Cerita Horor Jalan Pulang Mojokerto

Cerita Horor Hari Ini – Malam menyelimuti puncak Malang. Tapi jalanan puncak Malang tak kunjung sepi. Masih ada saja pedagang yang menjajakan barang dagangannya di pinggir jalan. Beberapa warung makan juga masih terlihat melayani pelanggan.

Pukul 10 malam. Mobil yang Aku naiki masih melaju menelusuri jalan puncak, menuju arah Batu. Gerimis mengerami dinginnya puncak, membuat udara sepertinya bertambah dingin—sepertinya begitu. Entahlah, toh Aku berada di dalam mobil, sehingga tidak merasakan dinginnya udara luar

Wiper sesekali terlihat mondar mandir di kaca depan, mencoba membersihkan kaca dari air gerimis yang membasahi kaca. Di mobil ini hanya ada Aku, kakak perempuanku, Emes dan juga Ebes. Di kursi depan Ebes menyetir mobil sambil asik mengobrol dengan Emes.

Aku nggak tahu mereka berbicara tentang apa, sedari tadi earphone terpasang di kedua kupingku. Aku asik mendengarkan lagu-lagu kesukaanku.

Aku masih asik mendengarkan lagu-lagu sambil log-in di sosial media. Sampai pada akhirnya Aku merasa ingin pipis. Sial, sepertinya tadi Aku kebanyakan minum, nih.

Aku langsung menaruh ponselku, melepaskan earphone dari kedua kupingku dan langsung meminta Ebesku untuk melipirkan mobil di warung terdekat.

Tak lama mobil pun melipir di pelataran sebuah warung makan. Di ikuti sebuah mobil yang juga ikut melipir di belakang mobilku. Ya, itu adalah mobil sodaraku. Di dalam mobil tersebut ada Pakde, Bude dan dua sepupuku. Kami memang sedang menuju arah yang sama—Batu.

“Ono opo kok mandek kene Mbak?”
“Ada apa? Koq berhenti di sini?” tanya sepupuku. Dia cewek.

“Iki lho, Wildan kepiyuh jarene.”
“Ini nih, si Wildan mau pipis katanya.” jelas kakakku.

Hadehh.. Aku udah nggak tahan nih! Tanpa menanggapi mereka Aku langsung bergegas menyebrang jalan dan mencari toilet.

“Eh, Wil. Tunggu.”
Lah? Ini sepupuku kenapa ngikutin Aku? “Kamu ngapain ngikutin Aku?”
“Mumpung berhenti. Aku juga mau ikut ke toilet. Mau pipis” jelas sepupuku.

Klik Prediksi Bola Online Jitu

Kami berdua pun mencari toilet. Alhamdulillahnya, Aku langsung melihat plang bertuliskan TOILET. Akh, pucuk dicinta ulam pun tiba. Aku dan sepupuku bergegas menuju toilet tersebut.

Toilet ini berada di belakang sebuah warung. Aku berjalan cepat melewati penjaga toilet yang sedang duduk. Bilik toiletnya berada di bagian belakang. Ada beberapa pintu bilik. bilik yang lainnya tertutup, hanya ada satu bilik yang pintunya terbuka.

“Yah, toiletnya penuh,Wil. Cuma satu yang kosong.”

“Ya udah gantian aja. Aku duluan ya. Udah di ujung nih.” ucapku sambil ngeloyor masuk dan menutup pintu bilik toilet.

Akh, benar-benar lega rasanya. Seperti dunia cerah kembali. Kebelet pipis emang nggak enak. Hah.
“Udah, Wil? … Sekarang gantian Aku. Kamu tunggu di depan pintu ya. Jangan kemana-mana.” pinta sepupuku dengan raut wajah sedikit ketakutan.
“Iya iya. Tenang aja.” Jawabku, santai.

Aku heran sama sepupuku. Mukanya kayak ketakutan gitu. Hah.

Cewek itu kalo di kamar mandi emang lama ya. Entah ritual apa yang mereka lakukan di kamar mandi. Padahal bilangnya Cuma pipis doang, tapi lama.

Iseng, Aku mulai menjelajah penglihatan dan perhatianku ke sekitar. Sepi. Sepi banget malah. Kayak nggak ada tanda kehidupan. Seketika Aku merasa aneh. Semua bilik di sini penuh, bisa di lihat dari pintunya yang tertutup semua.

Sesuatu yang bikin aneh adalah, NGGAK TERDENGAR SUARA SESEORANG ATAU SUARA AIR DARI SEMUA BILIK TOILET! … kecuali dari bilik yang diisi sepupuku. Masih terdengar suara air ngucurnya. Ini kan aneh?

Pintu bilik panjangnya tidak sampai menyentuh lantai. Menggantung beberapa sentimeter. Aku coba perhatikan bagian bawahnya. Biasanya kalo ada orang di dalamnya, pasti bayangannya keliatan. Tapi sekali lagi, ada yang ganjil di sini. Semua bilik yang tertutup nggak ada bayangannya.

Kecuali bilik yang diisi sepupuku. Aku bisa melihat sedikit bayangan kaki sepupuku.

Aku jadi berpikir, mungkin bilik-bilik ini semua memang kosong dan sengaja ditutup oleh pemiliknya karena sudah malam. Sudah jarang pengunjung yang datang ke toilet umum ini. Aku sih mencoba berfikir positif aja.

Aku berjalan kebelakang, ke arah jurang. Nggak tau kenapa Aku jadi pengen ke situ. Cukup bagi Aku berjalan sekitar 5 meter dari bilik toilet, dan sekarang Aku benar-benar ada di tepian jurang.

Di sini yang menjadi perhatianku bukan jurangnya, tapi pemandangan puncak yang Aku dapati—yang sungguh menakjubkan. Aku gak nyangka bisa melihat pemandangan sebagus ini dari belakang sebuah toilet umum. Aku masih berdiri di tepian jurang, menikmati keindahan puncak di malam hari.

Lampu-lampu kendaraan yang memadati jalanan puncak yang berliku menjadi keindahan tersendiri buatku. Sementara di kejauhan sana, Aku melihat lampu-lampu pedesaan, atau mungkin perkotaan yang terlihat berkumpul, bercahaya temaram di kejauhan.

Udara di sini juga dingin alih-alih sejuk. Tapi sweeter yang melekat di badanku mampu menjaga Aku tetap hangat. Air gerimis yang menetes juga menambah suasana yang nyaman buat Aku. Untuk beberapa saat, Aku terlarut dalam suasana.

“Wildan!” suara yang akrab di telinga Aku terdengar cukup keras—sepupuku!
“Eh. Udah selesai ritual di kamar mandinya?” sindirku. Sedikit jengkel karena menunggu.
“Koen lapo ae se? ket mau tak celuk’ gak nyaut.”
“Kamu ngapain sih di sini? Dari tadi Aku panggilan gak nyaut-nyaut.”

“Nggak ngapa-ngapain. Lagi liatin pemandangan aja. Abisnya kamu lama banget. Ngapain aja tau di WC. Pup kamu ya?” ledekku sambil tutup hidung.
“Akh lama apaan? Orang Aku Cuma pipis doang.”
“Pipismu sak galon, neng? Lama bener.”

” Ikh, apaan sih? Udah ayo, kita balik lagi ke mobil. Ortu pasti lagi nungguin kita.”
“Sebentar, Aku lagi liat pemandangan nih bagus banget.”
“Pemandangan apaan?” tanya sepupu Aku, heran.

“Yeeee…. Mangkanya ke sini.” Aku pun menarik tangannya. Sekarang kami berdua sama-sama berdiri di tepian jurang. “Gimana pemandangannya? Bagus kan?”

Belom sempat dia menjawab pertanyaan Aku, Aku langsung diseret menjauh dari jurang dan berjalan menuju pintu keluar.

“Eh, ada apaan sih? Koq—”

“Nggak, tadi Aku ngliat bencong aja lagi berdiri di bawah jurang. Udah … ntar Aku jelasin di mobil.” Potong sepupuku sambil terus megang pergelangan tanganku, nyeret Aku, membayar toilet dan melewati penjaga toilet yang tetap duduk, menunduk, bergeming.

Sampai pada akhirnya kami berdua keluar dari toilet, melewati sebuah warung yang telah tutup, lalu sampai di pinggir jalan. Kami menyebrang dan berjalan menuju mobil. Di sana terlihat keluarga kami sedang menunggu kami di luar mobil.

“Kalian berdua koq lama banget? Emang toiletnya jauh?” tanya budeku. Cemas.

“Eh, iya. Lumayan Ma.” jawab sepupuku.

“Lagian kenapa tau cari WC jauh-jauh. Di warung makan ini kan juga ada WC nya.” Kata kakakku sambil nunjuk warung makan yang berada di samping kami.

Ya, kami memang parkir di halaman sebuah rumah makan. Gobloknya Aku, kenapa Aku langsung ngacir nyebrang jalan buat nyari toilet umum? Kan di rumah makan kayak gini biasanya disediakan WC. Dan Aku baru menyadari kebodohanku.

“Yaudah, sekarang pada masuk mobil gih. Udah malem nih. Ntar kemaleman sampe rumah.” perintah Ebesku.

“Ntar dulu Pah.” ucap Aku.

“Mau ngapain lagi?” tanya Ebes.

“Mau beli makanan dulu. Mumpung lagi ada di depan rumah makan.” jelasku. Dan Aku pun memandang sepupuku. “Eh, Git. Tadi kamu bilang mau beli makanan juga. Ayo sekalian sama Aku.”

“Eh, perasaan … Aku—”
Sepupuku sedikit menolak. Tapi Aku langsung memotong perkataannya dan menatapnya dengan tatapan isyarat kalo Aku mau ngomongin soal keanehan di Toilet umum tadi.

Aku pun gantian megang tangan dia lalu menyeretnya menuju rumah makan. “Udah ayo. Tadi katanya mau beli makanan.”
Sesampainya di rumah makan, kami memesan makanan untuk dibungkus. Dan saat pelayan sedang menyiapkan makanan kami, Aku mulai mengintrogasi sepupuku.

“Tadi kenapa sih? Koq kamu tiba-tiba nyeret Aku gitu?” tanyaku, heran.

“Sebenernya Aku udah ngerasa nggak enak pas masuk toilet itu” Sambil berdiri menunggu pesanan, sepupuku mulai menjelaskan.

“Kamu perhatiin nggak penjaga toiletnya? Aneh banget kan? Diem aja. Duduk sambil nunduk. Nggak kayak penjaga toilet kebanyakan, kan?”

Hmm … Iya juga sih, Aku juga merasa sedikit aneh.
“Terus suasana WC-nya juga. Kayaknya angker gitu.” Lanjut sepupuku. “Tadi kamu bilang Aku lama banget di WC … padahal Aku cuma pipis doang. Nggak ada dua menit.”

“Mas, ini pesanannya” tiba-tiba mas-mas pelayan menyerahkan pesanan kami. Memotong pembicaraan kami seketika.
“Semua jadi berapa, Mas?”

Aku pun membayar makanan yang kami pesan. Aku nggak langsung buru-buru balik ke mobil. Aku dan sepupuku berada di mobil yang berbeda. Jadi Aku nggak mungkin bisa mendengar penjelasan sepupuku.

Jadi Aku mengajak sepupuku duduk di salah satu meja makan terdekat–sebentar—untuk meneruskan penjelasannya. “Jadi keintinya aja. Tadi kamu kenapa tiba-tiba nyeret Aku?” mata Aku menatap penuh tanya.

“Tadi … di bawah jurang … Aku ngeliat Kuntilanak.” Katanya sedikit pelan. Aku kaget. “Yang Aku bilang bencong itu sebenernya Kuntilanak. Mukanya ancur. Dia lagi MELOTOTIN kamu. Jadi buru-buru Aku seret kamu keluar dari toilet serem itu.”

“Yang bener kamu? kamu jangan becanda ya?” Aku mencoba meyakinkan. Jujur, sebenernya Aku nggak terlalu takut sama yang beginian, soalnya Aku udah pernah beberapa kali melihat penampakan makhluk halus.

“Yeee…. Siapa yang bercanda. Aku serius!” katanya sedikit ketus. “lagian kamu juga, Aku panggil kagak nyaut-nyaut. Malah asik berdiri di pinggir jurang. Ngeliatin apaan tau? Pemandangan? Pemandangan dari Hongkong. Di situ nggak ada pemandangan apa-apa. Cuma jurang Sama pohon.”

Aku diam sebentar, mencoba berfikir. “Jangan-jangan..”
“Iya. Kayaknya itu Kuntilanak mau nyelakain kamu deh. Untung aja Aku dateng. Abis Aku curiga, padahal jarak WC sama jurang kan deket, tapi kamu nggak denger teriakan Aku. Jadi Aku samperin aja. Dan bener aja kecurigaan Aku.”

“Bener. Untung ada kamu. Kalo nggak, Aku udah jatoh kali ke itu jurang.”
Aku nggak menyangka akan mengalami hal kayak gini. Tapi Aku bersyukur, ada sepupuku. Jadi Aku bisa terhindar dari makhluk yang mau nyelakain Aku.

“Eh … Di tungguin dari tadi, malah pada asik ngobrol di sini.” Aku nggak sadar, tiba-tiba kakakku udah ada di sampingku aja.

Terungkap sudah apa yang terjadi saat di toilet tadi. Sepupuku telah menjelaskan semuanya. Sekarang Aku pun sudah berada di dalam mobil. Sepupuku juga sudah berada di dalam mobil bersama keluarganya.

Kami pun melanjutkan perjalanan. Mobil Pakdeku sekarang memimpin jalan di depan. Disusul dengan mobil keluargaku.

Aku rekatkan jaket Aku. Memasang earphone. Menyalakan lagu kesukaan Aku, dan log-in di sosial media. Aku mencoba melupakan kejadian di toilet umum tadi. Di bawah naungan gerimis, mobil kami melaju menyisir kembali jalanan puncak, arah pulang, menuju Malang.

Belum 5 menit mobil ini melaju, tiba-tiba Ebes mengerem lagi, di samping warung yang sudah tutup. Aku bingung. Kenapa lagi nih?
“Kenapa, Pah?” tanyaku. Berbarengan dengan kakakku.
“Nggak tau itu. Mobilnya Pakde Yudi tiba-tiba berhenti” jelas Ebesku sambil mengunci rem tangan.

Aku lihat budeku keluar dari mobil dengan muka cemas alih-alih ketakutan. Dia langsung berlari ke arah mobil ebesku. Ebes, Emes sama kakakku pun terkejut, Aku juga.

Kami pun buru-buru keluar dari mobil, tepat saat budeku sampai di depan mobil sambil tersenga-senga.
“Eh! Kenapa?” tanya Emesku yang semakin cemas.

“Si Gita. Dia teriak-teriak. Katanya ngeliat Kuntilanak duduk di sampingnya. Mukanya ancur. Sekarang lagi di tenangin sama ayahnya.”
Tak tunggu lama kami pun langsung bergegas menuju mobil pakdeku. Aku berlari. Cemas. Jangan-jangan Kuntilanak yang tadi.

“Yud..Gimana keadaannya?” tanya Ebesku, cemas.
“Udah sedikit tenang. Tapi ya gitu, dia keliatannya masih shock.” Jelas Pakdeku.

Pakdeku masih memeluk sepupuku yang masih menangis. Mencoba menenangkan sepupuku. Sementara Budeku langsung mengambil anaknya yang masih bayi, yang juga sedang menangis, mungkin kaget dengan kegaduhan yang terjadi—menggendongnya.

“Koq jadi kayak gini sih? Perasaan tadi pas berangkat pulang nggak kenapa-kenapa.” Budeku semakin cemas—air matanya menetes. Dia juga masih sibuk menenangkan bayinya.

“Jadi begini Pah, Mah … Pakde, Bude. Sebenernya pas di toilet tadi—” Aku pun memberanikan diri dan menceritakan semua hal mistis yang Aku sama sepupuku temui saat di toilet umum tadi. Semua orang yang ada di situ, yang mendengar ceritaku, semua cuma bisa diam.

Kayak nggak percaya gitu. Tetiba hening sementara. Hanya terdengar Isak tangis sepupuku dan adiknya yang masih bayi.

“Yaudah. Jadi sekarang baiknya gimana?” tanya Pakdeku memecah keheningan. Sepertinya juga tidak ingin membahas hal mistis seperti itu semakin jauh.

“Gini aja Pakde. Saya numpang mobil Njenengan. Sementara Gita naik mobil Papah. Kita tukeran aja dulu sampe di Mojokerto. Semoga aja Kuntilanak itu nggak ngikutin mobil Pakde sampe ke Mojokerto. Gimana?”

“Eh. Tapi kalo ntar itu Kunti nongol di mobil Papah gimana Yo? Dia kan ngikutin Gita, bukan mobilnya Pakde.” ungkap kakakku sedikit takut.

Iya juga sih. “Yaudah gini aja. Aku tetep di mobil Papah, tapi si Gita ikut bareng kita. Kalo ada apa-apa seenggaknya ada Aku.” kata Aku yakin. Aku emang nggak terlalu takut sama makhluk halus. Yaaa… Aku sedikit berani lah buat ngelawan kalo itu Kunti tiba-tiba nongol.

Akhirnya semua setuju. Sepupuku ikut satu mobil bareng Aku. Kami pun masuk ke dalam mobil. Gita duduk di belakang. Kami duduk bertiga. Gita duduk di tengah. Kami sengaja menyuruhnya duduk di tengah, di antara Aku dan kakakku, agar dia terasa terlindungi.

Wajahnya masih saja terbenam di pundak kakakku. Menangis terisak. Dan kakak Aku masih mencoba menenangkannya.
“Titip Gita ya” kata budeku dari luar kaca mobil.

Emesku mengiyakan. Sekilas dari luar jendela mobil yang terbuka, Budeku melihat anak gadisnya yang sedang meringkuk, menangis di dekapan kakakku.

Raut wajahnya yang sangat cemas dengan keadaan anak gadisnya terlihat jelas. Sebelum akhirnya dia berlalu, berjalan gontai menuju mobil suaminya. Emesku menutup kaca. Sesaat setelah mobil Pakdeku melaju kembali, mobil Ebesku juga melaju.

Kali ini, sepanjang jalan pulang, Aku terus terjaga. Meski kedua kupingku terpasang earphone dan mendengarkan alunan musik yang Aku suka, tapi Aku berusaha untuk tidak tertidur. Jujur, sebenarnya Aku juga ngantuk. Aku hanya bisa menguap.

Log-in sosial media untuk mengusir kantuk dan bosan. Suasana mobil sunyi. Emes, kakakku mulai tertidur. Sepupuku yang sudah tenang sejak tadi sepertinya juga sudah tertidur. Di mobil ini tinggal Aku dan Ebes yang terjaga.

Yaaa sudahlah, Aku udah terlanjur bilang kalo Aku bakal jaga sepupuku ini.

“Kalo ngantuk tidur aja. Kayaknya Gita juga udah tidur. Perjalanan masih lumayan. Sekitar satu setengah jam lagi mungkin kita baru sampai Mojokerto.” kata Emesku yang sebelumnya mencolek bahuku. Sehingga membuat Aku mengalihkan perhatianku ke dia.

Lalu melepaskan earphone dan mendengarkannya bicara.
“Nggak Pah. Belom ngantuk. Lagi asik main games nih” sahutku, berbohong.
“Ou, Ya sudah.”

Suasana pun kembali sunyi. Suara mesin kendaraan samar terdengar. Aku kembali mencoba mengasikkan diri dengan kembali bermain games sambil mendengarkan musik lewat earphone.

Satu setengah jam lebih—hampir dua jam—berlalu. Mobil kami keluar hutan Cangar. Syukurlah selama perjalanan tak terjadi apa-apa. Lega rasanya. Sepertinya itu Kunti nggak ngikutin sampai sini. Tapi perjalanan kali ini benar-benar terasa lama dan melelahkan.

Di pinggir jalan, sebelum pertigaan lampu merah, terlihat mobil Pakdeku berhenti. Jalan raya lengang. Mobil Ebes pun ikut berhenti di belakang mobil Pakdeku. Setelah lampu merah arah tujuan kami berbeda. Bude pun membangunkan sepupuku yang tertidur dan di pindahkan ke mobilnya.

Setelah itu kami semua melanjutkan perjalanan kami lagi. Rumahku lima menit dari sini jika menempuhnya dengan kendaraan. Senang rasanya sebentar lagi sampai rumah. Hah.

Keesokan harinya Emes dapet kabar dari Budeku. Emes pun langsung memberitahuku, bahwa sepupuku udah si bawa ke kyai buat diobatin. Katanya sih nggak papa. Nggak ketempelan. Cuma fisiknya aja yang saat di puncak mungkin sedang kecapean. Jadi gampang di ganggu.

“selalu hati-hati di mana pun kalian berada. Ingat, sesuatu yang ghaib itu emang ada. Jadi selalu berdoa meminta perlindungan Tuhan dari godaan makhluk halus. Terlebih yang berniat mencelakai kita.”