Cerita Horor Keluarga Korban Pesugihan

Kumpulan Cerita Horor – Sangat miris ketika dulunya memuja muja setan untuk harta namun sekarang sukmanya entah kemana karena perjanjian yang tak bisa di tepati.

Begitulah garis besarnya. Ini adalah cerita nyata dari salah seorang teman yang mengenalkanku pada seseorang. Kita panggil saja namanya Misel, waktu itu tidak ada niatan untuk bercerita.

Namun karena biasanya sebuah obrolan lama kelamaan pasti akan membahas tentang perghaiban, barulah dia bercerita tentang Ayah dan ibunya yang mempraktekan pesugihan.

Butuh waktu yang agak lama mendapatkan detail ceritanya, apalagi sampe sekarang hal itu masih menghantui keluarga Misel.

Bahkan di sela” waktu cerita Misel selalu meneteskan air mata. Dia sudah benar benar hilang akal dan tidak menyangka ini semua bisa terjadi kepada keluarga “ku kira cuma di sinetron aja mas kejadian kek gini, ternyata aku alami sendiri ” dengan mata yang sembab.

Ini semua bermula ketika Misel masih kecil, ketika kedua adiknya belum lahir ke dunia. Dulu ayahnya bekerja di sebuah perusahaan besar di Yogyakarta dan ekonomi keluarga bisa dibilang berkecukupan.

Hingga suatu waktu sang ayah dipecat karena difitnah menggelapkan uang oleh teman kantornya. Dari sinilah ekonomi keluarga berubah total, sang ayah yang kesulitan mencari pekerjaan dan pekerjaan ibunya sebagai ART tidak bisa mencukupi kebutuhan sehari hari.

Lama kelamaan barang” berharga satu persatu dijual. Mobil, motor, dan perhiasaan dijual hanya untuk kebutuhan sehari hari sembari sang ayah yang bekerja serabutan.

Klik Prediksi Bola Online Jitu

Misel yang pada waktu itu baru akan masuk SD berbarengan dengan sang ibu mengandung adik pertamanya. Kebutuhan yang semakin meningkat membuat sang ayah kebingungan mencari nafkah. Akhirnya diputuskan untuk menjual rumah dan mencari yang lebih murah.

Namanya rumah pasti tidak secepat itu terjual, butuh berbulan bulan bahkan bertahun tahun. Sang ayah tak habis akal, dia menawari rumahnya ke beberapa orang dan juga ke teman ayahnya dahulu.

Sang ayah berkelana kesana kemari untuk menjual rumahnya. Namun ditengah perjalanannya, ketika Misel masih diselimuti kepolosan. Suatu haribsekitar jam 11 malam, rumahnya didatangi oleh segerombolan orang.

” kalo jumlah lupa mas, tapi yang ku inget ada dua mobil.. aku itu kebangun karena rame banget rumahku, ibuku aja bingung gelas dirumah gak cukup buat ngasih minum ” Begitulah penuturan Misel saat menceritakan segerombolan orang datang ke rumahnya.

Menurut penuturan Misel, orang” itu agak aneh karena memakai baju yang sama semua dan pakain yang dipakai dari atas sampai bawah berwarna hitam. Dan salah satu dari mereka membawa sebuah plastik hitam besar.

Misel sempat bertanya kepada ibunya mereka itu siapa karena Misel belum pernah melihat orang” itu sama sekali. Usut punya usut ternyata ibunya juga tidak tahu dengan orang” yang datang pada waktu itu.

Misel tidak tahu yang diobrolkan sang ayah dengan segerombolan orang itu, karena mereka berkerumun di dekat mobil yang agak jauh dari teras rumahnya.

Tak lama kemudian sang Ayah ikut dengan segerombolan dan pergi entah kemana. Sang ibu sempat bertanya namun sang ayah hanya terdiam.

Bukan satu dua hari, sang ayah tak kunjung pulang hingga 7 hari lamanya. Sang ibu yang sedang mengandung kebingungan dan tidak tahu mencari kemana, apalagi dia tidak mengenal orang” yang datang malam itu.

Ditengah kebingungan karena sang ayah tak kunjung pulang. Tiba tiba di suatu pagi ketika Misel berangkat ke sekolah dikagetkan sang ayah yang sudah ada diteras rumah.

Tetapi Misel melihat ada sesuatu yang berbeda dari ayahnya. Sang Ayah yang biasanya terlihat murung, kali ini terlihat bahagia. ” beda banget pokoknya, pas itu ayahku kayak bahagia banget, malah nganter aku ke sekolah.. padahal biasanya gak pernah samsek”

Misel yang bertanya” didalam hati sempat kebingungan walaupun dia senang melihat ayahnya sekarang sudah tidak bersedih lagi.

Dibalik ayahnya yang bahagia itu, ternyata sang ayah bercerita kepada ibunya bahwa sudah bekerja lagi dan pekerjaan ia dapatkan dari salah seorang teman barunya. Teman baru yang dimaksud adalah segerombolan orang yang datang malam itu.

Ibunya bertanya kepada sang ayah ? : yang kemarin itu siapa pak ? kok aku baru liat yaa ?‍? : itu temenku bu, aku ketemu pas nawarin rumah yang mau kita jual, tapi gak jadi ku jual aku udah dpt kerja.. gajinya juga lumayan..

Sejak ayahnya bekerja lagi, ekonomi keluarga Misel berubah drastis. Yang dulunya ingin menjual rumah, malah ayahnya membeli rumah baru dan bisa dibilang lebih besar dari rumah sebelumnya.

Apapun dibeli oleh ayahnya untuk kebahagian keluarga. Hingga adik pertamanya lahir ekonomi keluarga semakin naik dan tak jarang ayahnya bergonta ganti mobil

Misel yang ikut kecipratan bahagia karena apapun yang ia inginkan selalu diberi oleh ayahnya. Bahkan dari teman Misel yang lain, Misel bisa dibilang paling loyal dan dianggap orang kaya.

Waktu terus berjalan, Misel dan Adiknya yang bertambah dewasa semakin jaya dan bahagia dengan kehidupan mereka.

Hingga suatu hari, sempat ada pertengkaran hebat antara ibu dan ayahnya. Pertengakaran itu terjadi karena ibunya mempermasalahkan sang ayah yang selalu pergi sampai pagi hari dengan gerombolan teman yang selalu menggunakan pakaian hitam.

Menurut penuturan Misel, memang di hari hari tertentu sang ayah selalu pergi entah kemana dan pulang ketika subuh tiba. Ketika ditanya, sang ayah selalu menjawab “lembur”.

Sang ibu yang awalnya percaya lama kelamaan curiga dengan kebiasaan sang ayah. ” ya masak lembur cuma tiap hari hari itu mas, dan lemburnya itu pasti dia berangkat jam 9 mlm sampe subuh” begitulah penuturan Misel ketika mengobrol denganku.

Pertengkaran yang terjadi tidak membuat lembur ayahnya berubah. Pertengakaran itu terus berulang- ulang hingga ibunya lebih baik mengalah dan membiarkan kebiasaan ayahnya yang cukup aneh itu.

Bertahun tahun lamanya Misel selalu melihat ayahnya dengan kebiasaan yang tidak pernah ditinggalkan. Ayahnya juga lama kelamaan berubah jadi lebih pendiam dan lebih banyak diluar daripada dirumah.

Ayahnya bertambah berubah ketika adik keduanya lahir, ayahnya semakin menjadi jadi. Yang dulunya ia tidak pernah mengajak gerombolan temannya itu ke rumah, setelah adiknya lahir ayahnya sangat sering mengajak mereka ke rumahnya.

Karena mungkin terlalu sering kerumah, Misel dan keluarganya malah menjadi akrab dengan para gerombolan berpakaian hitam itu. Bahkan tak jarang ayahnya mengajak salah satu dari mereka untuk menginap di rumahnya.

Sang ibu yang dulunya kesal dengan kebiasaan ayahnya berubah 360° ketika ibunya tahu bahwa sang ayah pergi “lembur” dengan para gerombolan itu. “awal tu kesel mas, ya mungkin karena udah kenal jadi malah akrab mas, ibu juga dah gak kesel lagi waktu itu “

Semenjak mereka akrab dengan para gerombolan itu. Misel merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Dia sering bermimpi bertemu dengan ular berkepala wanita dengan tangan yang menggenggam sebilah pedang panjang berlumuran darah.

Mimpi itu berulang kali terjadi, namun Misel tidak berani becerita kepada ayah dan ibunya karena dia berfikir hanya mimpi yang kebetulan berulang ulang.

Lama kelamaan, Misel merasa ada yang janggal ketika ayahnya pergi “lembur” seperti biasanya. Misel sering mendengar ketukan dari jendela kamar dan dia merasa selalu ada yang mengawasi dimalam dimana ayahnya pergi.

Kembali lagi, ia merasakan itu berulang kali hingga tibalah titik dimana Misel tidak kuat lagi. ” iya mas, aku ngerasa itu tiap ayahku pergi… pas aku tidur sama adekku, adekku juga denger.. dia juga takut mas, ngetoknya terus”an gak berhenti”

Misel bercerita apa yang selalu dialaminya kepada ayah dan ibunya. Ibunya panik dan menyarankan untuk didatangkan ahli spiritual, namun berbeda dengan tanggapan ayahnya yang hanya diam bahkan tidak setuju dengan saran mendatangkan ahli spiritual.

Misel kebingungan dengan tanggapan ayahnya yang biasa saja, bahkan seperti menghiraukan apa yang dialaminya. Dia juga melihat raut ibunya yang keheranan ketika melihat tanggapan sang ayah.

Sempat terjadi perdebatan namun sang ayah menang dalam perdebatan itu, anehnya sang ayah mengancam tidak akan kembali ke rumah kalo tetap mendatangkan ahli spritual.

Misel masih merasakan gangguan itu, bahkan berbulan bulan lamanya. Walaupun kadang hilang, akan tetapi mimpi bertemu sosok ular juga masih menghantuinya.

Ibunya menyarankan berpindah kamar dan tidur bersamanya. Misel. mengiyakan dan benar saja, gangguan dan mimpi itu tidak pernah ia rasakan sama sekali di kamar ibunya.

Hingga suatu saat, ketika ibunya membereskan kamar Misel untuk dijadikan gudang karena sudah jarang dipakai. Ibunya menemukan sebuah keris kecil yang dibalut dengan kain kafan dengan beberapa bercak tanah tepat diatas jendela kamar.

Ibunya ketakutan dan tanpa basi basi membuang keris itu ke tong sampah. Malam harinya, ibunya bercerita kepada sang ayah.. dan bisa ditebak sang ayah malah murka dan mencari keris itu di tong sampah rumah.

“dia tu nyari di tong sampah, sampe dibalik tong sampahnyaa.. udah kayak kehilangan uang ratusan juta lah.. dia nemu kerisnya lagi tapi malah dia simpen dilemarinya ?”

Misel tak habis pikir dengan ayahnya yang semakin aneh, ia pun menebak” apakah keris itu ada hubungannya dengan mimpi dan gangguan yang sering ia alami. Ibunya juga berfikiran sama dengan misel pada waktu itu.

Yang tambah membingunhkan lagi, kenapa sang ayah selalu menghindar ketika ada sesuatu yang menyangkut keluarganya. Bahkan tidak ada pembelaan sedikitpun dari ayahnya..

Waktu terus berjalan dengan sifat ayahnya yang semakin aneh. Gangguan yang terjadi juga semakin kuat, adiknya nomor dua yang masih kecil sering menangis tiba” dan adiknya nomor satu juga tak jarang mendengar suara misterius dari luar rumah.

Kebiasaan “lembur” sang ayah semakin brutal, yang awalnya hanya satu minggu sekali bertambah tiap bulan bahkan sampai tidak pulang kerumah satu bulan lamanya.

Apalagi menyangkut pekerjaan ayahnya yang semakin tidak jelas. ” masaak dia pernah sebulan gak pulang mas, kan ibuku juga curiga apa dia tu gak kerja apa gimana.. soalnya waktu itu ayahku jarang ngobrol mas, tiba tiba ada tiba tiba pergi.. gitu aja tiap hari”

” ya aku nyoba bikin ibu mikir positif aja mas dia kerja luar kota, atau mungkin udah naik jabatan apa gimana makanya sibuk.. soalnya kita emang bener” gak tau waktu itu”

Menurut penuturan Misel, pada waktu itu sempat terbesit pikiran curiga dengan ibunya karena tidak pernah tahu apa yang dilakukan sang ayah selama ini. Dia curiga ibunya selama ini berpura-pura tidak tahu apa” dan sebenarnya sangat tahu apa yang sebenarnya ayahnya lakukan.

Dan dia berfikir apa yang selama ini diperlihatkan oleh ibunya hanya pura” semata untuk membuatku tenang.

” Awalnya curiga sama ibu, ya logiknya harusnya tahu gitu apa yang dilakuin ayahku yang dia bilang lembur..” Kecurigaan itu seketika datang dibenak Misel. Misel bahkan sempat berfikir ada sesuatu yang besar disembunyikan oleh ibunya.

Kecurigaan kecurigaan itulah yang terus terbayang dibenaknya. Misel bahkan secara tidak langsung menanyakan hal itu, akan tetapi dibantah mentah mentah oleh ibunya.

Apalagi setelah Misel masuk SMA, ayah dan ibunya berpisah dengan Misel dan 2 adiknya. Waktu itu sang ayah bercerita harus berpindah ke daerah utara jogja yang cukup jauh karena ada pekerjaan yang harus dilakukan disana.

Dengan terpaksa ayah dan ibunya meninggalkan Misel dan 2 adiknya. Tak tanggung tanggung, mereka berencana menetap disana selama 1,5 tahun lamanya.

Kecurigaan Misel semakin menguat ketika suasana keluarga setelah ayah dan ibunya pergi keluar kota. Misel merasakan lebih nyaman dan tentram hidup bersama 2 adiknya. Walaupun komunikasi dengan ayah dan ibunya masih berjalan.

Apalagi mereka memilih berpindah ke rumah eyang karena takut ketika ada gangguan tidak ada yang menolong mereka. “pas pindah ke rumah eyang tuh mas, ya kayak biasa aja.. aku udah gak mimpi lagi, adikku udah gak nangsi lagi, adikku satunya juga udah gak pernah dengar suara lagi”

Ditambah lagi eyang kakungnya yang pernah bercerita semenjak sang ayahnya bekerja dan bisa dibilang sukses tidak pernah berkunjung lagi ke rumah, sekedar menengokpun tidak pernah sama sekali.

Memang setelah ayahnya bekerja dari para gerombolan itu, hanya misel, ibu dan dua adiknya saja yang sering mengunjungi eyangnya. Sang ayah memang tidak pernah mau ketika diajak berkunjung ke rumah eyangnya.

Sifat dan kehidupan sang eyang yang apa adanya pasti ada apanya. Saat Misel hidup bersama disana, Misel sering diberikan petuah yang intinya selalu berhati hati di dalam kehidupannya sehari-hari.

Misel merasakan dia diistimewakan dan paling dijaga daripada kedua adiknya. ” aku tu kemana mana pasti dianter eyang, eyang tu kayak gak mau jauh mas dari aku.. kadang kasihan kan SMAku juga jauh dari rumah eyang, tapi eyang tu pasti ngotot kemanapun harus sama dia”

Bahkan dia dilarang untuk pergi malam hari, ketika ada temannya yang ingin mengajaknya pergi malam hari. Teman”nya yang harus datang kerumah eyangnya, apabila terpaksa keluar kadang diantar oleh eyangnya ataupun orang kepercayaan eyang.

Namanya anak SMA pasti lama kelamaan jenuh karena merasa tidak bebas kesana kemari. Misel sempat colong”an dengan eyangnya dan akhirnya Misel mendapatkan sesuatu yang tidak diingikan sama sekali oleh semua orang di dunia ini.

Misel bersama teman”nya menggunakan sepeda motor dan berniat untuk berlibur kepantai. Namun apa dikata dan sudah menjadi kehendak-Nya

Misel mengalami kecelakaan hebat, dia menabrak bak truk dan kemudian badannya terjatuh ke kiri dan naas salah satu bagian dari tubuhnya terlindas ban mobil yang melaju kencang dari belakang.

“aku tu gak tau kenapa mas, kayak tiba tiba item aja pandangaku. seingetku cuma aku liat bak truk ada didepan mataku habis itu udah gak inget apa-apa lagi.. bangun bangun udah diruangan dan udah kayak gini”

Menurut penuturan eyangnya yang langsung datang ketika mendengar kabar dari teman” Misel. Eyangnya sempat pesimis Misel bisa selamat karena di beberapa bagian badannya patah dan banyak darah yang keluar pada saat itu.

Tak hanya itu, dibagian organ dalam juga banyak terkena benturan karena kecelakaan itu. Yang paling parah salah satu tubuhnya tidak bisa aktif lagi sampai sekarang 🙂

Sebelum siuman, Misel sempat koma selama 12 hari. Misel menuturkan sangat bersyukur masih bisa hidup sampai sekarang, bahkan waktu itu dokter mengatakan kepada keluarganya kemungkinan untuk selamat sangatlah kecil.

Ibunya yang datang, air matanya pecah melihat Misel terkapar lemah tak berdaya dengan bantuan alat pernapasan dan bantuan alat lainnya yang tertancap ditubuhnya.

Eyang dan 2 adiknya mencoba menenangkan sang ibu yang menangis tiada henti. Ibunya selalu menangis setiap hari dan berharap sang anak bisa kembali siuman.

Setiap hari sang ibu selalu berada di samping Misel, bahkan tidak mau beranjak dari tempatnya karena tak ingin kehilangan sosok Misel. Sang eyang lah yang selalu menyemangati sang ibu agar percaya Misel bisa melewati semua ini dan harus pasrah pada kehendak Tuhan.

Walaupun dalam benak sang eyang menanyakan kemanakah sang ayah karena tidak menunjukkan batang hidungnya ketika semua sedang bersedih dan berdo’a untuk keselamatan Misel.

Penantian itu pun datang ketika Misel siuman. Kebahagian, rasa haru, dan ketidak percayaan bercampur aduk mendengar Misel sudah siuman dari mimpi panjangnya.

Akan tetapi, Misel sempat tidak percaya karena salah satu bagian tubuhnya tidak bisa ia lihat kembali. Dia belum ikhlas dengan apa yang terjadi dengannya, namun keluarga yang ada didekatnya selalu menguatkan dirinya.

Dan selalu mengingatkan agar bersyukur dengan apa yang sudah diberikan, apalagi masih diberi kesempatan untuk melihat keindahan dunia ini.

Berjalannya waktu, Misel berangsur pulih walaupun harus melakukan beberapa terapi untuk menghilangkan trauma dan rasa sakit yang ada ditubuhnya dari bekas operasi yang dilakukan.

Ibunya yang selalu menemami Misel berbanding terbalik dengan sang ayah yang belum pernah ia lihat semenjak dia siuman. Ada sedikit rasa kecewa dan berulang kali ia bertanya kepada ibunya pergi kemana sang ayah.

Namun ibuu hanya diam dan menitihkan air mata ketika Misel bertanya keberadaan sang ayah. “udah yang penting kamu sembuh dulu” Begitulah ucapan yang selalu ia dengar dari ibunya ketika bertanya keberadaan sang ayah.