Cerita Horor Kalau Mati Tulis Namaku Di Mahameru

Kumpulan Cerita Horor – Pada kesempatan ini gw ada kisah mistis pendakian yang bener-bener membuat gw merinding banget.

Kisah ini dialami oleh Elisa ketika sedang melakukan pendakian ke gunung semeru bersama 6 orang lainnya termasuk kakak kandungnya sendiri.

Jadi di pendakiannya itu Elisa ini sempat mengalami gejala hipotermia dan dalam keadaan yang seperti itu dia ini mengalami beberapa kejadian horor yang itu bisa aja membuat dia gak bisa pulang.

Selain horor ini cerita juga mengandung bawang, jadi jangan cengeng ya 😛 …

Awal cerita, waktu itu Elisa dihubungi oleh teman sekolahnya dulu, sebut saja dia adalah Yanti, dia menghubungi Lisa buat ngajakin dia mendaki ke gunung Semeru.

Elisa yang tidak ada persiapan sama sekali sempat menolak tapi kata Yanti di pendakiannya nanti ada kakaknya Lisa juga. Sebut saja kakaknya Elisa adalah Ubed. Sebelumnya dia memang sudah pernah di ajak mendaki sama kakaknya itu, kakaknya Lisa ini adalah seorang pegiat alam.

Klik Prediksi Bola Online Jitu

Lisa menanyakan perihal itu ke Ubed,

“Mas, katanya Yanti mau ke Semeru ya?”,
“Iya dek, sama Yogi juga”, jawab Ubed.

Nah, Yogi adalah kakak kandungnya Yanti, dia mengajak Yanti untuk ke Semeru dan Yanti mengajak Elisa.

Sebelumnya Ubed tidak ada niat sama sekali utnuk mengajak Lisa karena dia tau kalau Lisa ini fisiknya lemah, terakhir kali diajak ke gunung Buthak dia mengeluh terus karena capek.

Elisa memohon ke Ubed kalau dia mau ikut karena sebenarnya dia ini udah lama banget pengen ke gunung Semeru. Akhirnya Ubed pun tidak bisa menolak, dia minta pada Lisa agar olahraga dulu kalau mau ikut karena ini adalah gunung Semeru, apapun bisa terjadi disana.

Singkat cerita tibalah hari keberangkatan, siang itu 4 orang datang kerumahnya Ubed unruk berkumpul dulu, mereka adalah Yogi, Yanti, Adam dan Riko. Adam dan Riko ini adalah temannya Ubed, jadi awalnya rencana pendakian ini hanya akan dilakukan mereka berempat saja yaitu Ubed, Yogi, Adam dan Riko.

Dirumahnya Ubed itu mereka mempacking peralatan, setelah itu mereka langsung berkendara menuju ke tempat tujuan. Setelah menempuh sekitar 2 jam perjalanan motor sampailah mereka di basecamp Ranupani, sesampai disana Ubed langsung mengurus peizinan ke pos dengan menyerahkan persyaratan yang sebelumnya sudah disiapkan, setelah itu mereka diizinkan untuk mendaki hari ini juga.

Mengingat hari ini sudah sore mereka putuskan untuk camp dulu di Ranupani dan berniat mulai pendakian besok pagi-pagi. Mereka mendirikan tenda didekat pos pendakian dan keesokan harinya perjalanan dimulai sekiar jam 7 pagi.

Di perjalanan itu mereka tidak ada kendala apapun hingga sampai di Ranukumbolo sekitar jam 11 siang. Disana mereka istirahat sebentar untuk makan siang dan tepat jam 12 siang perjalanan dilanjutkan menuju ke Kalimati. Pos terakhir sebelum menggapai puncak Mahameru.

Sampai disini masih belum ada kendala apapun, mereka berjalan dengan sangat have fun tapi seringkali Lisa minta berhenti karena kecapekan. Ya maklumlah, Lisa ini emang fisiknya lemah, jadi sebisa mungkin Ubed harus memperhatikan kondisinya.

Setelah cukup lama berjalan sampailah mereka di Kalimati sekitar pukul 5 sore. Di Kalimati itu terlihat cukup sepi pendaki, hanya ada beberapa saja karena memang waktu itu masih belum trendnya mendaki. Pendakian ini sekitar tahun 2010 an.

2 tenda mereka dirikan dengan posisi berhadapan dan ditengah-tengahnya dipasang flyset dengan tujuan untuk mereka masak nanti, setelah tenda udah berdiri mereka membuat kopi dibawah flyset dan disitu Ubed sudah bisa merasakan kalau Lisa ini pasti tidak akan kuat kalau harus ke puncak, karena terlihat dari raut wajahnya yang sudah sangat payah. Dia sangat mengerti keadaan adiknya.

Memang, di Kalimati itu Lisa sudah merasa benar-benar payah dan sebenernya dia juga tidak ada niat untuk naik ke Mahameru, meskipun puncak sudah terlihat jelas dari Kalimati.

Semakin lama suhu di Kalimati terasa semakin dingin. Yaa wajar sih karena pendakian mereka ini adalah pas musim kemarau dan musim itu adalah musim dingin-dinginnya di gunung.

Karena perut sudah mulai merasa lapar mereka masak makanan dan saat itu Lisa mulai drop karena tidak tahan dengan suhu di tempat ini. Jadi malam itu suhunya udah hampir minus. Sangat dingin.

(Buat yang pernah ke Semeru pasti tau kan dinginnya seperti apa)

Lisa menutupi badannya dengan jaket dan sleeping bag tapi itu tidak bisa membuat dirinya menjadi hangat,

“Dek, ini makan dulu”, ucap Ubed sambil memberi satu piring nasi yang sudah matang,
“Enggak mas, aku udah kenyang”, jawab Lisa.

Ubed memaksa Lisa agar tetap makan walaupun tidak lapar karena dalam kondisi seperti ini sangat bahaya kalau perut sedang kosong,

“Jangan gitu dek, makan dikit aja biar perutmu gak kosong”, ucap Ubed, tapi tetap saja Lisa tidak mau, karena dia merasa tidak ada nafsu makan sama sekali.

Beberapa kali Ubed berusaha membujuk Lisa agar mau makan tapi tetep saja tidak mau, akhirnya Ubed minta pada Lisa makan roti saja agar perutnya tidak kosong. Karena tidak mau kakaknya ini terus menerus memaksa Lisa iyakan saja.

Di bawah flyset mereka ngobrol-ngobrol dan Ubed bilang ke yang lain,

“Ntar kalau Lisa gak kuat buat muncak kalian muncak sendiri aja ya, aku disini aja jagain Lisa”.
Dia bicara seperti itu ke yang lain karena dia tau kalau sudah pasti Lisa ini tidak akan kuat dan yang lain pun setuju.

Semakin malam suhu di Kalimati terasa semakin dingin dan disini Lisa sudah benar-benar tidak kuat, dia pamit pada Ubed dan yang lain untuk istirahat dulu didalam tenda. Sleeping bag dia selimutkan di seluruh badannya tapi tetap saja dingin ini terasa menusuk hingga akhirnya dia sudah mencapai batasnya, seluruh tubuhnya terasa seperti ditusuk-tusuk jarum, dingin dan mati rasa, dia hanya bisa menggigil dingin.

Klik Prediksi Bola Online Jitu

Menyadari itu Ubed segera mendatangi Lisa didalam tenda,

“Dek, kamu kenapa dek?”, tanya Ubed dengan panik dan Lisa tidak bisa jawab apapun, dia hanya bisa menggigil kedinginan.

“Mas, Lisa kenapa mas?”, tanya Yanti.
“Gak tau, dia kedinginan hebat”, jawab Ubed dengan panik.

Dia coba menghangatkan badannya Lisa dengan beberapa kain yang mereka bawa tapi tetap aaja Lisa ini menggigil.

“Wah bahaya nih kalau sampai Lisa kena hipotemia”, batin Ubed.

Yogi dan yang lain menghangatkan air di kompor dan dimasukan kedalam botol air mineral kemudian botol itu ditaruh di dekat badan Lisa.

Sampai sekitar setengah jam kondisi Lisa terus seperti itu dan mereka semua sudah panik tidak karuan, karena mungkin suhu di tenda ini masih dingin Ubed membawa Lisa ke bangunan Shelter tapi alhasil tetep sama, lalu Ubed memeluk Lisa dengan erat agar lebih hangat dan ketika dipeluk itu badannya Lisa sudah seperti es. Sangat dingin.

Beberapa pendaki lain berdatangan ke shelter untuk melihat apa yang sedang terjadi,

“Ada apa mas?”, tanya salah satu pendaki.
“Teman kita kedinginan mas”, jawab Adam.
“Waduh bahaya ini mas, bisa-bisa kena hipotermia, minta pertolongan ke tim sar aja”. Saran pendaki itu.

Sebenarnya itu sudah terlitas dalam pikiran mereka tapi mau hubungin tim sar bagaimana caranya, sinyal hp tidak ada, mau turun sekarang keburu keadaan Lisa semakin buruk.

Sampai sekitar jam 10 malam kondisi Lisa tetap begitu, yang ada dalam pikirannya Lisa waktu itu hanya satu yaitu mati disini karena dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menggigil.

Jadi kondisi Lisa itu masih sadar, dia masih bisa mendengar orang-orang disekitarnya tapi untuk ngomong dia sudah tidak bisa karena bibirnya terasa kaku.

Dengan keadaan panik tidak karuan Ubed memutuskan untuk membawa Lisa turun ke Ranukumbolo dan besok pagi-pagi minta pertolongan kebawah.

Klik Prediksi Bola Online Jitu

Mereka yang lain segera mengemasi tendanya lagi kemudian Ubed mencari kayu dan dengan 2 lapis sleeping bag yang sudah diikat pada sebatang kayu dia dia menandu Lisa ke Ranukumbolo. Lisa ditandu Ubed dan Yogi berjalan turun dan karena kondisi mereka waktu itu sudah sangat kelelahan jadi sebentar-sebentar mereka berhenti, beberapa kali Adam dan Riko menawarkan dirinya untuk menggantikan Ubed menandu tapi Ubed tidak mau karena ini sudah menjadi tanggung jawabnya kepada adiknya.

Mereka berhenti lagi untuk yang kesekian kalinya dan saat itu Ubed melihat wajah Lisa semakin memucat, bibirnya tidak ada hentinya menggigil kedinginan.

“Dek, tahan sek yo, diluk engkas tutuk Ranukumbolo, mas janji bakal nggowo awakmu muleh”, ucap Ubed sambil nangis dan membersihkan debu yang menempel di wajah Lisa.
(Dek tahan dulu ya, sebentar lagi kita sampai di Ranukumbolo, mas janji akan bawa kamu pulang)

Mendengar ucapan Ubed itu mereka yang lain merinding, lalu Adam memegang pudaknya Ubed sambil berucap,

“Bro, sing sabar yo, mugo-mugo Lisa iso kuat sampek sesuk”.
(Bro sabar ya, semoga Lisa masih bisa kuat sampai besok)

Yogi, Adam, Riko dan Yanti sudah beranggapan akan kehilangan Lisa, karena kalau di lihat dari kondisinya yang seperti itu sepertinya Lisa tidak bisa bertahan lama lagi.

Dengan sekuat tenaga Ubed kembali berdiri untuk menandu Lisa berjalan turun dan kali ini dia di bantu oleh Adam. Sesampai di hutan Cemoro kandang mereka berhenti lagi karena capek, Lisa di turunkan diatas tanah dan mereka terduduk lelah.

Karena kondisinya Lisa ini masih sadar dalam hati dia ikut menangis, dia merasa kalau dia sudah tidak bisa bertahan lama lagi. Dalam kondisi berbaring dia berusaha memanggil kakaknya karena dia ingin mengucapkan kata-kata untuk yang terakhir kalinya.

“Mas… mas Ubed…”

Mendengar itu Ubed langsung mendekati Lisa,

“Iya dek, ada apa?”, jawab Ubed dengan panik.
“Mas sepurane yo aku wes ngrepoti sampeyan, dene engko aku wes gak enek tolong jenengku sampeyan dekek ning puncak Mahameru”
(Kak, maaf ya aku sudah merepotkan kamu, kalau nanti aku udah gak ada tolong namaku diletakan dipuncak Mahameru)

Spontan Ubed memeluk badan Lisa sambil menangis membayangkan ucapan Lisa itu benar terjadi dan tanpa disadari mereka yang lain juga ikut menangis. Yanti memegang tangannya Lisa sambil berucap,

“Lisa, kamu kuat kok, kuat ya kita pulang, kita pulang bareng-bareng”.

Karena tidak ingin ucapan Lisa itu benar-benar terjadi Ubed kembali menandu Lisa buat jalan turun dan ketika ditandu itu tepatnya di area Oro-oro ombo, Lisa melihat di sekelilingnya mereka ini ada banyak sekali orang yang juga sedang berjalan beringan,

“Orang-orang ini siapa, perasaan tadi yang ada disini cuma mereka berenam aja?”, pikir Lisa.

Seakan-akan Lisa sedang berada dalam keranda sedang yang lain sebagai pengatar.

Dia melihatnya lagi dan orang-orangnya ini terlihat sangat banyak, kalau sempat menghitung mungkin ratusan. Mereka semua terlihat aneh seperti bukan manusia, ada yang rambutnya panjang, ada yang kakinya panjang sebelah dan beraneka ragam. Lisa ingin tanya ke kakaknya tapi kondisinya waktu itu sudah tidak bisa berbuat apa-apa, untuk bicara saja dia susah.

Klik Prediksi Bola Online Jitu

Tidak lama kemudian di atas terlihat ada sosok hitam yang sedang terbang, tepat diatasnya. Lisa tercengang melihat sosok itu, seakan-akan sosoknya ini ingin menerkam Lisa, lalu tiba-tiba ada telapak tangan yang menutupi matanya Lisa dan sayup-sayup dia denger ada suara yang berbisik di telinga kirinya,

“Ojo disawang, merem ae wes gak usah noleh nandi-nandi”.
(jangan dilihat, merem aja dan gak usah melihat kemana-mana)

Suara itu berat dan sedikit menggema.

Dia mengira yang menutupi matanya itu adalah temen-temennya dan matanya Lisa ini terus ditutupi sampai dia tidak bisa mellihat apa-apa. Setelah cukup lama tangan itu lepas dari matanya dan dia melihat sudah berada di sebuah ruangan, di shelter Ranukumbolo.

Sampai disitu Ubed minta tolong ke yang lain untuk mencari kayu bakar dan kayu itu di bakar di dalam bangunan shelter. Beruntungnya bangunan itu terbuat dari tembok jadi kalau membuat bara api suhunya bisa hangat dan karena hangat itu perlahan dingin yang dirasakan Lisa sudah berkurang. Pelan-pelan dia sudah bisa bicara.

“Mas, ojo nangis awaku wes rodok enak kok”
(Mas, jangan nangis badanku udah mendingan kok)

Melihat keadaan Lisa yang sudah sedikit membaik Ubed merasa sangat lega, dia minta ke Lisa agar tetap istirahat saja, sementara Lisa istirahat Ubed dan yang lain duduk di sudut ruangan sambil berusaha menjaga bara api agar tetap menyala.

Terlihat waktu sudah menunjukan pukul 3 dini hari. Jadi perjalanan yang mereka tempuh dari Kalimati sampai ke Ranukumbolo tadi adalah sekitar 5 jam sambil menandu Lisa, normalnya tidak sampai segitu, 5 jam itu estimasi tempuh dari Ranukumbolo ke Kalimati sedangkan kalau turun harusnya lebih cepat.

Ubed minta tolong pada Yogi dan Riko agar langsung turun nanti kalau hari sudah terang untuk minta pertolongan dan dalam posisi berbaring itu Lisa bisa melihat dan mendengarkan obrolan mereka.

Ketika sedang mendengarkan obrolan itu tanpa disengaja Lisa melihat keluar shelter dan ternyata ratusan makhluk yang jalan sama dia tadi ada di depan, mereka semua menatap kearah Lisa, tapi ada 1 makhluk yang memiliki tubuh sempurna seperti manusia. Jadi orangnya ini cowok, dia berdiri tegap didepan ratusan makhluk itu sambil membelakangi pandangan Lisa.

“Mas, mas Ubed”, ucap Lisa.
“Iya dek ada apa?”, jawab Ubed menghampiri Lisa.
“Itu diluar siapa?”, tanya Lisa terpatah-patah.
“Siapa? Gak ada siapa2 kok”, jawab Ubed.
“Itu banyak orang mas”, lanjut Lisa.
“Oh pendaki lain itu dek, udah kamu tidur aja besok kita pulang ya”. Pinta Ubed.

Memang diluar ada beberapa pendaki lain yang sedang camp dan Ubed mengira yang ditanyakan Lisa itu adalah para pendaki itu.

Dalam keadaan yang masih lemas Lisa mengabaikan mereka yang ada diluar dan berusaha tidur, tapi ketika hendak terlelap tidur tiba-tiba terasa ada telapak tangan yang memegang lengannya dan itu terasa sangat dingin. Spontan Lisa membuka mata dan terlihat ada seorang pendaki cowok di sampingnya,

“Mbak ojo turu, nek sampeyan turu wong2 kae bakal nggowo sampeyan urip nang kene”, ucap cowok itu sambil menunjuk keluar.
(Mbak jangan tidur, kalau kamu tidur mereka akan membawamu tinggal disini)

Lisa tidak menjawab dan hanya memahami perkataan cowok itu, lalu cowok itu melepaskan telapak tangannya dari lengan Lisa dan beranjak keluar.

Awalnya Lisa mengira cowok tadi adalah kakaknya tapi ternyata bukan karena terlihat kakaknya masih duduk di sudut ruangan dengan yang lain.

“Mas, mas Ubed”, ucap Lisa memanggil Ubed.
“Iya dek, ada apa?”, jawab Ubed mendatangi Lisa.
“Itu tadi siapa mas?”, tanya Lisa.
“Siapa? Yang mana?”, tanya balik Ubed.
“Itu tadi mas yang datang kesini”, jelas Lisa.
“Gak ada siapa2 kok yang dateng?”, jawab Ubed dengan bingung.
“Ada tadi, masnya yang duduk disebelahku”, jelas Lisa.

Disini Ubed bingung dengan maksud pertanyaan Lisa itu.

“Udah lah dek gak ada siapa2 kok, kamu tidur aja ya sebentar lagi udah pagi”, pinta Ubed.

Karena kata kakaknya tidak ada siapa-siapa Lisa menganggap tadi dia sempat tidur dan hanya mimpi, dia berniat akan tidur sekarang, tapi ketika akan terlelap kejadian yang sama terulang lagi, cowok itu datang memegang lengannya Lisa dan mengucapkan kata-kata yang sama persis setelah itu dia pergi.

Anehnya, melihat cowok itu datang dan pergi kakaknya ini tidak tau, tidak ada respon sama sekali. Lisa melihat keluar lagi dan disana ratusan makhluk menyeramkan masih berdiri. Sampai disini Lisa sudah merasa takut, dia berusaha duduk dan langsung dibantu sama kakaknya.

“Dek ngapain bangun, udah kamu tidur aja. Istirahat”. Ucap Ubed sambil membantu Lisa duduk.

Baru saja duduk dia merasa pusing, lalu terdengar ada suara menyeramkan dari luar.

“Huuuuu… huuuuu… huuuu..”,

Ditengok keluar dan ternyata itu adalah suara ratusan makhluk yang masih berada diluar shelter. Lisa merasa takut, dia langsung peluk kakaknya,

“Mas, ayo pulang aku takut sama mereka”, ucap Lisa.
“Iya nanti kita pulang kok, tunggu pagi ya”, jawab Ubed.

Mendengar ucapan Lisa yang “takut sama mereka” Ubed langsung berfikir ke hal mistis,

“Lisa ini pasti ngeliat sesuatu”.

Dengan posisi masih memeluk kakaknya dia curi pandang keluar dan cowok tadi sedang berdiri ditengah pintu shelter menutupi pandangan Lisa dari ratusan makhluk aneh itu. Jadi seakan-akan cowok itu tidak mengizinkan Lisa melihat makhluk aneh itu.

Lisa tidur di pangkuan kakaknya dan mengingat perkataan cowok tadi dia tidak berani tidur, sesekali dilihat cowok itu masih berdiri tegap ditengah pintu.

Klik Prediksi Bola Online Jitu

Setelah cukup lama tiduran di pangkuan kakaknya dia melihat keluar lagi dan cowok tadi sudah tidak berada di pintu begitupun makhluk aneh yang berdiri diluar tadi. Lisa merasa lega dia berusaha duduk dan minum minuman hangat yang dibuatkan Yogi.

Terlihat waktu sudah munjukan jam 4 pagi, Yogi dan Rikos bergegas turun untuk minta pertolongan sambil membawakan barang milik Lisa.

Disini kondisi Lisa sudah lebih baik dari semalam, wajah pucatnya sudah tidak tampak lagi tapi kondisinya masih lemas. Karena waktu itu sudah pagi Ubed menuntun Lisa keluar untuk mencari sinar matahari supaya tubuhnya Lisa bisa hangat.

Sambil berjemur dibawah sinar Lisa memperhatikan keadaan sekitar Ranukumbolo sambil mengigat makhluk aneh yang semalam berdiri disini dan disitu dia tidak melihat cowok yang semalam. Kalaupun cowok itu adalah pendaki mungkin dia sudah pergi dari Ranukumbolo dan kalau dia bukan pendaki mungkin sekarang dia sudah balik ke alamnya. Allahu a’lam.

Sekitar jam 8 pagi tim penolong datang dan langsung menghampiri mereka ke shelter, Lisa ditandu tim penolong turun dan diikuti Ubed sama yang lain. Sesampainya di Ranupani Lisa langsung dibawa ke ruang kesehatan untuk diberi pengobatan tapi saat itu kondisi Lisa masih lemas.

Akhirnya tim kesehatan memutuskan untuk mendatangkan ambulance, Lisa ditemani kakaknya menuju ke puskesmas terdekat untuk mendapat pengobatan lebih lanjut, sesampai disana Ubed menghubungi keluarganya dan Lisa langsung dirujuk ke rumah sakit di daerah Malang untuk pemulihan.

Beberapa hari setelah itu Lisa sudah dinyatakan sembuh dan sudah bisa pulang, kemudian dia menceritakan kejadian di Ranukumbolo malam itu ke kakaknya dengan detail.

Semenjak kejadian itu Ubed sudah tidak mau lagi mengajak Lisa mendaki gunung kerena takut kejadian serupa terjadi lagi pada dirinya meskipun sesekali Lisa merajuk ingin ikut untuk yang terakhir kalinya dan pendakian ke gunung Semeru itu sudah menjadi pendakian terakhir Elisa.