Cerita Horor Kisah Raja Sinun.

Cerita Horor Hari Ini – Sudah lama sekali saya tidak menulis di burung biru ini karena aktifitas saya yg semakin padat, jadi mumpung ada luang, dan kebetulan ada beberapa orang yg DM perihal sesuatu yg juga baru saya pelajari, maka, di malam hujan rintik-rintik ini, saya akan membagikan sebuah cerita.

cerita ini dialami oleh seseorang yg baru saya temui tidak kurang dari beberapa bulan yg lalu, masih cukup baru, saya tidak menyebut kota, alamat atau apapun, karena bagi saya hal seperti itu tidak terlalu penting untuk diceritakan, ambil baiknya buang buruknya.

daripada membuang-buang waktu, saya mulai saja ya ceritanya, satu cerita dari narasumber yang mengatakan satu kalimat yg mungkin akan saya ingat sampai kapan pun tentang,

“membawa pulang dendam”
Sore itu mendung, langit sudah gelap, angin bertiup dingin, membuat siapa pun orang yg merasakannya pasti menjadi risau.

hal itu yg dirasakan oleh, Septi, gadis yg baru saja merasakan manisnya lulus dari sekolah SMA, masih muda, namun, keadaan memaksa dirinya untuk menjadi kuat.
Septi sedang berdiri di depan sebuah rumah.

rumah kontrakan tua yg tidak terlalu besar namun dibandrol dengan harga yg murah. awalnya Septi ragu, didalam hatinya tentu saja ada kecurigaan, rumah seperti ini seharusnya tidak dihargai semurah itu kalau tidak menyimpan sesuatu.

tapi peduli setan, uang tabungan sisa pensiunan dari almarhum bapaknya harus dia manfaatkan sebaik mungkin, maka dengan perasaan nekat, dia mengambil kunci dari kantung raknya, niatnya hari ini hanya untuk melihat-lihat, sebelum membawa anggota keluarganya yg lain.

Septi tidak sendirian, ditemani oleh Pras pacarnya, dan bu Salikun, pemilik rumah kontrakan, bersama-sama mereka membuka pintu rumah berwarna kecokelatan yg dibuat dengan ukiran-ukiran seperti pintu-pintu rumah lama.

begitu mereka masuk, aroma apak dari debu seketika tercium.

Klik Prediksi Bola Online Jitu

Septi tidak mempermasalahkan hal itu, tapi bu Salikun nampaknya tidak enak, jadi dia hanya bisa tersenyum canggung sambil berkata kalau penghuni sebelumnya adalah keluarga yang sedikit kemproh (jorok) jadi harap Septi dan Pras maklum dengan keadaannya.

hal pertama yg Septi lakukan sebagai calon penghuni rumah ini tentu adalah melihat detail, denah dan keseluruhan keadaan rumah ini, tapi, belum juga Septi melakukannya, Pras tiba-tiba bertanya tentang sesuatu yg janggal. “buk, niki lawange kok kondisine mbukak jedar ngeten?”
(bu, ini pintunya kenapa semuanya dalam kondisi terbuka seperti ini?)

bagi Septi dan bu Salikun tentu saja pertanyaan ini adalah pertanyaan yg aneh, maksudnya, apa hubungannya dengan pintu terbuka, tapi rasa-rasanya Pras memiliki alasannya sendiri.
bu Salikun tentu saja menjawab sekenanya, mungkin saja keluarga yg dulu, meninggalkannya dalam keadaan seperti ini, meski pun tidak puas dengan jawaban itu, melihat wajah Septi yg rasanya tidak enak dengan lontaran pertanyaannya membuat Pras akhirnya tak bereaksi apa-apa.

Septi tentu saja masuk ke salah satu kamar, memeriksa kondisi keramik dan atap yg untungnya semua dalam kondisi baik, tidak terlalu buruk, namun justru memunculkan pertanyaan didalam benaknya. rumah ini tidak layak dihargai semurah itu. tapi biarlah, mungkin rejeki keluarganya.

Pras sendiri memilih melihat tempat-tempat lain, bau apak debu benar-benar tidak bisa dinalar karena konon ceritanya rumah ini baru ditinggal penghuni lamanya tidak lebih dari satu bulan. tapi Pras tidak berkomentar apa-apa, meski pun didalam hatinya, perasaannya was-was.

seperti ada sesuatu yg benar-benar buruk, gerah namun terasa dingin, sunyi tapi terasa ramai, membuat perasaan siapa pun campur aduk dibuatnya.

saat itu, Pras menemukan banyak sekali benda peninggalan penghuni lamanya, paling banyak adalah benda-benda milik anak kecil.

semuanya berserakan tak bertuan seperti itu. lagi-lagi Pras berniat untuk protes tapi, bu Salikun seperti tau apa yg akan dikatakan oleh pemuda jangkung itu,

“ngapunten barang e rung ibuk resiki, nek jenengan purun, barang-barang’e jenengan ambil, nek mboten purun, mangke ibuk-
-pendet” (maaf barangnya belum sempat ibu bersihkan, kalau kalian mau, barang-barangnya ambil saja, kalau gak mau nanti biar ibu yg ambil)

Pras melihat ke Septi, nampaknya di dalam kepala Septi dia berpikir kalau barang-barang ini beberapa bisa di jual, tapi apakah pantas-
barang yg bukan miliknya, di jual begitu saja.

Septi pun berkata, kalau nanti biar dirinya dan keluarga yg membersihkan semuanya. yg penting, rumah ini benar-benar akan disewakan untuk keluarganya.

bu Salikun tentu saja senang mendengarnya, dia tidak perlu repot-repot-
membersihkan rumah ini.

hanya Pras seorang yg merasa kalau lebih baik semua barang-barang ini di buang saja. tapi, sekali lagi, Pras hanya menemani, semua keputusan ada pada diri Septi.

setelah melihat semuanya, Septi tentu saja merasa puas, rumah ini jauh lebih bagus dari tempat tinggalnya sekarang, ibu, dan kedua adiknya akan merasa senang tinggal di rumah ini, sore itu, mereka berpamitan pergi.

diperjalanan pulang, Septi dan Pras sempat mampir di warung.
di sana, Pras kemudian mengatakan apa yg selama ini mengganjal didalam hatinya, tentu saja, semuanya tentang rumah itu. dia berkata, kalau rumah itu memiliki sesuatu yg tidak menyenangkan, seperti pintu yg terbuka itu, Septi tentu penasaran, apa maksud pertanyaan Pras tadi.

Pras menceritakan kalau orang jawa itu tidak boleh membiarkan pintu dalam kondisi terbuka, apa pun yg terjadi, dan lagi, pintu-pintu yg dibuar dari kayu jati dengan engkel yg masih baik biasanya akan tertutup dengan sendirinya, jika, posisi pintu bisa terbuka seperti itu, apalagi
kalau semua tempat yg berpintu dalam posisi terbuka seperti itu, bukankah hal ini tidak bisa diterima oleh nalar, karena pada dasarnya, di rumah mana pun, manusia tidak pernah tinggal sendirian, yg membedakannya adalah seberapa agresif penghuni rumah tersebut.
Septi sebenarnya baru saja menyadari kalau apa yg dikatakan oleh Pras semuanya terdengar masuk akal, bahkan dia sebenarnya sempat merinding di beberapa tempat terutama ruangan ditengah yg entah kenapa lebih gelap dari ruangan-ruangan lain, tapi, apa masuk akal kalau hanya karena-

perkara ghaib, dia dan keluarganya gagal tinggal di tempat yg lebih layak, tapi kemudian Pras meralah kalau dirinya tidak sepenuhnya melarang Septi untuk tinggal di sana, hanya memperingatkan, karena bagaimana pun juga dia hanya khawatir dengan nasib Septi dan yg lain,
lagipula keputusan tetap ada di tangan pacarnya ini.

hari itu juga, Septi memutuskan untuk tetap tinggal di rumah itu, dalam hatinya dia masih percaya, kalau kehadiran keluarganya mungkin bisa membuat rumah itu menjadi lebih hangat. Pras kemudian tidak berkomentar lagi.
setelah semua perjanjian disepakati antara Septi dan pemilik rumah, keluarganya resmi menempati rumah itu, dan syukurlah tidak ada kejadian-kejadian yg aneh selama mereka tinggal di dalam rumah itu.

Septi sendiri tak merasakan ketakutan apa pun, kecuali pada satu ruangan kecil.
entah kenapa ruangan itu memiliki suasana yg sama sekali tidak mengenakan, tidak hanya itu saja, lampu yg Septi pasang terkadang mati dengan sendirinya, masalah ini pernah dibicarakan oleh ibunya yg kemudian memberi jalan keluar untuk dijadikan mushola kecil di rumah ini.
semuanya aman terkendali bahkan kedua adiknya yg masih berusia 14 dan 8 tahun nampak bahagia tinggal di sana, sampai pada suatu hari, ditengah-tengah hujan yg deras diikuti halilintar yg menyambar, Septi yg kebetulan kamarnya tepat disamping ruang tamu mendengar suara ketukan.
suara ketukannya berasal dari pintu, Septi yg sedang duduk membaca buku tentu akhirnya terbangun dari tempatnya, dia mendengarkan sekali lagi dan suara itu memang berasal dari sana, maka, ia sempatkan untuk melihat dari jendela kamarnya, dan di-sana, dia melihat seseorang.
seseorang yg mengenakan jas hujan berwarna hijau muda sedang berdiri tepat di pintu rumah, mengetuk-ngetuk pintunya dengan sabar, sambil gesturnya yg menunjukkan kalau dia sedang kedinginan.

Septi yg tidak mengetahui siapa orang itu tentu saja merasa takut.
tapi tak beberapa lama, pintu tiba-tiba terbuka, ternyata ibunya lah yg membukakan pintu untuk menemui tamu yg sedang berkunjung ke rumahnya ini, karena penasaran Septi melangkah keluar dari dalam kamarnya untuk melihat siapa identitas tamu yg datang ke rumahnya ini.
seorang ibu dengan rambut diikat, mengenakan pakaian corak dengan jarik berwarna cokelat, Septi yg sempat mengintip dari balik tembok rupanya diketahui oleh wanita asing itu yg tak lama kemudian tersenyum, mengangguk melihatnya, ibunya pun memanggil dirinya agar ikut mendekat.
ibunya kemudian bercerita kalau yg datang adalah nyai Siti, tetangganya yg belum sempat menyapa, dia kesini hari ini untuk memberikan kue lapis dan sejumblah jajanan pasar, karena rasanya tidak etis untuk seorang tetangga tidak menyapa dalam kurun waktu yg se-lama ini.

Septi pun menyambut ramah, dan tentu saja sebagai orang yg paham unggah ungguh dia bertanya dimana rumah nyai Siti berada, ada siratan gugup saat mendengar pertanyaan Septi sebelum wanita itu kembali bisa mengendalikan dirinya, dia bilang rumahnya berjarak 4 rumah dari sini.
di malam berhujan itu mereka akhirnya membicarakan banyak hal, sampai tiba saatnya wanita itu akhirnya berpamitan pulang namun ada sedikit gelagat aneh dimana nyai Siti sempat melamun ketika melihat kearah kamar kecil yg memang bisa dilihat dari ruang tengah.
tak lama kemudian beliau lalu meminta ijin kepada ibu Septi untuk membuang air kecil di kamar mandi, ibu Septi tentu saja tidak keberatan, dan disana lah gerak gerik mencurigakan wanita tua itu kembali, Septi bisa melihat sewaktu wanita itu berjalan, entah kenapa pandangan mata-
nya seperti melihat terus menerus kearah ruangan kecil tersebut.

ruangan tersebut memang paling gelap diantara ruangan yg lain karena hanya digunakan sewaktu shalat saja, hal ini tentu mengundang banyak pertanyaan, dan setelah dari kamar mandi wanita itu pun akhirnya berpamitan
tapi, sebelum wanita itu pergi meninggalkan rumah Septi, tiba-tiba saja dia mengatakan sesuatu seperti, “nduk, nek kowe nemu kertas sing dilempit warnane abang getih, ojok dibuka yo, barke,” (nak, nanti kalau seandainya kamu menemukan sebuah kertas yg dilipat berwarna merah darah
jangan pernah dibuka, biarkan saja,)

Septi hanya mengangguk canggung, dia melihat wanita itu sempat tersenyum kearahnya sambil berjalan dengan jas hijau muda, dia berjalan kearah jalan raya, lalu menghilang begitu saja.
sementara jajanan pasar yg diberi oleh nyai Siti, diletakkan di meja makan dekat dengan dapur, Septi kembali ke kamarnya, berusaha tak terganggu dengan kehadiran tamu yg datang itu, Ia berusaha untuk tidur dan melupakan semuanya.
tapi, di malam itu, suasana rumah ini seakan lain, ada perasaan dimana tiba-tiba Septi merasa awas, terutama saat dirinya melihat kearah jendela, Septi sendiri berusaha tidak memikirkan ini lebih lanjut dan memejamkan matanya. sampai dia benar-benar tertidur.
saat itu lah, Septi lalu terbangun dengan sendirinya sewaktu secara tidak sadar dirinya mendengar gelincing seperti suara sendok yg jatuh diatas lantai.

benar. suara kecil sendok yg jatuh itu tentu saja membuat Septi tergerak untuk melihatnya, lagipula dia ingin membuang air.
dan ketika Septi membuka pintu kamarnya dia bisa melihat meja makan yg ada disamping dapur, meski lampu dalam kondisi mati, Septi bisa melihat sendok yg tergeletak di atas lantai dengan penutup makan dalam posisi terbuka menunjukkan kalau ada yg baru saja memakan jajanan pasar.
tanpa berpikiran yg tidak-tidak, Septi lalu menutup kembali jajanan pasar, memungut sendok yg ada di lantai dan meletakkannya ditempat dimana benda itu seharusnya berada, dengan melangkah perlahan-lahan, Septi menuju ke kamar mandi. tapi sejenak perempuan itu berhenti didepan-
ruangan kecil sewaktu samar-samar dia mendengar suara anak kecil laki-laki seperti menertawainya, suaranya nampak cengengesan di dalam mushola yg sepenuhnya gelap gulita, saat itu Septi mengerti, Dio adiknya mungkin yg melakukan hal ini.
tentu saja Septi memanggil namanya pelan, sambil mengingatkan anak itu untuk tidak melakukan ini, “Dio, nek lesu ra usah singit-singit, dijupuk ae yo” (Dio, kalau lapar gak perlu sembunyi-sembunyi begini, tinggal ambil saja ya), Septi pun mendekat.
ruangan itu berpintu dengan kaca krepyak berwarna hitam yg memungkinkan dari dalam untuk bisa melihat ke tempat Septi sedang mendekat.

sewaktu Septi di muka pintu, dia melihat bayangan rambut yg bergerak-gerak, bersembunyi tepat dibawah kaca krepyak,
dia dorong pintu lalu melihat kesana yg rupanya tak ada siapa pun di dalamnya, karena terlalu gelap mungkin saja adiknya berpindah ke bagian dalam, Septi kemudian menekan saklar lampu, namun anehnya, lampu di dalam ruangan tak juga kunjung menyala, sementara suara cengengesan
terdengar semakin intens yg membuat Septi mulai merasa marah karena seperti dipermainkan oleh adiknya sendiri.

“Dio metu!! metu!!” (Dio keluar!! keluar!!) tapi, perintah Septi tak juga digubris, sampai sekilas lampu menyala, dan Septi melihat anak kecil sepantaran Dio sedang-

menekuk lutut, menyembunyikan wajahnya, Septi sempat terhenyak sebelum dia berkata lagi dengan suara yg semakin keras, “kowe kiro pantes gawe dolan mbak ngene” (kamu kira pantas buat mainan kakaknya seperti ini), dan entah bagaimana caranya lampu akhirnya menyala, tapi sayangnya,
bocah yg dia cari tidak ada di sana, hanya bentangan sajadah tempat Septi melihat lantai kosong yg sebelumnya dia lihat dengan mata kepala sendiri tempat anak kecil sedang meringkuk sendirian. Septi tentu saja terdiam sejenak, bingung dengan apa yg terjadi.
Septi mematikan lampu dan berniat untuk pergi sewaktu bagian celana kainnya tiba-tiba dicengkram oleh tangan kecil yg tentu saja membuat tubuhnya tersentak hebat, tangan Septi yg masih tergantung didepan saklar berniat untuk menekannya sebelum suara tertawa cengngesan itu kembali
Septi berhenti sebentar, Ia ber-istighfar, namun, cengkraman itu tak kunjung dilepaskan, malah, siapa pun yg ada dibelakangnya berkata dalam suara anak-anak yg sangat jelas, “ojok diurupke nggih mbak, rai ku ki elek, elek poll, kowe ra bakal kuat ndeleng aku”
(jangan dihidupkan ya kak, wajahku jelek, jelek sekali, kamu gak akan kuat kalau melihatku)

Septi tidak menjawab, dia masih berdiri dengan perasaan ngeri, karena dia yakin kalau yg berdiri dibelakangnya sudah tentu bukan adiknya.
maka Septi menjauhkan tangannya dari saklar, dan siapa pun itu sudah melepaskannya, Septi lalu berjalan perlahan-lahan menjauh, dia sempat akan menoleh namun belum dia lakukan karena terdengar teriakan yg membuat Septi tersentak lari, “OJOK!!” (JANGAN!!)
Sejak kejadian malam itu, Septi kemudian terbayang-bayang wujud seorang anak kecil yg sedang berdiri di dalam ruangan, tak hanya itu saja, setiap kali Septi berjalan melewati ruang mushola, kadang dia merasa seperti sedang diawasi.
bahkan ketika malam, setiap kali Septi mau keluar untuk sekedar mengambil air, Septi merasa kalau ada sepasang mata yang sedang mengamatinya dari sudut gelap ruangan tersebut.

jarak antara pintu kamar dan ruang mushola sendiri hanya terpaut empat sampai lima langkah saja.
hal itu lah yang membuat Septi akhirnya selalu mengurungkan niat setiap kali dia mau berjalan keluar. bahkan ke kamar mandi sekali pun, Septi biasanya menunda-nunda, tidak akan keluar kalau tidak terlalu menganggu kerja tubuhnya.
Sayangnya, kejadian yang dialami oleh Septi, tak pernah dia ceritakan kepada ibunya, dia takut kalau apa yang pernah dia alami ini akan merubah suasana rumah ini yang sebelumnya sudah terasa hangat menjadi dingin. Septi lebih suka menyimpan semua masalahnya sendiri.
Tapi dasarnya sepintar-pintarnya seorang anak menyembunyikan masalah, semua ibu pasti tau jika anaknya dalam marabahaya, hal itu lah yg membuat wanita itu datang menemuinya di dalam kamar.
beliau lalu bertanya, “apakah ada yang ingin Septi ceritakan kepadanya?”
tapi Septi lagi-lagi tidak mau melibatkan ibunya dengan masalah seperti ini, dia hanya berusaha bersikap rasional, bukankah disetiap rumah yg ada dimana pun pasti lah berpenghuni, tak terkecuali rumah ini dan mungkin sejarah dibaliknya.
“ya wes nek kowe ra gelem cerito, kowe nek ndolek i ibuk, ibuk ono ning kamar” (yasudah kalau kamu gak mau cerita, kamu kalau mau cari ibu, ibu ada di dalam kamar), kata ibu Septi malam itu dimana dari raut wajahnya ada kekecewaan yg terlihat jelas.
pada hari-hari selanjutnya, Septi tidak bisa lagi memandang rumah itu seperti rumah yg sama saat dirinya pertama kali menginjakkan kakinya, karena semakin lama, satu persatu gangguan, membuat tubuhnya semakin lama semakin pesakitan, hal ini pula yg disadari oleh beberapa rekannya
bahkan, pernah disuatu malam, Septi bermimpi tentang rumah ini, dimana dia sedang berdiri di depan pintu kamar milik ibunya.

dari balik pintu itu, Septi mendengar suara orang-orang yg sedang mengaji didalamnya, namun, Septi memahami apa yg sedang mereka baca itu. doa untuk mayit
mimpi itu berulang-ulang terjadi, dan semakin lama, suara orang yg mengaji itu juga semakin keras bahkan ada yg sampai berteriak dalam membacanya doa-doa itu, sayangnya, Septi tidak pernah berhasil melihat apa yg terjadi di dalam kamar ibunya ini.

sampai, belum pernah bagi seorang Septi yg termasuk alim dibuat merinding dengan suasana di rumah ini, meski pun semua itu hanya terjadi di dalam mimpinya.

hanya Pras tempat Septi bercerita, dan pemuda itu selalu menasihatinya agar sebelum tidur dia mensucikan kaki, membaca doa.
tapi sayangnya, mimpi itu masih seringkali hinggap, dan seolah-olah menghantuinya.

tiga mimpi yg sama bagi orang jawa berarti pengingat, lima mimpi yg sama berarti peringatan, tapi, jika seseorang mengalami tujuh mimpi yg sama, petaka sedang sambang di dalam rumah ini.
pada malam yg entah keberapa, Septi masih berdiri di tempat yg sama, di depan pintu kamar ibu, dimana di dalamnya masih terdengar suara orang-orang yg masih mengaji, tapi, mimpi yg ini nampak berbeda karena tak lama setelahnya, derit suara pintu terbuka terlihat di depan Septi.
dan disinilah Septi bisa melihat ruang kamar ibuk, tapi ketika Septi berjalan masuk, tak ditemui satu orang pun yg sedang mengaji di dalamnya, hanya ruangan kosong tanpa ada siapa pun di dalamnya, lalu, suara siapa yg Septi dengar tadi.
di ruangan yg berukuran tidak terlalu besar itu, Septi kemudian baru menyadari kalau diatas bayang (tempat tidur), ada sesuatu yg seperti ditutupi dengan selimut berwarna putih, Septi yg penasaran tentu ingin tau apa yg ada dibalik kain putih tersebut.

Septi pun mendekat.
Septi berjalan sejengkal demi sejengkal, mendekati kain putih yg sedang menutupi sesuatu, entah kenapa rasanya seluruh badan mendadak menjadi dingin, tak hanya itu saja, perasaannya seperti tidak karuan dibuatnya, tapi Septi menguatkan diri, dia ingin tahu alsan dibalik semua ini
tinggal sejengkal lagi dan Septi akhirnya berdiri tepat disamping bayang tua itu, manakala tangan kanannya bergerak merasakan serat kain tsbt, Septi lalu mencengkramnya kuat-kuat, dan seketika pintu kamar seperti dibanting lalu tertutup dengan sendirinya, dan tak lama kemudian-
suara orang mengaji kembali terdengar, hanya saja kali ini berasal dari luar ruangan ini.

kejutan belum selesai sampai disitu, karena tiba-tiba sesuatu yg ada dibalik kain berwarna putih itu tiba-tiba bergerak, bergoyang dengan sendirinya, diikuti suara wanita kesakitan.
Septi tentu saja melangkah mundur sewaktu mendengarnya, suaranya seperti orang yg lehernya dicekik, tak hanya itu saja, bayang tua itu bergoyang semakin hebat, hanya saja Septi tidak tau apa yg ada didalamnya.

dalam suasana yg begitu mencekam, Septi hanya bisa mengingat saat dia
tiba-tiba saja terbangun sudah dalam kondisi kacau.

begitulah Septi akhirnya membagikan cerita perihal mimpinya ini kepada Pras.

Pras hanya bisa bersimpati, dirinya bukanlah orang yg peka, tapi sadar kalau rumah kontrakan itu sejak awal memang terlihat tidak beres .
Pras juga menyarankan Septi agar menceritakan hal ini kepada ibunya, bagi dia, pada siapa lagi Septi bisa mencari jalan keluar kalau bukan dengan ibunya sendiri, tapi, Septi ragu, dia juga tidak mau dianggap aneh hanya karena perkara ghaib.

Pras pun mengalah.
sejak saat itu, setiap kali Septi mau masuk kedalam kamar, dia selalu berhenti, melihat ke angin-angin yg ada diatas pintu kamar ibunya, Septi baru saja menyadari kalau sejak awal, dia belum pernah masuk ke dalam kamar ibunya, kecuali dalam mimpi tersebut.
selama ini, Septi sebagai anak pertama memang membutuhkan space untuk sendiri itu lah sebabnya, kedua adiknya mengalah dan tidur bersama dengan ibunya di satu kamar yg sama, namun, semenjak kejadian buruk yg beruntun ini terjadi, Septi menjadi penasaran dengan isi kamar ibunya.
di suatu sore yg mendung, ibunya berpamitan akan keluar bersama dengan kedua adiknya, Septi diminta untuk tetap di rumah, tepat setelah ibunya pergi, Septi menoleh melihat ke kamar ibunya. hari ini dia ingin masuk dan melihat-lihat tempat itu.
entah udara yg waktu itu terasa dingin tak menyurutkan niat Septi melangkah masuk melewati pintu kayu berwarna cokelat tsbt, manakala ketika dia melihat keseluruhan ruangan ini rupanya sama persis dengan apa yg dia lihat, bahkan tempat bayang tua itu berada.
Septi memperhatikan setiap detail ruangan ini, lebih kecil dari kamarnya, tak hanya itu saja, karena tempatnya ada dibelakang, maka udara pengap ruangan ini begitu terasa, sempat tersirat pertanyaan kenapa ibunya tidak meminta dia bertukar kamar, karena ruangan ini lebih cocok-
digunakan untuk 1 orang, sedangkan kamar miliknya jauh lebih luas.

Septi pun memperhatikan bayang tua, guratan tiangnya sama seperti yg dia lihat dalam mimpi, itu artinya benda ini dimiliki pemilik kontrakan, namun, apa yg ada dibalik kain putih itu, Septi tidak mengerti.
byang tua itu kini diisi kasur yg dibalut sprei bermotif bunga, dan dari sepngelihatan Septi tidak ada yg janggal dengan ruangan ini selain lebih pengap dan lebih sunyi karena jauh dari jalan utama, Septi pun berniat pergi, karena bagaimana pun ruangan ini membuatnya tidak nyaman
namun, sebelum Septi melangkah keluar dari dalam ruangan itu tiba-tiba dia berhenti lalu menoleh ke guratan tiang ranjang sekali lagi, dan entah perasaan apa ini, Septi lalu kembali mendekatinya, setelah melihat tiang kayu penyangga bayang itu sekali lagi, Septi lalu menunduk,
dia mencoba melihat apa yg ada dibagian bawah bayang tua tersebut, namun, Septi tidak bisa melihatnya dengan jelas karena ruangan itu lebih tembaram, Septi pun memutuskan untuk tidur tengkurap lalu merangkak masuk ke kolong bayang tua tersebut, untungnya dia bisa melakukannya
tak lama kemudian, Septi menemukan sebuah kain berwarna putih yg disumpal disela-sela bambu bayang bagian bawah, dengan posisi yg serba sulit itu, Septi mengganti posisinya kini dengan tidur telentang, Ia kemudian merobek kain putih itu yg seperti menganggu sela-sela bayang.
tapi, betapa terkejutnya Septi setelah menarik paksa kain putih itu dia menemukan sebuah kertas berwa merah muda dengan coretan-coretan tinta merah tua, coretan itu membentuk aksara jawi atau orang biasa melihatnya seperti bahasa arab, tapi Septi tahu kalau ini bukan tulisan arab
-biasa, semua coretan itu membentuk pola gambar seperti kereta mayit yg dibuat melengkung, tak hanya itu saja, ada guratan ane membentuk rambut manusia yg menutupi bagian wajah, Septi benar-benar tidak bisa membacanya, tergerak di dalam hatinya untuk menyobek kertas itu, sebelum,
dari sebuah pintu kamar yg terbuka Septi mendengar suara anak kecil yg tertawa diikuti telapak kaki yg terlihat berlari menjauh, Septi yg melihatnya awalnya berpikir itu adiknya, tapi, setelah dia memanggil-manggilnya, suara tertawa itu menghilang, lalu lenyap..
“Dek..” panggil Septi lagi, hening, tak ada suara apapun, Septi kemudian kembali melihat kertas berwarna merah itu sekali lagi, dengan perasaan yg campur aduk akhirnya dia merobeknya, setelah itu, Septi merangkak keluar dari bawah kolong ranjang..
sewaktu Septi akhrnya berhasil keluar dengan susah payah, pandangan matanya yg pertama melihat keatas langit-langit kamar, dengan keringat dikening, tiba-tiba Septi dikejutkan dengan kemunculan kepala wanita tua, seperti nenek-nenek berambut panjang keriting menyeringai kepadanya
sosok wanita yg Septi lihat ini seperti wanita tua biasa pada umumnya, kecuali mata-nya yg melotot melihat kearah Septi, dengan senyuman yg terbuka, memamerkan bagian-bagian hitam giginya, Septi yg melihat wajah mengerikan itu lalu melesat masuk kembali ke kolong ranjang.
Septi tidak tau siapa wanita tua itu, dia juga tidak mendengar seseorang masuk ke dalam rumahnya apalagi ke kamar ibunya, tapi jika ada orang yg berani melakukan itu pastilah orang sinting yg entah apa tujuannya masuk ke rumah ini, Septi bersembunyi, tubuhnya gemetar hebat.
dia hanya berharap wanita tua itu pergi, karena satu-satunya jalan bagi Septi untuk keluar dari keadaan ini adalah dia merangkak dari kolong ranjang lalu berlari secepat mungkin keluar dari rumah ini, masalahnya adalah, bagaimana kalau wanita sinting yg Septi lihat menangkapnya.
sementara ketika Septi sedang bersembunti ini, tak ada pergerakan wanita tua itu mencari atau mengejar-ngejar dirinya, namun, Septi bisa mendengar dengan sangat jelas, kalau wanita itu sedang berkidung sambil membuat suara yg tidak jelas runtutannya, seperti suara benda bergesek.
anehnya, rasa-rasanya Septi pernah mendengar suara itu, tapi, dimana, saat gadis itu masih terjebak dibagian kolong ranjang, saat itu juga dia kemudian menyadari kalau suara gesekan itu seperti rambut yg digaruk-garuk saat seseorang mencari kutu, Septi merangkak keluar.
diatas lantai keramik yg dingin, Septi merangkak menyusuri sejauh yg dia bisa untuk menuju kearah pintu, tapi suara gesekan terdengar semakin keras, Septi berhenti sejenak lalu menyempatkan diri untuk menolah melihat kearah ranjang milik ibunya, dimana dia menemukan wanita itu-
sedang dalam kondisi berbaring sambil menggaruk-garuk rambut gimbalnya, dan tak lama kemudian, dari bola matanya yg sehitam tinta, Septi melihat wanita itu tertawa kecil, suaranya seperti mengikik, dan warna hitam yg ada pada giginya rupanya tak lain adalah darah yg sudah kering.
Septi seketika berlari keluar dari dalam rumah, tapi, seperti kebetulan, Septi melihat ibu dan kedua adiknya baru saja pulang, dan sewaktu mereka menemukan Septi dalam kondisi wajah yg panik, ibunya bertanya, “ada apa” dan Septi menunjuk wanita tua di kamarnya.
tanpa tedeng aling-aling, ibu Septi langsung menuju ke kamar untuk memeriksanya, tapi, aneh, mereka semua tidak menemukan satu pun orang yg ada di sana kecuali, ranjang kosong ibu, bahkan saat Septi mencari ke kolong ranjang, tak ada siapa pun di dalam kamar ibunya.
Septi bersumpah demi nama tuhan, kalau di atas ranjang itu dia melihat wanita pesakitan itu sedang berbaring di-sana, mengikik sambil melotot kearahnya, tapi, tidak ada yg bisa Septi buktikan karena faktanya memang tidak ada siapa pun yg ada di sana.
kejadian yg Septi alami ini menimbulkan ketakutan tersendiri, setiap kali dia masuk ke kamar, Septi akan berhenti sebentar didepan pintu kamar ibu, melihatnya, dan dari dalam kamar yg tertutup itu, Septi akan mendengar suara rambut yg digaruk-garuk, seperti saat Septi melihatnya.
kejanggalan-kejanggalan mulai satu per-satu menyeruak terutama dengan adiknya yg masih berusia 8 tahun, Dio, biasanya saat jam menunjukkan pukul 9, ibunya dan kedua adiknya pasti sudah membawa mereka masuk ke dalam kamar, tapi, suatu hari, Dio justru berdiri di pintu kamar ibu
sewaktu Septi bertanya kepada anak itu alasan kenapa dia berdiri disini, adiknya akan berkata kepadanya dengan wajah memelas, “Mbah Nung, mbah Nung!!” begitu berulang-ulang kali, Septi pun mendorong pintu kamar dimana di dalam ruangan itu, ibu dan adiknya yg lain sudah tertidur.
tidak hanya itu saja, rumah ini meski pun ditinggali oleh mereka berempat tapi suasananya seperti rumah kosong dimana Septi tidak merasakan hal ini sewaktu pertama kali menginjakkan kaki di dalam rumah ini.

Septi sering mendengar suara anak-anak seperti berlari.
terkadang ada suara seperti orang yg sedang memasak di dapur.

bahkan pada space kosong anak tangga yg menuju ke lantai dua yg masih dalam tahap pembangunan yg mangkrak oleh si pemilik rumah, Septi serasa melihat ada seseorang yg biasa duduk di sana.
Septi menceritakan hal ini kepada Pras, yg melihatnya dengan sorot nampak berpikir, semua yg Septi rasakan dia keluarkan kecuali persoalan tentang kertas merah yg dia temukan, yg anehnya, saat ini tidak pernah Septi temukan keberadaannya.

Pras berkata kalau ada waktu akan mampir
kejanggalan lain yg Septi temukan, setiap mau maghrib, dan Septi baru saja pulang dari tempat kerja, dia akan melihat sepasang suami isteri paruh baya seperti mondar-mandir di depan rumahnya, dan sewaktu mereka melihat Septi, mereka akan berlari pergi tanpa ada sebab yg jelas.
beberapa diantaranya datang bertamu dan mengucapkan banyak terimakasih karena sudah dibantu, bahkan beberapa dari mereka memberikan hadiah-hadiah kepada keluarga Septi, sayangnya semua itu harus ditolak, karena rasanya hadiah-hadiah tersebut bukan lah hak milik mereka.
sampai suatu hari, Septi mendengar suara pintu kamarnya tiba-tiba saja ada yg mengetuk-ngetuk dengan intonasi suara yg pelan. “tok tok tok”, tiga kali dan selalu tepat pada jam 12 kurang lima belas menit, anehnya, sewaktu Septi memeriksanya, dia tidak menemukan siapa pun.
hal ini sudah berlangsung berhari-hari, hanya saja, saat Septi dengan sengaja menunggu dibalik pintu, Septi tidak mendapati siapa pun berdiri di sana, hal ini sejujurnya mulai menganggu mental Septi, dan pada suatu malam, ketukan itu tiba-tiba saja kembali, “tok tok tok” anehnya,
terkhusus malam ini, ketukannya terus menerus terdengar, selalu tiga kali, dan selalu tepat pada jam 12 lebih lima belas menit.

Septi lalu beranjak dari ranjang tempatnya tidur, dia berjalan mendekat kearah pintu tempat ketukan itu masih memanggil-manggil dirinya.
tok tok tok..
tak lama, Septi menarik pintu itu perlahan-lahan dan lagi-lagi tidak ada siapa pun yg Septi lihat, kecuali, pintu gudang yg ada tepat dibawah anak tangga tiba-tiba saja terbanting dengan sendirinya,”Blarr!!” membuat Septi terhenyak sebelum menutup kembali pintu kamarnya.
keesokan paginya, Septi baru saja menyadari kalau dia belum pernah sekali pun menyentuh ruangan yg mungkin seukuran dengan tubuhnya itu, bahkan bisa lebih sempit, Septi membukanya perlahan-lahan dan menemukan banyak sekali barang-barang usang tersimpan serampangan didalam sana.
kaleng biskuit sampai perentelan sepeda lengkap carut marut dimasukkan dengan paksa, Septi kemudian membongkarnya satu-persatu, dari apa yg dia lihat kemungkinan barang-barang ini milik penghuni sebelumnya, masalahnya, Septi tidak tahu keluarga yg mana pemilik benda-benda ini.
karena pastinya, rumah ini sudah pernah ditinggali oleh beberapa keluarga sebelum dirinya ini.

tidak ada yg aneh selain barang-barang gudang biasa, tidak sampai Septi menemukan bingkai foto milik keluarga sebelumnya, di-mana, seorang wanita tua berpose dengan kain jarik-
lengkap dengan kebaya berwarna putih, wajahnya murung dengan garis muka yg familiar, Septi lalu membongkar semakin jauh kedalam, dan di-sana lah Septi menemukan sesuatu, seperti peti kayu seukuran meja persegi di-mana saat benda itu dibuka, Septi mendapati, tumpukan kertas lipat
Septi kemudian menarik paksa peti persegi itu dengan susah payah, merasa janggal dengan peti-peti kayu itu, Septi lalu mengambil satu kertas dari ratusan atau ribuan yg dimasukkan didalamnya, dan sewaktu Septi memeriksanya, dia menemukan kertas yg sama persis dengan kertas-
-berwarna merah yg pernah dia temukan, hanya saja, dilipatan kertas-kertas itu, Septi menemukan potongan rambut yg aneh di dalam kertas -kertas itu, bahkan diantaranya, ada bagian-bagian tubuh lain seperti gigi manusia. semuanya ada di dalam lipatan kertas mengerikan itu.
detik itu juga Septi menghubungi Pras, dan laki-laki itu berkata akan segera datang.

Septi baru tau kalau kertas-kertas itu ditulis dengan sesuatu seperti bahasa arab hanya saja berbeda, orang menyebutnya Rajah, dan tidak ada yg tau tujuan dibuatnya Rajah selain si pembuatnya.
di siang bolong itu, Septi kemudian menyadari sesuatu, apakah mungkin kalau keluarga sebelumnya adalah pembuat Rajah-rajah ini. lalu, apa arti dari potongan rambut-rambut dan gigi yg ada didalamnya.
Pras baru tiba saat sore hari, dia kemudian melihat satu persatu benda tersebut, tidak salah lagi, Pras juga mengatakan hal yg sama, dia kemudian menyarankan agar Septi menyimpannya lebih dahulu, tidak ada yg tau efek dari benda itu, manakala ketika mereka berdua sedang serius-
membicarakan hal ini, Septi kemudian baru menyadari kalau sejak tadi, ibunya dan kedua adiknya belum keluar dari dalam kamar.

Septi yg kemudian merasakan firasat yg tidak enak lalu mendekat menuju ke pintu kamar ibu-nya.
saat Pras yg juga merasa merinding tiba-tiba sempat mau menghentikan Septi, tapi perempuan itu semakin paranoid kalau ada sesuatu yg terjadi dengan keluarganya, maka dia kemudian mengetuk pintu kamar ibunya.

“buk” “ibuk…” “Dio” “Andre..” “buk, Septi masuk yo”
dan ketika Septi mendorong pintu kamar tersebut, dia menemukan ibu–nya sedang tidur mendekap kedua adiknya dalam posisi yg ganjil, dimana, Dio yg berusia 8 tahun tengkurap dengan posisi seperti orang mati, Pras juga merasakan ada yg salah dengan keluarga Septi,
maka, mereka kemudian mendekat bersama-sama, “buk.. ibuk…”

Pras yg berjalan dibelakang Septi tiba-tiba bernafas dengan berat, dia seperti merasakan kalau ruangan ini lebih pengap dari biasanya, sementara semua keluarga Septi dalam kondisi mata terpejam.
ketika Septi sudah berdiri disamping ranjang, dia seketika menggoyang-goyangkan tubuh ibunya tapi wanita itu tak bergerak sama sekali, bingung dengan apa yg terjadi, Septi melihat Pras yg juga kebingungan dengan apa yg sebenarnya terjadi dengan mereka saat tak lama,
kedua adik Septi melirik dengan mata terbuka lalu tersenyum menyeringai melihat Septi dan Pras, yg diakhiri dengan ibu-nya tertawa terbahak-bahak, hanya saja, tawa itu adalah tawa yg sama yg Septi dengar dari sosok wanita tua yg pernah dia lihat di dalam kamar ini.
Namanya ibu Nuri. sejak kematian mendiang suaminya beliau bertahan hidup dengan berjualan jajanan di pasar dari modal uang tabungan. untungnya, Septi lulus sekolah tepat waktu sehingga bu Nuri hanya perlu memikirkan biaya pendidikan dua puteranya dan lagi, dia dibantu oleh Septi.
sejak pertama kali bu Nuri diberitahu oleh Septi perihal rumah yg akan mereka kontrak ini berharga jauh lebih murah, bu Nuri sempat ragu, sebagai orang yg sudah merasakan pahit manis kehidupan, harga dibawah standart patut dicurigai, namun, melihat keadaan keuangan yg tidak-
terlalu baik, bu Nuri akhirnya setuju.

yg terpenting bagi dirinya sekarang adalah, anak-anaknya memiliki tempat bernaung yg layak, tapi, bu Nuri tidak akan melupakan pengalaman pertama saat beliau menginjakkan kaki pertama kali di rumah kontrakan ini.
waktu itu adzhan maghrib berkumandang, kedua puteranya ada di ruang tengah bersama dengan puterinya. iya. Septi biasa mengajari kedua adik-adiknya disela-sela kepulangannya selepas kerja.

bu Nuri berada di kamar sendirian, beliau sedang sibuk melipat baju, saat tiba-tiba-
dari almari tua yg ada disudut ruangan, bu Nuri melihat sebelah pintunya bergerak-gerak sendiri, membuka dan menutup sendirian. bu Nuri yg merasakan keanehan itu kemudian datang mendekat untuk memeriksa, beliau takut kalau ada tikus didalamnya.
tapi, anehnya, suasana didalam kamar mendadak tidak enak, bu Nuri merasa kalau keputusan untuk memeriksa bagian dalam almari adalah keputusan yg salah, tapi, bu Nuri sudah menjajakkan kaki di lantai, rasanya kepalang tanggung kalau dia urungkan. berbekal niat, bu Nuri mendekat.
sampai didekat almari tua itu, bu Nuri mendengar seperti ada suara yg menghela-hembuskan nafas, suaranya menyerupai suara anak kecil. bu Nuri berpikir kalau mungkin saja itu Dio anaknya, sehingga cepat-cepat bu Nuri memeriksanya, dan di sana lah bu Nuri untuk pertama kali melihat
melihat seorang anak kecil yg kesemua kulitnya putih seperti tepung, posisi anak itu meringkuk tepat dibagian bawah almari terhalang baju-baju yg digantung.

bu Nuri awalnya hanya bisa mematung sewaktu melihatnya, namun, semakin lama, beliau penasaran, ditepuklah pundak bocah itu
dan sewaktu bocah itu mengangkat wajahnya, baru lah bu Nuri tau, wajahnya, wajahnya tak memiliki kulit pelapis selain bagian daging dalam yg berlumuran darah, tapi bola matanya masih utuh dengan menunjukkan bagian-bagian potongan giginya yg masih terpasang ditempatnya.
sejak saat itu, bu Nuri merasakan aktifitas-aktifitas janggal yg ada di rumah ini, tapi, bu Nuri tidak pernah sekali pun menceritakan hal ini kepada siapa pun terutama kepada Septi, puterinya sendiri.
pernah suatu kejadian, pada tengah malam, bu Nuri merasakan punggungnya ada yg menepuk-nepuk bagian pundaknya, sewaktu bu Nuri menoleh dia melihat puteranya yg paling kecil, Dio, menatap dirinya dengan ekspresi ganjil.

saat bu Nuri bertanya kenapa Dio menepuknya.
bocah itu menjawab kalau dia mau diantar ke kamar mandi untuk buang air kecil, maka, diantarlah bocah itu ke kamar mandi.

selepas dari kamar mandi, Dio kemudian menunjukkan sifat yg aneh, dimana bocah itu tidak mau kembali ke ranjang dan memilih berdiri disamping jendela kamar.
bu Nuri kemudian memanggil nama Dio agar segera kembali ke tempat tidur, tapi, bocah itu masih saja berdiri di sana bahkan Ia sempat membuka kelambu di jendela, dan tak lama kemudian, bocah itu berkata, “bu, ono ong ang unu” (bu, ada orang disitu)

bu Nuri yg bingung, mendekat
bu Nuri yg berpikir kalau puteranya mungkin sedang mengada-ada berjalan untuk memeriksa.
memang, ada space kosong didepan jendela kamar bu Nuri, dan tempat itu tepat berada disamping kiri kamar Septi, bedanya, Septi tidak bisa melihat space kosong itu karena tidak ada jendelanya.
satu-satunya jendela yg ada di kamar Septi adalah menghadap langsung ke pagar dan pintu depan

bu Nuri sudah berdiri dibelakang Dio, Ia memegang bahunya berniat menariknya keatas ranjang tapi, beliau kemudian tergelitik dengan apa yg Dio tadi katakan, bu Nuri lalu melihat keluar.
di sana, bu Nuri tidak akan pernah melupakan apa yg pernah dia lihat, dimana dibalik jendela, dispace kosong rumahnya yg biasa dia gunakan untuk menjemur pakaian, berdiri puluhan sosok manusia mengenakan kain kafan yg membungkus tubuhnya, rupa mereka melotot melihat bu Nuri.
Bu Nuri tentu seketika mengucap istighfar berkali-kali sambil menutupi wajah Dio dengan tangannya, tapi sosok pocong-pocong itu hanya berdiri di sana, tanpa melakukan apapun.

Beliau pun membawa kedua puteranya untuk tidur di ruang tengah. Kejadian ini sama sekali tak diketahui.
lain hari lain kejadian. sejak dulu, Dio menemani bu Nuri menjajakkan jajanan di pasar dan semenjak mereka menempati rumah kontrakan itu, prilaku putera bungsunya ini seringkali aneh, beberapa kali Dio terlihat memeragakkan sesuatu setiap kali menemukan seutas tali.
anak itu akan melilitkan tali tersebut ke lehernya kemudian berpura-pura menjulurkan lidahnya seakan-akan tubuhnya terjerat karena perkara tali tersebut.

setiap kali bu Nuri menegurnya, anak itu pasti kemudian berkata. “Dio iat bu, ang amall” (Dio lihat buk, di kamar)
tapi karena perkara yg tidak jelas, bu Nuri memilih mengabaikan ucapan anak itu.

suatu hari, bu Nuri pulang kemalaman, Septi sudah menghubunginya kalau dia akan lembur, sementara puteranya yg lain sedang di rumah mertuanya, maka sewaktu pulang bersama Dio, bocah itu seketika-
berlari kemudian menunjuk angin-angin diatas pintu kamar, di sana Dio memeragakan sekali lagi persis saat lehernya dililit tali.

“ibu, iu iu, aa nene nene keantung” (ibu, itu itu, ada nenek-nenek kegantung)

dan benar saja, bu Nuri melihat sekelibat bayangan bergerak maju mundur
tapi mungkin karena posisi rumah yg saat itu masih gelap, bu Nuri pun segera menyalakan lampu dan sewaktu membuka pintu, beliau tidak menemukan apa pun disana.

meskipun begitu, bu Nuri merasa sangat yakin kalau tadi dia sempat melihat wanita digantung di-langit-langit, entahlah.
malam harinya, bu Nuri mulai mengalami mimpi-mimpi yg ganjil, dimulai terdengar orang-orang sedang membaca doa untuk mayit, sampai jeritan seorang wanita yg benar-benar mengerikan, terkadang mimpi itu sampai membangunkannya. sejak saat itu lah bu Nuri mulai sadar, rumah ini-
menyimpan sesuatu yg sinting. hanya saja, baik Septi dan kedua puteranya, tidak ada yg menunjukkan kalau mereka tidak nyaman di tempat ini, sehingga semuanya akhirnya disimpan oleh bu Nuri sendiri, tanpa melibatkan anak-anaknya.
selain kejanggalan-kejanggalan yg ada di rumah, bu Nuri seringkali mendapati orang-orang tidak dikenal riwa-riwi lewat depan rumah kontrakannya, tapi begitu disapa, mereka lari tunggang langgang, ada beberapa yg memberi semacam hadiah, katanya untuk mbah Gimah, namun, saat-
-ditanya lebih jauh siapa mbah Gimah?

mereka langsung pergi. kecurigaan paling besar adalah kedatangan tamu dikala hujan deras sedang turun, beliau mengaku sebagai nyai Siti, tetangga yg kebetulan sedang datang berkunjung. bu Nuri hanya diam saja dan tersenyum menyambutnya.
tapi, yg tidak diketahui oleh nyai Siti adalah, bu Nuri tahu siapa nyai Siti, hanya saja, Ia tidak mengerti apa tujuannya datang ke rumah ini lagi.

nyai Siti adalah orang yg sebelumnya menggunakan kontrakan ini sebelum keluarganya.
setelah nyai Siti berpamitan pergi, bu Nuri kemudian memikirkannya, apa maksud kertas berwarna merah yg tidak boleh dibuka itu.

bu Nuri kemudian membuka satu persatu berkas yg saat pertama kali menginjak rumah ini dimana disalah satu fotonya, terdapat nyai Siti berpose bersama-
seorang wanita tua.

wanita tua ini memiliki wajah yg menakutkan, terutama saat wajahnya melihat kearah kamera dengan menampakkan gigi-gigi hitamnya.

“opo iki sing jenenge mbah Gimah?” (apa ini yg namanya mbah Gimah)
berhari-hari, bu Nuri tidak bisa tidur dengan nyenyak, karena setiap kali beliau memejamkan mata, bu Nuri melihat orang-orang bergumul, menyerat tubuh seseorang yg kemudian menjerit-jerit, semua kekacauan itu diikuti suara-suara doa dan lantunan ayat yg membuat bu Nuri merinding.
hingga pada suatu malam, saat bu Nuri kembali terbangun ditengah malam, beliau melihat kedua puteranya sedang duduk ditepian ranjang, sedang melihat keatas, bu Nuri pun mengikuti mereka, dan saat melihat ke langit rumah, bu Nuri melihat wanita tua yg ada di dalam foto melotot.
wanita tua itu dalam kondisi batang lehernya diikat pada tiang, lidahnya menjulur keluar, melihat itu, bu Nuri lalu memeluk kedua anaknya, beliau menutup mata dan telinga mereka sambil membaca doa yg bahkan belum pernah seumur hidup bu Nuri panjatkan, tak lama, kaca jendela pecah
keesokan harinya bu Nuri berkata kepada Septi kalau dia bersama dengan kedua adik-adiknya akan pergi ke rumah mertuanya, Septi awalnya curiga tapi bu Nuri meyakinkan kepada puterinya kalau neneknya sedang merindukan cucu-cucunya ini, terkecuali Septi yg sudah tumbuh dewasa.
tapi yg sebenarnya terjadi, bu Nuri sedang menuju ke tempat lain.

Dio dan Andre sebenarnya terus menerus bertanya kemana mereka akan pergi, tapi bu Nuri hanya diam saja, dia lebih memikirkan nasib buruk yg sedang menimpa keluarganya, dia merasakan sesuatu yg buruk di rumah itu.
sampailah mereka di sebuah rumah sederhana disamping jalan.
rumah itu dimiliki oleh seorang pemilik pesantren, teman almarhum suaminya, anehnya, entah kebetulan atau bagaimana, pria yg biasa dipanggil pak haji ini jarang sekali berada di rumah tapi pada hari itu, beliau-
sedang duduk-duduk santai di teras rumah.

bu Nuri segera mendekat dan langsung disambut hangat, hal pertama yg dikatakan oleh pak haji adalah, “hari ini, burung saya tidak berhenti bersuara, jadi saya duduk disini mengawasinya, tidak saya duga rupanya itu pertanda kalau saya-
-kedatangan tamu dari orang yg saya hormati, monggo bu, ada gerangan nopo, jenengan bertamu ten griya kulo?”

bu Nuri kemudian menceritakan semuanya satu persatu, dan pak Haji nampak mendengarkannya dengan serius cerita bu Nuri, ada sesuatu yg rupanya juga beliau rasakan.
setelah mendengar semua ceritanya. pak Haji kemudian memberi nasihat, “mulai nanti, bu Nuri shalatnya di kamar saja ya, lalu, begini, saya baru bisa berkunjung mungkin 4 hari lagi karena besok saya harus keluar kota, jangan takut pada makhluk apapun nggih bu, gak ada yg lebih-
-sempurna dari kita, manusia. tapi bu, kalau boleh saya minta tolong bisa bawakan ini ke rumah itu”, pak Haji kemudian masuk ke rumah, tak lama beliau keluar dengan sebutir telur, “letakkan ini di dalam lemari nggih bu, besok paginya, telurnya dipecahin didepan jendela kamar”
bu Nuri lantas bertanya apa tujuan telur ini. pak Haji kemudian berkata, kalau telur itu dipecah setelah semalaman di dalam lemari, dan didalamnya normal, artinya bu Nuri hanya paranoid biasa, tapi kalau isi di dalam telur berubah menjadi busuk, artinya bu Nuri sedang diganggu.
urusan diganggu bisa dari segala penjuru, ada orang yg gak suka, atau memang ini murni dari perkara ghaib yg kebetulan bersinggungan dengan keluarga ibu.

bu Nuri kemudian pamit, ia tak lupa meminta doa yg tentu saja pasti pak Haji panjatkan untuk keluarga sahabatnya ini.
maka, pulanglah bu Nuri.

kemudian saat pulang, sekelibat bu Nuri melihat ada sosok yg baru masuk ke dalam kamarnya, cepat-cepat bu Nuri berjalan mendekat tapi kejanggalan tiba-tiba terjadi, untuk pertama kalinya, Dio yg biasa berlari masuk ke kamar mendadak diam, wajahnya pucat.
“bu ook ook, ono mah” (bu jangan, jangan, ada si mbah), Dio memperagakan lehernya terlilit tali, tapi bu Nuri tetap berjalan mendekat, ia ingin memeriksanya, tepat ketika pintu kamar terbuka, bu Nuri tidak melihat siapa pun, kecuali, bayangan seseorang bersembunyi dibawah ranjang
dengan jantung berdegup kencang, bu Nuri lalu menunduk, melihat kolong ranjang, anehnya, bu Nuri tidak menemukan siapa pun, bu Nuri pun berdiri lalu menjalankan tugas yg diberi oleh pak Haji, dia letakkan telur diatas tumpukan baju, setelanya, bu Nuri terdiam, melihat Dio yg diam
berdiri didepan kamarnya.

bocah itu selalu menolak masuk ke kamar, sampai akhirnya, Dio memilih tidur bersama kakaknya Septi.

bu Nuri pun kemudian tidur hanya berdua bersama puteranya Andre, dia berharap pak Haji bisa menolong mereka, menyingkirkan apa yg sudah menganggu mereka
sewaktu bu Nuri tidur untuk pertama kalinya, dia memimpikan sesuatu yg berbeda, dimana kali ini tidak ada jeritan apapun yg biasa dia dengar, hanya pemandangan kamarnya saja, dimana saat bu Nuri berjalan mendekat, dia melihat kalau diatas ranjangnya ada wanita tua sedang tidur.
bu Nuri terus mendekat.

ketika jarak mereka terpaut satu jengkal, wanita tua itu berbalik hanya saja, badannya tak bergerak sedikit pun dari tempatnya terkecuali kepalanya yg menoleh dengan leher seperti patah, dimana wanita tua itu melihat kepalanya berputar 180 derajat.
bu Nuri lalu menjerit sekeras-kerasnya. dia benar-benar bisa gila, wanita yg baru saja dia lihat adalah wanita yg sama yg ada di dalam foto bersama dengan nyai Siti. mbah Gimah.

bu Nuri lalu tersadar hari sudah siang, maka ia mau memeriksa telur pemberian pak Haji.
saat beliau membuka almari, bu Nuri dibuat terdiam sewaktu beliau melihat, telur itu sudah dalam kondisi pecah, hanya saja dari bekas telur yg sudah pecah itu terdapat bekas pecahan darah berwarna merah kehitam-hitaman. seketika bu Nuri sadar, rumah ini benar-benar menolak mereka
hari itu juga dengan menggunakan pakaian seadanya bu Nuri pergi mengunjungi pak Haji, tapi aneh, tidak ada seorang pun di rumah beliau, bu Nuri baru ingat jika selama 4 hari orang yg kerap dipanggil pak Haji itu sedang pergi, dengan gelisah bu Nuri pun memutuskan untuk pulang.
tapi, belum beberapa langkah bu Nuri meninggalkan rumah itu, kepala bu Nuri menoleh saat dia melihat burung milik pak Haji yang dikurung dalam sangkar seperti melihat dirinya terus menerus, awalnya bu Nuri berpikir kalau itu mungkin hanya perasaannya saja, namun, burung itu-
seperti benar-benar memperhatikannya.
maka dengan perasaan bertanya-tanya, bu Nuri mendekati burung berwarna putih tersebut, seperti dugaannya, burung itu mengikuti kemana pun bu Nuri berjalan bahkan saat dia mendekatinya.

dengan perasaan yg campur aduk, bu Nuri ingin melihat binatang itu lebih dekat.
sesaat ketika bu Nuri sudah berdiri tepat dibawahnya, satu tangannya terjulur untuk menyentuh sangkar yg dibuat dari batang bambu, sementara kepala dan mata burung itu masih melihatnya. binatang itu begitu tenang, tenang, tenang..

sebelum, keleparan sayapnya mengejutkan bu Nuri
iya. tanpa diduga-duga burung itu tiba-tiba mengepakkan sayapnya dengan kasar sambil mengeluarkan suara yg berbeda seperti awal ketika pak haji mengurus burung ini, tak hanya itu saja, badan dan kepalanya bahkan rela dihantamkan pada batang sangkar hingga menimbulkan suara bising
bu Nuri yg tersentak karena perubahan sifat binatang itu hanya bisa mundur sambil memperhatikan binatang itu seperti ingin menyiksa dirinya sendiri.

tak lama kemudian, sangkar itu terhantam jatuh dan membuat kerusakan fatal, sementara burung itu terkelapar tak berdaya.
melihat kegilaan itu, bu Nuri kemudian mendekat, melihat bagaimana kondisi peliharaan milik pak Haji, ada ketakutan didalam dirinya mengenai bagaimana pak Haji nanti kalau tau apa yg terjadi di sini.

seperti yg bu Nuri duga, binatang itu hanya bisa diam saat bu Nuri menyentuhnya
sepertinya tenaga binatang itu sudah habis, hanya saja, ada perasaan aneh saat bu Nuri melihat binatang itu yg dalam kondisi tak berdaya, tiba-tiba saja seperti ada yg membisik ditelinganya untuk mengakhiri nyawa binatang malang itu. perasaan itu terus menerus bertambah kuat.
hingga pada akhirnya digenggaman tangan bu Nuri, tanpa ada sebab yg jelas, bu Nuri kemudian mematahkan leher binatang yg tak lebih besar dari telapak tangannya.

setelah itu baru lah bu Nuri sadar akan perbuatannya, dengan perasaan semakin gelisah, bu Nuri meninggalkan rumah itu
didalam bus ketika perjalanan pulang, bu Nuri merasa semakin ganjil dengan tubuhnya. sejak tadi, dia merasa sendirian padahal didalam bus ramai orang duduk disekitarnya.

hanya ada suara-suara orang yg membisikinya dalam bahasa arab yg lembut. anehnya, hanya bu Nuri yg mendengar
ditengah kegelisahaan itu, bu Nuri baru menyadari kalau rupanya tak jauh dari tempat dia duduk ada seorang pria tua, seusia dengan bapaknya duduk sambil bersendekap. pria tua ini sejak tadi memperhatikannya. bahkan sorot matanya tak bergerak sama sekali, ia terus memandanginya.
entah sudah berapa lama sejak dari rumah pak Haji, pria tua yg memiliki rambut keputih-putihan karena usia itu masih memperhatikannya.

bahkan saat orang disampingnya mengingatkan kalau jalan tempat orang tua itu harus turun baru saja dilewati, tapi, pria tua itu hanya menjawab
kalau dia masih ingin duduk dan mengikuti kemana bus ini akan membawanya sambil sorot matanya masih melihat bu Nuri dengan tatapan mata yg terasa ganjil dan menakutkan.
tinggal beberapa ratus meter lagi bu Nuri harus turun, tapi dengan kondisi seperti ini rasanya berbahaya kalau bu Nuri turun didekat rumahnya, maka, untuk menghindari hal-hal yg tidak diinginkan, wanita paruh baya itu meminta bus berhenti tepat diantara jalan desa
untungnya ketakutan kalau pria tua itu ikut turun tidak terjadi, karena setelah bu Nuri menginjakkan kakinya di tanah, pria tua itu hanya melihat dirinya dari balik kaca bus sambil menganggukkan kepalanya, seolah sedang menyapa dirinya.

bu Nuri pun buru-buru pulang ke rumah.
hanya saja, rasa lega karena mengira terbebas dari pria tua asing itu tak bertahan lama karena tak lama kemudian didepan rumah bu Nuri sudah berdiri pria tua yg sama yg bu Nuri lihat didalam bus tadi, kali ini pria tua asing itu melihat rumah bu Nuri sembari hidungnya mengendus.
awalnya bu Nuri ingin mengusirnya tapi melihat pria tua itu yg memperkenalkan dirinya terlebih dahulu dan menjelaskan niatnya kalau ada sesuatu yg hitam mengikuti bu Nuri dan kelak akan membahayakan orang-orang terdekatnya, maka bu Nuri pun terpaksa menyambut beliau sebagai tamu
pria tua ini biasa dipanggil wak Nas tapi kebanyakan memanggilnya abah Anas, atau Mi nas (paman), rambutnya panjang dengan dominan uban putih, mengenakan pakaian putih kusam seperti pengemis, saat berjalan ia dibantu tongkat kayu jati, tidak ada yg istimewa dari orang ini kecuali
sorot matanya yg tajam seperti seseorang yg pemarah, hanya saja saat berbicara rupanya beliau memiliki suara yg lembut terkesan ramah, hal ini lah yg membuat bu Nuri akhirnya mempersilahkan beliau masuk kedalam rumah.
Mi nas meminta maaf kalau perlakuannya tadi terkesan tidak sopan dan membuat bu Nuri ketakutan, pun sikap nyelonong datang ke rumah juga, bu Nuri hanya bisa meminta maaf juga sudah menuduh yg tidak-tidak kepada orang tua itu, setelah bicara panjang lebar, Mi Nas kemudian berkata,
“manuk kui mati nang tanganmu, tapi sing nduwe manuk kui mati bukan perkoro kowe, ojok dipikir, aku mung ngomong tok” (burung itu mati ditanganmu, tapi yg punya burung itu mati bukan perkara dirimu, jangan dipikirkan, aku hanya asal bicara saja)

bu Nuri tentu bingung mendengarny
selama bertamu disitu, Mi Nas tak menyentuh apapun yg disajikan bahkan ia menolak kopi untuk orang seusia dirinya, ia hanya mau menerima air putih itu pun hanya seteguk, tak beberapa lama Mi Nas lalu berkata kalau rumah bu Nuri ini lebih wingit dari dugaannya.
banyak sekali bebauan busuk yg membuat hidungnya tidak berhenti mengendus, aroma kebencian, dendam, kemarahan berputar-putar di rumah ini terutama sumber masalahnya di dalam kamar yg ditunjuk oleh Mi Nas, sayangnya beliau tidak bisa membantu banyak karena resikonya besar.
beliau prihatin tapi tidak bisa menolong, beliau sendiri sebenarnya sudah ditolak saat masuk ke rumah ini, mendengar itu bu Nuri menjadi semakin bingung, lantas beliau bertanya ada apa di rumah ini, lagi lagi Mi Nas tidak bisa mengatakannya karena perkaranya ini bukan ghaib biasa
tapi Mi Nas memberikan bukti kalau kondisinya tidak baik-baik saja di rumah ini padahal dia datang sebagai tamu, tanpa diduga-duga oleh bu Nuri, sikap Mi Nas kemudian terlihat aneh dimana kepalanya tiba-tiba tergedek-gedek dengan sendirinya, anehnya, Mi Nas melakukan itu melotot
sambil melotot, Mi Nas kemudian menahan kepalanya dengan kedua tangannya agar ia berhenti tergedek-gedek, tak lama kemudian beliau tertawa, bu Nuri semakin bingung melihat sikap orang tua ini, barulah setelah itu Mi nas memukul-mukul rahangnya dengan tangannya sendiri..
kowe pengen eroh too nduk, aku mung isok ndudui sitik tok yo (kamu ingin tau kan nak, aku cuma bisa memberi tahu sedikit), “kabeh kui onok urusane karo iki” (semuanya ada urusannya dengan ini)

Mi Nas memasukkan jari-jarinya kedalam mulut kemudian menarik paksa sesuatu didalamnya
iya, itu adalah sepotong gigi rahang, “SINUN” katanya, Mi Nas meletakkan potongan gigi itu di atas meja, lalu beliau memberi petuah agar bu Nuri pindah saja, karena perkara ini bukan perkara yg bisa dihadapi oleh sembarang orang, “akeh korbane, akeh sing nuntut bales”
setelah menjelaskan panjang lebar perihal nasib dan keadaan bu Nuri kepada Mi Nas, barulah pria tua itu sedikit mengerti, beliau kemudian berpesan kalau SINUN itu terlepas, apapun yg terjadi lebih baik menjauhi marabahaya yaitu bu Nuri pindah dari tempat ini.
Malam harinya, bu Nuri terbangun dari tidurnya dengan kondisi kepala yg sangat sakit, Ia kemudian melihat kedua anaknya sedang tidur, dengan hati-hati bu Nuri melangkah turun lalu berjalan menuju ke kamar mandi.
waktu itu rumah sudah dalam kondisi yg sepi. sambil menahan sakit-
bu Nuri masuk ke kamar mandi.

Ia sempat membasuh wajahnya sambil melihat dirinya di dalam cermin, saat itulah bagian didalam mulutnya terasa begitu sakit, bu Nuri lalu memasukkan jari jemarinya untuk memeriksa hingga tanpa sadar ia mencabutnya dengan kasar,
sepotong gigi rahang berwarna putih dengan pangkal berlumuran darah, anehnya, potongan gigi itu terlihat lebih besar dari biasanya.

bu Nuri meletakkan potongan gigi pada sisi bagian bak mandi, sebelum berkumur untuk membuang darah yg tersisa,
setelahnya Ia kembali bercermin namun di sana bu Nuri melihatnya.

beliau melihat mbah Gimah sedang bergelantungan dibelakang tubuhnya. wanita tua mengerikan itu melotot melihat bu Nuri sambil menganga dan menunjukkan isi di dalam mulutnya yg dipenuhi gigi-gigi manusia.
bu Nuri kembali ke kamar tapi Ia tiba-tiba terdiam sangat lama memandang kedua anaknya yg sedang tertidur diatas ranjang, beliau pun lantas mendekati mereka mengelus punggung dan kepala mereka lembut, sambil menciumi pipi mungil anak-anaknya, tak lama kemudian,
satu anaknya terbangun, dia si anak tengah, Ia sempat terkejut saat melihat bu Nuri tapi anak itu segera beliau tenangkan, dengan gerakan tangan yg lembut bu Nuri memasukkan jari tangannya pada mulut anaknya itu lalu mencabut satu giginya yg paling hujung..
hal itu pula yg dia lakukan kepada anak bungsunya, selepas itu baru lah bu Nuri menulis sesuatu dari noda darah yg ada digusinya, sesuatu yg terlihat seperti Rajah SINUN, ia kemudian membungkus kedua gigi anaknya kedalam kertas itu, meremasnya sebelum menelannya bulat-bulat.
setelahnya baru lah bu Nuri pergi tidur tepat diantara kedua anaknya yg kini memeluk tubuhnya, sementara disekitar ranjang tempat tidurnya tiba-tiba saja sudah dipenuhi sosok pocong dan mayat mati yg pernah bu Nuri lihat, semua makhluk itu membaca seperti kalimat-kalimat arab-
suara-suara mereka terdengar sangat marah dan membenci bu Nuri. tapi, mbah Gimah yg duduk diatas tubuhnya tertawa-tawa sambil menggaruk-garuk rambutnya.
Detik itu juga Septi dan Pras akhirnya meminta tolong kepada tetangga-tetangga yang ada di kanan kiri rumah, termasuk mendatangi rumah pak RT yang saat itu sedang melihat wajah mereka dengan sorot mata terbelalak. pak RT tidak pernah menduga ada hal seperti ini diwilayahnya.
Menjelang maghrib, sudah banyak warga yang berkumpul di rumah kontrakan milik Septi, ada yang datang dengan niat membantu, ada pula yang sekedar ingin mencari tau, mereka semua penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi di rumah bercat warna kream tersebut.
pun termasuk sampai mendatangkan si pemilik rumah yaitu bu Salikun yang rupanya tidak tahu menahu perihal apa yang terjadi dengan bu Nuri selaku ibu handa dari Septi ini yang kini hanya bisa terbaring diatas ranjang tanpa bisa merespon apapun.
Akhirnya sebagai pemecahan jalan keluar pak RT memutuskan hanya beberapa orang saja yang diijinkan untuk melihat atau mencari cara agar bu Nuri yang saat ini matanya dalam kondisi terbuka lebar melotot melihat ke langit-langit bisa lepas dari bayang (ranjang tempat tidur).
beberapa warga usul untuk mengangkat tubuh bu Nuri tapi kedua anak laki-lakinya yang ada disamping beliau seperti menempel satu sama lain, hal ini tentu saja menyulitkan mereka semua. bahkan, banyak warga yang merasa kalau perkara ini tidak bisa diselesaikan dengan otot.
Para tetua desa juga mengaku kalau ini merupakan kali pertama mereka melihat tragedi yang seperti ini, karena meski mereka sudah lama tinggal di tempat ini sebelumnya tapi belum pernah terjadi kejadian yang sejanggal ini.
Pak RT kemudian meminta bantuan beberapa warga agar dicarikan orang pintar karena merasa ini sudah diluar kuasanya, sementara si pemilik rumah bu Salikun juga terlihat gelisah, ekspresi pada wajahnya diselimuti kengerian saat melihat kondisi bu Nuri yang nampak begitu menakutkan
Septi kemudian menceritakan semua yang dia tau dan temukan kepada pak RT dan bu Salikun mengenai Rajah-rajah yang tersembunyi dibawah anak tangga, wajah pak RT dan bu Salikun nampak terkejut karena ia tidak tahu menahu dengan barang-barang tersebut. ini sudah diluar kapasitasnya.
Ada apa sebenarnya di rumah ini, sementara Pras sudah beranjak pulang sejak tadi, ia berniat memanggil kenalan orang yang mungkin bisa membantu Septi melewati masalah pelik ini.
Akhirnya untuk ketenangan dan agar tidak semakin banyak orang yang tau masalah ini, pak RT meminta warga yang tidak berkepentingan untuk pulang, sementara beliau dan bu Salikun juga para orang-orang yang sudah sepuh untuk tetap tinggal disini melihat keadaan kedepannya,
sembari mengadakan pengajian mendadak yang saat itu digagas oleh salah satu sepuh desa.

Disinilah terjadi sebuah keanehan lain, dimana ditengah pengajian yang kusu’, sosok ibu Nuri yang sejak tadi diam saja sembari memeluk kedua anaknya itu tiba-tiba saja mulai ikut mengaji.
lebih khusu, lebih lantang dan lebih lancar dari bacaan orang-orang yang sudah sepuh, bahkan kepalanya melotot kearah orang-orang yang kini melihat dirinya dengan ekspresi wajah ketakutan.

“kabeh wong iso moco iki nak” (semua orang bisa membaca kalau cuma begini) kata bu Nuri.
hal ini tentu saja membuat beberapa orang mendadak menghentikan bacaannya, mereka mulai ragu dan menolak untuk melanjutkan, selain itu tercium aroma bau pesing dan anyir darah yang begitu menyengat membuat satu persatu orang yang ada di dalam rumah akhirnya beranjak keluar.
Tepat Pukul 9 malam, Pras akhirnya datang bersama dengan seorang laki-laki yang juga terlihat sepuh, tubuhnya bungkuk namun nampak seperti orang yang soleh, ia mengenakan pakaian serba berwarna putih dengan kain sorban terlilit dileher.
Pras memanggil beliau dengan Jid (kakek), Septi yang melihatnya segera membantu Pras menuntun Jid untuk masuk tapi anehnya Jid justruk menolak Septi dengan lembut lalu tak lama kemudian Jid meminta agar diambilkan air putih oleh Septi katanya beliau sangat haus.
Septi pun menuruti apa kata Jid, ia buru-buru pergi ke dapur untuk mengambil air tapi anehnya Jid masih berdiri diluar pintu pagar seakan menolak dirinya sendiri untuk menginjakkan kaki di atas tanah yang ada di rumah ini.
Septi pun menyerahkan gelas berisi air itu kepada Jid, dan setelahnya kakek yang mungkin usianya sekitar 70 tahunan itu meminumnya sampai habis, baru lah kemudian orang tua itu mau dituntun bersama-sama masuk kedalam rumah itu,
hal pertama yang beliau lakukan adalah meminta kepada pak RT untuk mengantarkan sisa orang yang ada di dalam rumah ini keluar kecuali bu Salikun selaku si pemilik rumah, bahkan Pras juga disuruh pergi keluar, tidak ada yang tahu alasan kenapa Jid melakukan ini.
meskipun awalnya Pras merasa enggan dengan perintah Jid namun pada akhirnya dia mau menuruti apa kata Jid kepada dirinya melihat suasana rumah ini benar-benar membuat tidak nyaman siapapun yang ada didalamnya sekaligus menjaga aib kalau-kalau terjadi sesuatu diluar dugaan mereka.
Setelah itu Jid baru berkata kepada Septi, “nduk, kowe onok kertas, jupukno trus nek iso karo bulpen’e yo nduk” (nak kamu ada sebuah kertas, kalau ada ambilkan, kalau bisa sekalian sama bulpointnya)

Septi yang tidak mengerti alasan Jid meminta itu, segera melaksanakannya.
disela-sela Septi mencari barang-barang yang diinginkan oleh Jid, orang tua yang terlihat seperti kakeknya itu kemudian memandang bu Salikun dengan senyuman yang tulus, sembari berkata kepadanya dengan nada suara yang lembut,
“dunyone menungso iku ono loro, dunyo iki karo dunyo ne akhirat, ojok jahat-jahat, mergo ati ne menungso ngunu kui rapuh, yen nek wes loro, bakal iso ngelakoni opo ae”
(dunia manusia itu ada dua, dunia ini sama dunia di akhirat, jangan jahat-jahat, karena hati manusia itu lemah, kalau sudah sakit hati akan melakukan apa saja untuk bisa membalas sakit hatinya)
Meski tidak tau apa maksud perkataan Jid kepada bu Salikun, Septi terpaksa mendengarkan, setelahnya Septi menyerahkan benda-benda itu kepada beliau, kemudian oleh Jid diberikan kepada bu Salikun, “tulis nama orang-orang yang pernah menyewa rumah ini,
tulis semuanya yang juga pernah meninggal di rumah ini”

Septi sama sekali tidak mengerti maksud Jid kepada bu Salikun, bu Salikun awalnya melihat Jid dengan tatapan ganjil, mungkin ia sama bingungnya, kenapa ia harus menulis setiap nama orang yang pernah meninggal di rumah ini.
Bu Salikun pun akhirnya mengangguk, beliau kemudian menyingkir dari hadapan Jid untuk mencoba mengingat-ingat siapa saja yang pernah menyewa rumah ini dan meninggal di dalam rumah ini.

Sementara Jid meminta Septi mengambilkan air di dalam baskom dengan kain yang bisa direndam.
Dengan susah payah Jid berjalan tertatih-tatih dengan badan yang sudah bungkuk mendekat masuk ke dalam kamar tempat bu Nuri dan kedua adik septi sedang berbaring.

Septi pun berlari masuk sambil membawa baskom yang berisikan air juga dengan kain yang sudah direndam didalamnya.
Tapi, alangkah terkejutnya Septi sewaktu beliau masuk ia melihat ibunya, bu Nuri sedang duduk dengan rambut yang berantakan, wajahnya melotot dan bagian gusi serta gigi-giginya berwarna kehitam-hitaman. “mrene-mrene nduk, ra usah wedi, ayok gowoen adik-adikmu metu”
(kesini-kesini nak, jangan takut, ayok bawa adik-adikmu keluar dari sini)
Septi tentu saja terkejut, kedua adiknya yang tadi coba diselamatkan oleh enam orang dewasa bisa ditarik dengan mudah dan lembut oleh Jid seperti tidak ada halangan sama sekali. Septi pun menurut, ia segera letakkan baskom dibawah kaki Jid yang sedang bertasbih.
sementara disamping ranjang bu Nuri terus menerus melotot melihat kearah Jid dan Septi berulang-ulang kali.

Terdengar juga suara menggeram yang menakutkan yang berasal dari tenggorokan ibunya, Septi pun dengan cepat menggendong dan menarik adiknya satu persatu dari atas ranjang,
tapi mereka masih dalam kondisi tidak sadar. Jid kemudian meminta Septi agar menutup pintu kamar sekaligus memanggil Pras agar membantu menggendong adik-adik Septi untuk dipindahkan sementara kedalam kamar miliknya, lalu terakhir, Jid meminta kertas yang ada ditangan bu Salikun,
Septi menuruti dan melakukan setiap apa yang diperintahkan oleh Jid. Bu Salikun pun ikut masuk kedalam kamar tersebut, Septi kemudian menutupnya perlahan-lahan, saat tiba-tiba saja terdengar suara jeritan yang memekikkan telinga dari dalam kamar hal ini membuat Septi tersentak-
-dari tempatnya. Entah apa yang sedang terjadi di dalam sana, tangan dan kaki Septi tiba-tiba mendadak menjadi lebih dingin dan anyep, bahkan bulukuduk dibelakang lehernya ikut berdiri, rasanya belum pernah Septi merasakan sesuatu yang seperti ini.
Cukup lama waktu Jid dan bu Salikun berada di dalam kamar itu, sementara Septi dan Pras dan beberapa warga yang juga pak RT hanya bisa membantu seadanya, bibir kedua adik Septi berwarna kebiru-biruan dan beberapa kali mereka seperti mengigau memanggil-manggil nama bu Nuri.
Baru lah, sekitar jam sepuluh malam, pintu itu akhirnya terbuka, wajah bu Salikun nampak pucat pasi, sementara Jid terlihat kelelahan setengah mati, tapi anehnya, bu Nuri masih duduk sambil melotot kearah mereka. Septi bertanya-tanya bagaimanakah nasib ibunya.
Jid kemudian duduk di atas kursi meminta Pras dan pak RT agar memanggil seseorang untuk mengatakan kebenaran apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah ini dan bagaimana cara menyingkirkannya, karena sejak tadi, jin yang mendiami tubuh bu Nuri menolak untuk pergi-
-dan sudah terlalu suka untuk tinggal di tempat ini, kecuali, Sinun merah yang menjadi pengikat sukma dan dendamnya ditemukan dan diangkat dari tempat tersebut.

Septi lalu bertanya, “dimana benda itu berada?”

Jid lalu menoleh pada bu Salikun.
Jid nampak terengah-engah menjabarkan akar masalahnya, tapi tetap saja, hanya sebagian dari mereka yang mengerti tentang apa yang disampaikan oleh Jid, tidak ada yang tahu maksud dari Rajah merah dan maksud dari dendam ini,
Jid kemudian menyederhanakan penjelasannya, mereka harus cepat-cepat menemukan medium pengikatnya kalau sampai terlambat bu Salikun bisa saja tidak bisa di tolong lagi seperti penghuni-penghuni sebelumnya.

Septi yang mendengar itu tentu saja terkejut.
Jid lalu melihat kertas yang tadi ditulis oleh bu Salikun, di sana Jid menunjukkannya kepada Septi rupanya, sebelum mereka ada sebuah keluarga yang sudah meninggal terlebih dahulu, nama beliau adalah mbah Gimah, tapi sebelum mbah Gimah, ada keluarga lain juga yang meninggal,
semua orang ini memiliki kesamaan, tak hanya itu saja pola dan kasusnya juga sama persis, itu artinya ini bukanlah kebetulan semata, melainkan memang ada sesuatu yang sangat hitam hidup di dalam rumah ini.
kembali ke kasus kematian lain, nama wanita itu adalah mbak Sartik, seorang ibu dengan 1 anak, Jid lalu bertanya kepada bu Salikun. “niki wes kabeh uwong sing tau mati nang omah iki?” (apa ini sudah semua orang yang pernah meninggal di rumah ini?)
Bu Salikun mengangguk, diikuti jawaban kalau itu sudah semua tapi hanya sepengingatnya.

Namun, Jid seperti masih belum puas dengan jawaban bu Salikun sehingga beliau bertanya sekali lagi kepada bu Salikun agar mengingat-ingat, tapi ia merasa sudah menulis semuanya.
Beliau kemudian menjelaskan kalau rumah ini adalah rumah warisan dari pendahulunya dan sejak dipegang oleh bapak ibunya rumah ini sudah dikontrakan bila ini berkaitan dengan hal itu, bu Salikun meminta waktu setidaknya satu hari untuk mencari tau masalah ini.
beliau harus memeriksa arsip tanda tangan perjanjian milik bapak ibunya yang dulu. Jid pun mengangguk, beliau lalu berpesan kalau ada alasan kenapa sampai Jid melakukan ini karena sekarang perkaranya sudah menjadi urusan hidup mati orang.
Bu Salikun pun kemudian berpamitan pergi. Setali tiga uang, Jid juga akan pulang bersama dengan Pras, maka, Jid berpesan kepada Septi sebelum kepergiannya untuk sementara bu Nuri sudah sedikit lebih tenang dari sebelumnya, tapi lebih baik Septi untuk tidak mendekatinya lebih dulu
dan sejak tadi Jid juga sudah mengatakan kepada beliau untuk sementara waktu tidak keluar dari dalam kamar dan beliau meminta agar bu Nuri senantiasa terus menerus berwirit kalau merasa ada yang menganggu di dalam dirinya begitupula dengan Septi untuk tidak berhenti mendoakan ibu
esok hari Jid akan datang lagi berkunjung ke rumah, jadi malam ini, Jid berharap Septi dan kedua adiknya yang saat ini masih terlelap di dalam kamar untuk tidak sekali-kali membuka kamar bu Nuri apapun yg terjadi. kamar itu sudah dikunci rapat jadi tidak ada alasan untuk membuka
Septi awalnya enggan menerimanya, bagaimana pun ia masih berharap ibunya baik-baik saja karena apa yang sudah terjadi di dalam rumah ini benar-benar sudah merontokkan akal sehatnya, ia tidak mau kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan kepada beliau.
Tapi Jid kemudian meyakinkan Septi selama pintu itu tidak dibuka sampai Jid kembali kesini tidak akan ada yang terjadi, lagipula Jid memberi nasihat kepada Septi kalau tidak ada yang perlu ditakutkan dari makhluk yang dipenuhi oleh dusta seperti Jin dan sebangsanya.
Malam pun semakin larut, sampai tidak ada lagi satu orang pun yang ada di rumah ini kecuali Septi dan keluarganya. Kedua adiknya masih terlelap dan tubuh mereka sudah tidak sedingin tadi, Septi tidur disamping mereka sambil menatap kearah pintu kamarnya.
Septi tidak pernah menduga sebelumnya kalau semuanya akan menjadi seperti ini dan siapa juga yang mengira kalau dibalik pintu kamarnya ada kamar tempat ibu dan makhluk itu sedang berada. ia berharap malam ini Septi bisa melewatinya tanpa ada sesuatu yang buruk yang terjadi.
Seperti fisiknya, mental Septi juga semakin melemah seiring waktu berjalan, matanya kian tak tertahankan dan rasa kantuk nyaris sudah memenuhinya, saat Septi akhirnya tertidur dalam lelap, Septi mulai terhanyut dalam mimpinya. dan saat itulah ada yang mengetuk pintu kamarnya.
Septi berdiri lalu berjalan menuju ke pintu, ia kemudian berdiri di sana, dan tak lama kemudian suara itu memanggil dirinya, “nduk, kowe percoyo karo ibu too, ojok dilanjutno yo nduk”

Septi yg mendengarnya lalu berkata, “nggih mbah, mbenjeng kowe bakal minggat soko awak e ibuku”
dan setelahnya, Septi pergi ke tempat tidur tak lagi memperdulikan ketukan pada pintu kamarnya sepanjang malam itu.
Pada pagi harinya, Septi terbangun dengan setengah sadar, semalam ia bermimpi lagi, tapi mimpinya kali ini berbeda, ia melihat sepotong tali dan kaki yang menggantung di atas langit-langit kamar ibu, selain itu ada jeritan dari suara yang tertahan ditenggorokan,
awalnya Septi berpikir itu mbah Gimah sosok wanita tua yang dirinya tahu dari lembaran foto dan cerita—orang-orang yang pernah mengenalnya bahkan Septi tahu seluruh anggota keluarganya yang mana membuatnya sedikit terkejut, tapi seperinya Septi salah, sosok itu mungkin sosok lain
Septi membuka mata dan melihat kedua adiknya tiba-tiba berdiri di depan pintu kamar ibunya, tak lama kemudian setelah mereka melihat Septi bersama-sama mereka berkata kepada Septi, “mbak tolong ibu, ibu kekorong nang duwur kuburan, mbak tolongen ibuk”
(mbak, tolong ibu, ibu dikurung diatas kuburan, mbak tolong ibu), begitu kata mereka berulang-ulang kali, Septi sebenarnya tidak mengerti tapi kenapa dua adiknya bisa mengatakan sesuatu secara bersamaan seperti ini.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu rumah Septi diketuk, Septi pun datang untuk melihat siapa tamu yang datang berkunjung, rupanya tamu yang datang berkunjung ke rumah Septi adalah Nyai Siti, hal ini tentu saja mengundang tanya apa yang wanita ini inginkan di rumahnya.
Nyai Siti lalu menjelaskan maksud kedatangannya, rupanya beliau sudah mendengar apa yang terjadi dengan bu Nuri dari kabar burung yang sampai ditelinganya, Septi hanya diam saja sewaktu wanita itu menjelaskannya,
-ditengah-tengah percakapan mereka, Septi kemudian memotong pembicaraan dengan berkata apakah benar kalau nyai Siti adalah anak dari mbah Gimah?

Mendengar itu nyai Siti awalnya nampak terkejut sampai akhirnya ia menjelaskan siapa dirinya yang sebenarnya kepada Septi.
Nyai Siti pun meminta ijin kepada Septi untuk menjelaskan semuanya dari awal

Rupanya, keluarga nyai Siti adalah keluarga yang sebelumnya tinggal di rumah ini sebelum keluarga Septi datang, tapi, ada sesuatu yang tidak banyak orang tau perihal apa yang keluarga nyai Siti lakukan
Sewaktu mereka masih tinggal di rumah ini, beliau menjadikan mbah Gimah sebagai pembuat Rajah untuk mereka-mereka yang datang dan membutuhkan bantuannya. semua pekerjaan ini ditukar dengan sejumblah mahar dalam bentuk uang dan harta berharga seperti emas dan sejenisnya.
Septi pun terkejut ketika mendengarnya bagaimana bisa nyai Siti melakukan hal yang seperti itu, tapi, nyai Siti belum selesai menceritakan semuanya, awalnya, keluarga nyai Siti sama seperti keluarga Septi yang tinggal di rumah ini layaknya seperti keluarga biasa pada umumnya,
tetapi lambat laun mulai ada kejadian yang aneh di rumah ini hanya saja nyai Siti dan keluarga yang lain tidak terlalu memperdulikan hal itu. Hal-hal aneh itu seperti sering mendengar suara tertawa dan langkah kaki anak-anak kecil, kemudian suara-suara orang yang sedang mengaji.
tapi dari semua keanehan-keanehan itu ada sesuatu yang terjadi dengan ibunya yaitu mbah Gimah. katanya dia ditemui oleh seorang perempuan yang konon kabarnya bisa membuat sesuatu seperti jimat, dan jimatnya ini memiliki keunggulan yang pasti akan mendatangkan rejeki untuk anaknya
Singkatnya, mbah Gimah pun mau dan menuruti kata wanita itu yang selalu muncul di dalam mimpi beliau, dan mulai sejak saat itu mbah Gimah mulai bersikap aneh, beliau menjadi lebih suka menyendiri di dalam kamarnya, dan tidak pernah mau keluar lagi meskipun sudah dipaksa nyai Siti
kamar itu sendiri adalah kamar yang sama dengan kamar yang saat ini dipakai oleh ibu Nuri sekarang.
Di kamar itu, mbah Gimah menghabiskan sebagian besar waktunya mengurung diri di dalam sana, mulai dari makan, minum, dan lain-lain, bahkan pernah tiga hari mbah Gimah tidak mau keluar dari dalam kamar tersebut termasuk buang air kecil dan besar di dalam kamar itu.
Keluarga pun akhirnya mulai tidak tahan dengan sikap mbah Gimah, nyai Siti dan suaminya mulai meruwat mbah Gimah sampai membawanya ke habib-habib untuk disembuhkan, tapi kemudian bukannya sembuh mbah Gimah semakin menjadi-jadi, beliau makin terlihat tidak waras.
ia mulai sering menjambaki rambutnya sampai menarik paksa gigi-giginya hingga mengalirkan darah dari dalam mulutnya, anehnya, dia melakukan semua itu diikuti suara tertawa terbahak-bahak seperti orang yg sudah sinting, bahkan pernah suatu malam, mbah Gimah mengetuk pintu kamar-
nyai Siti lalu melotot kearahnya, wanita itu kemudian berbisik kalau rumah tangga nyai Siti akan hancur sebentar lagi dan hal itu dilakukan karena ada yang tidak suka dengan keluarga mereka, saat nyai Siti bertanya siapa yang tidak suka dengan rumah tangganya?
mbah Gimah kemudian menyeringai dan menunjuk dirinya sendiri sambil berjalan kembali ke kamarnya sembari tertawa histeris. nyai Siti pun ketakutan dengan sikap ganjil ibunya ini.
Benar saja, hubungan suami isteri nyai Siti dan suaminya semakin bertambah runyam, singkatnya, suaminya akhirnya menggugat cerai dan membawa kabur semua anak-anaknya, nyai Siti mulai kebingungan, ia pun mulai menjadi gila perlahan-lahan, karena tanpa suami dan anak-anaknya-
apa yang bisa dia lakukan untuk tetap bertahan hidup, saat itu lah, mbah Gimah kemudian datang.

beliau kemudian menunjukkan selembar kertas berisi Rajah, mbah Gimah kemudian berkata kepada nyai Siti untuk memberikan kertas ini ke penjual yang ada diperempatan jalan,
nyai Siti yang waktu itu masih belum tahu apa guna benda itu menuruti kata-kata ibunya ini, dan semenjak saat itu, banyak orang-orang baru yang minta dibuatkan Rajah, ada yang minta agar dagangannya laris, untuk merebut suami orang, untuk kekayaan atau menyingkirkan pesaing,
setiap Rajah memiliki guna yang berbeda-beda, hanya pembuatnya yang tahu guna Rajah tersebut, dan begitulah awal dari uang-uang dan harta bu Siti yang mulai menumpuk, bahkan orang-orang baru yang datang kepadanya semakin banyak itu pun sebagian diisi oleh para pejabat.
Tapi, siapa yang menduga kalau bagai api dalam sekam hal yang dilakukan mbah Gimah mendatangkan sesuatu yang buruk dimulai dengan kesehatan mbah Gimah yang semakin melemah, beliau juga mulai sering meracau sendirian, kadang ia memuntahkan darah diatas kasur dan bekas darahnya-
-tidak boleh dibersihkan oleh siapa pun, lalu, rontokan rambutnya juga tidak boleh diambil, aroma kamar itu pun semakin mengerikan, bahkan ketika nyai siti melewati depan pintu kamarnya saja membuat begidik ngeri.
Pada suatu hari, keadaan rumah kontrakan ini semakin menakutkan, setiap malam nyai Siti mulai mendengar suara orang-orang meminta tolong, ada pula yang mengetok-ngetok pintunya secara serampangan, bahkan pernah sesekali nyai Siti melihat puluhan orang berdesak-desakan-
-meminta masuk ke kamar mbah Gimah, dan nyai Siti melihat itu dari lubang pintu kamarnya yang sekarang menjadi kamar Septi.

Akhir dari hidup mbah Gimah pun berakhir tepat di malam jumat kliwon.
waktu itu, mbah Gimah menangis meminta agar seluruh uang yang didapatkan dari praktek ini dibakar, atau dibuang ke sungai, tapi, nyai Siti tidak tau harus menjawab apa karena sebagian uang-uang itu sudah masuk kedalam perutnya, maka, mbah gimah memuntai gelas berisi air-
dan menyuruh nyai Siti menelannya bulat-bulat dan kemudian tetap membuang semua uang-uang itu, setelahnya baru lah mbah Gimah bisa meninggal itu pun dengan cara yang sangat keji, kulitnya menghitam seperti orang yang dibakar.
Selepas itu, nyai Siti memutuskan untuk keluar dari rumah ini secepatnya, peduli setan dengan barang-barang yang ditinggali sebelumnya.
itulah cerita bagaimana mbah Gimah bisa sampai dititik paling hitam dalam hidupnya, hal itu bukan karena ibu nyai Siti merapak ilmu hitam melainkan makhluk lain yang begitu jahat dan keji sudah tinggal di kamar tersebut sebelumnya, sosok itulah yang membuat nyai Siti datang lagi.
Setelah menceritakan hal itu, nyai Siti melihat kearah Septi, ia meminta tolong agar diijinkan untuk melihat kondisi bu Nuri sekaligus ia ingin sambang, Septi pun akhirnya setuju karena merasa kasihan dengan beliau, sewaktu pintu kamar itu dibuka, kedua adiknya berhamburan masuk
-dan memeluk tubuh bu Nuri yang sedang tertidur diatas ranjang, tapi, cepat-cepat nyai Siti menarik kedua tangan adik-adik Septi dan meminta agar Septi memegangi mereka berdua.

bu Nuri pun membuka mata dan melotot melihat nyai Siti yang datang.
“tibakne bener, kowe pancet ae ngene iki mbah” (ternyata bener!! Kau masih saja seperti ini nek) kata nyai Siti melihat bu Nuri yang kemudian bangun dan duduk lalu menyeringai kearah nyai Siti yang sedang berdiri.
“oh kowe nduk, opo kowe kangen karo aku?” (oh kamu nak, apa kamu kangen dengan saya?)

nyai Siti membuang muka, kemudian beliau berkata, “aku merene kanggo pamit karo kowe mergo aku wes eroh nang ndi kuburanmu mbah, dadi mbalikko nang dunyo laknatmu!!”
(aku kesini untuk pamit dengan kamu karena akau sudah tahu dimana kuburanmu berada nek, jadi, kembalilah ke dunia mu yang laknat itu!!)

nyai Siti lalu menarik Septi dan kedua adiknya untuk keluar dari kamar, sementara bu Nuri tertawa terbahak-bahak dari dalam kamar.
Singkatnya, nyai Siti menemani Septi sampai Jid dan Pras datang, begitu juga dengan bu Salikun yang kemudian memberitahu kalau sewaktu orang tuanya masih menjadi pemilik kontrakan ini, ada satu orang yang ditemukan meninggal karena gantung diri, Jid pun langsung tau,
“wong iki, nang ndi omahe” (orang ini, dimana rumahnya) katanya dengan ekspresi wajah yang cukup serius.
nyai Siti yang mendengar itu kemudian langsung menyela mereka, “kulo ngartos ten pundi griya ne tiang nik, bahkan kulo ngartos ten pundi tiang niki dikubur Jid” (saya tau dimana orang ini tinggal, bahkan saya tau dimana dia dikuburkan Jid)
Jid pun nampak terkesan, entah kesulitan seperti apa yang sudah dilewati oleh nyai Siti ini, tapi, sebentar lagi, bu Nuri bisa saja ditolong kalau menemukan kuburan beliau ini, maka, Jid kemudian mengatakan satu hal terakhir kepada bu Salikun,
“ikut sama mereka nduk, lalu, pada ahli warisnya, minta maaf lah, pengganti dari apa yang sudah dilakukan oleh orang tuamu dulu, rasa sakit hati ini harus dilunasi, biar rumahmu ini bisa ditinggali dengan layak lagi”
Bu Salikun tidak mengerti, maka, Jid membawa dirinya menjauh dari orang-orang termasuk Septi, di sana Jid nampaknya memberitahukan semua alasan dan kenapa semua ini bisa terjadi, termasuk hubungan antara kuburan yang akan mereka datangi ini dengan keluarga bu Salikun.
Selama diperjalanan, bu Salikun hanya diam saja dan melihat keluar jendela terus menerus, Septi sebenarnya ingin bertanya apa yang Jid katakan kepada beliau namun Septi kemudian mengurungkan niatnya saat melihat Pras menggeleng-geleng kepadanya. seolah mengatakan jangan kepadanya
Di sana, disebuah rumah yang terbuat dari gubuk, Septi dan yang lain datang mengetuk pintu, tak lama kemudian keluar seorang wanita tua yang mungkin berusia 60’an, bu Salikun kemudian menanyakan apakah si mbah memiliki hubungan dengan nama almarhumah,
wanita tua itu mengangguk dan berkata kalau nama yang disebut oleh bu Salikun adalah ibunya sendiri, namun, wajah wanita tua itu sempat menunduk karena tahu kalau ibunya meninggal dengan cara yang tidak baik.
Bu Salikun lalu meminta maaf kepada beliau atas segala perbuatan yang pernah dilakukan oleh keluarganya, bu Salikun tahu semua ini karena Jid sudah memberitahunya, tidak hanya itu saja bu Salikun meminta berbicara empat mata dengan beliau karena ada sesuatu yang harus diluruskan.
Selang beberapa saat kemudian, bu Salikun mengatakan kalau ahli warisnya bersedia untuk membongkar makam almarhumah, maka, dibantu warga sekitar kuburan itu digali dan benar saja, didalamnya ditemukan kain kemunir hitam yang mana dibaliknya terdapat sobekan kertas berwarna kuning
– tua dengan coretan-coretan seperti Rajah yang dibungkus dengan rambut dan noda merah hitam seperti darah yang sudah lama mengering.

ahli waris pun menjelaskan kalau sebelum ibunya ditemukan oleh warga karena gantung diri ada surat wasiat yang meminta almarhumah agar dikubur-
-dengan kantong kemunir berwarna hitam ini, pihak keluarga tidak tahu kalau ada efek pada benda yang mereka kira bagian penting dari kehidupan almarhumah semasa hidup.
keluarga pun menyanggupi surat wasian tersebut tanpa mengetahui kalau benda ini rupanya adalah media untuk mengikat ilmu hitam yang selama ini ibunya memang pelajari.
Beliau pun juga memberitahu kalau ibunya dulu memang bukan orang yang baik semasa masih hidup karena gemar mempelajari ilmu-ilmu hitam yang diajarkan oleh gurunya, hanya saja, beliau tidak bisa memberitahu siapa gurunya kepada bu Salikun karena merupakan perkara yang lain.
Sesuai intruksi Jid, kemunir itu kemudian dibawa pulang setelah urusan dengan ahli warisnya selesai, bu Salikun juga terus menerus meminta maaf, dan beliau juga sudah dimaafkan oleh keluarga besarnya.
Jid yang sejak tadi berada di rumah pun akhirnya mengambil kemunir itu, dia bilang akan segera memusnahkannya hanya saja menghancurkan Rajah memang tidak mudah, tapi dengan benda ini ditangannya, hanya masalah waktu sampai bu Nuri akan segera kembali normal.
Dan benar saja, semenjak peristiwa itu, bu Nuri mulai bisa memanggil Septi dan kedua adiknya kembali, beliau juga sudah mulai bisa berjalan seperti orang normal, tapi, setiap malam, dia masih sering melihat wanita tua itu bergelantungan diatas langit-langit.
sebelum bu Nuri sadar seperti ini, ia sempat dibawa ke sebuah kuburan dengan menyaksikan tubuh wanita yang gantung diri itu dilahap oleh sekumpulan orang-orang yang tubuh dan wajahnya hancur dengan berdarah-darah disekujur tubuhnya. bu Nuri menyaksikan itu setiap hari.
untungnya semua peristiwa mengerikan itu sudah berhasil dilalui septi dan keluarganya. kini, semenjak kejadian itu, kamar itu akhirnya dikosongkan, mereka memilih untuk tidur di dalam kamar Septi yang memang ukurannya cukup luas sampai tenggat waktu sewa kontraknya habis.
Setelah tenggat sewa kontraknya habis, Septi pun berpamitan kepada bu Salikun.

Bu Salikun sendiri memohon maaf atas apa yang terjadi dengan keluarganya, beliau juga meminta Septi untuk tidak menceritakan perihal masalah yang sudah terjadi, soal apa yang ada di dalam kamar itu,
bu Salikun juga sudah diberitahu oleh Jid kalau makhluk yang ada di sana tidak akan sampai mencelakai lagi mungkin hanya sekedar menampakkan diri sesekali tapi keseluruhan rumah kontrakan milik bu Salikun sudah terlihat seperti rumah biasa pada umumnya.
Septi pun berjanji kepada bu Salikun, karena bagaimana pun juga, wanita itu sudah sangat membantu keluarganya selama melewati masa-masa sulit itu.
Sejak saat itu, Septi tidak pernah lagi tahu menahu tentang keadaan rumah kontrakan ini, karena Septi sudah memiliki tempat tinggal yang baru, yang jauh dengan hal-hal seperti itu.
selesai sudah cerita dari Rajah Sinun, seperti yang selalu saya katakan, dimanapun kita berada kita tidak pernah benar-benar sendirian tapi itu bukan alasan kita harus takut dengan mereka, sekali lagi, manusia derajatnya lebih tinggi dari bangsa seperti mereka.
saya simpleman, malam ini mengucapkan terimakasih sudah mau membaca sekelumit cerita ini, sampai bertemu lagi di cerita lain yang belum sempat saya selesaikan. mohon maaf kalau ada kata-kata yang tidak mengenakkan, ambil baiknya buang buruknya. maturnuwun.