Cerita Horor Kerudung Pemberian Sih Kakek

Cerita Horor Hari Ini – Cerita ini berasal dari seorang pasangan. Mereka adalah Nafi dan Mia.

Waktu itu sekitar tahun 2010, mereka berdua sedang mendaki ke gunung Semeru.

Nafi dan Mia sudah lama saling mengenal dan kebetulan hobi mereka sama yaitu hiking.

Hari itu sebuah komunitas pecinta alam dari kota Malang sedang mengadakan trip ke gunung semeru, mendengar kabar itu Nafi menawari Mia untuk ikut serta dalam acara tersebut dan Mia pun setuju dengan ajakan Nafi.

Malam harinya sebelum hari pemberangkatan semua peserta trip berkumpul di sebuah tongkrongan untuk membahas pendakian yang akan di lakukan besok. Setelah lama berdiskusi akhirnya deal mereka akan mendaki dengan 10 orang termasuk Nafi dan Mia.

Singkat cerita..
Ke’esokan harinya mereka berangkat dari kota Malang menuju ke pasar tumpang dengan berkendara motor. 10 orang itu adalah Burhan, Yoga, Rudi, Jimmy, Tanti, Wildan, Bonjol, Toni, Nafi dan Mia.

Sesampai di pasar Tumpang mereka belanja logistik yang diperlukan dan beberapa diantaranya ada yang sedang makan di sebuah warung.

Setelah logistik sudah tercukupi mereka melanjutkan perjalanan menuju ke desa terakhir yaitu desa Ranupani, sesampai disitu mereka istirahat dan sebagian diantaranya pergi ke posko untuk meminta ijin pendakian.

Sambil menunggu Burhan dan Yoga yang sedang meminta ijin mereka membagi logistik yang dibelinya tadi secara merata. Tidak lama kemudian terlihat Burhan dan Yoga kembali dan katanya sore ini mereka bisa langsung mendaki.

Di tahun 2010 itu pendakian masih dibilang sepi, hanya orang-orang tertentu saja yang yang mendaki bahkan untuk mengurus ijin pun tidak serumit sekarang.

(kalau sekarang nih ya kalian kalau mau ke semeru harus booking online dulu beberapa hari sebelum pendakian. Kenapa bisa begitu? Karena untuk mematasi kuota pendakian. Pendaki semeru sekarang banyak banget, kalau dibiarin semua bisa2 ribuan orang yang mendaki tiap harinya)

Oke kita kembali ke cerita.
Sore itu setelah selesai packing ulang peralatan dan logistik mereka langsung memulai pendakian dengan melewati jalur ayek-ayek. Kalau sekarang jalur ayek-ayek udah ditutup dan gak boleh di lewati karena jalurnya terlalu ekstrim.

Klik Prediksi Bola Online Jitu

Di awal-awal perjalanan mereka sangat have fun dan tidak ada kendala apapun.
Waktu itu Nafi dan Mia berjalan di barisan paling belakang hingga tidak terasa mereka tertinggal lumayan jauh dari rombongannya.

Nah ketika sedang berjalan itu tepatnya setelah mereka sudah menempuh seperempat perjalanan. Nafi yang berada di belakangnya Mia melihat ada seorang kakek-kakek sedang berjalan lumayan jauh dibelakangnya, kakek itu terlihat membawa sebuah kayu yang dipikul dengan bungkusan sarung yang tergantung di ujung kayu tersebut.

Nafi mengira itu adalah warga setempat yang mempunyai tujuan lain, dia mengabaikan keberada’an kakek itu dan fokus ke jalan yang dia lalui. Sekitar 5 menit kemudian Nafi menoleh lagi kebelakang untuk melihat kakek-kakek yang tadi dilihatnya dan kakek itu masih berjalan searah dengan Nafi dan tanpa disadari ternyata Mia juga melihat kakek itu, lalu Mia bilang pada Nafi,

“Yank itu siapa?”
“Gak tau, dari tadi dia udah jalan dibelakang”, jawab Nafi.

Merekapun mengabaikan kakek tersebut dan lanjut berjalan menelusuri jalur.

Beberapa menit kemudian sampailah mereka di sebuah tanjakan menuju ke atas gunung Ayek-ayek, dengan susah payah mereka melewati jalur ini hingga beberapa kali matanya Mia kelilipan debu, setelah sampai di atas gunung ayek-ayek mereka bergabung dengan rombongannya yang ternyata mereka sedang istirahat disitu sambil membuat kopi.

Merekapun istirahat dulu sambil menikmati kopi buatan Burhan, ya walaupun kopinya burhan terlalu pahit untuk ukuran Nafi.

Ketika istirahat itu sesekali Nafi menoleh ke arah belakang untuk mencari kakek yang tadi berjalan di belakangnya tapi sudah tidak kelihatan. Nafi berfikir,
“Ya mungkin tujuan kakek tadi gak kesini”

Setelah puas beristirahat dan mengingat hari juga akan gelap, mereka lanjut berjalan lagi.

Lanjut berjalan…
Di perjalanan kali ini Nafi dan Mia berada di barisan paling belakang lagi, setelah berjalan kurang lebih 20 menit Nafi dan Mia berhenti karena Mia merasa ingin pipis tanpa memberitahu yang lain.

Lalu Nafi meminta Mia agar melipir ke kiri jalur untuk pipis, setelah selesai mereka lanjut berjalan lagi dan posisi mereka berdua sudah tertinggal kurang lebih 100 meter dari teman-temannya.

Sebelum mereka lanjut berjalan tiba-tiba mereka didatangi kakek yang berjalan dibelakang mereka tadi, kakek itu tiba-tiba datang dari arah belakang dan menyapa mereka,

“Kalian ngapain? Mana rombongan kalian?”
Spontan mereka berdua kaget dengan kakek itu yang datang secara tiba-tiba, lalu Nafi menjawab,

“Eh kek, ini teman saya habis pipis, rombongannya udah jalan di depan”

Lalu kakek itu minta air putih dengan alasan dia lupa membawa air.
Nafi pun memberikan air yang dibawanya, setelah meminumnya kakek itu menawarkan dirinya untuk berjalan bareng dengan alasan dia juga mau ke Ranukumbolo. Dengan senang hati Nafi menerimanya dan mereka lanjut berjalan lagi.

Di perjalanan mereka mengobrol dengan kakek itu hingga lama kelamaan mereka jadi akrab,

“Kakek asli sini ya?”, tanya Nafi memulai obrolan.
“Iya kakek tinggal disini”, jawab si kakek.
“Ke Ranu kumbolo ada urusan apa kek?”, tanya Nafi.
“Ada yang perlu saya datangi”, jawab si kakek.

Setelah 20 menit berjalan terlihat kakek itu ngos-ngosan dan keringatnya bercucuran mungkin dia kecapekan. Karena kasihan melihatnya Nafi mengajak kakek itu untuk istirahat.

Ketika istirahat Mia menawari kakek itu makanan ringan yang dibawanya tapi kakek itu menloak dengan alasan dia tidak lapar, dia hanya duduk jongkok sambil membakar tembakau yang digelinting menjadi rokok kemudian dihisapnya.

Dalam keada’an kecapekan kakek itu masih sempat menghisap rokok tembakau yang dibawanya, sambil merokok kakek itu membuka bungkusan sarung yang dipikulnya dan mengambil sebuah kain kemudian diberikannya kepada Mia,

“Nduk, ini buat kamu.. pakailah”
Melihat pemberian dari kakek itu Mia bertanya,

“Ini apa kek?”, tanya Mia.
“Ini adalah kerudung”, jawab si kakek sambil terus menghisap rokok.
“Kenapa diberikan kepada saya kek?”, tanya Mia penasaran.
“Sepertinya kamu pantas memakai kerudung ini”, jawab si kakek dengan sedikit senyum.

Memang pada pendakian waktu itu Mia sengaja tidak memakai kerudung tapi kalau tidak sedang naik gunung dia selalu berkerudung kalau keluar rumah.

Awalnya Mia sungkan untuk menerima pemberian dari kakek itu tapi Nafi memberi kode agar terima saja kerudung itu untuk menghargai.

Kerudung yang berwarna putih dan lusuh itu kemudian dipakai oleh Mia dengan hanya di tempelkan di kepalanya doang untuk menghargai kakek itu dan tidak lupa Mia mengucapkan terima kasih atas pemberian ini.
Setelah cukup istirahat dan melihat rokok yang dihisap kakek itu sudah habis mereka lanjut berjalan lagi dengan posisi Mia di depan disusul oleh Nafi dan kakek itu di belakang.

30 menit berjalan akhirnya mereka sampai di ujung danau Ranu kumbolo, sesampai disitu terlihat teman-temannya sudah menunggu mereka.
Nah setelah bertemu dengan teman-temannya kakek yang tadi berjalan bersama Nafi dan Mia itu tiba-tiba tidak ada, lalu Mia bilang pada Nafi,

“Yank, kakek tadi kemana?”
“Loh iya aku juga gak tau”, jawab Nafi yang juga tidak tau.
Mendengar pembicaraan Nafi dan Mia Burhan bertanya,

“Kalian ngomongin apa?”,
“Tadi kita jalan sama kakek2, dia orang sini katanya”, jawab Nafi menjelaskan.
“Oh ya? Mana kakeknya?”, tanya Burhan.
“Nah itu dia tadi dia jalan dibelakang kita eh sekarang tiba2 gak ada”, jawab Nafi kebingungan.
“Apa jangan2 dia bukan manusia Fi’?, sahut Wildan.
“Enggak lah, orang tadi dia ngobrol banyak kok sama kita”

Kemudian Burhan mengajak mereka untuk berjalan menuju ke ujung danau untuk bermalam disitu, sambil berjalan itu Nafi memikirkan perkata’an Wildan barusan,
“Apa jangan2 kakek tadi beneran bukan manusia?”.

Tapi sudahlah, Nafi tidak mau berfikir sampai sejauh itu, dia mengira mungkin kakek itu ada tujuan lain atau mungkin kakek itu berhenti untuk istirahat dan dia tidak melihatnya.

Singkat cerita sampailah mereka di ujung danau Ranukumbolo, sesampai disitu mereka mendirikan 3 tenda yang berkapasitas 4 orang.
Tenda 1 diisi oleh Burhan, Wildan, Jimmy dan Rudi
Tenda 2 diisi oleh Nafi, Yoga, bonjol dan Toni
Tenda 3 diisi oleh Mia dan Tanti

Malam itu mereka saling bercanda di tengah dinginnya Ranu kumbolo, ada yang main kartu, ada yang nyanyi-nyanyi gak jelas dan ada juga yang langsung tidur di dalam tenda.

Setelah puas dengan semua itu mereka semua istirahat ke dalam tendanya masing-masing, sebelum tidur di dalam tenda Mia meletakan kerudung pemberian kakek itu di sebelahnya, melihat Mia yang memakai kerudung Tanti bertanya,

“Mbak Mia, perasaan tadi berangkat gak pake kedudung mbak?”
“Iya tadi dikasih kakek yang ketemu di jalan”, jawab Mia sambil merebahkan badannya.
“Ooh yang katanya jalan bareng sama mas Nafi tadi ya?”, tanya Tanti lagi.
“Iya”, jawab Mia.

Pagi pun tiba..
Sekitar jam setengah 6 pagi mereka semua bangun untuk menikmati sunrise di Ranukumbolo dan pagi itu tiba-tiba ada kejadian aneh yang dialami oleh Mia setelah dia dibangunkan oleh Tanti, dimana waktu itu kerudung yang semalam di letakan Mia disebelahnya itu tiba-tiba terpakai dengan sendirinya.
(Jadi kerudung itu tiba-tiba terpasang di kepalanya Mia)

Melihat itu Mia heran karena seingat Mia semalam kerudung ini sudah dilepas dan diletakan di sampingnya tapi kenapa tiba-tiba sekarang terpakai dengan sendirinya.
Karena antara ingat dan tidak Mia bertanya pada Tanti,

“Tan, semalam kamu inget gak kerudung ini aku taruh dimana?”
“Lah itu udah mbak Mia pakek”
“Bukan gitu, masalahnya aku gak merasa makek ini kerudung”
“Lah mbak Mia ini gimana sih, semalam mbak taruh disitu, mbak lupa mungkin semalem makeknya”

Mia pun mencoba mengingat-ingat kapan dia memakai kerudung ini tapi tetap saja dia tidak ingat, yang dia ingat cuma terakhir kali dia meletakan kerudung ini di sebelahnya. Akhirnya yaudahlah Mia tidak begitu mempersalahkan soal ini, dia melepas kembali kerudung itu dan diletakan di samping cariernya kemudian dia keluar tenda.

Sesampainya di depan tenda terlihat ada 2 tenda yang ngecamp di sebelah tenda mereka. Ternyata semalam ada pendaki lain yang baru sampai disini ketika mereka sudah terlelap tidur.

Pagi itu mereka berfoto-foto meggunakan hp jadulnya, hp terbaik di masanya.
Setelah puas mereka kembali bersantai di tenda dan sebagian dari mereka ada yang memasak makanan untuk sarapan. Tidak lama kemudian penghuni tenda sebelah yang berjumlah 2 orang keluar dari tendanya dan menyapa. Mereka adalah pendaki dari Pasuruan.

Ketika sedang bersantai itu Mia mengatakan kejadian tentang kerudung itu kepada Nafi tapi Nafi malah menertawainya dan bilang,

“Kamu ini belum tua udah pikun”.

Singkat cerita, sekitar pukul 11 siang mereka berkemas dan akan melanjutkan perjalanan ke puncak Mahameru, ketika sedang berkemas Mia menaruh kerudung itu didalam cariernya dan tidak dipakai, setelah selesai berkemas mereka berdoa dan tidak lupa berpamitan dengan 2 pendaki asal pasuruan tadi yang hanya ngecamp di Ranu kumbolo doang.

Mulai berjalan lagi…
Setelah melewati tanjakan yang biasa disebut tanjakan cinta mereka sampai di area padang rumput yang luas yaitu Oro-oro ombo, melihat hamparan rumput yang luas itu Mia sangat senang karena disisi lain ini adalah pendakian pertamanya Mia ke gunung Semeru.

Karena saking senangnya dia tidak memperhatikan kondisi fisiknya hingga akhirnya kakinya terkilir, melihat Mia yang kakinya terkilir Nafi memberinya pertolongan dengan memijitnya, setelah dirasa sudah mendingan mereka lanjut jalan lagi.

Kali ini jalan mereka pelan-pelan untuk mengimbangi Mia, sekitar 1 jam kemudian sampailah mereka di area Cemoro kandang.

Nah ketika mereka berjalan di Cemoro kandang itu jauh dibelakang Nafi melihat ada kakek yang mereka temui kemarin dengan pakaian yang sama dan barang bawaan yang sama, kakek itu terlihat sedang berjalan tertatih-tatih sambil memikul bungkusan sarung, melihat itu Nafi bilang sama Yoga yang berjalan didepannya,

“Ituloh Yog kakek yang aku maksud kemarin”

Ucap Nafi sambil menunjuk kearah kakek yang dilihatnya tadi, tapi kakek itu tiba-tiba sudah tidak terlihat lagi. Lalu Yoga menjawab,

“Mana Fi’ gak ada siapa2 gitu”
“Loh tadi disana kok dia lagi jalan, tanya Mia kalo gak percaya”, jawab Nafi bingung.
“Yaudahlah biarin ayo jalan lagi”

Yoga pun lanjut berjalan, Nafi dan Mia hanya saling menatap heran.
Akhirnya mereka pun lanjut jalan lagi sambil sesekali Mia menoleh kearah belakang untuk melihat keberadaan kakek tadi.

Singkat cerita sampailah mereka di Kalimati, disitu mereka semua istirahat tapi tidak mendirikan tenda karena kata Burhan ngecampnya nanti aja di Arcopodo.

Di Kalimati mereka hanya menggelar matras sambil memasak makanan dan menunggu sore hari untuk lanjut jalan ke Arcopodo. Selama berada di Kalimati itu Mia sering banget dihantui sosok kakek tersebut, tetapi di situ hanya Mia yang melihatnya sementara yang lain tidak ada yang melihat kakek itu.

Sore pun tiba sore itu Burhan mengajak mereka untuk lanjut berjalan.

Lanjut berjalan… ketika berjalan menuju ke Arcopodo itu dari kejauhan samar-samar Mia melihat sosok kakek itu yang sedang duduk di bawah pohon dan kakek itu seperti memberi kode kepada Mia seperti menyuruhnya untuk memakai kerudung yang di berinya, tapi Mia tidak paham apa yang di maksud dengan kakek itu lalu Mia bilang sama Nafi,

“Yank itu kaya kakek yang kemarin”, ucap Mia sambil menunjuk ke arah kakek yang di lihatnya.
Spontan Nafi langsung menoleh ke arah yang di tunjukan oleh Mia tapi di situ Nafi tidak melihat Kakek itu, lalu Nafi menjawab ,

“Dimana? Gak ada kok”

Ketika mereka sedang sibuk membicarakan kakek itu tiba-tiba dari atas Burhan memanggil mereka agar tidak jauh jauh dari teman-temannya. Setelah sekitar 2 jam berjalan sampailah mereka di Arcopodo, sesampai disana sekitar jam 7 malam, sebagian dari mereka mendirikan tenda dan sebagian lagi ada yang membuat kopi.

Setelah semua sudah selesai makan mereka melanjutkan duduk di depan tenda sambil menikmati kopi.
Ketika kopi yang di minumnya sudah habis Burhan mengajak teman-temannya untuk masuk kedalam tenda dan beristirahat karena mereka akan sumit jam 11 malam, mendengar perkataan Burhan mereka masuk tetapi Mia dan Nafi masih ingin duduk di luar tenda, tapi disitu Nafi dan Mia tidak hanya berdua tetapi mereka juga di temani dengan Jimmy dan Rudi.

Malam semakin larut…
Sekitar jam 11 kurang Jimmy membangunkan teman-temannya agar bersiap-siap untuk sumit, setelah semuanya sudah bangun mereka mempersiapkan perbekalan yang akan dibawa ke puncak dan tepat jam setengah 12 malam mereka mulai summit.
Sebelum berjalan Nafi sempat menanyakan kondisi kaki Mia yang tadi sempet terkilir dan Mia menjawab kalau dia baik-baik saja.

Mulai berjalan…
Perjalanan ke puncak Mahameru tidak semudah yang dibayangkan, butuh mental dan fisik yang kuat agar bisa menggapai puncak Mahameru.
Selangkah demi selangkah akhirnya sampailah mereka di puncak sekitar pukul setengah 6 pagi.
Sesampai diatas puncak mereka semua melakukan sujud sukur atas keberhasilan mereka karena sudah sampai di atas puncak. Disitu tidak lupa mereka juga mendoakan Alm. Soe Hok Gie dan Idhan Lubis yang telah pergi terlebih dahulu mendahului kita di punca Mahameru.
Setelah puas di puncak dan melihat jam sudah menunjukan pukul 7 pagi Burhan mengajak teman-temannya turun.

Berjalan turun… sampailah mereka di tempat Arcopodo, sesampai disana mereka bersitirahat sebentar untuk melepas lelah, setelah itu mereka semua membereskan barang-barang dan lanjut turun ke Kalimati.
Nafi dan Mia tetap berada di barisan paling belakang ketika berjalan turun itu Nafi sempat bertanya kepada Mia,

“Yank dimana kerdung yang di beri kakek kemarin, kook gak kamu pakek”
“Ada kok ini di dalam tas, kurang nyaman aja make kerudung”.

Singkat cerita sampailah mereka di Kalimati, sesampai disitu mereka istirahat dan membuat sarapan setelah selesai mereka kembali turun ke Ranu kumbolo.

Nah disinilah kejadian mistis ini dimulai…

Berjalan menuju Ranu kumbolo…
Sesampainya di area Jambangan tiba-tiba Mia mengajak Nafi untuk berhenti karena dia merasa mual dan pusing. Mereka berdua pun berhenti lalu Nafi mengambil obat yang ada di dalam tasnya dan ketika berhenti itu mereka tidak bilang sama yang lain karena Nafi menganggap Mia hanya pusing biasa.

Setelah meminum obat dari Nafi tiba-tiba suasana jadi redup dan lama kelamaan kabut tipis datang, melihat suasanay yang tiba-tiba seperti itu Nafi segera mengajak Mia untuk lanjut jalan menyusul teman-temannya.

Sambil berjalan Nafi menggandeng pundaknya Mia. Nah ketika berjalan menyusul teman-temannya itu tiba-tiba mereka menjumpai sebuah gapura, melihat itu mereka sedikit heran, lalu Mia bilang sama Nafi,

“Yank, perasaan semalam gak ada gapura ini deh pas kita naik?”
“Sama, aku juga ngerasa gitu, tapi yaudahlah mungkin semalam kita gak lihat”, jawab Nafi yang juga bingung.

Mia menganggapnya begitu karena terlihat teman-temannya di depan dengan santainya jalan melewati gapura itu.

Merekapun terus berjalan mengikuti teman-temannya melewati gapura tersebut, setelah beberapa meter melewati gapura itu terlihat ada beberapa orang yang sedang berkerumun duduk di tanah.

Awalnya mereka mengira itu adalah kumpulan pendaki yang sedang istirahat tapi kok wajah dari orang-orang itu terlihat pucat semua dan anehnya mereka tidak ada yang bergerak sama sekali hanya diam seperti patung.

Aneh kan? Kalaupun mereka adalah manusia harusnya ada komunikasi antara orang satu dengan orang yang lain yang sedang berkerumun itu.

Mulai dari sini Nafi merasa ada yang aneh kemudian dia berteriak memanggil Burhan yang berjalan di depan,

“Mas Burhan… tungguin kita…..”

Tapi tidak ada jawaban sama sekali dari Burhan dia hanya terus berjalan seakan Burhan tidak mendengar teriakan dari Nafi.

Nafi meminta Mia agar sedikit mempercepat jalannya untuk menyusul teman-temannya tapi semakin mereka mempercepat jalannya semakin cepat juga teman-temannya berjalan.
Setelah beberapa meter berjalan Mia merasa kelelahan dia bilanng sama Nafi,

“Yank kita berhenti sebentar ya kepalaku berat banget”
“Tahan dulu yank kita susul mereka dulu baru istirahat”, jawab Nafi.

Sambil memaksakan diri Mia menahan rasa sakit di kepalanya dan terus berjalan sambil di gandeng pundaknya oleh Nafi. Beberapa meter berjalan tiba-tiba…

“BRUUKKK…”. Mia pingsan.

Melihat Mia pingsan Nafi sangat panik dia kembali berteriak memanggil teman-temannya agar menunggunya tapi tetap saja teman-temannya tidak menghiraukan teriakan dari Nafi. Disitu Nafi serba salah antara lari menyusul teman-temannya untuk meminta bantuan atau menolong Mia yang sedang pingsan, akhirnya dia memutuskan untuk menolong Mia dan membiarkan teman-temannya terus berjalan.

Disitu Nafi sangat bingung apa yang harus dia perbuat, beberapa kali Nafi mencoba membangunkan Mia tapi tetap saja Mia tidak mau bangun hingga akhirnya dia cuma bisa pasrah dengan keadaan dan hanya duduk di sebelah Mia sambil menunggu Mia sadar.

Tidak lama kemudian disaat Nafi tidak tau apa yang harus dia perbuat, datanglah sosok kakek pemberi kerudung dari belakang. Kakek itu bilang sama Nafi,

“Kenapa Le?”
(Le adalah panggilan orang tua dalam bahasa jawa untuk anak laki-laki)
Kemudian Nafi menjawab,

“Eh kek, untung aja ada kakek, ini teman saya pingsan kek”
“Dimana teman-temanmu?”, tanya si kakek lagi.
“Mereka udah duluan di depan kek”, jawab Nafi.

Lalu kakek itu meminta Nafi agar membopong Mia dan mengajaknya ke suatu tempat. Anehnya pas di gendong itu tubuhnya Mia terasa sangat ringan bahkan Nafi tidak berasa keberatan sama sekali.

Sambil membopong Mia dia berjalan mengikuti kakek tersebut hingga sampailah mereka di sebuah rumah kayu beratap jerami. Melihat rumah kayu itu Nafi heran, “kok bisa ada rumah di tengah hutan seperti ini?”, tapi bodo amat yang penting Mia bisa mendapat pertolongan.

Sesampai disitu kakek meminta Nafi untun menidurkan Mia di teras rumah kemudian si kakek masuk kedalam. Beberapa menit kemudian si kakek keluar bersama seorang nenek-nenek, sepertinya itu adalah istrinya. Nenek itu keluar rumah sambil terburu-buru dengan membawa ember kecil yang berisi air dan sebuah handuk kecil yang terendam di ember tersebut lalu nenek itu mengompres Mia dengan handuk tersebut.
Sambil mengompres Mia nenek menangis sambil berkata,

“Ini cucuku, kenapa jadi seperti ini?”
Mendengar perkata’an si nenek Nafi menjawab,

“Tadi pingsan nek pas kita perjalanan turun”.

Nenek itu masih menangis sambil mengelus-elus rambutnya Mia.

Beberapa menit kemudian Mia sadar dan terlihat bingung karena dia tidak tau dimana dia sekarang berada, dia bertanya sama Nafi,

“Yank, kita dimana?”
“Kita masih di semeru, tadi kamu pingsan tapi untuk ada kakek yang nolongin kamu”, jawab Nafi menjelaskan.

Lalu Mia menloleh kearah kakek dan nenek yang duduk di sebelahnya.
Melihat nenek itu tiba-tiba berteriak histeris sambil memeluk Nafi,

“Yank, mereka siapa?”
“Ini kakek yang kemarin ketemu kita”, jawab Nafi memberitahu.

Lalu Mia melihat lagi kearah kakek dan nenek dan dia berteriak histeris lagi.

Ternyata dalam pandangan Mia si nenek ini sangat menyeramkan, rambutnya panjang tak beraturan dan wajahnya rusak penuh darah tapi tidak dengan pandangan Nafi.

Melihat Mia yang ketakutan Nafi mencoba menenangkannya karena Nafi menganggap mungkin Mia kaget aja karena tiba-tiba aja ada disini.

Perlahan Nafi meyakinkan Mia bahwa nenek itu tidak seperti yang Mia lihat sebelumnya, pelan-pelan Mia menoleh lagi ke arah si nenek dan kali ini nenek itu sudah tidak menyeramkan lagi. Mia pun merasa sedikit tenang kemudian nenek itu memberika Mia minum dan mengajaknya masuk kedalam rumah kayu tersebut.

Sampai disini Nafi belum mengira kalau ternyata waktu itu mereka berada di alam gaib.

Sesampai di dalam mereka disuguhi makanan yang berupa buah-buahan.
Dimakanlah buah itu sama mereka, ketika sedang makan tiba-tiba si nenek berucap,

“Nenek kangen kamu nduk, setelah sekian lama akhirnya kamu balik lagi ke semeru”

Mendengar itu mereka kaget, sebenernya apa maksud perkataan si nenek? Padahal sebelumnya mereka belum pernah ke semeru apalagi bertemu dengan kakek dan nenek ini.
Nenek itu lanjut berucap,

“Mulai sekarang kamu akan tinggal disini selamanya bersama kami”

Sontak mereka tersentak dengan kata-kata nenek barusan, lalu Nafi menjawab perkataan si nenek,

“Maksudnya gimana ya nek? Kami belum pernah kesini sebelumnya apalagi bertemu dengan nenek”.
Mendengar ucapan dari Nafi nenek itu sepertinya marah. Dia menjawab,

“Kamu diam, aku hanya ingin cucuku kembali bersama kami bukan kamu”
“Tapi nek, ini Mia bukan cucu nenek, dia calon istri saya”, jawab Nafi kepada nenek.

Mendengar perkataan Nafi nenek itu semakin marah, dia masih bersikokoh menganggap bahwa Mia adalah cucunya. Melihat si nenek marah Nafi dan Mia takut kemudian Nafi mengajak Mia untuk lekas pergi dari sini,

“Kek, nek, terima kasih atas pertolongannya ya kami pamit pergi menyusul teman-teman kami”.

Tanpa diizinkan pergi Nafi segera menggandeng Mia keluar dari rumah kayu itu dan berjalan meninggalkannya. Setelah beberapa langkah meninggalkan rumah itu mereka bingung kemana mereka harus pergi karena Nafi lupa dengan jalan yang dia lewati menuju kesini tadi.

Ketika sedang kebingunan itu mereka mendengar suara yang sangat menyeramkan tapi tidak ada wujudnya,

“Kalian tidak akan bisa pergi, tempat ini sekarang menjadi tempat kalian”
Mendengar suara itu Mia bilang sama Nafi,

“Yank, suara siapa itu?”
“Gak tau ada suara tapi gak ada orangnya, biarin lah kita jalan aja”, jawab Nafi terburu-buru.
“Kita harus jalan kemana?”, tanya Mia lagi.
“Gak tau pokoknya jalan aja, sini gandengan biar gak berpencar”, jawab Nafi sambil menggandeng tangan Mia.

Sampai disini Nafi baru mengira kalau mereka ini sedang berada di alam gaib tapi antara yakin dan tidak.

Beberapa langkah berjalan tiba-tiba Mia melepaskan pegangan tangannya Nafi dan berlari ke dalam hutan. Sontan Nafi pun segera berlari menyusulnya, setelah dapat dia menarik tangannya Mia hingga Mia terduduk, kemudian dia bilang,

“Yank, kamu mau kemana?”.

Tapi Mia tidak menjawab, tatapannya kosong, seakan dia ini sedang terhipnotis.
Beberapa kali Nafi menepuk pipinya Mia agar dia sadar, setelah beberapa tepukan di pipinya itu akhirnya Mia sadar dan tubuhnya lemas. Lalu Nafi lanjut bertanya,

“Sadar yank, kamu mau kemana? Itu hutan”
“Tadi disana ada nenek yang manggil aku”, ucap Mia dengan datar.
“Nenek? Mana ada nenek?”, tanya Nafi kebingungan.

Mia tidak menjawab, dia hanya menunjuk kearah hutan yang akan ditujunya tadi.
Melihat itu Nafi tersentak, “Apa jangan-jangan itu adalah nenek yang tadi”.

Nafi pun segera membantu Mia berdiri dan mengajaknya untuk terus berjalan meninggalkan tempat ini sambil menggandeng pundaknya.

Lama berjalan, lagi-lagi mereka menjumpai tempat ini lagi dengan hutan yang sama. Sampai disini Nafi sudah benar-benar sadar kalau mereka sedang berada di alam gaib.

Nafi hanya bisa pasrah dengan keadaan ini, ditambah lagi waktu itu kondisinya Mia sangat lemas, seakan dia kehilangan sebagian tenaganya.

Nafi terus menggandeng Mia menuju ke sebuah batu yang cukup besar dan mendudukan Mia di batu itu sambil berharap ada pertolongan. Tidak lama kemudian, dari sela-sela kabut yang tipis terlihat ada seorang pemuda memakai jaket yang sedang berjalan kearahnya, melihat itu Nafi sedikit lega dia berharap itu adalah pendaki yang lewat dan semoga pendaki itu bisa membantunya.

Pemuda itu terus berjalan kearah mereka, ketika hampir sampai di tempat mereka Nafi memanggilnya,

“Mas, mas.. tolong kami”

Pemuda itu menoleh dan mendekat. Setelah mendekat dia berkata,

“Kalian kenapa bisa sampai disini?”
“Kami sedang mendaki mas dan ga tau kenapa bisa sampai disini”, jawab Nafi kepada pemuda itu.

Lalu pemuda itu meminta mereka berjalan mengikutinya.

Sambil menggandeng Mia yang kondisinya lemas Nafi berusaha berjalan mengikuti pemuda tersebut masuk kedalam hutan dan semakin jauh.
Ketika sedang berjalan itu mereka dihadang oleh si kakek dan nenek penghuni rumah kayu tadi, disitu pemuda itu berkata pada Nafi dan Mia,

“Kalian tunggu disini, aku akan menemui mereka”

Pemuda itu berjalan mendekati si kakek dan nenek dan melakukan sebuah dialog dengan mereka.

“Sampeyan ora iso mekso menungso iki muleh rene, aku diutus mbah yut nyusul. Menungso loro iki iseh nduwe tanggung jawab ning dunyone dewe”
(Kalian tidak bisa membawa tinggal disini, aku disuruh mbah buyut menjemput, dua manusia ini masih punya tanggung jawab di dunianya sendiri)

Setelah pembicaraan itu si kakek dan nenek terlihat pergi dan pemuda itu kembali ke Nafi dan Mia, sesampai disitu dia bilang,

“Sudah, sekarang pergilah ke teman-temanmu disana dan jangan lupa apa yang dikasih mbah buyut kemarin di pakai”, ucap pemuda itu sambil menunjuk kearah utara.
Mendengar perkataan dari pemuda itu Nafi berfikir,

“Mbah buyut?… Pemberian?…”

Spontan Nafi ingat sesuatu bahwa kemarin Mia diberi kerudung oleh seorang kakek-kakek, lalu dia segera membuka tasnya Mia dan mengambil kerudung yang pernah diberi kakek tadi,

“Maksudnya ini?”
Pemuda itu hanya menganggukan kepalanya, lalu Nafi bertanya lagi,

“Ini pemberian dari kakek tadi mas”
“Itu bukan kakek yang memberimu kerudung, dia adalah bangsa jin yang menginginkan jiwa temanmu ini dan menyerupai mbah buyut”, jawab pemuda itu menjelaskan.

Dari perkataan pemuda itu akhirnya Nafi tau, lalu dia memakaikan kerudung itu di kepalanya Mia dan berjalan ke arah utara sesuai arahan pemuda itu.
Setelah Mia memakai kerudung itu tiba-tiba tubuhnya kembali seperti sedia kala, dia tidak lemas lagi seperti tadi.

Setelah berjalan beberapa langkah Nafi menoleh kebelakang dengan tujuan ingin mengucapkan terima kasih pada pemuda tersebut sekalian dia ingin tau namanya tapi pemuda itu sudah pergi dan tidak terlihat lagi. Lalu Mia bertanya pada Nafi,

“Yank, dia tadi siapa?”
“Gak tau, tiba-tiba aja dia datang pergi, udah jangan banyak tanya dulu kita lanjut jalan”, ajak Nafi.

Nafi pun melanjutkan jalannya ke arah utara, setelah beberapa langkah berjalan mereka melihat ada sinar cahaya matahari di depannya yang ternyata itu adalah jalan keluar dari hutan ini.
Melihat itu mereka segera menuju ke sumber caaya tersebut, setelah keluar dari hutan mereka melihat teman-temannya sedang berjalan di depan. Melihat itu Nafi berteriak memanggil Burhan,

“Mas, mas Burhan tunggu”

Mereka berhenti dan menoleh kebelakang, kemudian Nafi dan Mia segera menyusul mereka.
Sesampai di tempat teman-temannya Burhan bilang,

“Kalian habis ngapain kok ngos2an gitu”
“Kami habis masuk alam lain mas”, jawab Nafi ngos-ngosan.
“Alam lain? Perasaan dari tadi kalian jalan dibelakang kita”, ucap Burhan bingung.
“Hah? Yakin mas?”, jawab Nafi semakin bingung.

Ternyata dalam pandangan teman-temannya Nafi dan Mia ini dari tadi berjalan di belakang tapi agak lumayan jauh, dan bertemunya mereka ini adalah di area Oro-oro ombo, padahal tadi Nafi dan Mia merasa berpisah di area sebelum Cemoro kandang.

Nafi pun menceritakan kejadian yang dialaminya kepada Burhan dan yang lain, sebuah kejadian yang sulit masuk di akal manusia. Setelah cerita panjang lebar akhirnya mereka tau satu hal.

Ternyata selama Burhan dan yang lain berjalan melewati hutan Cemoro kandang selama itu juga Nafi dan Mia masuk ke alam gaib hingga bertemu kembali tepat ketika mereka keluar dari hutan Cemoro kandang.
Burhan pun meminta mereka agar tidak memperpanjang kejadian ini dulu, dia mengajak mereka semua untuk lanjut jalan lagi.

Karena mengingat hari sudah sore sesampai di Ranu kumbolo Burhan memutuskan untuk menginap semalam lagi karena menurut Burhan resiko banget kalau jalan malam-malam setelah mengingat kejadian yang dialami Mia barusan.

Malam itu Burhan melarang Nafi dan Mia tidur agar pikirannya tidak kosong karena takutnya kejadian yang dialami Nafi dan Mia tadi terulang lagi, akhirnya malam itu Nafi dan Mia berusaha untuk tidak tidur dan ditemani Burhan.
Mereka bertiga menyalakan api kecil di depan tenda untuk penghangat tubuh sambil ngobrol kesana kemari dengan tujuan agar tidak ngantuk sementara teman-teman yang lainnya mereka sudah terlelap tidur du dalam tenda.

Nah ketika sedang sibuk di depan tenda tiba-tiba mereka didatangi kakek pemberi kerudung, kakek itu tiba-tiba datang dan ikut duduk bersama mereka bertiga. Melihat kedatangan kakek itu Nafi dan Mia sedikit takut karena dia menganggap kakek ini akan membawanya lagi ke alam gaib tapi tidak.

Ternyata kakek itu memang sengaja mengikuti perjalanan mereka karena menurut kakek sejak awal Mia ini sudah ditandai oleh bangsa jin. Sebenarnya kakek itu ingin mengikuti mereka sampai di Kalimati tapi karena staminanya tidak kuat jadi beliau hanya bisa sampai di Ranu kumbolo doang.

Lalu kenapa kakek itu memberi Mia kerudung?
Sebenarnya itu bukan kerudung, itu hanyalah sebuah kain yang berfungsi agar tidak ada jin yang berani mengganggu Mia dan salahnya waktu itu Mia tidak memakai kerudung itu jadi pantas saja kejadian di alam gaib itu terjadi pada Mia.
Sebenarnya malam itu Mia ingin mengembalikan kerudung itu kepada kakek tapi kakek meminta Mia agar menyimpannya karena kain itu sekarang hanyalah kain putih biasa yang lusuh.

Dan sosok pemuda yang membantu Nafi dan Mia tadi itu adalah makhluk halus pengikut beliau, dia diperintahkan kakek itu untuk menjemput Nafi dan Mia di alam gaib.
Jadi bisa dibilang kakek ini bukan orang sembarangan, beliau adalah warga setempat.

Akhirnya malam itu mereka bisa tidur dengan nyenyak karena menurut kakek tidak masalah kalau mau tidur.

Ke’esokan harinya mereka turun dari Ranu kumbolo bareng dengan kakek itu dan kain kerudung pemberian kakek itu terus dipakai Mia sepanjang jalan dan disimpannya sampai sekarang untuk kenang-kenangan.