Cerita Horor Arini Terjerat Kuntilanak Hitam Selama 14 Tahun

Cerita Horor Hari Ini – Panggil saja aku, Arini. Syukur Alhamdulillah, dan akhirnya kehidupanku berangsur lebih tenang.

Meski, mereka memang belum benar-benar pergi.

Peristiwa itu katanya membuat rongga Igaku terbuka (Iga Jarang) sehingga aku menjadi sensitif dan rentan kerasukan, tapi seenggaknya baru kali pertama semasa hidup, akhirnya aku bisa merasa benar-benar memiliki ragaku sendiri.

Aku tidak pandai bercerita, rasanya beda ketika mengetik dengan menulis catatan diary sendiri. Tapi aku udah janji sama tim jeropoint untuk bercerita sekaligus sebagai bentuk damai pada diriku sendiri.

Aku mulai dari yang paling aku ingat aja ya,

Aku tinggal di daerah Garut, desa tempat aku tinggal berbatasan langsung dengan Leuweung (Hutan) yang dikenal mistisnya.

Buat warga Jawa Barat pasti tau, karena banyak tapak tilas sejarah kerajaan Pasundan juga di sana.

Di desa kami juga masih suka nyaji (bakar sesajen) pada malam-malam tertentu, karena memang kuncen Leuweung tersebut juga berasal dari desa kami.

Klik Prediksi Bola Online Jitu

Jadi gak aneh, waktu bang Jero dan tim ke sini bilang kalau nyium bau kemenyan di sepanjang jalan.

Oiya, aku kelahiran tahun 96, gak kerasa usiaku sekarang sudah menginjak 26 tahun, tetapi 14 tahunku habis sia-sia dipenuhi masa kelam sejak dia mengambil ragaku.

Ya, aku ketempelan kuntilanak selama kurang lebih 14 tahun.

Itu pun hitung-hitungan yg nggak pasti, karena aku gak tau kapan tepatnya dia mulai merasukiku,

tapi aku mulai menjadi aneh sejak usia 10 tahun, namun beberapa tahun sebelum itu, aku ingat betul pernah bertemu ‘dia’ beberapa tahun sebelumnya.

Aku gak yakin pasti kejadian itu mimpi atau nyata, tapi waktu itu aku kebangun tengah malam, aku melihat di pintu kamarku ada perempuan cantik mengenakan baju dress hitam, rambutnya disanggul, dia tersenyum padaku terus tangannya melambai-lambai meminta aku menghampirinya.

Aku mengikuti, dia menunduk mengusap-usap kepalaku. Kemudian tanganku ditarik untuk berjalan bersamanya. Malam itu rumah sepi, ibu dan amang (om) sudah tidur.

Ohiya, aku yatim sejak kecil, ayahku meninggal waktu usiaku belum satu tahun. Jadi aku cuma mengenal wajahnya hanya dari foto. Di rumah, aku tinggal bersama ibu, dan amang (adik ibu).

Lanjut aku jalan mengikuti perempuan cantik itu, aku diajaknya ke halaman depan, kami berhenti dibawah pohon besar yang ada tepat di depan rumahku.

Wanita itu merundukkan badannya, dia memperhatikan wajahku dari dekat, wajahku di usap-usap olehnya, dan aku ingat dia bilang,

“Budak geulis, maneh meni mirip Jeung Aki.” (anak cantik, kamu sangat mirip sama Aki.)

Aku terdiam kayak tersirap, tapi nggak lama, wajah cantiknya berubah jadi amat menyeramkan—mulutnya melebarkan sobekan, kulit-kulitnya jadi berlendir dan bau amis, lalu bola matanya melotot seperti akan keluar.

Bisa dibayangkan?

Wajahku yang disentuh olehnya juga jadi penuh lendir.
Aku kelagapan, teriak sekencang-kencangnya tapi perempuan itu mencekik leherku sampai aku gak bisa lagi teriak.

Habis itu aku gak ingat apa-apa lagi, dan pagi-paginya aku bangun sudah dengan kening yang di kompres handuk basah.

Kata ibu, aku demam dan semalam tidur melindur jalan keluar. Ibu menemukan aku tertidur di bawah pohon besar di depan ketika hendak shalat subuh dan mencari-cari aku yang gak ada dikamar.

Setelah itu, aku tidak lagi bertemu dengan dia sampai ketika hari ulang tahunku yang ke-10 tahun, itu adalah kali kedua dia menemui aku dan sejak saat itu ‘dia’ mulai menyiksaku.

———————
Guys , gw tarawih dulu, lanjut habis tarawih ya.
Tungguin!
Baca pas thread on going percayalah sensasinya beda 🙂

——–LANJUT——-

Pagi hari sebelum berangkat sekolah, kue bolu buatan ibu dengan lilin dipucuknya sudah mengejutkanku dimeja makan. Aku senang kegirangan layaknya anak-anak pada umumnya,

“Selamat ulang tahun, tiup dulu lilinnya.”

Aku mendekat ke meja makan untuk meniup lilin, namun ketika hendak berdoa, aku merasakan ada sosok besar di belakangku.

Aku tengok ke belakang, tidak ada apa pun.

Aku memejamkan mata lagi untuk berdoa, namun dari sisi telinga kiri, aku mendengar bisikan kuat,

“SELAMAT ULANG TAHUN!!”

Kaget, aku membuka mata dan menengok ke kiri, sontak aku berteriak keras begitu melihat wajah berlendir dari kuntilanak itu yang menyandarkan dagunya ke bahu kiriku.

Ibu panik, dia menghampiriku yang lagi menangis,

“Kamu kenapa?”

Aku tengok lagi, sosok itu sudah tidak ada.

Tapi aku masih bisa mendengar suara ketawanya melengking sambil memanggil-manggil namaku dengan suara yang mengayun dan menggaung,

“A-RINI!”

Disitu aku nangis dan gak mau sekolah. Seharian aku mau terus sama Ibu karena aku masih merasa sosoknya terus mengikutiku.

ejak hari itu, masa sekolahku menjadi suram.

Aku sering mengantuk, kemudian tak sadarkan diri. Tapi orang-orang bilang aku kerasukan, teriak-teriak, mengamuk, bahkan mencelakai teman-teman sekelasku dengan benda-benda tumpul kayak penggaris, penghapus papan, tempat pensil, dll.

Namun semua itu kulakukan tanpa sadar, aku benar-benar gaktau. Yang aku tau cuma aku ngantuk, nggak kuat terus tidur.

Dan pas bangun sekujur tubuh termasuk kepala rasanya pada sakit semua.

Hal itu terus terjadi sampai aku dibully, dikatain aneh sampai julukan ‘anak setan’ tersemat padaku.

Kejadian yang paling aku ingat waktu SD ialah ketika aku dibully terus-terusan sama teman sebangku.

Aku marah, emosi sampai ke pucuk kepala, disitu aku gak bisa mengendalikan diri sampai aku menusuk tangan teman sebangku dengan pulpen sampai tertancap dalam dan berdarah.

Aku dalam keadaan sadar, tapi aku gak bisa mengendalikan emosiku. Habis melakukan itu juga aku nangis.
Ibu dipanggil ke sekolah, aku dimarahi.

Tapi sehabis kejadian itu anak-anak sekolah tidak lagi membullyku secara terang-terangan, namun mereka semua menjauhiku.

Mereka ketakutan dan panggilan ‘anak setan’ sering kudengar dari mereka dan ibu-ibu mereka ketika menggunjing kala pengambilan rapot.

Aku mulai sering dihantui oleh sosok kuntilanak itu yang menerorku hampir setiap malam, dia kadang tidur disampingku, mengusap-usap kepalaku. Tapi tiap kali aku cerita ke ibu—ibu tidak percaya.

Sakin seringnya aku kesurupan waktu SD, aku sampai diruqyah. Tapi itu semua tidak ada perubahan, malah membuat aku jadi sakit, demam tinggi.
Tapi setelah sembuh dari sakit, makhluk itu tetap datang lagi.

Karena dianggap sebagai ancaman, semasa SD Ibu terus mengantar dan menungguku disekolah sampai aku lulus.

Masuk SMP, kupikir aku akan bebas dari bully, namun ternyata makhluk itu semakin membuatku berprilaku aneh sampai julukan ‘Anak Setan’ seperti ejekan yang sudah menjadi nama belakang,

“Arini Anak Setan”

Tiap kali mengingat itu, aku merasa sedih. Kasihan ibu.

SMP, aku semakin sering kerasukan, ketawa dan menangis sendiri dikelas, terkadang marah-marah memukul-mukul meja sendiri sambil meracau dalam bahasa sunda yang sulit dipahami oleh orang sunda sendiri.

Tapi lagi-lagi aku nggak ingat apa pun , yang aku ingat cuma ngantuk gak tahan dan aku tidur.

Di SMP ini aku mendapat mens pertamaku, aku menjadi suka berdandan.

Kupikir ini hal yang wajar karena faktor hormon dimasa pubertas, akan tetap kerap kali tiap aku dandan, aku suka nggak sadar sampai tiba-tiba orang disekitarku menertawakanku.

Sontak aku lihat kaca, dan ternyata aku berdandan sangat menor, tebal nyaris seperti badut. Aku semakin sering di-bully karena hal itu sering terjadi.

Setiap kali seperti itu, aku selalu lari ke toilet untuk membersihkan wajah, tapi dipantulan kaca toilet , aku melihat kuntilanak itu berdiri di belakangku sambil tertawa melengking.

Aku takut setengah mati, biarpun sudah sering melihatnya tapi tiap kemunculannya selalu menakutkan bagiku.

Dan di masa SMP ini ada satu kejadian yang paling kuingat dan sangat kusesali kenapa bisa kejadian begitu—

waktu itu, selain sering dandan, aku juga menyadari memiliki ketertarikan sexual ke lawan jenis yang kadang rasanya sangat bergairah entah kenapa tapi selalu aku berusaha mencari peralihan.

Namun pernah pada satu ketika, aku tersadar tiba-tiba di kamar mandi dengan kancing baju setengah terbuka dan tubuh separuh basah oleh air.

Aku tengah bersama salah satu teman pria dan kami sudah dikerumuni banyak orang termasuk guru-guru.

Kami diarak sampai masuk ke ruang guru untuk di sidang, di dalam ruang guru pun teman-teman terlihat mengintip dari sela-sela jendela.

Aku benar-benar menjadi pusat perhatian satu sekolah,

Kami disidang oleh satu ruang guru, mereka bilang kami melakukan tindakan asusila di toilet sekolah.

Kuakui, aku dalam keadaan setengah sadar, aku tidak ingat bagaimana kami bisa di toilet, namun ketika sedang berhubungan di kamar mandi, aku setengah sadar tetapi tidak bisa mengendalikan diri.

Teman pria yang tertangkap bersamaku melakukan pembelaan, dia bilang digoda dan dipaksa olehku sampai diseret ke kamar mandi perempuan.

Katanya aku lah yang memperkosanya.

Dia memaki-makiku dengan segala umpatan seolah tak terima, sedangkan aku hanya duduk terdiam tak bisa berkata-kata.

Aku tak menemui bagaimana cara membela diri, aku justru malah teringat memori-memori masa SD sampai sekarang yang bikin aku mengutuk diri sendiri.

Satu-satunya yang bisa dilakukan cuma nangis,

Besoknya ibu dipanggil ke sekolah, habis dimaki-maki satu sekolah aku lanjut dimarahi ibu abis-abisan dirumah, ibu marah sampai menangis melihat prilaku anak semata wayangnya ini yang jauh dari kata pantas.

Aku dibawa lagi berobat ke orang-orang pintar, di ruqyah sana sini, tapi hasilnya sama—aku cuma sakit, bahkan sempat mengamuk.

Tapi setalah sakitku sembuh, makhluk itu kembali merasukiku. Seolah sakit hanyalah masa tenang sementara.

Ketika tubuhku pulih, dia juga kembali.

Masa-masa SMPku ternyata lebih buruk dari masa SD. Aku jarang masuk sekolah dan lulus dengan nilai pas-pas an.

Aku melanjutkan sekolah masuk SMA Negeri yang tak jauh dari rumah, alasannya karena ibu khawatir.

Namun di masa SMA justru aku semakin menjadi-jadi .