan pertigaan yang ibu tadi maksud.

“woyy betul ngak tadi petunjuk dari si ibu itu” tanya rahmat dengan nada sedikit tinggi, mungkin karena ia merasa bahwa petunjuk yang diberikan salah.

“wis kita coba jalanin dulu, siapa tau memang bener setelah perkebunan ini ada pertigaan dan langsung menuju desa itu” ucapku sambil mencoba meredamkan amarah rahmat yang nampaknya sudah mulai meluap-luap.

Pada akhirnya kami bertemu dengan pertigaan yang sama persis dengan yang diberitahukan oleh ibu tadi, namun disini kami berempat sempat binggung dengan arah yang selanjutnya akan kami tuju, bagaimana tidak demikian, menurut petunjuk ibu tadi,

ketika kami sudah melewati perkebunan kelapa sawit dan bertemu dengan pertigaan, kami diarahkan mengambil jalan ke kanan, tapi disini malah jalan yang ke kanan menurut kami adalah jalan yang tak wajar dan ragu apakah jalan itu bisa dilewati oleh kendaraan.

“tadi kata ibuknya suruh ngambil jalan kanan kan sam? Tapi kok jalanannya begini?” tanya simon padaku sambil mencoba sesekali mengecek ponselnya sambil berharap akan ada sinyal untuk kami membuka map dan mencari desa itu.

“iyo mon, kalau ngak percaya tanya si rahmat ini loh, dia juga denger kok tadi, iya to mat” jawabku sambil melemparkan pertanyaan pada rahmat yang ada dibelakangku.

“iya mon, wong tadi aku denger sendiri katane kalau ketemu pertigaan ambil jalan ke kanan, tapi kok tadi muka ibuknya jadi agak aneh ya pas kita tanya desa ini?”

Tanpa memberikan penjelasan lanjutan, aku memilih mengajak mereka untuk melanjutkan perjalanan saja, “wis ayo kita ikutin aja arahan dari ibuk tadi, toh sampai saat ini kita ngak kesasar kan pas nurutin beliau? Wis ayo jalan, biar aku yang depan”

ucapku dengan nada lantang dengan harapan dengan begitu semoga keraguan mereka akan sedikit menghilang perlahan.

Sepanjang perjalanan setelah pertigaan itu, suasana menuju desa ini sangat asri dan sejuk menurutku.

Pepohonan menjulang tinggi yang membuat sinar matahari sedikit terhalangi untuk sampai ke jalan menjadikan perjalanan kami ke desa lokjambe menjadi tak terlalu melelahkan karena harus kepanasan terkena paparan sinar matahari siang,

karena jika dihitung perjalanan kami dari kampus sampai kesini sudah hampir 4 jam lamanya dan benar saja, setelah perjalanan yang cukup jauh dari pertigaan tadi, aku melihat ada gapura yang terbuat dari kayu dan samar-samar ada tuliskan “DESA LOKJAMBE” disana.

“wehh ini betulan tulisan desa lokjambe kan?” aku berhenti dari motor, menghampiri tulisan itu dan mencoba bertanya pada teman-temanku apakah ini tulisan nama desa itu ataukah hanya sekedar halusinasiku saja.

Rahmat menghampiriku dan disusul oleh teo dan simon, “d-eesa l-lokja-ambe” ucap teo mencoba membaca tulisan di papan kayu itu yang sudah mulai hilang karena termakan usia.

“iya benar ini desa lok jambe kawan” ucap teo setelah membacanya, mendengar itu aku pun sedikit merasa lega karena perjalanan panjang ini membuahkan hasil juga.

Setelah lega karena sudah menemukan desa yang nantinya akan menjadi tempat KKN, kami langsung mencari warga setempat guna mananyakan rumah kediaman dari kepala desa lokjambe,

entah sebuah kebetulan atau tidak, tak jauh dari gapura desa kami melihat ada sekelompok bapak-bapak yang nampaknya baru selesai dari kebun, tanpa pikir panjang, kami langsung menghampiri dan menanyakan maksud dan tujuan kami.

“assalamualaikum pak, ngapunten, permisi mau tanya”

ucapku setelah memarkirkan motor dan melepas helm, aku bertanya kepada bapak-bapak yang saat itu sedang membawa setandan pisang yang baru masak beberapa buah saja.

”walaikumsalam nak, silahkan-silahkan mau tanya apa”

sambil menaruh pisang yang sedang ia bawa, bapak itu langsung menyambut kami dengan wajah yang sangat ramah.

“sebelumnya perkenalkan pak nama saya samuel, ini rahmat dan itu disana dua teman saya namanya simon dan teo” ketiga temanku menunduk dan melemparkan senyum kepada bapak ini dan ia pun langsung membalasnya dengan spontan dan sekali lagi dengan sangat ramah.

“jadi maksud dan tujuan kami datang ke desa ini untuk melaksanakan KKN pak, oh iya saya dan teman-teman berasa dari Universitas X di kota, nah kami mendapatkan desa yang nantinya akan menjadi tempat kami mengabdi selama 40 hari ya di desa ini, desa lokjambe.

Nah kami disini baru survei lokasi sekaligus mencari tempat untuk posko kami pak, maka dari itu kami mau tanya rumah dari kepala desa lokjambe ini disebelah mana ya pak?” ucapku memperkenalkan diri dan kulanjutkan menerangkan maksud dan tujuan kami datang kesini.

Ketika selesai menyampaikan makudku tadi entah mengapa tiba-tiba bapak-bapak yang ada disekitar malah tertawa. “lah dek itu yang kamu ajak bicara itu pak lurahnya sendiri”

Melihat kejadian itu bapak yang tadi kuajak bicara atau pak lurah langsung mempersilahkan kami berempat untuk kerumahnya saja.

ternyata rumah pak lurah tak terlalu jauh dengan lokasi pertemuan kami saat itu, tinggal lurus dan nanti setelah ada perempatan samping masjid tinggal ambil kekiri dan sampailah dirumah pak lurah.

Rumah pak lurah adalah tipikal rumah yang menyerupai rumah panggung namun rumah ini masih banyak menggunakan bahan kayu untuk ornamen dan arsitektur rumah dan juga untuk bagian pagar teras terbuat dari kayu yang dibentuk menjadi seolah itu sebuah anyaman.

Ketika kami sampai disana, perasaan yang pertama kali dirasakan adalah kenyamanan, nyaman karena keramahan warga dan juga nyaman karena kondisi alam disini yang masih sangat asri, berbeda dengan kawasan sebelum perkebunan sawit tadi.

“mari mas masuk dulu, pasti capek kan habis menempuh perjalanan jauh kemari” ucap pak lurah sambil menaiki anak tangga dan menuju ke teras rumah.

Kamipun mengikuti beliau dari belakang sambil sesekali melihat keindahan rumah yang jujur saja membuatku sangat tertarik, karena rumah dengan modelan seperti ini sangat jarang kutemui ketika di kota.

“buk tolong ambilkan minum untuk tamu kita”

Pak lurah menyuruh istrinya yang saat itu baru juga membukakan pintu, tanpa menjawab sepatah katapun, beliau langsung berjalan memasuki rumah.

“jadi mas nya ini yang besok mau KKN di desa ini to?” pak lurah menatapku sambil sesekali menbetulkan celananya yang sepertinya terlalu menghimpit perutnya ketika duduk lesehan seperti ini.

“iya pak benar, tapi kami kesini saat ini hanya survei lokasi dulu sekaligus mencari rumah yang nantinya akan menjadi posko kami selama 40 hari menjalankan KKN disini” balasku.

Seolah paham dengan apa yang aku bicarakan, pak lurah langsung menyambut ucapanku dengan kalimat yang mungkin bisa menjadi kabar gembira untuk kami semua.

wah kebetulan bapak punya rumah yang kebetulan hanya bapak gunakan sebagai gudang perkakas keperluan desa dan sebenarnya ruangan lainnya masih sangat banyak dan luas, bagaimana kalau kalian lihat dulu rumahnya,

nah nanti kalau cocok kallian pakai saja, tenang saja ngak usah bayar biaya sewa, toh kalian disini kan juga membantu masyarakat, anggap saja itu bentuk ucapan terimakasih kami pada kalian” ucap pak lurah pada kami.

“wah wah wah, boleh banget pak, nanti abis ini langsung kesana saja ya pak” balas simon. Akupun langsung menatap simon dengan tatapan sinis,

yah memang aku juga setuju dengan yang disampaikan oleh pak lurah tapi disini aku kurang enak saja dengan tingkah laku simon yang trunyukan kalau orang jawa bilang.

“mari ini diminum sama dimakan dulu, ngak usah malu-malu, anggap aja rumah sendiri ya” bu lurah menyuguhkan makanan dan minuman yang barusaja ia bawa dari dalam rumah.

Ubi rebus, manisan pepaya dan setoples kripik singkong menjadi jamuan yang sangat menggugah selera bagiku, tak lupa juga beliau memberikan es teh yang beliau siapkan di teko dan inilah sebenarnya yang kami inginkan,

karena memang perjalanan yang kami lalui sangatlah memakan waktu yang lama, 4 jam lah kurang lebih perjalanan kami menuju ke desa ini.

“permisi ya buk, pak, saya minum dulu” ucapku sambil menuangkan es teh kedalam gelas. “silahkan- silahkan.. pasti kalian haus banget to,

ya harap maklum ya mas, disini jarang ada yang jualan makanan dipinggir jalan, karena memang perjalanan menuju desa ini kebanyakan kawasan perkebunan kelapa sawit” sambil sedikit tertawa pak lurah membalas ucapakanku.

Segelas es teh sudah ditangan dan disusul oleh simon dan yang lain, mereka secara bergiliran menuangkan es teh dari teko ke gelas yang sudah mereka pegang.

Sambil membuka obrolan, aku mulai menanyakan tentang kebiasaan warga dan kegiatan warga desa lokjambe ini, yah sekaligus buat menyusun rencana proker apa yang akan kami lakukan selama KKN disini nanti.

“pak maaf mau tanya, kalau warga sini rata-rata mata pencahariannya apa ya pak?” tanyaku singkat mencoba membuka obrolan, “oh kalau warga sini kebanyakan bekerja di kebun mas, ada yang bekerja utuk perusahaan besar dan ada juga yang punya kebun kelapa sawit sendiri.

Tapi tak sedikit juga warga sini yang bercocok tanam sendiri, seperti menanam jagung, lada dan sebagainya, yah intinya warga disini pekerjaanya macam-macam mas” jelasnya.

Saking asyiknya kami mengobrol, tak terasa sajian yang tadi disajikan sudah ludes dimakan oleh ketiga temanku.

“wehh kamu ngak bagiin aku to” ucapku dengan bercanda, “lah kamu aja ngomong mulu sama pak lurah, yo kami memanfaatkan keadaan to ya” ucap rahmat dan disusul dengan anggukan kedua temanku yang lain, simon dan teo.

“haha udah mas nanti biar ibu masakin lagi kalau masih lapar, oh iya nanti sebelum kalian pada pulang, kalian harus makan dulu loh ya, jangan main nyelonong gitu aja”

ucap bu lurah sambil membujuk kami untuk makan dirumahnya. “wah dengan senang hati buk kalau itu mah” balas rahmat.

“oh iya pak, bagaimana kalau sekarang kita melihat rumah yang nantinya jadi posko KKN kami” ajakku pada pak lurah dan dengan sigap pak lurah mengiyakan ajakanku itu “yaudah ayo mas, tapi jalan kaki saja yo, dekat kok tempatnya”.

Akhirnya kami berlima berjalan menyusuri jalanan desa yang masih berwujud tanah tanpa ada polesan aspal diatasnya. Kami perlu hati-hati ketika melewati jalanan ini,

karena kata pak lurah bebrapa hari kemarin desa ini sempat hujan yang sangat deras sekali dan itu berlangsung selama sehari semalam, oleh sebab itu jalanan disini jadi sedikit licin dan banyak genangan dimana-mana.

“wah mau kemana pak” ucap warga desa yang kebetulan sedang membersihkan halaman rumahnya

“oh ini mau ngateri mas-mas ini kerumah tempat perabotan”

“oh ini mas kkn itu ya pak? Yang kemaren bapak bilang mau ada mahasiswa KKN di desa kita?”

“iya pak, ini para mahasiswa baru mau survei lokasi dulu sebelum penerjunan” jelas pak lurah.

Pak lurah saat itu sedikit menjelaskan mengenai siapa kami dan maksud tujuan kami disini, untung saja, seperti yang sudah kubilang di awal, bahwa warga desa ini sangatlah ramah-ramah dan ketika ada orang baru yang datang pun mereka dengan sangat antusias menyambut dan menerima.

“wah semoga betah dan nyaman di desa ini ya mas, kapan-kapan mampir ke gubuk saya, nanti nyeruit” ucap bapak itu sambil menatap kami, tatapannya sangat ramah sekali, tatapan yang seolah ia sedang berhadapan dengan warga masyarakat sekitar dan bukannya sinis dengan pendatang.

Oh iya, nyeruit itu adalah makan bersama dengan sambal terasi dan diberi mangga kuweni, ada lalapan juga seperti pecel lele namun disini makannya dengan beralaskan daun pisang.

“hehe iya pak, terimakasih sebelumnya” ucapku

“yasudah saya mau melanjutkan perjalanan dulu ya pak, permisi” ucap pak lurah

“mari silahkan pak”

Jujur saja, ketika berada di desa ini aku sekilas menjadi kangen dengan nuansa kampung halaman ayah ibuku di jawa. Persis sekali seperti ini, tetangga ramah dan murah senyum, wah intinya aku sangat nyaman sekali ketika berada di desa ini.

Setelah kurang lebih 10 menit berjalan dari rumah pak lurah tibalah kami di sebuah rumah yang jika dilihat dari luar merupakan rumah yang cukup besar, di depan rumah terdapat pohon mangga dan di samping berjejer tanaman pisang dan diselingi oleh ubi talas.

Kesan pertamaku ketika melihat rumah itu adalah “singup” atau orang jawa biasa menyebutnya sebagai rumah angker. Namun aku tak mau memperdulikan itu, takutnya nanti malah membuat teman-teman menjadi takut untuk tinggal disana.

Kami pun ditemani pak lurah akhirnya masuk kedalam rumah itu, rumahnya cukup luas, dengan beberapa lukisan dan topeng yang terpajang di dinding-dinding rumah.

Bagian ruangan samping digunakan sebagai ruangan penampung perabotan desa, seperti meja, kursi, piring, gelas dan lain sebagainya.

Dilain sisi, terdapat 3 kamar kosong yang bisa kami tempati sebagai kamar tidur dan terdapat pula dapur dan kamar mandi yang hanya disekat oleh papan putih yang entah apa namanya.

Ditengah kami menjelajahi rumah ini, tiba-tiba pak lurah berpesan kepada kami, supaya ketika nanti sudah menempati rumah ini, beliau meminta supaya lampu kamar mandi jangan sampai dimatikan dan air yang ada disana jangan sampai habis.

Ketiga temanku ketika mendaptakan pesan dari pak lurah ekpresi mereka sontak langsung berubah seketika, berbeda denganku yang sudah paham dengan apa yang dimaksudkan oleh pak lurah.

Jujur saja, tadi ketika aku masuk kedalam rumah ini, aku langsung disambut oleh sosok perempuan yang selalu menundukkan kepalanya ketika berhadapan denganku, akan tetapi aku tak mempunyai pikiran jika sosok itu menganggu, menurutku sosok itu hanya ingin menyambut kedatangan kami.

Setelah menmastikan bahwa rumah yang akan kami tempati masih layak untuk dihuni akhirnya kami kembali kerumah pak lurah. Sepanjang perjalanan menuju rumah pak lurah, pikiranku tak henti-hentinya memikirkan soal rumah itu.

Namun aku tak mau ambil pusing dengan kejadian yang tadi aku alami, yah apa bedanya lah dengan kejadian yang selalu menimpaku ketika aku memasuki rumah baru, pasti bertemu dengan para penghuni rumah.

Kami akhirnya sampailah dirumah pak lurah dan benar saja, ketika kami sampai disana, ternyata sudah tersaji berbagai makanan yang sudah siap kita santap, tanpa berpikir panjang, kami langsung menyantap hidangan itu setelah dipersilahkan untuk makan.

Setelah selesai makan dan minum, waktu itu sudah menunjukkan sekitar jam 4 sore, yang dimana kita harus segera kembali pulang.

Aku berpamitan seperlunya ke pak lurah dan bu lurah, serta meminya izin bahwa 2 minggu lagi kami akan kesini lagi dengan personel yang lengkap serta ditemani oleh dosen pembimbing lapangan atau DPL.

Pak lurah mengiyakan dan setelahnya kamipun mengucapkan terimakasih atas sambutan dan hidangan yang telah disiapkan untuk kami dan kamipun izin pulang. Ketika mengendarai motor aku sedikit memiliki rasa “tidak enak” dengan rumah yang nantinya akan kami tempati sebagai posko KKN,

namun aku mencoba menepis semua pkiran buruk itu dan berpikir bahwa rumah itu adalah rumah biasa saja dan tak ada yang perlu di khawatrikan karenanya.

Namun ternyata dugaanku salah, nanti saja akan kuceritakan, ini masih awal dan bahkan belum mulai KKN, ku harap teman-teman pembaca masih setia membaca tulisan ini sampai akhir ya,

di akhir nanti kalian mungkin akan mendapatkan sebuah kisah yang jika dipikir mungkin tak masuk akal ketika ternyata di era teknologi yang sudah canggih seperti ini,

masih ada “sosok” yang mungkin hanya dipercaya sebagai makhluk mitologi, namun disini aku benar-benar bertemu dengannya.

Dan KKN di Desa Kutukan pun dimulai!!

Hari ini tanggal 19 januari 2022, hari yang sangat cerah sekaligus menggembirakan bagiku, karena kami akan kembali ke desa lokjambe untuk melaksankan kuliah kerja nyata atau biasa disebut KKN selama 40 hari kedepan.

Suasana di Nuwo Balak pagi itu menjadi sangat ramai karena dipenuhi oleh mahasiswa, karena untuk pelepasan mahasiswa yang akan melaksanakan KKN dilaksanakan di Nuwo Balak. Nuwo Balak sendiri adalah rumah milik pemuka adat.

Hari ini adalah hari pelepasan mahasiswa yang nantinya akan diterjunkan ke daerah-daerah untuk melaksanakan kuliah kerja nyata,

namun karena situasi masih dalam keadaan pandemi, kami tetap dihimbau untuk tetap taat dan mematuhi protokol kesehatan guna mencegah penularan virus covid semakin meluas.

Kelompokku terdiri dari 14 orang, 4 diantaranya adalah laki-laki dan sisanya perempuan, yah memang karena kampusku mayoritas adalah kaum hawa, jadi jangan heran jika kelompokku lebih banyak perempuan.

Simon, rahmat, teo adalah teman satu kelompokku yang laki-laki sedangkan untuk yang perempuan ada meta, norma, lidya, tita, elsa, mirna, prita, hastin, leni dan wirda.

Namun disini hanya akan ku sebutkan beberapa saja, yaitu meta dan prita dan beberapa yang bersinggungan saja. Kenapa hanya mereka yang akan banyak berperan dalam cerita ini.

Singkat cerita, setelah acara pelepasan mahasiswa kkn di kampus usai, akhirnya kami semua ditemani oleh pak aryo selaku dosen pembimbing lapangan berangkat menuju desa lokjambe.

Dikarenakan jumlah kami yang ganjil, akhirnya aku memutuskan untuk mengendarai motor sendiri dan yang lain berboncengan.

Oh iya tadi hampir saja aku lupa menyampaikan bahwa 3 hari sebelumnya kami sudah mengumpulkan berbagai peralatan dan perlengkapan untuk kkn selama 40 hari kedepan,

semua barang-barang itu dibawa oleh 2 mobil pick up ke desa lokjambe, nah saat itu aku bersama rahmat datang kesana lagi sekaligus menemani para sopir mengantarkan barang-barang kami.

semua barang-barang itu dibawa oleh 2 mobil pick up ke desa lokjambe, nah saat itu aku bersama rahmat datang kesana lagi sekaligus menemani para sopir mengantarkan barang-barang kami.

Dan ternyata ketika aku sampai di rumah itu, sosok wanita berbaju putih lusuh itu masih ada disana dan yang memedakan pertemuan ini dengan pertemuan sebelumnya adalah,

“dia sudah tidak sendiri lagi!” sosok itu bersama 2 sosok perempuan lainnya, yang satu dengan membawa anak dan yang satunya seperti sedang dalam posisi hamil tua.

Nah nanti akan kuceritakan siapa sosok ini, yang pasti saat itu aku tak mau menghiraukan kehadiran mereka, pikirku kala itu,

mungkin mereka menampakkan diri padaku karena aku mempunyai kemampuan untuk berinteraksi dengan mereka, atau mungkin juga mereka ingin menyampaikan sebuah pesan.

Singkatnya setelah kami menurunkan barang-barang, kami kembali pulang dan mempersiapkan diri untuk kkn nanti. Oke kita lanjut di perjalanan menuju desa lokjambe.

Kala itu lebih tepatnya ketika perjalanan sudah tinggal kurang beberapa jam lagi, dering ponselku berbunyi, akhirnya aku menepikan motor cb ku dan mengangkat telpon dan ternyata itu adalah telepon dari bapakku.

“le ini bapak tadi dapat pesan dari simbah, jarene awakmu disuruh hati-hati mengko nek pas kkn, mergo kehadiranmu nang mereka kui wis di enteni”

(nak ini bapak tadi dapat pesan dari simbah, katanya kamu diminta untuk berhati-hati ketika kkn, karena kehadiranmu disana itu sudah dinantikan oleh mereka)

begitulah ucap bapak dari telepon genggamku saat itu, namun sebelum aku menjawab dan bertanya mengenai maksud dan tujuan simbah berkata demikian, tiba-tiba tidak ada sinyal yang mengakibatkan terputuslah telponku saat itu.

Jujur saja, saat itu pikiranku tiba-tiba tak karuan, entah apa yang dimaksud oleh pesan simbah barusan, tapi pesan itu membuatku semakin merasa tak nyaman.

“woyy kamu mau jadi penunggu jalan ini apa mau ikut kami!” teriak simon memanggilku.

Ternyata tanpa aku sadari ternyata aku sudah terlalu lama merenung sehingga mengakibatkan teman-temanku bosan menunggu.

Akhirnya akupun melanjutkan perjalanan ke desa lokjambe dan kami pun sampai di gapura pintu masuk desa tepat setelah adzan ashar berkumandang.

Setelah sampai disana, kami langsung menuju kerumah pak lurah dan benar saja, disana kami sudah disambut oleh warga desa yang tak terhitung jumlahnya, hampir semua kalangan ada disana,

mulai dari yang tua hingga yang muda, laki-laki maupun perempuan dan yang membuatku heran kaget adalah, “sosok yang ku temui dirumah yang akan jadi posko kami selama 40 hari kedepan ternyata juga ada disana lengkap dengan kedua sosok yang tadinya pernah kulihat.

“selamat datang di desa lokjambe ngih” pak lurah menyambut kami dengan begitu ramahnya, pak aryo selaku dosen pembimbing lapangan langsung menjabat tangan pak lurah.

“terimakasih sekali untuk sambutanya pak, ini saya titipkan anak didik saya disini, mohon bimbingannya ya pak, tenang saja nanti setiap 2 minggu sekali saya akan datang lagi kesini dan menanyakan apakah ada kendala yang dihadapi oleh anak-anak ini” ucap pak aryo pada pak lurah,

tanpa berpikir panjang pak lurah menganggukan kepalanya “sudah tenang saja pak, mereka sudah saya anggap seperti anak saya sendiri,

ditambah lagi seluruh warga sangat senang sekali ketika ada mahasiswa yang akan mengabdi di desa ini, yah semoga saja mereka bisa membantu menyelesaikan permasalahan yang selama ini kami hadapai”

Begitu pak lurah selesai berbicara, entah mengapa aku langsung teringat dengan pesan simbah soal “kami sudah dinantikan oleh mereka” tapi aku tak mau menyimpulkan sesuatu hal semudah ini, jatuhnya nanti malah cocokologi semata.

Saat itu kami disambut dengan begitu meriah yang dimana mamebuat kami begitu sangat senang dan bahagia, karena tak jarang ada cerita ketika kkn yang dimana mereka mengeluh karena warga masyarakat setempat sangat acuh dengan kehadiran para mahasiswa.

Setelah selesai urusan dirumah pak lurah, akhirnya kami dengan ditemani pak lurah menuju ke rumah yang menjadi posko kami.

Kami berjalan dengan di temani oleh hangatnya sinar matahari siang itu, seperti yang ku bilang di awal, bahwa desa ini terasa begitu sejuk karena alamnya yang masih sangat asri dan terawat.

Dikala perjalanan menuju kesana, pak lurah juga bercerita kepada kami bahwa dulunya rumah itu ingin ia berikan kepada anaknya,

namun dikarenakan anaknya lebih memilih membuat rumah sendiri, akhirnya rumah itu dijadikan tempat untuk menaruh barang milik desa, seperti meja, kursi dan lain sebagainya.

Tak terasa tibalah kami di rumah itu, rumah yang membuatku penasaran. “assalamualaikum” ucap pak lurah ketika memasuki rumah itu dan benar saja, para sosok itu masih ada disini.

Dengan segera teman-temanku masuk kedalam rumah ini, mereka mulai menata dan menepatkan barang bawaan yang sudah terlebih dahulu sampai. Disini terlihat sekali jika teman-temanku sangat senang menempati rumah ini.

“sam sini masuk o, kamu ngapain diluar sana si” ucap prita menyadarkanku dari lamunan. “oh iya prit, bentar ini ngabisin rokok dulu” oh iya tadi aku memang merokok terlebih dahulu ketika sampai kerumah ini, yah buat penenang pikiran saja pikirku.

Akupun masuk kedalam rumah dengan membawa rokok ditangan yang masih menyala, disini ternyata kami para laki-laki tak kebagian kamar tidur,

karena perempuan yang berjumlah 10 orang sudah memenuhi 3 kamar yang ada dirumah ini. Alhasil kami menempati ruangan yang dijadikan sebagai tempat sholat.

hari itu terasa begitu cepat berlalu, tak terasa sore sudah menjelang pak lurah ijin pulang terlebih dahulu dan disusul oleh pak dosen, beliau meminta izin untuk kembali pulang karena hari senin beliau harus tetap mengajar di kampus.

Nah malam itu kami melakukan rapat kecil guna menyusun renana program kerja yang nantinya akan kita laksanakan 40 hari kedepan.

Karena saat itu masih dalam suasana pandemi, maka prita dan meta mereka fokus dalam membantu penanganan pasien di rumah sakit daerah yang berada di desa ini.

Oh iya astaga aku lupa cerita kalau desa ini sebenarnya bisa dibilang mirip dengan pusat kota, banyak fasillitas publik yang ada di sini, namun bedanya disini susananya masih sangat asri dan sejuk.

Sedangkan aku dan yang lain mempunyai rencana untuk membuat sosialisasi tentang pentingnya menjaga kebersihan ketika pandemi,

serta nantinya meta dan prita juga akan memberikan materi dan mengajari warga masyarakat membuat handsaitizer dari bahan baku yang mudah didapatkan disekitar.

Selain itu, karena kampus kami kental dengan agama maka kami juga berencana melakukan kegiatan baca tulis qur’an untuk kalangan anak-anak desa dan juga rutin mengadakan kultum setiap habis sholat magrib.

Mungkin secara garis besar rencana kami selama kkn disini seperti itu. Dirasa rapat pada malam hari ini telah usai, kuperintahkan semuanya untuk istirahat karena besok adalah hari pertama kita kkn, kuharap mereka semua dalam keadaan yang prima.

***

Hari pertama kkn kami mengunjungi kantor desa dengan maksud dan tujuan untuk meminta informasi sekaligus mengajak kolaborasi antar organisasi yang ada di desa, entah itu karang taruna maupun pkk.

Setelah selesai dengan urusan di kantor desa, aku mengajak simon, teo, dan rahmat untuk mencoba makan mie ayam yang berada di depan kantor desa, karena teman-temanku yang perempuan masih ngobrol-ngobrol dengan ibu-ibu yang kebetulan saat itu ada di kantor desa.

Nah saat berada di warung mie ayam, kebetulan saat itu ada salah satu warga yang menyapaku, “masnya ini orang baru di desa ini ya mas? Kok saya baru lihat” sapa beliau,

“oh iya pak, saya mahasiswa dari universitas x di kota, kami disini sedang melakukan program kuliah kerja nyata” balasku,

pria itu sejenak terdiam ketika mendengar ucapanku, aku tak paham dengan maksudnya namun jika dilihat dari ekspresi wajahnya, ia seperti sedang memendam sesuatu.

“buk maaf boleh minta sumpitnya lagi?” ucap teo tiba-tiba, ternyata tadi ia sempat menjatuhkan sumpitnya, bukan karena di senggol atau apa, tapi ternyata teo adalah anak yang tak bisa menggunakan sumpit.

“maaf mas ini sumpitnya” ibu pemilik warung menyodorkan sumpit untuk teo, karena masih dalam masa pandemi, sumpit dan alat makan disimpan dan tidak diletakkan di meja.

“masnya yang tinggal dirumah milik pak lurah yang samping sungai itu kan? Enak kan mas tempatmya?” ucap pria itu sambil berjalan menuju pintu keluar dan tanpa salam pria itu langsung pergi meninggalkan warung mie.